
ABSEN DULU JANGAN LUPA!
TANDA TYPO YAH, KOMENT KALO ADA TYPO GER DI BAGIAN INI. OKE? OKE DONG!
SELAMAT MEMBACA.
.
.
.
.
.
"Raka, gue nggak mungkin kayak gitu. Lagian apa faedahnya coba?!" Nayla berusaha menjelaskan. Jika apa yang Agatha katakan tidak sepenuhnya benar. Dia memang hanya pura-pura suka, tetapi dia tidak ada niat memanfaatkan Raka.
"Bulshitt!" Raka langsung menginjak pedal gas, meninggalkan Nayla di pinggir jalan raya.
"Sialan lo Raka!" decaknya. Jika saja tahu kalau dirinya akan diturunkan di tengah jalan begini lebih baik dari tadi saja dia memesan ojol, tidak perlu berpanas-panasan dulu untuk menunggu ojol tersebut datang.
Nayla mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, dia terperangah saat layar hitam yang menghiasi, beberapa kali jarinya menekan tombol daya namun tetap saja tidak menyala. Terpaksa, dia mengeluarkan uang lebih untuk membayar taksi dua kali hari ini.
Nayla menghentikan taksi yang hendak melintas di hadapannya lalu naik tanpa sadar jika ... lima puluh meter dari jaraknya berdiri ada mobil hitam yang memantaunya untuk memastikan bahwa dirinya sampai di apartemen dengan selamat.
Di pikiran Nayla saat ini hanyalah senyum licik di bibir Agatha yang sempat dilihatnya beberapa detik. Hal tersebut membuat Nayla semakin yakin jika ada yang tidak beres dari pacar yang katanya seperti berlian itu. Nayla juga mengakui kalau Agatha cantik, putih berseri dan bodygoals. Tetapi bukankah itu terlalu sempurna untuk seorang Raka yang tidak terlalu pintar, dan sedikit mempunyai sifat manja.
"Sedikit?" Nayla terkekeh sumbang. "Raka itu manjanya luar biasa," lanjutnya lagi.
"Alamatnya dimana, Mbak?" tanya supir taksi tersebut, membuyarkan ilusi Nayla.
Nayla melihat ke sekeliling, baru sadar jika apartemennya sudah dekat. "Di depan, Pak." Mengerti akan maksud Nayla, sang supir tersebut mengangguk mengerti.
__ADS_1
Nayla turun dari taksi setelah membayar ongkos. Senyum cewek itu merekah indah, berusaha melupakan hal-hal berat yang telah di laluinya hari ini. Cukup lelah juga ternyata, padahal satu minggu pagi deadline naskahnya yang akan di terbitkan tahun ini tiba.
Lagi-lagi Nayla tidak menyadari jika mobil hitam yang sedari tadi mengikutinya juga berhenti lima puluh meter di dekat gerbang utama masuk apartemen. Dia hanya sedikit menoleh kesana tanpa curiga sedikitpun.
"Capek banget gue hari ini." Nayla kembali mengunci pintu apartemennya. Dia trauma akan kejadian malam itu, dimana dirinya lupa mengunci pintu dan seseorang berhasil menyelinap masuk.
Di tempat Raka.
Raka sama sekali tidak merasa bersalah karena telah menurunkan Nayla di tengah jalan. Cowok itu malah tersenyum karena terbebas dari Nayla. Di sampingnya ada Agatha yang memandang keluar ke jalan raya. Membuat Raka berdecak dan langsung menarik lengan cewek itu.
"Liatin apa, sih?" tanyanya pada Agatha yang mana berhasil membuat cewek itu tersenyum.
"Liatin pohon-pohon yang kita lewatin," jawab Agatha. Raka langsung mengacak-acak puncak kepala cewek itu dengan gemas, Agatha menahan tangan Raka dan menurunkannya. "Rambut aku berantakan gara-gara kamu nih," decaknya.
"Gemes akutuh sama kamu, jadi pengen iya-iya-in," canda Raka lalu tertawa setelah itu. Agatha memukul lengan cowok itu, pipinya tiba-tiba saja memerah tanpa sebab. "Apatuh? Salting?" godanya lagi.
Agatha kembali menatap ke arah jendela. "Jangan ngomong aneh-aneh makanya," ujarnya. Raka langsung tertawa mendengar itu, melihat wajah menggemaskan Agatha benar-benar menjadi mood booster-nya. "Jangan ketawa juga," celutuknya lagi.
"Iya-iya sayangnya Raka. Mau mampir makan dulu? Apa langsung balik?" tanya Raka. Dia tidak ingin berpisah dengan Agatha dalam waktu dekat, jadi sebisa mungkin dia ingin mengundur-ngundur waktu. "Sayang?" Raka mencolek lengan Agatha. Entahlah Raka saja bingung dengan dirinya yang sudah selancang ini.
Raka tertawa kecil lalu bertanya, "Kenapa?"
Agatha menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Raka jadi semakin gemas. "Bukan mahram," cicitnya.
"HAHAHAHA." Raka yang mendengar itu langsung tertawa. Dia sama sekali tidak menyangka jika ucapan Agatha akan mengarah ke agama. Namun, bagaimanapun sebagai laki-laki yang baik, Raka sangat menginginkan jika kelak perempuan seperti Agatha-lah yang mendampingi hidupnya.
"Malah ketawa lagi, emang ada yang lucu?" decak Agatha. "Ganteng banget lagi," lanjutnya membatin, dia benar-benar takjub dengan wajah Raka yang gantengnya kelewatan. Terlihat cool dan jiwa lakinya benar-benar nampak ke permukaan.
"Habisnya kamu lucu. Bisa nggak 'sih, dalam sehari aja kamu nggak buat aku ketawa?" Raka mengusap puncak kepala Agatha dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain memegang setir mobil.
"Aku nggak buat kamu ketawa," sanggah Agatha. Raka tersenyum simpul, senyum yang mampu meleburkan hati kaum hawa. "Nggak usah senyum juga, gantengnya kelewatan---ups!" Agatha langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menggeleng. Dia tidak ingin buang-buang waktu lantas langsung menatap keluar jendela.
"Entar gantengnya kelewatan?" Raka tertawa kecil, dia menepikan mobil saat sudah sampai di depan gerbang utama apartemen Agatha. "Bangga nggak punya pacar yang gantengnya overdosis kayak aku?" Raka memainkan alisnya, bermaksud menggoda pacarnya yang tengah malu-malu.
__ADS_1
"Nggak tuh," jawab Agatha. Raka tertawa pelan, lima detik setelahnya cowok itu terdiam. Hening terjadi di antara mereka, tatapan Raka tak pernah lepas dari wajah cantik Agatha yang terlihat dari samping. Agatha yang merasakan Raka tak berhenti menatapnya perlahan menoleh. "Raka ... kenapa natap aku kayak gitu?" cicitnya.
Raka membelai pipi Agatha membuat sang empu memejamkan mata. "Nggak! Agatha! Lo nggak boleh suka sama Raka, nggak boleh," batinnya. Cewek itu langsung membuka mata dan menepis tangan Raka di wajahnya.
"Kenapa?" tanya Raka, suara serak basahnya membuat Agatha terdiam. Pikirannya mendadak liar.
"Ng---nggak," gugup Agatha. Cewek itu langsung menatap keluar jendela, lagi-lagi tidak ingin bertemu tatap dengan Raka. Tindakan Agatha yang seperti lagi-lagi berhasil membuat Raka tersenyum, menganggap jika pacarnya kini sedang malu-malu. "Aku ... mau masuk dulu, kamu mau mampir?" tanyanya.
Raka tersenyum jahil, dia mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Agatha, "Kalo nanya hadap sini dong sayang." Yang mana tindakannya itu berhasil membuat hati Agatha menghangat.
Agatha perlahan memalingkan wajahnya hingga langsung berhadapan dengan wajah Raka yang netranya selalu menatap lembut. Iris mereka saling menumbuk beberapa detik, sebelum Raka semakin mendekatkan wajahnya hingga Agatha refleks memejamkan mata.
Raka mencium kening Agatha.
"Kenapa mejemin mata? Berharap dicium dimana?" goda Raka saat melihat mata Agatha masih terpejam. Agatha yang mendengar itu langsung membuka mata dan memukul lengan Raka, semburat di pipinya juga memancar hebat karena malu. "Nggak usah malu-malu gitu, makin gemes akutuh," godanya lagi.
"Aku .... Mau masuk sekarang." Agatha siap-siap untuk membuka pintu mobil. Namun lagi-lagi urung saat pergelangan tangannya dicekal oleh Raka. Dia kembali menoleh pada Raka, jarak cowok itu dan tubuhnya juga semakin menipis. "Tahan Agatha! Lo nggak boleh suka sama Raka, nggak boleh!" batinnya histeris.
"Kalo ada apa-apa cepet hubungin aku, aku nggak mau terjadi apa-apa sama pacar aku, paham, kan?" Raka menepuk puncak kepala Agatha dua kali dan cewek tersebut langsung mengangguk patuh.
.
.
.
.
.
Menurut kalian Agatha bakal jatuh cinta nggak sih sama Raka?
SALAM DARIKU,
__ADS_1
SYUGERR