LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 25


__ADS_3

YANG NUNGGUN CERITA INI SIAPA AJA? DAN ... ABSEN DULU KUYYY 🤣


.


.


.


Sepertinya takdir memang tidak pernah berpihak baik pada Raka. Sejak semalam lelah karena mengurus Nayla yang merusuh di apartemennya, pagi ini dia dibuat kaget karena ban mobilnya yang pecah. Bukan satu melainkan empat ban mobilnya pecah di waktu yang sama. Sedangkan, dia ada janji ingin menjemput Agatha pagi ini.


"Pagi, Raka." Nayla datang menyapa, mengusung senyuman lebar. Raka menoleh sekilas lalu mendelik tidak peduli. Mood-nya hancur karena ban mobilnya yang pecah, dan kehadiran Nayla seperti api yang menyulut api untuk semakin berkobar hebat. Terkekeh pelan, Nayla melangkah semakin dekat dengan Raka. "Pagi, Raka. Semoga hari lo indah," tambahnya.


"Siapa 'sih, Indah? Nggak kenal gue, pergi sana!" usirnya mendorong bahu Nayla untuk mencipta jarak di antara mereka. Bukannya menjauh, si cewek cardigan navy itu semakin mendekat padanya. "Nay, jangan bikin mood gue tambah hancur, bisa?" geramnya.


Nayla berkedip dua kali. Berpikir sejenak lalu menggeleng membuat Raka mengumpat pelan. Tujuan Nayla bersikap seperti ini memang ingin membuat Raka kesal, memangnya apalagi? Hidup Raka harus dibumbuhi emosi lain selain kasmaran dengan Agatha. Nayla memiringkan kepala, memberi sorot jenaka. "Gue ... bahkan rela berubah kekanak-kanakan biar bisa ganggu lo," ungkapnya jujur.


Raka menoleh, mengeryit tidak paham. Dia menjawab, "Masih kasus nggak jelas itu? Harus berapa kali gue bilang kalo itu nggak mungkin terjadi. Gue ... Nggak mungkin berani, Nay." Raka mengelak. Nayla menekuk bibir kebawah. Menghela napas, menepuk puncak kepala Nayla dua kali, dia menambahkan, "Nay, kalaupun iya gue nggak mungkin tanggung jawab di saat hati gue udah milik orang lain. Jika itu terjadi dan kita nikah, gue bisa aja nyakitin lo terus-menerus, Nay."


Nayla bergeming. Menatap lurus iris hitam cowok itu. Ada kejujuran yang terpancar dari sana membuat sudut di dasar hati Nayla mencicit. Kenapa mendengar penolakan cowok itu membuat perasaannya sedikit tidak enak. "Raka ... Tapi gue udah terlanjur mau buat hidup lo sengsara selama lo nggak tanggung jawab," cicitnya menunduk. Raka menatap datar dan menurunkan tangannya. Nayla mendongak, "Kenapa?" tanyanya pelan.


"Terserah, pusing gue." Raka mengibaskan tangan. Memilih meninggalkan bassement apartment untuk menunggu taksi di depan sana. Sambil berjalan, tangan Raka juga mengetik beberapa kata untuk dikirimkan pada Agatha bahwa pagi ini dia tidak bisa menjemput.


"Raka, mau bareng?"


"Enggak!" Raka memasukkan ponselnya ke dalam saku, menoleh ke samping lantas mendorong bahu Nayla yang berjalan di sisinya. Apakah penolakannya tidak cukup jelas? Raka bisa saja berbuat kasar namun tidak tega karena Nayla perempuan, fisik perempuan 'kan, lemah, Raka tidak ingin masuk neraka. Eh, menyakiti perempuan bisa masuk neraka, kah?

__ADS_1


"Nggak baik dua-dua-an entar yang ketiganya supir dan keempatnya setan." Raka berkata ketus namun Nayla memilih abai dan masih setia berdiri di sampingnya. "Nay, lo nggak capek apa ngejar-ngejar hal yang nggak pasti?" tanyanya.


"Apaan yang nggak pasti?" Nayla menoleh, menatap Raka yang memberinya sorot malas.


"Lo ngejar gue percuma. Lagian lo udah punya pacar, Nay. Hargain dikit perasaan pacar lo," jelas Raka. Berdoa dalam hati mudah-mudahan saja alasan pacar dapat membuat pikiran Nayla sedikit cerah untuk menyerah. "Lagian ... Maaf nih yah." Raka berkata sopan. Nayla mengangguk saja dengan senyum kecil yang masih setia terukir. "Lo ... Bukan selera gue. Jadi ... nggak dan alasan untuk gue suka sama lo, paham?" Tak menunggu jawaban, Raka menahan taksi dan naik ke kendaraan itu meninggalkan Nayla yang terdiam kaku di tempatnya.


"Cowok 'mah, gitu .... mandang fisik," gumam Nayla. Walau kesal dia tidak menyangkal jika fisiknya memang jauh lebih buruk dibanding Agatha. Pantas saja Raka jatuh cinta pada Agatha, cewek itu memang wujudan bidadari yang tak bersayap, senyumannya bahkan mampu membuat para cowok bertekuk lutut untuk bisa mendapatkannya, tetapi ... Kenapa harus Raka? Kenapa harus Raka yang Agatha pilih, kenapa bukan Gino? Gino juga sempat suka pada Agatha. Setidaknya itu yang Nayla tangkap dari teman gosipnya semalam.


"Nay." Aldi mengimbaskan tangan. Namun, cewek ini masih terdiam dengan sorot mata menerawang. "Nay." Aldi memegang kedua bahu Nayla yang mana berhasil membuat sang empu mendongak menatapnya. "Kenapa melamun?"


"Nggak pa---pa." Nayla tergugu, melepas genggaman tangan kekar Aldi dari bahunya membuat Aldi menghela napas berat. Menoleh kiri-kanan mencari keberadaan taksi, Nayla tidak ingin terjebak di situasi dimana dia harus berdua dengan lelaki ini. Karena tidak lama lagi Aldi pasti akan ...


"Aku anterin kamu."


"Pak, saya bisa berangkat sendiri." Nayla menolak halus, Aldi menggeleng dan menarik tangan Nayla untuk masuk ke dalam mobil. Nayla melotot, kesal karena permintaannya diabaikan. Susah payah Nayla memantapkan niat untuk melupakan Aldi dan lelaki ini dengan semaunya memintanya semobil. "Kita udah putus!" Nayla menghempas tangannya.


"Aku tidak ingin putus dari kamu!" Aldi berkata tegas. Nayla menggeleng dan membalikkan badan hendak pergi dari hadapannya namun Aldi lebih dulu mencegah. "Nay, mengakhiri hubungan bukan jalan yang benar. Bosan wajar dalam hubungan Nay, yang nggak wajar itu ninggalin di saat bosan."


"Pak Aldi, nggak ngerti." Nayla menggeliatkan badannya dan menepis tangan Aldi dari kedua lengannya. Aldi ini sama sekali tidak mengerti dengan perasaan campur aduk dalam hati Nayla. Ingin mundur namun tidak mungkin, dia sudah memantapkan niat. Dia ... Tidak ingin jika Raka lepas begitu saja. "Hubungan kita sekarang hanya sebatas mahasiswa dan dosen, nggak ada hubungan lain lagi!"


"Semudah itu?" Aldi memberi sorot humor, dia terkekeh sarkas yang mana berhasil membuat Nayla bungkam. Sisi lain Aldi seperti baru terlihat, sisi menyeramkan yang jarang diperlihatkan. Aldi menggenggam lengan atas Nayla, membuat Nayla meringis tertahan. "Kamu pikir aku akan melepaskanmu dengan mudah? Kamu yang buat aku seperti ini, Nay. Dan kamu harus tanggung akibatnya."


"Maaf, Pak. Saya benar-benar minta maaf jika menyakiti hati Pak Aldi." Nayla berkata tegas, melepas paksa tangan Aldi yang menggelung di lengannya. "Saya ... tidak punya rasa cinta sedikitpun lagi pada anda," tuturnya sopan. Aldi menatap dingin, tidak percaya dengan ucapan cewek ini, namun jika sudah dipertegas berkali-kali, apakah masih pantas Aldi berharap?


"Bagaimana dengan janjiku dulu untuk menikahimu setelah lulus?"

__ADS_1


"Nggak perlu." Nayla menggeleng, mundur dua langkah kebelakang untuk mencipta jarak di antara mereka.


####


"Kita ketemu lagi Raka ...." Nayla mengukir senyuman manis. Di samping Raka ada Agatha yang duduk diam seraya memakan pangsit pesanannya. Nayla melirik Agatha dan berucap, "Semalam gue apartemen ke Raka." Niatnya untuk memanas-manasi, mudah-mudahan aja Agatha marah dan langsung memutuskan hubungan dengan Raka.


"Jangan ngada-ngada, Nay!" Raka menampik. Nayla melirik Raka dan mendelik kesal, dia kembali menatap Agatha, memberi sorot menyakinkan membuat Raka tak segan menarik rambut cewek itu. "Pergi sana! Hush!"


"Kasar banget lo." Nayla memegangi kepalanya yang nyeri. Sejak semalam Raka seperti dendam dengan rambutnya karena selalu dijadikan bahan pelampiasan ketika kesal. "Kalo lo kesal, tarik rambut Agatha bukan rambut gue!" pekiknya.


.


.


.


.


.


ADA YANG PENGEN NARIK RAMBUT AGATHA 🤣


SALAM DARIKU,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2