LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 11


__ADS_3

ABSEN DULU PEMBACA LIABILITY SIAPA AJA??💜


.


.


.


.


.


Raka menepuk dua kali puncak kepala Agatha, kini dua insan itu berdiri di kelas sastra menjadi pusat perhatian yang sengaja curi-curi dengar juga pandang. Raka tersenyum simpul seraya menyematkan jari-jari besarnya pada jari mungil Agatha dan menggenggamnya erat. Sangat kecil namun pas digenggaman Raka. Raka menoleh ke samping, menunduk melihat Agatha yang tersenyum ke arahnya.


"Mau aku bawain tasnya?" tawar Raka. Agatha tersenyum dan menggeleng pelan, Raka kembali menepuk dua kali puncak kepala cewek itu dengan sayang. "Hari ini mau kemana? Aku temenin fullday," ujarnya.


"Ke mall? Aku mau beli tas baru," ujar Agatha antusias. Senyumnya merekah saat Raka mengangguk tanpa pikir panjang, anak semata wayang keluarga Dirgantara ini memang sangat mencintai dirinya jadi hanya perkara mudah untuknya mengabulkan permintaan Agatha. "Baju juga sekalian, sama sepatu, boleh?" tanyanya lagi.


Raka mengangguk. "Boleh banget, aku emang minggat dari rumah tapi papa tetap aktifin creditcard aku, jadi tetap bisa biayain kamu. Nggak sekalian skincare juga?" tanya Raka. Agatha tampak antusias kemudian menggeleng pelan, Raka sangat suka setiap ekspresi yang Agatha ukir di wajahnya. Sangat cantik dan manis sampai iris hitam miliknya merasa betah dan enggan melirik ke arah lain.


"Pacaran teroooos, pacaran! Apalah dayaku yang jomblo iniii." Morgan tiba-tiba datang bersama Gino dari arah berlawanan. Gino menunduk, melirik Agatha sekilas tanpa minat lalu kembali membaca buku melalui pdf dalam ponsel. "Agatha nggak mau sekalian jalan sama Abang Morgan aja? Abang rela 'kok, diapain aja sama Agatha," bujuknya mengedipkan mata.


Raka menabok kepala Morgan tanpa belas kasih. Morgan cengengesan dan mengangkat jari membentuk 'V' pertanda damai. "Kacungnya Agatha kasar banget, galak lagi. Agatha 'kok, bisa tahan sama manusia gagal total kayak gini," ujarnya gamblang.


Agatha tertawa kecil dan menggeleng pelan saat Raka menatapnya minta dibela. "Raka baik 'kok, Agatha sayang sama Raka," ujarnya malu-malu.


Raka mengangkat dagu songong, dibela Agatha adalah hal terindah untuk dirinya. "Denger 'tuh, manusia bau tanah, Agatha sayang sama gue!" songongnya.


Morgan tidak peduli pada Raka. Tatapannya kembali tertuju pada cewek berambut ombre biru perawatan mahal produk Raka-- yah, Raka memang terlalu memanjakan pacarnya yang awalnya berpenampilan biasa-biasa saja jadi berkilau layaknya aktris bintang lima --- ditambah dengan wajah yang cantik natural. "Dedek Agatha kalo udah bosen sama Raka bilang 'yah, Abang Morgan rela 'kok, gantiin posisi Raka," celutuk Morgan lagi mengabaikan tatapan mata Raka yang seakan ingin mengulitinya. Morgan menyeringai lebar. "Kalo mau selingkuh nggak papa, ayok aja Abang Morgan setia lahir batin."


"Habis lo, Mor," timpal Gino.


"PANGGIL GUE GAN!" Morgan melotot galak pada Gino yang mana membuat Gino bergidik bahu tidak peduli lalu menerobos pergi dengan menyenggol bahu Raka hingga sedikit bergeser ke samping. Morgan menggeleng-geleng miris. "Saha eui teh?" Morgan melirik punggung Gino yang mulai menjauh.


"Hileud teteh bengek," sahut Raka asal, wajahnya lempeng hingga membuat Agatha gemas mencubit kulit perutnya. Raka mengusap-usap cubitan Agatha yang cukup terasa, matanya melotot hingga Agatha membalas sama. Raka kembali menoleh pada Morgan. "Mor," panggilnya.

__ADS_1


Morgan mengusap wajah kasar sangat frustasi. "PANGGIL GUE GAN!" tegasnya berteriak.


"Mor."


"RAKA!"


"Mor." Raka cuek bebek saat wajah Morgan kian memerah marah, cowok berkaos merah itu bergidik tidak peduli. "Mor," ujarnya lagi dengan sengaja.


Agatha meringis ngilu, ingin ikut mengibuhkan namun memilih diam tahu jika Raka dan kedua temannya tak pernah layak disebut teman sebab mereka berkumpul hanya untuk memancing emosi.


"Raka nj1ng harga mulut lo berapa gue mau beli?"


"Gue bukan maho!"


"Jorok otak lo!" Morgan gregetan --- maksudnya untuk membeli mulut tidak pernah sekalipun kepikiran sampai di sana, hanya seseorang yang memiliki otak dangkal seperti Raka-lah yang berpikiran pendek seperti itu. "AGATHA SAYANG, PUTUSIN RAKA SEKARANG! PUTUSIN!" teriaknya histeris.


Raka menempeleng kepala Morgan hingga cowok itu meringis dan mendelik kesal. Raka ini sangat hobi melakukan kekasaran tak berperikemanusiaan didukung oleh ekspresi menyebalkan yang tidak buat-buat. Raka melirik Agatha lalu bergerak ke belakang cewek itu-- memeluk dari belakang. Sorakan cieee-cieee dan kata yang menyiratkan kecemburuan serta ke-iri-an terdengar bersahutan. Morgan menutup mata nervous, lalu menggeleng-geleng cepat.


"Mata gue ternodai, mata suci ini sudah berubah jadi kotor gara-gara makhluk durja satu ini ya Allah," dramatis Morgan.


"Dedek Agatha, apa yang harus Abang Morgan lakukan untuk membebaskanmu dari mahkluk penghuni neraka yang sedang kabur ini?" sindir Morgan melirik Raka saat mengatakan 'penghuni neraka'. Penghuni koridor lain serta yang curi-curi pandang lewat jendela terkekeh geli melihat tingkah Morgan yang lucu. Beberapa juga bergumam 'gemes' sambil mencubit lengan teman di sampingnya sebab wajah Morgan yang mirip aktor-aktor Korea terkenal.


"Kembali ke asal usulmu." Raka menyahut tenang seraya mengusek-ngusek pipi Agatha dengan hidung mancungnya.


"Kemana?" tanya Morgan kurang paham. Agatha tertawa geli saat merasakan tingkah Raka yang kian menjadi, Morgan meringis--- nasib jomblo.


"Ke kuburan," jawab Raka lempeng.


"WAGELASEH!" teriak Morgan. Penonton membekap mulut agar tawa tidak meledak, yang kesal karena iri dan ingin merasakan berada di posisi Agatha pun serasa ingin tertawa keras. Morgan kembali menatap Agatha dengan pentuh antisipasi. "Dedek Agatha kalo disakitin sama manusia gagal total kayak Raka bilang 'yah, sama Abang Morgan!"


"MOR, SINI LO!" teriak Gino keras hingga semua atensi teralih padanya.


"APAAA?" teriak Morgan keras pada Gino.


Raka melepas pelukannya pada Agatha, selanjutnya menarik pergelangan tangan cewek itu untuk segera pergi. Bisa bahaya jika terlalu lama di tempat ini, sangat tidak baik untuk kesehatan tubuh terutama otak karena mempunyai efek samping bodoh permanen. Genggaman tangan Raka kian mengerat, Agatha tersenyum dan menyandarkan sisi kepalanya ke lengan Raka.

__ADS_1


Morgan melirik sinis punggung Raka. Sejak berpacaran dengan Agatha, si pewaris tunggal keluarga Dirgantara itu bucin-nya sangat amat menyakitkan mata.


"Mor."


"PANGGIL GUE GAN!" tegas Morgan gregetan.


"Laptop lo 'kok, basah," ujar Gino yang sudah berdiri di samping Morgan. Wajah datar nan santai enak dipandang itulah Gino. Di antara mereka, Gino Sigra Pribawa yang paling enak dijadikan incaran dengan alasan benar-benar cinta, memiliki netra abu yang teduh, kulit putih namun tidak pucat serta wajah tegas khas artis-artis Hollywood terkenal yang disenangi banyak remaja cewek.


"Kok bisa? Mata lo kali udah karatan kebanyakan baca," sahut Morgan. Tidak percaya karena tadi laptop seharga sepuluh juta itu baik-baik saja.


"Serius, gue udah berusaha idupin tapi mati, laporan mau gue kerjain di sana karena gue nggak bawa laptop."


Gino tidak pernah berbohong, berbeda dengan Raka yang mulutnya tidak pernah beres. Kepalan tangan Morgan mengerat, membalikkan badan dan menendang angin dengan kesal. "BANGS4T LO RAKA! GANTIIII LAPTOP SEPULUH JUTAAA GUE," teriaknya histeris.


Gino meringis. "Belinya baru kemarin sore lagi," ujarnya prihatin. Morgan mengangguk-angguk lesuh, pupus sudah laptop barunya.


.


.


.


.


.


.


.


LIKEE SEBELUM GULIRRRR💙


SALAM DARIKU,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2