
Hai...
absen yang masih nungguin!
lagi ngapain sekarang?
masih setia nunggu nggak?
kalian pengen banyak yang baca cerita ini? jangan lupa share, like dan komentar yah!
biar makin mangatss aku nulisnya 💜
.
.
.
.
.
"Maaf, Pak. Kami mau minta tolong."
"Minta tolong apa?"
"Cek cctv di kamar nomor xxx pada tanggal xxx, dini hari tepatnya jam 1."
Nayla menunggu dengan sabar seorang pria yang sibuk mengutak-atik mesin di depannya. Dia melirik Raka sekilas, berdecak karena mimik wajah cowok itu tidak berubah walau sedikit pun.
"Ngapain lo natap gue?" tanya Raka tanpa menoleh namun tahu jika sedari tadi Nayla menatapnya. "Jawab! Ngapain lo natap gue?" tekannya saat Nayla tak memberi jawaban melainkan menoleh ke arah lain.
__ADS_1
"Kok mimik wajah lo nggak berubah? Nggak khawatir karena kebusukan lo bentar lagi ke bongkar?"
Raka mengukir seringai jahat. "Ngapain khawatir? Gue bukan orang jahat yang mesti khawatir walo cctv di cek," ujarnya. Nayla tidak menjawab lagi, ia memilih fokus pada layar biru di hadapannya. "Oh iya, Nay. Lo udah siap buat berhenti recokin idup gue? Udah siap buat minta maaf atas semua kekacauan yang lo buat?"
"Nggak, karena yang terjadi adalah hubungan lo dan Agatha akan hancur dan lo yang akan minta maaf sama gue," tuturnya yakin. "Bentar lagi, Ka. Bentar lagi lo tau kalo apa yang gue omongin semuanya benar," batinnya.
Sepuluh menit berdiri namun seorang pria tersebut tidak memberi tanda-tanda menekuk cctv malam itu membuat tangan Nayla berkeringat tanpa sebab. Raka yang juga penasaran mulai tidak sabaran melihat itu, ia ingin tahu siapa yang menggiringnya masuk ke apartemen Nayla.
Nayla tidak sepenuhnya salah, itu yang Raka pikirkan sampai-sampai menyakiti Nayla masih di batas wajar. Ada orang yang menggiringnya masuk ke apartemen Nayla dan orang tersebut bekerjasama dengan Nayla untuk menjebaknya.
"Mereka bayar lo berapa? Sepuluh juta? Dua puluh? Atau seratus juta?" tanya Raka membuat kening Nayla mengerut. Melihat itu Raka tertawa renyah. "Nggak usah pura-pura nggak tau, sebutin siapa aja yang udah berusaha jebak gue," ujarnya.
"Jebak? Kalo pun ada yang jebak lo itu Agatha, pacar lo sendiri!" balas Nayla dengan emosi yang mulai naik. "Dan .... Gue nggak semurah itu rela dibayar buat tidur sama lo," lanjutnya mencicit. Harga dirinya benar-benar hilang jika berhadapan dengan Raka, cowok yang tidak mengerti perasaan orang lain.
"Nggak usah nutup-nutupin, Nay," ujar Raka. "Kedok lo bakal ke bongkar bentar lagi," ujarnya yakin, Nayla menggeleng penuh percaya diri, dirinya tidak salah dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Cctv malam itu nggak ada, udah ke hapus," tutur pria setengah baya yang menjaga di ruangan ini. "Saya udah cari berulangkali tapi tetep nggak ketemu," ujarnya lagi membuat Nayla terkejut nyaris menangis.
"Co--ba cari lagi, Pak." Suara Nayla sedikit bergetar, ia memfokuskan tatapannya pada layar namun yang terjadi tetap sama yaitu cctv malam itu tidak ditemukan. "Kok bisa ke hapus? Ada yang hapus apa gimana? Bapak nggak liat orang yang udah hapus cctv itu?" tanyanya beruntun berharap ada secercah harapan untuk mengembalikan harga dirinya.
Raka nampak berpikir sebelum akhirnya memilih untuk duduk di samping pria tersebut dan mengambil alih mouse di tangannya. "Saya akan cek cctv sebelumnya," tuturnya.
"Untuk apa?" tanya Nayla, ia tidak mengerti jalan pikiran Raka kali ini, di hari sebelumnya mereka tidak bertemu, atau kalaupun bertemu mereka akan tetap menjadi asing yang tidak saling sapa. "Raka, jawab gue untuk apa!" tekannya.
"Kedok lo udah ke bongkar, Nay," ujar Raka tersenyum picik, ia menemukan rekaman yang memperlihatkan Nayla tengah berbicara bersama dua orang pria, Raka tidak mengenali wajah mereka karena posisi kameranya dari samping dan wajah mereka tertutup oleh tudung hoodie. "Siapa mereka berdua? Ngaku Lo!"
"En-enggak," gugup Nayla. "Itu tukang pizza yang gue pesan buat makan malam," ujarnya yakin. Nayla juga mengingat dua pria pengantar pizza tersebut.
Raka bertambah kesal karena Nayla selalu saja menampik ucapannya, cewek itu benar-benar keukeh tidak ingin mengaku jika salah. Raka berdiri dan terus berjalan keluar, meninggalkan ruangan cctv tersebut dengan Nayla yang mengekor di belakangnya.
"Ka, pasti ada yang hapus rekaman itu, gue yakin ada yang jebak kita di hubungan rumit seperti ini," tutur Nayla berusaha menjelaskan. "Jangan kayak gini dong. Lo harus mikirin siapa orang-orang yang udah berusaha jebak kita, ngehapus cctv itu buat ilangin bukti kejahatannya!"
__ADS_1
"NAY!" teriak Raka, murka. Nayla sampai gemetar saking terkejutnya. Raka membalikkan badan, balas menatap iris Nayla yang menghujamnya dengan takut. "Yang harus lo lakuin sekarang cuma ngasih tau gue, siapa dua orang yang udah ngajak lo kerja sama! Gue punya banyak musuh, Nay, dan kesialan dalam hidup gue di sebabin oleh mereka!" Raka nampak tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nayla. "Sekarang kasih tau gue, siapa dua orang itu dan lo akan bebas dari tuntutan pencemaran nama baik!"
"Pencemaran na--ma baik?" tanya Nayla nyaris menangis, cobaan yang Tuhan berikan kali ini benar-benar membuatnya lelah. "Gue yang korban, Ka. Gue nggak tau apa-apa lo tiba-tiba aja datang ke apartemen gue, gu--gue ...."
"Gue yang korban, Nay! Gue yang dijebak sama lo dan dua musuh gue. Dan cctv malam itu gue yakin lo kan yang ngehapus buat nutupin kedok lo? Tapi sayangnya lo lupa ngehapus cctv malam sebelumnya saat lo dan dua musuh gue buat kesepakatan," tuding Raka. Nayla menggeleng menolak tuduhan itu, netranya bahkan berkaca-kaca saking tidak terimanya. "Dan .... Berhenti drama dengan nunjukin kalo gue yang bener-bener salah. Dan satu lagi, gue bakal bayar lo lebih berkali-kali lipat dari bayaran musuh gue, sebagai gantinya lo ngasih tau gue siapa mereka!"
"Bukan gue yang salah," lirih Nayla. Raka tidak peduli dan pergi meninggalkannya. Tubuh Nayla tremor parah, ia bersandar pada dinding agar tetap berdiri. Orang-orang yang berlalu lalang menatapnya dengan sorot yang berbeda-beda. "Bu--kan gue, hiks. Kenapa jadi gue yang salah?" tanyanya entah untuk siapa.
Air mata yang sedari tadi dibendungnya tidak dapat dibendung lagi, pecah hingga akhirnya Nayla memilih menangis dipijakannya sekarang. Apa yang mesti ia lakukan setelah ini? Bukti kuat yang menunjukkan Raka masuk ke apartemennya sudah terhapus.
"Hiks---Gimana ini? Apa yang mesti gue lakuin," ujarnya di sela-sela isak tangis. Mengingat kembali ucapan-ucapan Raka dan tatapan penuh kebencian yang cowok itu layangkan sebelum pergi. "Hiks--- Gimana caranya gue buktiin kalo dua pria itu pengirim pizza, bukan musuh dia?"
.
.
.
.
.
gimana perasaan kalian setelah baca part ini?
ada yang greget nggak kapan ke bongkarnya?
jika kamu jadi Nayla apa yang bakal kamu lakuin?
jika kamu jadi Raka apa yang bakal kamu lakuin?
kira-kira yang hapus cctv siapa?
__ADS_1
salam dariku,
SYUGERR