
Mendengar itu Nayla kembali membalikkan badan. Berhadapan dengan Agatha. "Maksud lo apa, hah? Raka benar-benar cinta sama lo! Sedangkan lo?" Emosinya tiba-tiba saja meluap.
"Gue nggak cinta sama Raka, puas? Gue cuma pengen hartanya doang, kalo dia udah miskin gue bakal tinggalin," ujarnya enteng. Nayla sampai kehabisan kata-kata, tidak menyangka jika orang yang selama ini tampil cantik dan baik di depan khayalak ramai tak lebih dari kamuflase semata.
"Kenapa dari sekian banyak cowok yang suka sama lo, lo malah milih manfaatin Raka? Orang yang benar-benar tulus sama perasaannya."
"Karena gue pengen Raka. Raka itu ganteng, kaya, susah suka sama orang dan sekalinya suka dia bakal bucin. Dan itu yang buat gue milih dia sebagai target, karena setelah dia benar-benar tulus sama gue, gue bebas manfaatin dia tanpa buat dia curiga sedikitpun," ujar Agatha. Dia mengukir senyuman miring dan kembali mengimbuhkan. "Bahkan, dia rela keluar dari rumahnya demi gue."
Mata Nayla berkilat marah, Agatha berhasil memancing emosinya. Tanpa segan Nayla mendorong bahu Agatha sampai cewek itu terhempas ke tembok toilet. "Lo nggak boleh main-main sama cinta tulus seseorang b3go. Lo nggak tau rasanya di pencudangin kayak gitu!" pekiknya marah.
"Untuk apa lo peduli?" Agatha meringis, dia kembali berdiri tegak dan mempertipis jaraknya dengan Nayla. "Oh, apa karena Raka udah .... Ngerebut sesuatu yang selama ini lo jaga?" ujarnya lalu terkekeh sinis.
"Lo tau?"
"Lo lupa? Raka kayak gitu karena ulah gue."
"Biad4p lo, Tha!" Nayla kembali mendorong tubuh Agatha ke dinding, dan anehnya cewek itu tidak mengelak dan membalas. Napas Nayla memburu, dia tidak tahu lagi betapa buruk orang di depannya ini. "Lo itu bener-bener nggak punya hati tau nggak!" marahnya seraya menunjuk Agatha yang terduduk seraya memegangi lengan.
"Gue bakal ngasih tau Raka!"
BRAK! Baru saja ucapannya selesai, pintu toilet terdorong dengan kasar. Nayla membalikkan badan, terkejut karena yang datang adalah Raka.
"AGATHA!" Raka langsung berlari menghampiri Agatha yang terduduk seraya meringis dengan memegang lengannya yang sedikit merah. "Siapa yang udah buat kamu kayak gini?" tanyanya pada Agatha. Raka menyelipkan tangannya di lipatan lutut Agatha dan sebelah lagi di punggung cewek itu. Menggendongnya ala brydal.
Dengan takut-takut Agatha menunjuk Nayla membuat cewek itu tersentak. "Nayla, dorong aku dua kali," adunya yang mana berhasil membuat Raka menatap Nayla dengan pancaran mematikan.
"Raka, lo harus dengerin ucapan gue dulu. Kalau sebenarnya Agatha ini ....."
"Gue nggak butuh penjelasan lo!" potong Raka.
__ADS_1
Nayla menggeleng kukuh. "Ini penting banget, lo harus tau kalo sebenernya Agatha nggak bener-bener sayang sama lo. Dia cuma bercanda," jelasnya. Bukannya percaya, Raka malah diam, menatap dirinya murka. "Lo harus percaya," pintanya sangat.
"Untung lo cewek, Nay. Kalo aja lo cowok, pasti gue udah dari lama ngabisin lo!" desis Raka dengan suara rendahnya. Nayla menggeleng, bukan ini jawaban yang dia inginkan. Raka berdecih, lalu memilih keluar dari toilet wanita itu, namun saat akan melewati Nayla lengannya dicekal hingga dia terpaksa kembali berhenti.
"Raka, gue serius. Ini nggak seperti yang lo pikirin, gue dorong Agatha karena dia ngasih tau gue kalo sebenernya dia nggak suka sama lo, dia manfa---aww."
Nayla terhempas sampai pinggangnya membentur wastafel dengan keras saat Raka mendorongnya untuk menjauh. Cowok itu lalu pergi begitu saja membawa Agatha. Nayla meringis, pinggangnya langsung terasa nyeri.
"Gue cuma mau ngasih tau lo, Ka," lirihnya. "Gue emang benci sama lo, tapi gue nggak ada niatan mau manfaatin lo. Gue cuma pengen lo sadar kalo apa yang lo lakuin ke gue itu kesalahan besar, gue mau lo nyesel dan minta maaf. Bukan kayak gini," tambahnya lagi.
####
Raka berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Agatha sudah terlelap di dekapannya. Raka tidak peduli saat banyak tatapan yang tertuju ke arahnya, dia hanya fokus pada Agatha. Ingin membawa cewek itu ke UKS secepatnya mungkin. Apalagi dia merasakan baju yang Agatha kenakan lumayan basah sampai merambat ke kaos yang dikenakannya.
"Agatha kenapa, Ka?" Saat ingin naik ke lantai atas, Raka berpapasan dengan Morgan dan Gino. "Lo apain anak orang, hah? Jangan macem-macem lo, masih di kampus nih," tambahnya lagi bergidik ngeri.
"Minggir!" titah Raka. Dia tidak punya banyak waktu untuk meladeni ocehan Morgan yang sepanjang rel kereta api. "Kalian berdua minggir!" titahnya lagi saat Morgan dan Gino belum menyingkir dari tangga, masih menghalangi jalannya.
"Main apasih lo, nggak jelas!"
"Nggak usah ngelak!" tuding Morgan lagi. Gino yang berdiri di sampingnya menghela napas, dia memilih turun lebih dulu. "Gi, reaksi lo gitu doang saat Raka ketahuan main sama Agatha di toilet?" tanyanya geleng-geleng kepala.
Raka ingin sekali menyumpal mulut Morgan menggunakan sepatu. "Gino mana peduli sama gue! Udah sana minggir. Gue mau bawa Agatha ke UKS!" ujarnya dengan nada yang lumayan tinggi. Andai saja tidak ada Agatha digendongannya, sudah pasti dia akan memberi bogeman mentah untuk Morgan.
"Setelah bawa ke UKS, jelasin ke kita-kita 'yah, ada apa sebenarnya?"
Raka memutar mata balas, untuk segera pergi dia hanya mengangguk-angguk, barulah Morgan menepi dan memberi akses untuknya.
"Ajarin 'tuh, temen lo. Laki ko mulutnya cabe," sinis Raka pada Gino.
__ADS_1
Morgan yang dikatakan seperti itu mengusap dada prihatin. "Temen lo bucin banget sumpah!" ujarnya. Dikarenakan setelah berpacaran dengan Agatha, Raka sangat jarang berkumpul lagi dengan mereka, alasannya karena bersama Agatha lebih indah dan berfaedah. Walau kesal Morgan tetap memendam itu, sesekali kebla-blasan juga dan mengatakan jika Raka 'bucin'.
"Kalo lo punya pacar jangan kayak Raka yah," ujar Morgan pada Gino.
"Gue udah punya pacar."
"Siapa?" tanya Morgan. Gino mengangkat bahu acuh lalu berjalan pergi, Morgan mengikuti dari samping. "Siapa pacar lo? Kok gue nggak pernah liat?" tanyanya lagi penasaran.
"Tiap hari lo liat dia." Jawaban Gino semakin membuat Morgan tidak mengerti. Setiap hari? Bahkan nyaris di setiap jam mereka bersama namun Gino tidak pernah memperkenalkan pacarnya. "Calon maksud gue," ralat Gino.
"Calon pacar? Siapa? Udah suka lo sama cewek?"
"Viona," jawab Gino. Morgan diam, terkejut karena nama gebetannya-lah yang disebut. "Cewek itu suka lirik gue diam-diam," tambahnya lagi.
"Badjing4n! Gue yang buat dia ketawa eh dia malah ketawa sambil ngelirik lo," umpat Morgan.
.
.
.
.
.
udah ada yang bisa nebak siapa pacar Agatha? coba sebutkan dan berikan alasan, Xixi.
salam dariku,
__ADS_1
SYUGERR