
assalamualaikum...
selamat sore ...
absen dulu yang masih baca ...
ajak temen-temen kalian buat baca cerita ini๐ share ke grub-grub dan komentar-komentar cerita lain๐, bantu Syugerr itu indah:)
selamat membaca ...
.
.
.
Nayla kembali melanjutkan novel yang
sempat tertunda namun kali ini ia menggunakan ponsel, berjalan di lorong apartemen dengan kepala menunduk dan jemari yang menari di atas layar.
Raka yang berdiri di pintu masuk apartemen mengernyit, antara senang atau agak sedikit aneh karena tumbenan Nayla tidak merecokinya. Tidak ada ucapan selamat pagi, ban mobil kempes, dan senyuman khas cewek tersebut yang ia dapati pagi ini.
"Gue mau di ending nih cerita si Raka mati ketabrak kereta!" geramnya. Raka yang berdiri tak jauh dibelakangnya mendengar itu. "Nggak cuma itu, cowok yang nggak tau diuntung ini bakal gue bikin apes selama hidupnya! Gue bakal siksa dan doain semoga jadi kenyataan ... Aamiin." Nayla mengusap wajah sehabis berdoa.
Raka melongo, mengerjap-ngerjap tidak mengerti mendengar itu. Ingin menegur ia sudah merasa sungkan, mungkin saja ini salah satu cara Nayla melupakannya. Yang bisa Raka lakukan hanyalah pergi secara diam-diam, berusaha agar Nayla tidak menyadari keberadaannya.
Nayla memasukkan ponselnya ke dalam tas setelah memesan ojek online. Berjalan menyusuri bassement apartemen ia melihat mobil Raka melaju, memilih abai, ia punya rencana lain membuktikan semuanya. "Raka Dirgantara, gue bakal istirahat beberapa hari nggak ganggu lo, mau mulihin hati, otak, sel-sel tubuh gue yang capek namun nggak dianggap sama sekali," ujarnya.
"VIO!" Nayla melambaikan tangan pada mobil sport putih yang masuk ke bassement. Dia yakin mobil itu milik Viola. "Tumbenan lo jemput gue, ada apanih?" tanyanya santai saat mobil tersebut sudah berhenti di depannya.
Nayla membatalkan pesanan ojek online-nya.
"Masuk sini ada info terbaru yang pengin gue tanyain!" pekik Viola terdengar buru-buru, alis Nayla saling bertautan bingung namun tak urung ia tetap mengikuti perintah Viola. "Lo udah cek gb kampus? Gb kelas? Atau sw teman-teman sekampus? Jawab lo udah cek belum?"
"Apasih," ujar Nayla, tidak mengerti apa maksud Viola bertanya seperti itu. "Semalem gue capek dan pagi ini gue mutusin buat nulis jadi belum sempat aktifin data," tuturnya.
__ADS_1
Viola mulai melajukan mobil. Lega karena Nayla belum mengetahui jika seisi kampus tahu konfliknya dengan Raka. Viola tidak bisa menebak bagaimana perasaan sahabatnya ini jika sampai tahu image-nya benar-benar buruk. "Hm ... Nay, kita bolos aja yuk hari ini, jalan-jalan kemana gitu."
Nayla memposisikan tubuh menatap Viola sepenuhnya. "Gue nggak salah denger? Seorang Viola Oksana mengatakan kata 'bolos'?"
Viola menggeleng lantas menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Gue kepingin bolos aja, bareng lo mau nggak? Ada tempat-tempat yang pingin gue datengin tempatnya ind....โ
"Nggak!" potong Nayla, ia sudah siap turun dari mobil namun Viola mencegahnya. "Vio, ini bukan lo yang sebenarnya, Viola yang gue kenal pantang ngucapin kata-kata yang nggak mungkin dilakuin orang pinter ber-IQ tinggi!" tegasnya.
"Trus apa yang mesti gue lakuin buat lo, Nay?" tanya Viola nyaris melirih, mencengkeram erat setir mobil dengan tatapan tajam ke depan. "Cerita sama gue, semalem apa yang terjadi!" pintanya lalu kembali melajukan mobil. Nayla benar, seorang Viola Oksana tidak mungkin bolos walau dirinya sangat ingin.
Nayla mengangguk kemudian bercerita semuanya. Mulai dari caranya membujuk Raka sampai rekaman-rekaman yang terputar namun rekaman malam yang dicarinya sudah terhapus hingga tanpa sadar mobil sport putih milik Viola sudah masuk ke area parkiran kampus.
"Mereka kenapa natap gue kayak gitu?" tanya Nayla saat sadar semua tatapan warga kampus mengarah ke arahnya. Bukan tatapan biasa, kagum ataupun kasihan melainkan tatapan jijik, jahat, kesal dan tajam. "Vio, jawab!"
"Buka hp lo sekarang!" ujar Viola yang mana membuat Nayla langsung merogoh tas untuk mencari ponsel. "Gue nggak tau siapa yang nyebarin itu semua, siapa yang nuduh lo seakan-akan lo yang salah semuanya, Raka dan Agatha korban kelicikan lo," ujarnya membuat ponsel yang baru saja Nayla genggam terjatuh.
"Ko---kok bisa?" gugu Nayla. "Siapa yang nyebarin?" tanyanya pada Viola namum cewek tersebut hanya menggeleng, memasang wajah turut merasakan dan memeluk Nayla untuk menguatkan. "Vio---hiks. Apa yang mesti gue lakuin? Baru aja gue mikirin cara buat buktiin semuanya, tapi apa gue bakal bertahan di kampus ini selama itu?"
"Ada gue, Nay. Gue nggak bakal ninggalin lo, apapun yang terjadi. Kita sahabat, kan?"
Nayla mengangguk, balas memeluk Viola. "Kalau lo ninggalin gue, mungkin gue mutusin buat bunuh diri," lirihnya namun Viola masih mendengar itu.
Turun dari mobil sudah banyak yang mencibir Nayla, bahkan ada yang melemparinya gulungan kertas dan sengaja menabrakan diri dengan Nayla membuat bahu cewek tersebut sakit. Viola ingin menegur dan memaki-maki mereka semua namun Nayla menahannya.
"SIAPA YANG NYEBARIN BERITA SI4LAN ITU?!"
"Gue nggak tau, Ka. Serius."
"Nggak usah natap gue kayak gitu, emang lo percaya kalo gue yang nyebarin?"
"Percaya. Lo pasti benci sama gue, terlihat dari sikap lo yang nggak enak!"
"Tapi lo tetep aja 'kan, nerima gue sebagai sahabat lo? Jadi ... Gue rasa itu udah cukup sebagai bukti kalo lo percaya bukan gue yang nyebarin berita si4lan itu."
"Yaudah-lah, Ka. Nggak udah dipikirin orang yang korban elo, mungkin dengan ini Nayla nggak akan mau deketin lo lagi."
__ADS_1
Nayla dan Viola yang tidak sengaja mendengar itu memilih abai, berjalan melewati mereka--- Raka, Morgan, Gino---yang berdiri di depan pintu kelas. Viola sempat melirik Morgan tajam membuat Morgan langsung mengatupkan bibir.
"Yah, Vio denger omongan gue lagi, ilfil dah tuh cewek," lesu Morgan. Gagal sudah proses pdkt-nya dengan Viola, padahal semalam ia sudah menyiapkan beberapa gombalan untuk Viola hari ini. "Gara-gara lo berdua sih ngerumpi di depan kelas, Vio jadi denger kan, nggak mau tau! Tanggung jawab lo pada!" tukasnya kesal.
Gino melirik Morgan sinis lalu pergi dari sana. Raka juga sama ia masuk ke dalam kelas, meninggalkan Morgan yang masih mengomel karena Viola. "Eh, busyett kalian temen apasih, *****?!" umpatnya kesal.
Nayla menunduk saat tak sengaja bertemu tatap dengan Raka. Cewek yang sibuk dengan buku bersampul merah dan airpods yang menyumbat telinga itu terlihat tegar walau nyaris seisi kelas menggunjing dirinya.
Raka menyapu pandang, melirik mereka tajam meminta diam. Walau ia tahu tingkahnya ini bisa membuat Nayla 'mendekatinya' lagi namun ia sebagai cowok tiga tega melihat seorang cewek disakiti.
.
.
.
.
jangan lupa like!
menurut kalian part ini gimana? komentar yah.
apa yang ingin kalian katakan untuk Raka?
apa yang ingin kalian katakan untuk Nayla?
apa yang ingin kalian katakan untuk Agatha?
apa yang ingin kalian katakan untuk Morgan?
apa yang ingin kalian katakan untuk Gino?
apa yang ingin kalian katakan untuk Viola?
ada yang rindu pak Aldi?๐
__ADS_1
salam dariku,
SYUGERR