
"Makasih ya, Dek. Nanti kita ketemu lagi," teriaknya saat menoleh ke belakang.
Nayla berlari mengejar Gino, terlihat cowok itu menaikkan tudung hoodie-nya dan hendak menyebrang jalan. Nayla melakukan hal yang sama, dan nyaris saja diserempet motor karena kurang fokus dan menatap Gino terus.
"GINO!" teriak Nayla.
Gino tidak menjawab.
"GINO GUE MAU NGOMONG SAMA LO!" teriaknya lagi, sekalian dia ingin meminta maaf atas kesalahannya tadi. Gino pasti tersinggung karena ucapannya, walau agak sedikit tidak yakin mengingat cowok itu seperti tidak punya perasaan.
Gino memasuki sebuah rumah sakit, Nayla walau bingung tetap mengikuti. Dia ingin tahu lebih banyak tentang hidup Gino, siapa keluarga cowok itu dan kenapa dia bertingkah seolah-olah tidak menyukai Raka.
Sejauh ini tersangka utama Nayla adalah Gino. Cowok yang berpotensi besar membuka kedok Agatha. Nayla yakin, walaupun Gino tidak terlibat mungkin dia punya info yang sangat penting, mengingat sudah lama Gino berada di sisi Raka.
Gino berhenti di depan lift, membiarkan Nayla menggapainya. Saat cewek itu nyaris menyentuh lengannya barulah Gino masuk ke dalam lift dan menekan angka ke lantai tiga belas.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Nayla dengan napasnya yang putus-putus.
"Justru gue yang nanya, ngapain lo ngikutin gue?" tanya Gino.
Nayla sedikit merapikan rambutnya yang awut-awutan. "Karena gue mau aja, sekalian minta maaf gue sempet mikir yang enggak-enggak tentang lo. Gue kira lo jahatin anak tadi, ternyata enggak."
Gino terkekeh sinis. "Pikiran lo emang nggak pernah baik kalo menyangkut gue."
Nayla mengangguk membenarkan. "Lo tau 'kan, kalo selama ini gue ngikutin lo? Tapi kenapa lo nggak marah atau nyuruh gue buat enggak ngikutin lo lagi? Lo nggak risih?"
Gino menghela napas, melirik Nayla dan tanpa aba-aba Gino mendorong bahu Nayla sampai punggungnya menubruk dinding lift. Gino mengukung pergerakan cewek itu dengan kedua lengannya. "Kalo gue nyuruh lo berhenti, apa lo bakal berhenti?"
Nayla tertegun lalu menggeleng. Jarak mereka sekarang sangat dekat, namun Nayla tidak bisa berbuat apa-apa. "Gue nggak bakal berhenti sampai dapetin apa yang gue mau."
Gino mengangguk. "Jadi .... Percuma nyuruh lo berhenti." Jari-jari Gino menyapu lembut pipi Nayla dan beberapa kali menjentikkan jarinya di sana. "Lo tau 'kan, kalo gue bukan cowok baik-baik?"
Mendengar itu Nayla langsung melotot, dengan sekuat tenaga mendorong Gino menjauh namun yang terjadi mereka semakin dekat. Nayla menatap napas. "Gino please, gue punya trauma, gue bisa bunuh diri kalo sampai lo berani yang enggak-enggak."
"Jadi .... Raka beneran nyentuh lo?" tanya Gino. Jari-jarinya bergerak ke kuping Nayla lalu ke rambut cewek itu. Mendengar Nayla tak menjawab membuat Gino menatapnya. "Bagian mana aja?"
"Gino, please." Suara Nayla semakin mencicit sarat akan rasa takut. "Lo jauh-jauh, gue nggak bisa deketan gini, gue ada trauma," imbuhnya.
__ADS_1
Gino terkekeh. Tanpa banyak pikir dia menarik pinggang Nayla dan memeluk tubuh bergetar cewek itu. "Sedekat ini? Gue nanya bagian mana aja yang Raka sentuh? Semuanya?"
Nayla menggeleng. Keringat menetes di sela pelipisnya, bahkan Nayla bisa merasakan lututnya yang bergetar sekarang. "Kalo lo nyentuh gue, gue bakal bunuh diri," ancamnya tidak main-main.
Gino mengangguk. "Berarti Raka nyentuh lo sampai lo mikir buat bunuh diri?" Gino memastikan. Nayla diam lagi, Gino mencengkeram pinggang Nayla sampai cewek itu meringis dan nyaris menangis. "Jawab!"
"Gue bahkan udah nggak layak dimilikin oleh siapapun," jawab Nayla pelan, merasa pelukan Gino melonggar dia buru-buru menjauhkan dirinya ke sudut lift. Nayla memeluk tubuhnya sendiri. "Jadi jangan macem-macem, jangan bikin gue takut, ambang batas niat gue buat bunuh diri nggak banyak lagi. Idup gue udah hancur."
Gino tertegun untuk sesaat, tidak menyangka Nayla akan menjawab demikian. "Tapi, apa maksud lo dengan ngikutin gue kemana-mana?"
Nayla mengigit bibir bawah, kilatan mata Gino membuat lututnya semakin bergetar, jika saja Nayla tidak makan di kafe tadi mungkin energinya sudah tersedot habis dan yang terjadi dirinya jatuh ke lantai. "Gue ... ngikutin siapapun yang kemungkinan bersangkutan dengan kejadian yang nimpa gue sama Raka."
"Berarti lo ngikutin Morgan juga?" tanya Gino. Jika 'semua' berarti Morgan masuk ke dalamnya.
Nayla menggeleng. "Morgan enggak," jawabnya.
"Berarti nggak semua," ketus Gino. Pintu lift terbuka namun dirinya belum beranjak, yang ada Gino menahan pintu lift agar tidak tertutup lagi. "Dengan lo ngikutin gue, lo nggak bakal dapat apa-apa," ujarnya serius.
Nayla menggeleng. "Gue bakal dapet, nggak ada yang sia-sia di dunia ini selama kita serius ngejalanin itu." Jawabannya itu membuat Gino mendelik sinis padanya.
"Lo tau gue mau bawa lo kemana?" tanya Gino menoleh pada cewek itu, Nayla menggeleng tidak tahu. Gino terkekeh sarkas. "Gue mau bawa lo ke kamar pasien yang kosong, gue bakal ngelakuin 'hal' yang Raka lakuin, biar lo kapok ngikutin gue."
Netra Nayla membulat, dengan gerakan cepat layaknya jurus Naruto seribu bayangan dia membalikkan badan namun tidak bisa melangkah karena ada yang menarik kerah belakang bajunya.
"Lepasin Gino! Gue udah bilang bakal bunuh diri kalo sampai itu terjadi," ujarnya kesal. Dia deg-degan sendiri berurusan dengan Gino, kalau saja Nayla tidak bodoh mungkin tugas mengikuti Gino diserahkan pada Viola. "Gue bakal pulang, nggak ngikutin lo lagi."
"Lo mau dapet sesuatu 'kan, dari gue?" tanya Gino, melepas tarikannya pada kerah baju Nayla membuat cewek itu bernapas lega.
"Iya, gue mau dapet sesuatu. Bukti atau apa gitu kalo Raka beneran dijebak, atau dia beneran masuk ke apart gue dalam keadaan mabuk sendiri, nggak ditarik-tarik atau dibawa sama orang lain," ujarnya antusias. Nayla seperti melupakan kejadian beberapa detik lalu.
"Gue bakal ngasih lo sesuatu," ujar Gino.
"Apa-apa?" antusias Nayla tidak sabar.
"Perintah!"
"Nggak mau!"
__ADS_1
Selanjutnya yang terjadi adalah Gino yang menarik pergelangan tangan Nayla, memaksa cewek itu untuk ikut walau sekuat tenaga memberontak Gino tidak melepaskan. Langkah Nayla sampai terseok-seok mengimbanginya, kakinya terasa sakit karena ulah Gino.
Mereka berhenti di sebuah ruangan. Gino membuka pintunya dan mendorong Nayla masuk.
"Ini nenek gue, gue nggak tau gimana caranya rawat orang sakit, sepupu gue yang biasanya jagain lagi pergi. Gue mau lo jagain nenek gue, nemenin gue," ujar Gino, suaranya terdengar tanpa beban.
Nayla menatap seorang wanita berkulit pucat di atas brankar. Dari wajahnya saja Nayla sudah bisa menebak jika wanita itu bukan keturunan Indonesia, mungkin Inggris?
"Lo nggak asli indo?" tanya Nayla pada Gino dan saat itu pula Nayla terpaku pada netra abu Gino. Sebelum itu Nayla tidak memerhatikan warna mata Gino.
"Hm, gue blaster Indo-inggris," jawab Gino, duduk di sofa sembari bermain game online.
.
.
.
author curhat check ðŸ˜
jadi yang buat aku malas nulis cerita LIABILITY ini karena responnya yang kurang.
nggak kayak cerita-cerita aku yang lain gitu:(
makanya bantuin author dong share cerita ini ke yang lain
baik di kolom komentar ataupun di grub-grub penulis terkenal. Kalian pasti join juga di grub lain selain gb nya Syugerr kan? hayoo ngaku😘
kalau respon cerita ini udh meningkat baru deh aku semangat buat nulis.
TARGET 👉220 KOMENT 50👈
Target part sebelumnya nggak tembus, mungkin ketinggian, nggak papalah:(
salam dariku,
SYUGERR
__ADS_1