
Target udah tembus💙 saatnya UP🔥
Akhir-akhir aku bimbang pengen nulis dimana, di sini apa Wattp4d. Soalnya kebijakan di sini udah nggak sikron menurut akuðŸ˜, pengen pindah aja rasanya tapi kalian semua di sini, gimana dong:(
.
.
.
"KUMPUL SEMUANYA!"
Raka berteriak, masih menyeret Nayla. Teriakannya mengundang semakin banyak warga kampus untuk berkumpul, menghampiri, dan mengekor di belakang mereka.
Nayla berusaha melepas cengkeraman Raka namun terlalu kuat membuatnya kesusahan. Dia menoleh ke belakang, menatap pasrah pada segerombolan mahasiswi yang melemparinya gulungan kertas.
"Mau bawa gue kemana, hah?" teriaknya namun Raka seolah tuli, menyeretnya semakin keras membuatnya tersandung beberapa kali. Nayla meringis, menatap Raka dengan sorot bengis.
Cowok ini terlalu tidak memiliki hati. "Kaki gue sakit!" Nayla meringis berharap ada satu atau dua orang yang membelanya. Membantunya lepas dan kabur dari Raka. "RAKA, BERHENTI. LO BAKAL NYESEL SEUMUR IDUP GINIIN GUE!"
Raka menyentak tangannya cukup keras membuat Nayla tersungkur ke lapangan. Emosi yang menggelegak di dadanya membuatnya tidak bisa berpikir jernih hingga mendorong Nayla pun tak menyisakan sedikit rasa kasihan.
Tindakannya itu semakin memancing keributan. Ada Viola juga yang menerobos kerumunan bersama Morgan, dia ingin membantu Nayla namun Morgan selalu saja menghalanginya dengan alasan 'Raka terlihat sangat murka, akan sangat bahaya mencampuri urusannya kali ini'
"Ingat ucapan lo tadi?"
Suara rendah itu membuat Nayla tersadar, dia segera berdiri, balas menatap iris kelam yang menyorotnya marah. Dia tahu, dia gagal lagi membuktikan kebenaran yang ada, harga dirinya kembali jatuh ke dasar tak bersisa. Setelah ini, Nayla akan menguatkan batin menghadapi cibiran-cibiran yang semakin pedas.
"Hm, gue ingat," balas Nayla.
Raka berdecih. "Buktikan sekarang!"
Nayla tertegun.
__ADS_1
"Kenapa? Malu? Gue kira urat malu lo udah putus," cemooh Raka mengundang banyak tawa mengudara. Raka melunakkan mimik wajahnya, tidak semurka tadi namun tetap saja pikiran liciknya untuk mempermalukan Nayla direalisasikan. "Buktikan ucapan lo sekarang Nayla Kayana. Lo salah, bukan cuma salah tapi udah berani fitnah dua orang yang berarti di hidup gue. Pertama ... pacar gue Agatha, kedua ... sahabat gue!"
"Sahabat?" beo Nayla tidak percaya. "Lo udah dikhianatin dua orang Raka, cepat atau lambat kedok mereka bakal ke bongkar," batinnya.
Walau hubungan Raka dan Gino kadang tidak baik diantara mereka tetap ada ikatan 'persahabatan'. Raka memahami karakter Gino yang dingin walau sesekali dia emosi jika diabaikan. Hubungan mereka timbal balik, konflik sering terjadi itu sesuatu yang wajar.
Raka menyapu kerumunan, tersenyum picik dan berteriak, "SIAPIN HP KALIAN, REKAM NIH CEWEK." Yang mana warga kampus serentak saja mengikuti perintahnya. "Lo nyanyi sekarang, gue nggak peduli suara lo vales atau apa!"
Nayla diam. Tak mengeluarkan sepatah kata dan tatapannya jatuh pada Viola yang memberontak dari Morgan, kedua tangannya digenggam erat oleh cowok itu. Nayla kini menyapu pandang dan menemukan sosok Agatha yang tersenyum di antara kerumunan, senyum penuh kemenangan.
"Nyanyi cepetan!" titah Raka absolute. Tetapi, cewek berambut pendek di depannya ini hanya diam. "LO! sini cepetan!" Raka memanggil seorang mahasiswa cupu yang menggenggam cup latte dingin.
Kening Nayla mengerut saat melihat Agatha mengangkat sebuah panggilan yang mana ekspresinya langsung berubah, Nayla yakin jika itu info penting. Saat Agatha keluar dari kerumunan Nayla ingin mengejar namun Raka menyadari dan kembali mencengkeramnya.
"Lepasin! Gue ada urusan," geramnya berusaha melepas cekalan tangan Raka dengan kedua tangannya. "Ini penting, lepasin," pintanya lagi. Nayla menoleh ke tempat Agatha tadi, bahunya merosot saat tak melihat jejak Agatha lagi.
"Mau kemana lo, hah? Mau lari dari hukuman? Nggak bisa!" tajamnya, Nayla ingin protes namun Raka lebih dulu menuangkan cairan dingin ke tubuhnya. "Ini balasan karena lo lama," tekannya mengukir smirk.
Tubuhnya seolah kebas saat cairan dingin itu jatuh ke permukaan kulitnya. Nayla tidak berontak lagi, dia menunduk, meminimalisir rasa sakit hati akibat ulah Raka. "Ka." Suara Nayla bergetar, dia mendongak memperlihatkan iris sendunya pada Raka. "Tatap mata gue, gue yakin lo nggak sebodoh itu buat nggak percaya semua ucapan gue."
"Seharusnya gue yang marah, gue yang permaluin lo di depan umum, gue yang berhak perlakuin ini ke lo. Gue yang korban, harga diri gue yang hancur, tapi ... Gue malah berusaha bantu lo biar tau yang sebenarnya. Gue bodoh banget." Nayla merutuk, memukul kepalanya sendiri semakin keras.
"NAYLA!" teriak Viola, dia berusaha lepas dari Morgan. "Lepasin Morgan! Kalo lo nggak lepasin gue, gue janji bakal benci lo seumur hidup, gue nggak mau ketemu sama lo lagi!" bentaknya dan berhasil, Morgan langsung melepaskannya.
"Lo kira gue bakal goyah setelah liat air mata buaya lo itu?" Raka tertawa sarkas. "Lo salah, jutsru gue semakin ingin hancurin idup lo!" tekannya.
"Nay!"
Nayla menoleh pada Viola yang berlari ke arahnya. Nayla menggeleng pelan mengisyaratkan agar Viola berhenti. "Gue bakal bukitiin ucapan gue, nyanyi di sini sekarang juga," ujarnya datar.
Raka mengangguk dan tersenyum puas. Dia berlalu pergi, meninggalkan Nayla sendiri di sana. Saat dirinya nyaris keluar dari kerumunan Nayla mulai bernyanyi dan warga kampus mulai maju mem-bully.
Nayla jongkok, menyembunyikan kepalanya dari tangan-tangan nakal yang ingin menarik rambutnya, dia meringis saat ada yang menendang punggung dan pinggangnya tanpa belas kasih.
__ADS_1
Viola histeris, dia menerobos masuk namun justru terlempar sebelum sampai ke tempat Nayla. Teman sekampusnya ini mendorongnya, menutup akses agar dirinya tidak bisa membawa Nayla kabur. "NAYLA!" teriaknya kian histeris.
Raka speechless. Dia ingin mengeluarkan cewek itu, namun mengingat apa yang Nayla katakan pada Agatha membuat niatnya urung. Raka memilih pergi dari sana. Morgan yang berdiri di sampingnya kian bimbang, dia ingin menarik Viola dan Nayla namun takut jika Raka marah padanya.
Morgan juga memilih ikut pergi. Bagaimanapun persahabatan mereka yang utama.
"Ma, maafin semua kesalahan Nayla. Maafin Nayla yang belum bisa ngasih yang terbaik buat mama." Nayla terisak, memeluk tubuhnya kian erat.
"Damn! Minggir lo semua." Seseorang membelah kerumunan dengan tenaganya yang kuat, tertegun melihat Nayla meringkuk di tengah-tengah dengan penampilan acak-acakan. "B4NGSAT! PERGI LO SEMUA!" teriaknya murka.
Gino melepas jaketnya, menutupi tubuh Nayla dan memeluknya. Gino tahu cewek ini terluka, bukan hanya batin namun juga fisik. "Gue di sini, lo aman sama gue," bisiknya.
Tangisan Nayla yang lirih berubah menjadi keras. Dia memukul lengan kekar itu sekuat tenaga, melampiaskan rasa sesaknya. Nayla tidak tahu lelaki ini siapa, namun aroma yang khas pada jaket ini mengingatkannya pada seseorang.
Viola tersenyum getir. Dia pergi begitu saja, hatinya sakit melihat cowok yang dia suka memeluk erat sahabatnya sendiri. Bukannya Viola marah pada Nayla, tidak! Viola marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol perasaan sampai merasakan cemburu.
Padahal, dia tahu jika Nayla benar-benar membutuhkan pelukan.
.
.
.
.
OH IYA, aku mau nanya. kalian suka dialog baku apa enggak?
Trus kalian suka Happy romance apa sad romance?
rencana aku mau buat cerita di luar zona nyaman aku kayak cerita ini.
walaupun klise tapi kayaknya cerita kek gitu banyak di minatin di sini 😂
__ADS_1
SALAM DARIKU,
SYUGERR