
"GUE MAU PERGI! GUE NGGAK MAU ADA DI SINI!" teriaknya mendorong Gino menjauh. Nayla kembali berdiri dan melangkah pergi kali ini Gino tidak menahannya.
"Seenggaknya kasih tau gue alasan kenapa Viola pergi!"
Nayla tidak menjawab. Akalnya mengatakan akan sangat berbahaya jika berlama-lama di tempat ini. Saat tangannya meraih knop pintu, ada tangan lain yang mendahuluinya dan mengunci pintu itu tak lupa mencabut kuncinya.
"GINO!" jeritnya.
"Lo nggak akan bisa pergi," sarkasnya.
Nayla menggeleng. "Stop! Jangan ngelakuin kesalahan yang sama. Lo udah sangat keterlaluan, gue nggak akan bisa maafin lo sampai kapanpun!" teriaknya nyaris menangis.
Gino tidak menjawab. Memilih menghampiri sofa dan duduk di sana dengan diam. Gino tipikal cowok dingin, dan tidak suka banyak bicara, namun karena Nayla selalu mengatakan hal yang tidak-tidak terpaksa Gino harus menjelaskan.
"Kita bukan orang bodoh, Nay," serunya membuat Nayla menatapnya dengan bengis. "Yang bukan gue, jangan anggap itu gue," tambahnya.
Nayla menyeka air matanya. Sorot matanya masih tidak berubah, dia menatap Gino penuh benci.
"Jelas-jelas itu lo! Dan lo masih nggak mau ngaku?! Lo udah ketangkap basah, Gino!"
"Hah?" Gino menampilkan mimik wajah tidak paham. Apa yang telah dilakukannya? Dia tidak paham. Tiba-tiba saja kedua cewek pilihan itu menuduhnya tanpa alasan yang jelas. "Apa yang gue lakuin?!" tanyanya.
Nayla terkekeh sumbang. Perlahan kakinya melangkah mundur sampai punggungnya bersandar pada tembok. Cewek dengan rambut sebahu itu mencengkeram perut, dia tidak tahan lagi, dia harus mengisi perutnya sekarang juga.
Melihat itu Gino menaikkan satu alis. Saat Nayla perlahan-lahan luruh ke lantai barulah dia berdiri dan merendahkan diri di depan cewek itu.
"Lo kenapa? Laper?"
Nayla mengigit bibir bawah dan mengangguk. Rasanya sangat malu mengaku lapar di depan cowok yang menjadi biang dari masalahnya. "Nggak usah ngetawain gue!" pekiknya sebal.
Gino yang tak melakukan apapun mendelik malas. "Lo liat ekspresi gue berubah?" kesalnya menunjuk wajah, Nayla diam. Gino bergegas berdiri dan berjalan menuju dapur. "Kalo lo mau makan di depan pintu kayak anak anj1ng, silahkan!" sarkasnya membuat Nayla mendelik.
Nayla perlahan-lahan berdiri, berjalan mengikuti cowok itu sampai ke dapur.
"Minum dulu." Gino meletakkan sebuah gelas berisi susu coklat hangat di hadapan Nayla namun yang terjadi cewek itu mendorongnya menjauh. "Kenapa? Nggak suka susu?"
Nayla menggeleng. "Gue nggak akan kejebak lagi, gue tau kalo lo udah masukin benda aneh ke susu ini," tudingnya membuat Gini menghela napas.
"Denger Nayla Kayana. Gue bukan cowok se-br3ngsek itu, gue emang suka mainin cewek, tapi cuma cewek yang pengin gue mainin, gue nggak pernah maksa 'mereka' buat nyerahin tubuhnya ke gue, ngerti?!" tegasnya lalu berjalan menjauh dari dapur. Tujuannya adalah kamar, ingin mengambil semangkuk bubur yang sempat dibuatnya tadi.
Nayla menarik gelas berisi susu coklat itu dan mengangkatnya perlahan, mengendus aromanya untuk berjaga-jaga. "Bau Susu coklat," gumamnya. Merasa memang aman, Nayla meminumnya setengah gelas.
Gino datang, meletakkan mangkuk berisi bubur itu di hadapan Nayla. Cowok dengan singlet hitam dan celana cargo itu menarik kursi di hadapan Nayla.
__ADS_1
"Ini nggak lo racunin, kan?" selidik Nayla memicingkan mata.
Gino mengusap wajah frustasi, tingkah Nayla seperti menganggapnya cowok yang sangat berbahaya. "Kalo lo nggak percaya, gue sendiri yang bakal makan nih bubur!"
Gino menarik mangkuk berisi bubur itu. Nayla menatapnya dengan malas. Gino mulai memasukkan sesendok bubur ke mulutnya dengan tenang, Nayla tak berkedip menatapnya.
Saat ingin memasukkan sendok yang ke empat sebuah tangan terulur dan menurunkan sendok itu ke mangkuk.
Nayla mendengus, menarik kembali mangkuk berisi buburnya. "Katanya untuk gue, tapi kok lo yang makan?" sebalnya.
Gino tidak menjawab.
Lima menit berselang makanan Nayla sudah habis, dia menarik minuman susu coklatnya dan meneguknya hingga tandas. Dia tersenyum tipis saat merasakan perutnya baik-baik saja, tidak sakit lagi dan terasa sangat kenyang.
"Bener, nggak ada racunnya," serunya.
"Sekarang jawab, apa yang telah gue lakuin?" Untuk sekarang hanya itulah yang mencokol di pikirannya. Apa yang telah dilakukannya sampai kedua cewek ini berubah dan menghindarinya. "Gue bener-bener nggak tau," tambahnya saat Nayla hanya menatapnya tanpa minat.
"Lo pacaran sama Agatha, kan?" pungkas Nayla dengan nada datar.
Gino menggeleng.
Nayla mengangkat sudut bibir membentuk senyuman sinis. "Gue dan Viola liat sendiri kalo lo nyamperin Agatha ke restoran, kalian pelukan, dan ngaku pacaran. Itu yang buat Viola sakit hati dan pergi, sampai gue sendiripun nggak tau harus nyari Viola dimana."
"Restoran mana?" Mimik wajah Gino masih tenang berbeda dengan Nayla yang mulai terlihat sedih.
"Lo nggak usah pura-pura nggak tau, Gino!" tekan Nayla. Emosinya mulai terpancing.
"Jadi ...." Gino menjeda kalimatnya. "Lo udah tau?" imbuhnya mengukit senyuman miring.
Nayla tercengang.
Di sisi lain.
"Lo ketemu sama dia dimana?" tanya Agatha saat pacarnya ini menelpon. "Kasih tau aku, kamu ketemu Nayla dimana?"
Iris Agatha membulat. "Apartemen? Kok bisa?" ujarnya terkejut.
"Agatha."
Agatha langsung menurunkan ponselnya saat mendengar suara Raka. Cewek itu sedang berdiri di rak terakhir dalam perpustakaan, berusaha agar Raka tidak menemukannya. Namun, ternyata Raka ahli dalam hal ini.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Raka.
__ADS_1
Agatha masih tampak gugup. Bingung, apakah Raka mendengar suaranya saat telfonan tadi? Suaranya lumayan keras karena terkejut.
"Sayang." Raka menarik tangan Agatha yang bebas, menggenggamnya erat. "Kenapa muka kamu kayak panik gitu, ada masalah?" tanyanya.
Agatha menggeleng spontan. "Nggak ada kok," jawabnya kikuk.
Raka mengangguk singkat, sedikit tidak yakin. "Ada sesuatu yang pengin aku kasih tau sama kamu," tuturnya. Sebenarnya ini sudah sejak lama ingin Raka katakan namun selalu saja lupa, entah karena tugas kuliah semakin menumpuk atau karena tingkah Nayla yang semakin menjadi-jadi.
"Apa?" tanya Agatha. Gugup, takut jika Raka mulai curiga dengan sikap dan tingkahnya. Apalagi Nayla tidak bisa diremehkan, semenjak kejadian di restoran malam itu, Nayla tak pernah lagi menganggu Raka membuat Agatha kesal.
Jika Nayla tetap diam, maka Raka tak bisa memupuk kebencian di hatinya untuk cewek itu.
"Nggak usah gugup gitu," tutur Raka menyadari tingkah Agatha yang mulai aneh. Raka menuntun Agatha untuk duduk di kursi yang tersedia di perpustakaan ini.
"Aku baru ingat kalo perusahaan ayahku akan bekerja sama dengan perusahaan sepupu kamu," tutur Raka. Dia baru ingat jika pria yang akan menjalin kerjasama dengan ayahnya adalah sepupu Agatha, cewek itu sendiri yang mengatakan sewaktu kepergok di kafe dulu.
"Oh iya," sahut Agatha. Dia sudah tahu perihal ini, sang kakak sendiri yang memberitahunya. "Aku mau kalo ayah kamu menerima kerjasama ini, biar keluarga kita bisa semakin dekat," pinta Agatha.
Raka diam. Berpikir benar atau tidak.
Agatha meraih tangan kanan Raka di atas meja dan menggenggamnya erat dengan kedua tangan. "Raka, kamu percaya 'kan, sama aku dan keluargaku? Kalo kamu percaya tolong, bujuk ayah kamu ya?"
Melihat wajah penuh harap Agatha membuat Raka tidak bisa menolak.
"Iya, Sayang," jawab Raka.
.
.
.
Jangan lupa like, komen ya:)
kasih jebol pokoknya!
eh btw, udah yakin kalo itu Gino?
nggak mau ganti kandidat?
wkwkwk
salam dariku,
__ADS_1
SYUGERR