LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 36


__ADS_3

Nayla menghela napas, sudah menduga reaksi Viola akan semeriah itu. "Raka tiba-tiba aja masuk ke apartemen gue yang lupa gue kunci dan nganggep gue Agatha, dia mabuk dan nggak tau kalo sebenernya itu gue, bukan pacarnya Agatha." Nayla sebenarnya ingin melupakan malam itu, namun rasanya sangat sulit atau bahkan mustahil. "Dia maksa gue ngelakuin itu karena ngira gue Agatha."


"Jadi, lo mau minta Raka buat tanggung jawab? Dia percaya sama semua ucapan lo? Dia kan mabuk, jadi nggak ingat apa-apa," tutur Viola. Terkejut, dia sangat terkejut mengetahui fakta itu. "Pantas aja lo keukeh deketin Raka, kalo gue jadi lo udah pasti gue laporin tuh cowok ke polisi biar masa depannya suram!" gregetnya.


"Gue udah ngasih tau Raka, tapi sepertinya dia nggak percaya dan nyuruh gue buktiin," ujar Nayla.


"Yah .... Lo buktiin aja," balas Viola yang mana berhasil membuat Nayla menghela napas dan menutupi wajah menggunakan telapak tangan, rasanya Nayla ingin menangis saja merasakan beban hidupnya kian hari semakin ribet. "Lo nggak nemu bukti?" tanyanya.


Nayla menggeleng lemah, bingung ingin melakukan apalagi. "Dan tadi pas di toilet gue udah nyerah, hubungan gue dan pak Aldi hancur udah berusaha gue ikhlaskan, gue nggak mau ngejar-ngejar pertanggungjawaban Raka lagi. Tapi ... Agatha tiba-tiba aja datang dan ngomong kalo dia cuma manfaatin Raka, dia bener-bener nggak cinta sama Raka, itu .... Buat gue emosi, dan akhirnya dorong dia."


"Kenapa nggak lo bunuh aja sekalian?" pungkas Viola. Sama sekali tidak menyangka masalah Nayla akan serumit ini, dirinya juga diliputi rasa bersalah karena kasus kemarin, dimana dirinya membentak Nayla. "Maafin gue karena udah bentak lo, dan nggak peka dengan masalah lo," ujarnya sungguh-sungguh.


"Nggak papa, gue ngerti," tutur Nayla.


"Sekarang apa rencana lo?"


Nayla diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ditanyakan tentang rencana, bahkan tadi dia sempat ingin mundur dan melupakan semuanya. "Gue nggak tau, tadinya gue pikir mending nyerah aja, tapi ..., setelah denger ucapan Agatha gue sedikit berubah pikiran."


Viola menepuk pundak Nayla tiga kali dan berkata, "Jangan nyerah, sekarang udah ada gue yang dukung lo. Lo nggak bakal sendiri lagi, mulai sekarang gue bakal bantuin apapun masalah lo, dan apapun yang pengen lo lakuin." Viola mengukir senyum, Nayla dengan mata berkaca-kaca langsung memeluknya.


"Makasih, Vio. Gue sayang sama lo," ujar Nayla.


Viola balas memeluk. "Oke, sekarang kita pikirin sama-sama gimana caranya buat Raka yakin," ujarnya. Nayla mengangguk dan semakin memeluknya erat.


"Gue nggak tau dengan cara apa," ujar Nayla, melepas pelukannya dengan Agatha sehingga mereka duduk saling berhadapan. Nayla memegang erat kedua tangan Agatha, "Vio, makasih udah percaya sama gue, makasih ju---."


"Lo mah kebanyakan makasih," ujar Viola tertawa pelan. "Oh iya, Raka ngelakuin itu di apartemen lo, kan? Bukti cctv udah lo cek?" tanyanya memastikan.


Nayla menepuk keningnya cukup keras. "Gue lupa ngecek, astaga!" sungutnya kesal. Viola tertawa pelan lalu menggeleng-geleng prihatin.

__ADS_1


#####


"Gara-gara apa?" tanya Raka tidak ingin basa-basi saat kelopak mata Agatha baru saja terbuka. Raut wajah Raka terlihat tidak bersahabat, melihat keadaan Agatha yang seperti ini dan lagi-lagi penyebabnya ialah Nayla, cewek yang sangat menguji kesabarannya.


"Nggak tau," jawab Agatha dengan suaranya yang lemah. Lebih tepatnya pura-pura karena sedari tadi dia hanya tertidur biasa sewaktu Raka menggendong dirinya menuju kesini, dorongan Nayla tidaklah terlalu keras. "Tadi pas aku masuk toilet, Nayla tiba-tiba aja ngajak aku bicara."


"Dia ngomong apa?"


Agatha menekuk bibirnya ke bawah, otaknya bekerja keras mencari alasan yang pas. Dia tidak ingin sampai salah ucap. "Dia ngomong kalo dia nggak bakal nyerah buat deketin kamu, dia bakal ngelakuin segala cara buat misahin kita." Suara Agatha sedikit bergetar, netranya sampai berkaca-kaca. "Trus aku bilang kalo dia nggak bakal bisa misahin kita, aku cinta sama kamu, dan kamu juga cinta sama aku, jadi nggak ada celah buat dia. Tapi Nayla malah emosi dan dorong aku dua kali ke dinding," tuturnya.


Agatha memegang lengannya yang sedikit terlihat merah. "Sakit banget," ringisnya.


Kedua tangan Raka terkepal kuat, buku-bukunya sampai memutih dengan urat yang tercetak jelas. "Cewek nggak tau diri itu udah keterlaluan," desisnya. Dia ingat ucapan terakhir Nayla yang menjelek-jelekkan Agatha, itu sama sekali tidak benar. "Nayla bahkan ngejelek-jelekin kamu di depan aku. Aku harus ngasih dia pelajaran," desisnya murka.


Agatha tersenyum kecil lalu menggeleng. "Nggak usah, anggap aja ini cobaan dalam hubungan kita," tuturnya lalu tersenyum manis. Raka mengusap rambut Agatha, dia mengangguk walau dalam hati ingin melakukan hal yang sama pada Nayla.


Di tempat dan di waktu yang berbeda.


Nayla terkejut saat pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dan punggungnya dihempas ke tembok dengan keras. Seisi kelas memekik melihat itu, begitupun dengan Viola yang langsung berdiri dari duduknya.


"Gue udah berusaha sabar selama ini," geram Raka.


Nayla mendongak, balas menatap mata hitam Raka. "Jauh-jauh lo dari gue," ketusnya berusaha mendorong tubuh Raka menjauh dari tubuhnya namun percuma karena tenaganya yang tidak sebanding. "Raka, gue bilang jauh-jauh dari gue!" Suara Nayla meninggi, dia mendorong Raka menjauh namun cowok tersebut balas mendorongnya hingga lagi-lagi punggungnya membentur tembok.


"Raka, lepasin Nayla!" Itu suara Viola.


"Diam! Gue nggak ada urusan sama lo." Suara Raka yang terdengar dingin berhasil membuat Viola diam seribu bahasa, Morgan juga membujuk dirinya untuk tidak ikut campur dulu.


"Raka, mau lo apasih?" tanya Nayla, dia berusaha sabar menghadapi Raka yang terlihat mengerikan ketika marah. "Kasih tau gue, mau lo apa?" tanyanya lagi saat Raka hanya diam dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Untuk ke sekian kalinya gue bilang, jangan ganggu hubungan gue dan Agatha. Tapi apa! Lo udah lancang bahkan sampai tega dorong Agatha dua kali ke tembok. LO PUNYA HATI NGGAK SIH?!" Suara Raka mengeras di akhir kalimat yang mana spontan membuat Nayla memejamkan mata.


Raka menarik napas kasar. "Nay, lo harus bersyukur dilahirin sebagai cewek karena kalo nggak. Lo ... Pasti udah habis di tangan gue," desisnya penuh penekanan.


"Agatha udah ngomong apa aja sama lo? Dia nge-drama lagi dan nyudukin gue?" tanya Nayla tersenyum kecut.


"Jangan nilai Agatha kayak gitu. Dia beda sama lo, dia cewek baik-baik," balas Raka.


"Oh yah? Cewek baik-baik. Oke dia emang cewek baik-baik, baik di luar tapi busuk di dalam. Lo bener, dia cewek baik-baik," ujar Nayla nyeleneh yang berhasil memancing emosi Raka.


"Mau sampai kapan lo kayak gini?" tanya Raka. Dia masih mengukung Nayla dengan kedua lengannya yang kekar.


"Sampai lo sadar, mana yang baik dan mana yang busuk!" pungkas Nayla. Dia kembali memejamkan mata saat Raka menghujam pukulan pada tembok di samping kepalanya, entah seberapa keras tinju cowok itu beradu dengan tembok, yang jelas debumamnya benar-benar terdengar. "Tangan lo luka." Nayla hendak meraih tangan Raka namun langsung disentak.


"Ini terakhir kalinya gue ngomong baik-baik, jangan sampai lo ngulangin kesalahan dan buat gue terpaksa ngelakuin lebih dari ini!" ancam Raka lalu keluar kelas.


.


.


.


MAU DI NEXT KAPAN?


RINDU SAYA? WKWK, NGAREP😂


SALAM DARIKU,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2