LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 61


__ADS_3

Raka mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk lalu menguap. Mata beratnya dipaksa terbuka, rasa haus tiba-tiba menyerangnya sampai ke dunia mimpi.


Tangan kanannya bergerak di atas nakas, menggenggam sebuah tupperware lalu berniat ingin meminum isinya. Namun, Lima detik Raka tak merasakan apa-apa masuk ke tenggorokannya.


Berdecak, dengan cahaya yang temaram Raka memicingkan mata, mengecek botol tupperwarenya dan mendapati botol itu kosong. Raka dengan kesal beranjak turun dari kasur sembari menggenggam tupperwarenya, tujuannya adalah dapur.


Cowok dengan celana cargo dan bertelanjang dada itu mengusap rambut, kedua matanya terasa sangat berat, beberapa kali dia menguap sebelum sampai ke dapur.


"Raka."


Raka tersentak kaget saat ada yang menyebut namanya, irisnya yang layu terbuka lebar. "Siapa yang manggil gue?" cicitnya saat menatap ke depan tak menemukan siapapun.


Raka mulai merasa horor pada dapur rumahnya ini, memilih tidak terlalu peduli dia bergegas mendekati kulkas, ingin mengganti tupperware dengan yang baru. Namun, saat tangannya menyentuh kulkas dan ingin membuka benda elektronik itu sebuah tangan lain menyentuh pundaknya yang tak terlapisi kain, membuat sensasi dingin menusuk kulitnya.


"Raka, kenapa lo bawa gue kesini?"


"Nay?"


"Iya, gue Nayla!"


Setelah mendengar itu barulah Raka berbalik badan, rasa kantuknya melayang begitu saja digantikan dengan rasa kesal melihat cewek yang tak ingin dilihat oleh kedua matanya.


"Lo udah bangun, kan? Sekarang lo pergi dari rumah gue!" ujar Raka, terdengar sangat santai dan tanpa beban.


Nayla tercengang, dia menggeleng kukuh. Dia hanya bertanya kenapa Raka membawa dirinya ke rumah ini, bukan berarti dia ingin diusir malam ini juga. Apalagi untuk berjalan beberapa meter saja tenaganya seolah akan habis, membuat kepalanya pening dan sangat sakit.


"Nggak bisa malam ini," kata Nayla.


"Kenapa nggak bisa? Gue nggak mau liat lo di rumah ini!" tampik Raka membuat Nayla perlahan menjauh darinya dengan bergeser lebih dekat ke meja makan. "Tadi lo pingsan tepat di depan mata gue, dan gue harus bawa lo kemana selain rumah gue?"


Nayla bungkam. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat dengan Raka, tujuannya ke dapur ini ingin mencari sedikit makanan, perutnya terasa sangat lapar, Nayla nyaris tak memakan apapun hari ini.


"Gue tau lo kesel sama gue, tapi ini bukan waktu yang tepat, gue nggak bisa ngapa-ngapain, biarin gue di sini dulu sampai besok pagi," pintanya sedikit tersirat permohonan.


Nayla meringis sakit saat merasakan perih pada perutnya, bibir pucatnya dia gigit kuat-kuat untuk meredam rasa sakit itu namun percuma. Nayla menarik salah satu kursi dan duduk di sana, kedua tangannya kini beralih mencengkram perutnya semakin keras.


"Akting lo nggak berguna sekarang!" sinis Raka. Satu sudut bibirnya membentuk lengkungan sinis. "Jangan kebanyakan drama, mending lo pergi sekarang juga dari rumah gue! Gue yakin lo bakal aman di luar sana, nggak ada cowok manapun yang mau sama cewek murahan kayak lo!" tambahnya.


Bibir Nayla mendesis, iris coklatnya yang layu perlahan menegas untuk balas menatap Raka. "Gue bukan cewek murahan, stop ngatain gue kayak gitu!" sentaknya.

__ADS_1


Raka menaikkan satu alis, terlihat mengejek di mata Nayla. "Oke, yang bukan cewek murahan sekarang lo pergi dari rumah gue," ujarnya.


Raka terlampau tidak menyukai Nayla, di otaknya hanya ada hal negatif tentang Nayla yang mendongkrinnya untuk tidak memperdulikan cewek itu bagaimanapun keadaannya. Di mata Raka, seorang Nayla tak lebih dari pembohong ulung yang memanfaatkan segala cara untuk memisahkan dirinya dengan Agatha.


Tak ingin berdebat. Nayla bergegas berdiri dengan lunglai, tubuhnya masih sangat lemah, tenaganya berada di titik terendah. "Lo nggak punya hati, Ka," katanya dengan suara lemah.


Raka diam. Inilah yang seharusnya terjadi sejak tadi atau kalau perlu Raka meninggalkan cewek itu di jalan saja, tak perlu repot-repot membawanya kesini.


#####


Bunda mengecek kamar Nayla ingin memastikan keadaannya sekaligus membawakan sarapan untuk cewek itu. Namun, Bunda dibuat terkejut saat kamar tamu itu kosong. Dia meletakkan piring di tangannya di atas lemari setinggi pinggang, lalu kembali ke dapur tempat dimana keluarganya tengah sarapan.


"Raka, Nayla kemana?" tanya Bunda.


Raka menurunkan kembali sendok yang siap masuk ke dalam mulutnya. "Tadi malam Raka usir, Bun," jawabnya jujur.


Ayah meletakkan sendoknya sedikit kasar lalu menggeleng. Kedua tangannya menyatu dengan bertumpu di atas meja. "Raka, papa nggak pernah ngajarin kamu bersikap kurang ajar pada perempuan," tegurnya.


Bunda menarik kursi yang dekat dengan Raka. "Nayla lagi sakit, kenapa kamu tega ngusir dia, Ka?" tanyanya miris. Selama ini Raka selalu lemah jika berhadapan dengan perempuan, dia tidak pernah ingin melihat kaum lemah itu sedih dan merasa tidak adil, namun Bunda tidak menyangka setelah mengenal Nayla, Raka jadi banyak berubah. Dan semua perubahan Raka tertuju pada Nayla.


"Bunda dan Ayah nggak tau aja gimana busuknya cewek itu," kesal Raka.


"Tapi, Ka. Tetap aja Nayla perempuan, seburuk apapun alasan itu. Apalagi jaman sekarang banyak penjahat berkeliaran, entah bagaimana keadaan Nayla saat ini!" Suara Ayah naik satu oktaf.


Di sisi lain.


"Makasih, Gino."


Gino mengangguk, dia meletakkan mangkuk putih berisi bubur di atas nakas, juga membantu Nayla saat cewek itu ingin mengubah posisi menjadi duduk. Tubuhnya masih sangat lemah, penglihatannya sedikit buram karena lupa meminum vitamin setelah berlama-lama di depan laptop kemarin.


Nayla tak bicara lagi, wajahnya terlihat datar. Nayla tidak akan lupa kalau cowok di hadapannya ini biang dari semua masalahnya sekarang, Viola hilang entah kemana, Raka semakin membencinya, dan dengan tidak tahu malunya cowok ini muncul dan bersikap tidak tahu apa-apa.


"Nay, lo nggak papa, kan?"


Nayla tidak menjawab, memilih melihat ke arah lain.


"Gue nggak tau apa masalah lo," ujar Gino. Raut wajahnya yang dingin semakin menjadi-jadi. Tadi malam dia tak sengaja menemukan Nayla berjalan sendiri seperti orang linglung. Gino hanya ingin membantunya namun Nayla menolak keras bahkan mengancam akan berteriak minta tolong.


Gino pasrah saja. Dia sudah ingin pergi waktu itu. Tetapi, yang terjadi ialah Nayla pingsan sebelum dirinya benar-benar pergi.

__ADS_1


Dan di sinilah cewek itu sekarang, di apartemen pribadinya.


"Apapun yang terjadi sama lo saat ini itu bukan urusan gue. Yang mau gue tau, dimana Viola?" tanyanya langsung dibalas tatapan bengis oleh Nayla.


Iris cewek itu yang berkaca-kaca menandakan bahwa pertanyaannya barusan menyinggung perasaan. Gino menaikkan satu alis, Nayla masih menatapnya bengis.


"Nggak usah nyebut-nyebut nama Viola!" tukas Nayla.


"Why?"


"Lo nggak punya hak! Bahkan untuk nyebut nama dia lagi setelah apa yang lo lakuin sama gue! Dia benar-benar benci sama lo."


Gino melayangkan tatapan menghunus. "Benci? Lo bilang benci?!" sarkasnya.


Nayla mengangguk. Memaksakan diri untuk bergegas berdiri, dia ingin pergi dari tempat ini secepat mungkin. Namun, Gino menahannya, menekan pundaknya untuk kembali duduk ke ranjang.


"GUE MAU PERGI! GUE NGGAK MAU ADA DI SINI!" teriaknya mendorong Gino menjauh. Nayla kembali berdiri dan melangkah pergi kali ini Gino tidak menahannya.


.


.


.


Hai:(


Aku nggak up dalam 10 hari ya?


udah banyak yg DM aku di ig minta up✨


aku jawab Minggu ini bakal update


dan inilah:( update malam Sabtu wkwk


part di sebelah juga nggak tembus


jadi aku nggak salah dong:p


sorry ya🦋

__ADS_1


salam dariku,


SYUGERR


__ADS_2