LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 58


__ADS_3

"Please, Pak Aldi buktiin kalo pak Aldi nggak ada sangkut-pautnya sama Agatha," lirihnya. Tangannya terkepal di atas meja, ponselnya yang berdering pun tak diindahkan. "Gue cuma curiga, tapi gue nggak bener-bener berharap pak Aldi ada sangkut-pautnya, gue bener-bener nggak terima. Gue nggak bisa."


Viola bertopang dagu, mulai sadar perasaan yang menimpa sahabatnya itu. Siapa yang tidak sakit hati jika melihat seorang pria yang dulunya menguasai hati tertawa bersama musuh bebuyutan yang kekal di hati. Dirinyalah yang menjadi saksi betapa besar perjuangan Nayla dulu mengejar-ngejar cinta Aldi.


"Rumit 'ya, jatuh cinta, untung Gino gue dingin jadi susah buat dideketin."


Nayla pura-pura membuka kamera dan ber-selfie guna mengecek Raka ada atau tidak. Terlihat Raka sedang menelpon seseorang, dari raut wajahnya panggilan itu lumayan penting sampai Raka memutuskan berdiri dan keluar dari restoran.


Tak lama kepergian Raka seorang cowok dengan jaket kulit memasuki restoran itu. Nayla tidak bisa melihat wajahnya karena memakai masker dan topi, terlihat begitu misterius.


Viola


Siapa yang masuk?


Nayla


Nggak tau


Viola


Pacar Agatha bukan, ya?


Nayla


Bisa jadi, pantau aja terus


Viola mengangguk yang bisa Nayla lihat. Keduanya menatap ke arah yang sama, fokus pada cowok baru itu yang menarik kursi dan duduk di dekat Agatha.


Ekspresi Agatha nampak terkejut sebelum akhirnya berdiri dan memeluk cowok itu. Viola dan Nayla saling berpandangan. Viola mengangguk, dia mengeluarkan ponsel dan merekam segalanya.


"Semoga aja Agatha sebut nama cowoknya biar gue gampang cari tau siapa 'tuh, orang," batin Nayla.


"Gue giring lo ke neraka Agatha, tega banget sama Nayla padahal sama-sama cewek," batin Agatha.


Agatha menggenggam tangan pacarnya, senyumannya kian melebar menandakan dia benar-benar senang. Aldi menyesap white coffe-nya sembari menatap mereka berdua.


"GINOO, AKU SENENG BANGET KAMU DATANG."


Brak! Ponsel di tangan Viola terjatuh. Tercengang mendengar ucapan Agatha, suaranya yang cukup melengking membuat Viola yakin jika dia tidak salah dengar. Pacar Agatha adalah Gino, Gino cowok yang dia cinta.

__ADS_1


Raga Viola seperti kehilangan jiwanya, tubuhnya terasa melayang dan tidak bertenaga. Jatuh terduduk ke kursinya, irisnya memerah, perlahan-lahan cairan bening merembes dari sana tatkala melihat Gino mencium punggung tangan Agatha.


Viola menarik tasnya, mengeluarkan dua ratus ribu dari sana dan meletakkannya di meja. Setelah itu, Viola berlari keluar restoran, melewati Nayla begitu saja.


Nayla buru-buru berdiri untuk memungut ponsel Viola yang diabaikan cewek itu. Setelah dapat, Nayla mengejar kemana Viola pergi. Fakta yang terkuak berhasil mengguncang bahu Viola, cewek yang bodoamatan tentang cinta dan sejenisnya.


"VIOLA!" teriak Nayla saat Viola masuk ke mobilnya. "TUNGGUIN GUE," teriaknya lagi namun nihil saat Viola menancap gas dengan kecepatan tinggi.


Nayla memasukkan ponsel Viola ke saku hoodie, melihat taksi yang terparkir di seberang jalan membuatnya berlari namun tubuhnya kembali terlempar ke pinggir jalan saat ada yang menariknya.


"Lo mau mati, hah? Lo nggak liat banyak mobil yang mau lewat?!" desis Raka, tanpa sadar mencengkeram pergelangan Nayla dengan erat. "Untung gue kembali ke restoran ini kalo nggak! Lo bisa mati ketabrak mobil!"


Nayla berkedip, tangisnya pecah tanpa isakan. Hatinya nyeri mengetahui fakta tentang Aldi dan rasa sakit yang Viola tanggung. Viola, Nayla khawatir akan keadaan sahabatnya itu.


"Vio ... Vio ... Raka."


"Lo bisa tenang?!"


Nayla menggeleng, menunjuk jalan yang dilewati Viola tadi. "Vio pergi dalam keadaan nggak baik-baik aja, gue ... gue ... bener-bener khawatir. Gue ... Gue ... mesti ngejar Viola." Nayla berusaha melepas cengkeraman Raka, saat terlepas Nayla bersiap untuk lari namun gagal saat Raka memeluknya dari belakang.


"Nay, tenangin diri lo. Gue nggak tau apa yang terjadi sama lo dan Viola, tapi dengan lo yang ceroboh kayak gini itu nggak baik. Lo bisa celaka dan Viola nggak bakal maafin dirinya sendiri kalo tau itu."


Nayla menggeleng, berusaha melepas tangan Raka yang melilit tubuhnya. "Lo nggak tau apa yang gue rasain, lo sama sekali nggak tau, Ka." Nayla terisak. "Saat semua orang bahkan dunia sekalipun nggak percaya sama gue ... cuma Viola yang percaya, cuma Viola yang megang tangan gue dan bilang kalo semuanya baik-baik aja."


Nayla menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Lo nggak ngerti, lo sama sekali nggak ngerti. Gue ... gue khawatir sama Viola," lirihnya sesenggukan. Yang ada di hati dan otaknya saat ini hanya Viola, kemana cewek itu pergi dan apa yang tengah dilakukannya.


"Apa yang terjadi?"


Nayla menggeleng lemah.


"Nay, apa yang terjadi? Kenapa Viola marah dan ninggalin lo gitu aja?"


Nayla menyeka kasar air matanya sebelum menunjuk pintu masuk restoran. "Di restoran itu ada mantan pacar gue, Agatha dan pacar Agatha," tegasnya.


Raka meraup wajah kasar. "Lo masih aja mikir kalo Agatha selingkuh dari gue?!"


Nayla menggeleng. "Bukan lo yang diselingkuhin, tapi pacar Agatha yang sebenarnya. Lo itu ... Cuma selingkuhan Agatha!" tegasnya, Nayla kembali menyeka air mata.


Raka memegang kedua lengan Nayla dan menatapnya tegas. "Denger, gue sama sekali nggak percaya sama omong kosong lo. Agatha nggak selingkuh, dan gue bukan selingkuhannya, ngerti?!"

__ADS_1


"Oke." Nayla mencengkeram erat tangan Raka. "Ikut gue." Lalu menariknya menuju restoran, dia tidak peduli lagi jika harus bertatap wajah dengan Aldi di saat perasaannya lagi hancur.


"Mana?!"


"Ikut gue." Nayla menarik tangan Raka ke meja Agatha tadi namun yang didapatinya adalah kosong. Meja itu kosong dan bersih, tidak ada tanda-tanda telah terpakai. "Tadi Agatha di meja sini, iya gue yakin." Nayla berbalik badan, menunjuk mejanya yang sudah ditempati orang lain. "Tadi gue di sana dan Agatha duduk di sana, kita mantau Agatha dari sana," jelasnya gemetar.


Raka menarik tangannya. "Untuk ke sekian kalinya lo coba boongin gue dan untuk kesekian kalinya lo coba misahin gue dan Agatha."


Nayla menggeleng.


"Mulai sekarang." Iris kelam Raka menyorotnya murka. "Lo ... jangan pernah muncul di hadapan gue lagi!"


Raka pergi setelah mengatakannya.


Nayla menggeleng pelan, perlahan melangkah lemah ke salah satu kursi dan duduk di sana, penghuni restoran lain menatapnya iba namun Nayla tak peduli. Dia melipat tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya, menangis terisak di sana dengan isakan yang berusaha ditahan.


.


.


.


.


.


Kasian banget jadi Viola, suka sama Gino tapi Gino-nya dah punya pacar🙂


Gimana dua part ini?


nggak sabar nunggu moment Raka tau juga?


nggak semudah itu sih sebenarnya, Nayla kurang sad wkwkw 😂


oh iya, kalo targetnya udah tembus jangan ngarepin aku langsung up ya, soalnya cerita yg aku tulis bukan cuma ini, dan semua alurnya beda-beda.


maaf ya kalo nunggu lama✨, ini juga sebenarnya aku mau pindah lapak tapi harus konsisten menyelesaikan cerita ✨


✨TARGET 280 LIKE, KOMENT 50✨

__ADS_1


Salam dariku,


SYUGERR


__ADS_2