LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 67


__ADS_3

"Kak, kapan royalti saya cair? Bukunya udah dua bulan terbit tapi royalti saya sampe sekarang masih tenggelem."


"Sabar, Nay. Novel kamu kali ini susah buat dipasarasin, peminatnya kurang nggak kayak novel-novel kamu yang lain."


"Masa sih, Kak? Saya pantau di ig pembelinya banyak-banyak aja."


"Kamu kayak nggak tau aja trik buat narik pembeli."


Napas Nayla tercekat untuk beberapa detik. Ponselnya sempat dijauhkan hanya untuk menilik kosong ke depan.


"Tapi, Kak. Readers saya banyak kok yang konfir katanya udah beli, nyaris sama kayak novel sebelum-sebelumnya."


"Keras kepala banget sih lo dikasih tau! Kalo royalti lo belum mencapai batas minim buat disend ya tunggu!"


Netra Nayla terbuka lebar saat ucapan yang terkesan nyolot itu menembus indra pendengarannya. Harus diingat, Nayla bukan cewek menye-menye yang tinggal diam saat ditindas, dia akan berusaha sebisa mungkin untuk membalas dan mempertahankan harga dirinya, makanya ia ingin menyemburkan kalimat pedas yang berakhir ditelan bulat-bulat saat Kak Bunga mematikan panggilan.


"Mampus gue!" gerutunya.


Belum sempat bernapas lega, suara dering ponsel lagi-lagi mengalihkan konsentrasi. Terpampang jelas kata 'adik' membuat ekspresi Nayla berubah drastis.


"Iya, Dek. Ada apa?"


"KAKAK, BAPAAAK!"


"Bapak kenapa?"


"Sakitnya tambah parah. Dan akhir-akhir ini Bapak juga sering nyebut-nyebut nama kakak."


Untuk sesaat otak Nayla berhenti berfungsi, dia dikejutkan dengan suara isak tangis sang Ibu. Nayla tergugu, "A--pa yang harus Nayla lakukan, Bu?"


"Nak, pulang dulu, ketemu sama Bapak."


"Ta--pi Nayla punya ba----"


"Nggak ada urusan penting selain nemuin bapak saat ini, Nak."


"Ta--pi biaya operasi Bapak belum---."


"Nak, nggak usah pikirin itu, ka--mu balik aja secepatnya. Ibu sama Bapak nunggu kamu. Assalamualaikum...."


"Wa---alaikumusalam."


AISH! SIAL!


Pikirannya yang berkelana kemana-mana membuat Nayla tak fokus berjalan hingga berakhir menabrak seseorang yang membawa secangkir kopi panas. Nayla gamang. Dia diam beberapa saat mencerna sikon sebelum tersadar saat orang itu mengumpat ke sekian kalinya.

__ADS_1


"LO PUNYA MATA NGGAK, SIH?"


Hah?


Mulut Nayla hanya terbuka sembari mundur ke belakang.


Rose menggertak gigi geram. "Gara-gara lo baju gue basah, auuuh, mana panas lagi. Ini semua gara-gara lo, lo harus tanggung jawab!"


"Ma--af."


"Nggak ada maaf-maaf!" Rose betul-betul mengamuk. Baju merah darah miliknya di impor dari Australia tentu dengan harga yang fantastis, ia baru memakainya hari ini. "Baju gue ini dari Australia, harganya mahal! Lo jual keperawanan lo aja nggak bakal cukup buat beli."


Rose mendorong bahu Nayla lumayan keras hingga gadis itu limbung dan terduduk. "Gue nggak mau tau, lo harus tanggung jawab! Nggak peduli gue lo pake cara apa, mau open BO kek, mau ngemis kek, terserah! Gue mau lo ganti rugi lima juta!"


Nayla melotot.


Lima juta? Baju ketumpahan kopi harus dibayar lima juta?


Biaya laundry tidak semahal itu.


Nayla sudah ingin berdiri tetapi seseorang menarik rambutnya dari belakang hingga berakhir merintih kesakitan. Nayla tidak tahu mereka siapa, yang jelas ia baru sadar jikalau koridor yang tadinya sepi sudah sangat ramai. Dia dijadikan tontonan hingga beberapa dari mereka ada yang merekam.


"LEPAS!" teriak Nayla, ikut menggenggam rambutnya-lebih tepatnya berusaha melepas tangan yang mencengkram rambutnya-. "KALO BERANI JANGAN MAIN BELAKANG, BADJINGAN!"


WOOOH!


Rose sempat gentar saat Nayla kembali berdiri tegak dan menilik orang tadi dengan sinis, namun dengan cepat ia menstabilkan mimik wajahnya. Berdiri congkak dengan dagu terangkat, tingginya yang didongkrak oleh heels membuat lawannya sedikit lebih pendek.


"Lo suruh gue bayar lima juta hanya karna baju lo ini ketumpahan kopi?" Nayla berkata tidak habis pikir. "Emang baju lo pake kain apa? Kain Fir'aun?"


HAHAHA....


Suara tawa menggema hingga Rose menghentak kaki kesal. Dia dengan cepat membalas perkataan Nayla, "Baju gue ini impor dari Australia. Lo jual diri aja nggak bakal sanggup bayar!"


"Hm, karena baju lo jauh lebih murah, saking murahnya gue jual mulut lo aja udah dapet tujuh." Nayla tak ingin lebih lama lagi, saat Rose membuka mulut Nayla dengan cepat menambahkan. "Lo t3lanjang aja sekarang, entar gue yang bersihin, gue jamin nggak bakal lecet sedikitpun."


-Di sisi lain-


Setelah beberapa hari vakum dari dunia perkuliahan kini Viola kembali berdiri di depan gerbang. Agaknya ia masih sangat ragu, hatinya berkata 'tidak usah', untuk melihat cowok itu saja ia tidak sanggup apalagi jika tak sengaja berbalik badan dan langsung bersitatap layaknya film-film klise.


Waktu seolah berhenti sejenak. Bahkan, kedua tangan Viola masih berada di dada cowok itu yang dilapisi sebuah jaket levis berwarna hitam.


Gino lebih dulu tertarik ke dunia nyata. Dia mengibaskan tangannya yang bebas ke depan wajah cantik Viola yang tak berkedip menatapnya.


"Nggak jadi masuk kampus?" tanya Gino memecah keheningan tepat setelah Viola memalingkan wajah dan mendorongnya menjauh. Agaknya cewek itu sangat kesal. "Terserah lo, minggir."

__ADS_1


"Jalanan luas, lo nggak suruh gue minggir pun lo bisa lewat!" ketusnya. Viola beneran tak beranjak walau Gino sudah berjalan mendahuluinya dan semakin menjauh. Jauh. Tak menoleh sedikitpun sampai hilang ditelan jarak.


"Dasar cowok nggak punya hati! Kalo lo nggak mau gue suka sama lo ya jangan tebar-tebar pesona gitu dong!" teriak Viola, cukup mengundang banyak mata melihat ke arahnya yang mencak-mencak sendiri.


Terlepas dari itu. Agatha yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Viola dengan tiga orang temannya menyeringai. Tangan halusnya sibuk memainkan ponsel-memutar-mutar- dengan tatapan yang tak teralihkan.


"Tuh si Vio bukan, sih?" Cewek berambut ombre samping kiri Agatha bertanya dengan nada pelan. "Cewek pinter dari univ sebelah, kok gue baru liat, ya? Apa emang baru muncul?"


"Lo yang kelamaan rebahan, mana bisa lo liat dia kalo lo aja baru masuk kemarin, Njir!" gerutu temannya yang lain. Agatha terkekeh. Kekehan yang begitu ambigu memancing kernyitan dan pukulan di masing-masing lengan.


"Kenapa tuh Agatha?"


"Kesambet setannya Raka kali."


"Gue serius, Njing!"


Agatha memutar mata malas. Dengan kekesalan yang tiba-tiba mencuat ia memaksakan senyum dan pamit 'duluan' . Ada pekerjaan 'asik' yang harus ia selesaikan.


"Bener nggak sih kalo Nayla cinta sama Raka? Walo udah tau kalo Raka pacaran sama Agatha? Kok gue rasa agak mustahil ya, lagian yang spesial dari Raka selain ketampanan dan kekayaannya apa? Tolong kasih tau gue."


"Ish!" Kekesalan cewek berambut ombre membuatnya nyaris terjungkal. "Kekayaan dan ketampanan, cuman itu kali yang cewek liat. Kurang apalagi si Raka? Emang elo yang disuap kata cinta aja udah kegirangan!"


.


.


.


.


.


ASSALAMUALAIKUM ....


Apa kabar semua?


Nggak terasa aku udah ada 6 bulan nggak nulis-nulis.


Tapi tetep aja ada yang nagih minta up dong cerita LIABILITY. Itu artinya banyak yang nungguin.


Aku seneng banget.


Sekarang please... Doain ya, aku mau lanjut nulis lagi, mau nyiptain karya-karya baru lagi.


Dan, YUK KEMBALI RAMAIKAN CERITA-CERITA SYUGERR:)

__ADS_1


^^^salam dariku,^^^


^^^SYUGERR^^^


__ADS_2