LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 13


__ADS_3

LAMA BANGET AKU NGGAK UP:)


ADA YANG NUNGGUIN CERITA INI?


ABSEN DULU DONG💜


.


.


.


.


Nayla Kayana baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut tergulung bersama handuk. Cewek itu berjalan ke meja rias untuk mempoles wajahnya dengan make-up tipis. "Hari ini harus berlalu dengan seru, agar tersimpan baik di memori gue," ujarnya. Setelah itu meraih botol handbody di atas meja rias dan memakainya pada kedua tangan.


Ting! Nayla melirik ke arah ponselnya yang baru saja berdenting. Handuk di atas kepalanya dia lepas hingga rambut sepunggungnya menjuntai indah dengan keadaan sedikit basah. Nayla berjalan ke arah nakas, meraih ponselnya dan tersenyum kecil melihat nama Aldi.


Pak Aldi


Jangan lupa sarapan, aku udah gojekin makanan kesukaan kamu. Apa sudah sampai? Habisin 'yah, makan yang banyak biar tambah berisi badannya.


Tak lama setelah membaca pesan dari Aldi, bel apartemen Nayla berbunyi dan dapat dipastikan itu bapak-bapak gojek yang mengantarkan kiriman. "Makasih, Pak." Nayla meraih kantong kresek putih di tangan pria tadi dan menaruhnya di atas meja makan.


Nayla


Udah datang, makasih, seharusnya Pak Aldi nggak perlu repot-repot.

__ADS_1


Pak Aldi


Nggak papa, makan yang banyak. Semoga harimu indah:-*


Nayla menghela napas sesak. Cowok seperti ini yang akan dia tinggalkan? Jika ada cewek terbodoh di dunia ini makan Nayla-lah orangnya. Biasanya cowok tidak suka jika pasangannya gendut agar enak diajak kondangan juga enak dipandang, maka Aldi ini beda. Nayla sama sekali tidak pernah dikekang, dan selalu diistimewakan dengan perhatian manis dan tingkah-tingkah posesif seorang Aldiano Destura.


"Maaf, pak. Aku nggak bisa jadi yang terbaik untuk bapak, aku udah ngecewain bapak. Aku nggak sesuci yang bapak kira," monolog Nayla. Menggeleng pelan, Nayla membuka kantong kresek tersebut dan mengeluarkan sekotak pizza berukuran jumbo. Sejak ke restoran waktu itu dan Nayla memesan pizza, Aldi jadi sering membeli untuk Nayla karena melihat wajah antusias cewek itu ketika makan. "Maaf, Pak," lirihnya.


Sedang asik sarapan dengan menu selezat itu telepon Nayla berdering berulangkali dan nama yang tertera masih saja sama ---Viola. Entah apa yang diinginkan cewek itu sampai nekad menelepon musuhnya pagi-pagi seperti ini. Kasihan dengan Viola yang terus saja menghubungi membuat Nayla langsung tergugah mengangkat telepon cewek itu.


"Nayla, cepetan katanya lo mau berangkat bareng? Lo musuh 'nih, yah bukan temen kalo temen mau gue tungguin, tapi kalo musuh nggak mau gue."


Uhukk-uhukk


Viola menyambar, Nayla jadi terbatuk dibuatnya. Cewek itu langsung meneguk segelas air hingga tandas yang mana membuat Viola mencerocos panjang karena kesal. Nayla mengambil dua lembar tisu dan me-lap bibirnya sambil berjalan menuju pintu.


"Lo nenek-nenek yang nyamar jadi mahasiswi 'yah, lo sebenarnya udah tua makanya batuk-batuk gitu. Udah deh gue jalan duluan kalo gitu. Byee."


Gawat jika Viola berangkat tanpa menunggunya membuat Nayla mau tidak mau harus berlari menuju parkiran secepat kilat. Masuk ke dalam lift seraya memencet tombolnya berulang kali, tinggal sejengkal lagi pintu lift akan tertutup, tetapi ada ujung sepatu yang menghentikan pergerakan pintu lift yang membuatnya kembali terbuka lebar.


Cowok berkaos putih dengan jaket bercorak tentara masuk mengenakan kacamata hitam, di bahu kanannya ada tas putih tipis yang terbuat dari kulit. Cowok itu berdiri di samping Nayla, bersiul-siul santai sesekali melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


"Kita ketemu lagi Raka." Nayla tersenyum lebar, mengukir seringai menyebalkan. Raka melirik sekilas, terlihat tidak peduli dan santai-santai saja walau kini tangan Nayla terkepal ingin meninjunya. "Apa yang mesti gue lakuin lagi ke lo? Biar lo sadar dan ngaku atas apa yang telah lo lakuin ke gue. Apa? Kasih tau gue!"


"Jauhin gue," balas Raka. Pintu lift terbuka, keduanya berjalan beriringan, lebih tepatnya Nayla yang membuntuti karena tidak ingin cowok ini kabur dan Nayla tidak punya kesempatan lagi untuk meminta pertanggungjawaban. "Lo bikin gue risih tau nggak, ngikutin mulu kayak ekor. Udah sana, balik ke habitat lo, ke satwa atau kemana gitu."


"Emang lo kira gue hewan?" Suara Nayla terdengar tinggi. Dengan lebar langkah tidak seberapa dia berusaha mensejajarkan langkah dengan Raka. "Gue ini manusia tulen, kalo ada yang harus disebut hewan itu lo, Raka Dirgantara nggak punya hati."

__ADS_1


"Gue nggak bilang hewannya siapa. Dan kalo hati gue emang nggak punya, udah dicuri sama Agatha." Raka tertawa kecil lalu mengeluarkan kunci mobil dan menekan tombol sampai kendaraan yang ingin dituju mengeluarkan bunyi.


"Bucin lo udah tingkat akut, hati-hati lo dimanfaatin doang. Ditinggal pas sayang-sayangnya itu nggak enak, dan gue orang pertama yang akan ketawain lo, liat aja!" Nayla membuang napas kesal, kedua tangannya berada di sisi paha. Entah kenapa cewek bernama Agatha itu ingin sekali dilihatnya, ingin tahu bagaimana rupa dan akhlak cewek itu hingga mendapat cowok b0brok macam Raka. "Cewek lo pasti punya banyak dosa, sampai-sampai takdirnya pacaran sama cowok t0lol kayak lo!"


Raka menurunkan kaca mobil, tersenyum menyebalkan dan melambaikan tangan pada Nayla. "Semoga dikabulin doa lo, walau mustahil 'sih, gue 'kan, nggak ada salah sama lo." Raka bergidik bahu tidak peduli, kembali menaikkan kaca mobil dan pergi begitu saja dengan mobil mewahnya.


Meredam baik-baik emosi yang sempat mencuat di kepalanya, Nayla menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan sebanyak tiga kali. Setelah aman, Nayla melirik ke sekitar melihat parkiran yang tampak lengang. Mencari mobil vantage putih milik Viola, yang sampai sekarang belum terlihat di kedua matanya.


Jangan-jangan ... Viola benar-benar meninggalkannya? Dengan keringat yang mulai menetes di pelipis Nayla mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Viola hingga suara deringan kecil terdengar. Bisa gawat jika Viola berangkat sendiri, tak ada waktu lagi untuk menunggu angkutan umum sebab, sisa beberapa menit lagi jam pertama akan segera di mulai. Apalagi menunggu angkutan umum terkadang memakan banyak waktu dan berdesak-desakan.


"Viola lo dimana? Gue udah diparkiran, udah keliling juga nyariin lo. Lo dimana, sih? Gua takut telat," cerocos Nayla, tanpa sadar sudah mengigit ujung jarinya seraya menunggu sahutan Viola di seberang sana.


"Udah di kelas, lo berangkat buruan, dosen belum masuk. Gue 'kan, udah bilang sama lo kalo kita itu musuhan, nggak ada sejarahnya orang musuhan saling tunggu, paham 'kan, lo?"


Netra Nayla terbelalak kaget. "Viola, lo tega banget 'sih, sama gue, yah sorry gue udah buat lo nunggu. Gue bener-bener lupa kalo minta lo buat jemput gue, emang lo nunggu udah berapa lama, sih?"


Terdengar hembusan napas di seberang sana. "Nggak nyampe sepuluh menit 'sih, gue nunggunya, tapi tetap aja nunggu tetap nunggu. Pesan gojek sana." Setelah mengatakan itu Viola mematikan ponsel cara sepihak. Nayla merutuk dalam hati, kenapa dirinya masih saja mengharapakan bisa berteman dengan Viola. Waktu sepuluh menit yang digunakan untuk berkeliling terbuang sia-sia karena nyatanya Viola memang berangkat sendiri.


.


.


.


.


LIKE DULU SEBELUM GULIR💜

__ADS_1


SALAM DARIKU,


SYUGERR


__ADS_2