LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 54


__ADS_3

TARGET 👉240 LIKE 50 KOMENT👈


.


.


.


Nayla merasa lapar makanya dia memutuskan untuk makan di pinggir jalan malam ini. Saat kembali dari kedai dan melewati jembatan Nayla memutuskan untuk singgah, memegang pegangan jembatan tersebut lalu menghirup udara segar di malam hari.


"Nay, lo harus bisa nenangin diri," ujarnya untuk diri sendiri. "Jangan gegabah, jangan bodoh, lo harus pake otak cerdas lo," tuturnya lagi.


Bulan ini Nayla harus menyetor naskahnya untuk diterbitkan, keuangannya mulai menipis belum lagi dengan biaya pengobatan papanya di kampung yang menghabiskan puluhan juta, biaya sekolah adik-adik dan biaya kehidupan mereka.


Dan gara-gara masalah yang sekarang dia hadapi naskah-naskahnya yang seharusnya sudah terbit terbengkalai. Dia yang produktif menulis mulai lalai dan mengabaikan.


"Gue mesti lupain masalah Raka, gue mesti fokus sama naskah yang bakal gue terbitin bulan ini," ujarnya tersenyum manis. Nayla merentangkan tangan dan menghirup udara segar dalam-dalam. "SEMANGAT NAYLA! LO PASTI BISA ATASIN SEMUANYA!" teriaknya menyemangati diri sendiri.


"Lo nggak akan bisa."


Kening Nayla mengerut, lima detik setelahnya dia menyerongkan badan, menatap Agatha yang berdiri di sepuluh langkah di sampingnya.


"Lo nggak akan bisa karena gue Agatha akan jadi penghalang itu semua!" jerit Agatha. Dia maju langkah demi langkah. "Gue benci sama lo, Nay. Gue bener-bener benci sama lo. Gue benci liat lo senyum, gue benci liat lo ketawa dan gue benci liat lo deket sama orang-orang yang lo sayang!"


"Maksud lo apa?" Nayla balas menatap Agatha sengit. Jika ada yang menilai dirinya takut pada Agatha maka salah besar, Nayla sama sekali tidak pernah takut sama Agatha. "Denger .... Lo cewek munafik, benar-benar munafik. Lo punya dendam sama Raka dan manfaatin gue buat bikin 'tuh, cowok nyesel kan?"


Kening Agatha mengerut, tidak menyangka jika Nayla akan mengatakan itu.


"Lo pasti beneran ngira kalo gue cewek bodoh, gegabah, iya, kan? Tapi lo salah, gue ngelakuin itu biar bisa buktiin kalo apa yang gue pikirin tentang rencana lo itu bener." Nayla terkekeh pelan membuat Agatha mengepalkan tangan.


"Lo sengaja seret gue ke dalam rencana lo biar lo bisa buat Raka nyesel nantinya? Lo buat Raka marah, kesal, dan pingin ngehajar gue dan sampai saatnya tiba lo bakalan ngaku sendiri dan saat itulah Raka punya dua rasa penyesalan dalam hidupnya!"

__ADS_1


Agatha speechless. Opininya tentang Nayla salah besar, dia salah menilai cewek sederhana ini. "Jangan asal ngomong!" tampiknya, dia mengukir senyuman miring.


"Karena gue bener, penyesalan pertama karena udah percaya dan bener-bener cinta sama lo. Dan penyesalan kedua karena dia udah nyakitin cewek yang nggak salah apa-apa, DAN CEWEK ITU GUE, IYA KAN?" Nayla menjerit di akhir kalimatnya. Ayolah, emosinya belum stabil dan kenapa juga Agatha tiba-tiba datang menemuinya.


"Gue salah nilai lo." Agatha mengakui itu. "Pantas aja kakak gue sempet suka sama lo," imbuhnya.


"Kakak?" beo Nayla, dia maju dua langkah mendekati Agatha. "Siapa kakak lo?" tanyanya yang dibalas tawa sarkas.


"Sekarang lo tau sebagian besar rencana gue, lo hebat dan gue akui itu. Lo emang nggak pantes gue remehin," ujarnya. Menghela napas, Agatha beralih menatap langit bertabur bintang malam ini. "Tapi tetap aja, lo nggak bisa berbuat apa-apa. Raka tetap bisa gue kendaliin dan rencana gue bakal berhasil."


Nayla tertawa, dia merasa Agatha keliru akan banyak hal. "Lo salah Agatha. Justru lo bakal kemakan dengan rencana lo sendiri, lo yang bakal nyesel bukan Raka."


Di tempat lain. Morgan, Gino dan Raka sedang ada di sebuah kelab ternama. Mereka menari heboh dengan gadis-gadis di dancefloor dalam keadaan yang sudah mabuk berat.


Morgan bahkan membawa satu gadis ke pelukannya dan menciumnya dengan ganas. Dia memeluk gadis itu sangat erat dengan sebelah tangan yang bergerak liar di bagian bok0ng gadis itu.


Gino dan Raka tertawa renyah melihat tingkah Morgan. Di tempat ini hal semacam itu sudah biasa, mereka memaklumi atau bahkan ikut menikmati.


"Gimana, No? Lo nggak gerak kayak Morgan?" tanya Raka, dia menepis banyak gadis yang ingin menyentuhnya.


"Gue pengen nyentuh Agatha," tutur Raka lalu tertawa, di kepalanya berputar bayangan 'aneh' yang seharusnya tidak dia pikirkan.


Gino berdecak. "Terserah lo," ujarnya memilih abai. Gino melirik satu gadis, dia mendekati gadis itu dengan percaya diri. Rambut panjang gadis itu terlihat indah, aromanya masih tercium walau tercampur dengan alkohol.


Gadis itu berbalik badan, terkejut melihat cowok tampan dengan kabut gairah di kedua iris abunya yang memukau.


Gino tersenyum tipis, sepertinya gadis ini sedang sendiri dan kebetulan dia ingin sedikit bermain-main. Dengan cekatan tangannya bergerak merangkul pinggang gadis itu sampai tubuh mereka menempel, netra gadis itu nampak membulat terkejut dan Gino menyukainya.


"Lo sangat manis," bisiknya s3nsual membuat bulu kuduk meremang. Gino menyatukan kening mereka, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman tipis yang manis. "Gue mau ...."


Viola menahan napas, sudah terkejut karena kehadiran Gino yang tiba-tiba, ditambah dalam keadaan mabuk dan sangat terlihat seksi. Gadis manapun pasti tergoda untuk mendekatinya.

__ADS_1


Viola menggeleng pelan, walaupun dirinya ingin namun ini tidak seharusnya terjadi. Gino dalam keadaan tidak sadar bahkan cowok itu terlihat tidak mengenal dirinya.


"Gue pengen cium lo ... boleh?"


Lagi-lagi netra Viola membola, jantungnya memompa begitu cepat. Wajah Gino sangat dekat, hidung dan kening mereka nyaris menyatu. Viola ingin mengeluarkan kata untuk menolak tapi kalimat yang ingin dia keluarkan tertelan di tenggorokan.


Saat Gino ingin menyerangnya dengan ciuman Viola dengan cepat menolehkan wajahnya ke arah lain. Pikirannya masih bertengkar antara benar dan tidak benar.


"Vio, sadar! Gino mabuk sekarang, dia nggak tau siapa lo. Tapi bukannya itu bagus ya? Kalo Gino nggak tau gue bisa nutupin ini sendiri, tapi gimana kalo Gino tiba-tiba ingat? Bisa mati gue!" batin Viola. Dia terus menghindar saat Gino ingin menyatukan bibir mereka.


"Kenapa?" tanya Gino, suara seraknya membuat Viola menelan ludah. "Lo nolak gue?"


Viola tak mengeluarkan reaksi apapun, pikirannya masih berkecamuk. Dia sangat menyukai cowok ini mustahil untuk menolak sentuhannya, namun bagaimana jika setelah ini Gino akan menganggapnya perempuan murahan? Kesempatannya akan benar-benar hilang.


Viola meringis saat Gino mencengkeram pinggangnya. Tatapan cowok itu mulai menakutkan.


Saat Gino mendekatkan wajahnya kembali Viola buru-buru mendorongnya sekuat tenaga dan berlari pergi. Viola memilih keluar dari tempat terkutuk ini.


"VIO INI NGGAK BENER! OTAK LO YA AMPUN!" teriaknya histeris di tengah ramainya kendaraan yang lalu lalang. Padahal, di detik-detik terakhir Viola sudah berpikir untuk pasrah dan menerima semua akibatnya nanti. "GINO SIGRA PRIBAWA SIAL4AAN! B3DEBAH NGGAK PUNYA OTAK, MATI AJA LO KAMP3ET!"


.


.


.


Jangan lupa target.


keluarin unek-unek kalian di kolom komentar.


jangan ngumpat ya😂 cukup Viola aja yang ngumpat.

__ADS_1


SALAM DARIKU,


SYUGERR


__ADS_2