LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 45


__ADS_3

Assalamualaikum ...


jawab salam itu wajib:D


absen dulu, Bro🤙


dan ramein cerita ini biar makin banyak yang baca.


.


.


.


"Tapi Nay kasus malam itu emang tersebar kemana-mana, bukan cuma pak Aldi yang tau tapi semua seisi kampus," ujar Viola saat Nayla mengakhiri argumennya. "Dan apa yang lo katakan nggak bisa di jadiin alasan kalo pak Aldi salah satu dalang dari masalah ini, lo kenal pak Aldi, kan? Orangnya cuek dan profesional dalam karirnya, dia nggak punya banyak waktu ngurusin idup orang," opini Viola lagi.


"Vio, dia tau kalo dua orang yang datang ke apartemen gue itu tukang pizza, dia tau darimana?"


"Itu opini lo, Nay. Seisi kampus tau itu juga. Lo ngada-ngada dengan alasan itu." Viola menyesap greentea yang tadi ia pesan lalu bertopang dagu. "Lo bener-bener curiga sama pak Aldi?" tanyanya yang dibalas anggukan.


"Pak Aldi mengatakan itu dengan sangat percaya diri, sorot matanya juga beda, dia seakan-akan nyembunyiin sesuatu!" Nayla masih teguh pada pendiriannya. Dia benar-benar yakin jika semua ucapan Aldi tadi mengandung tujuan terselubung.


"Lo kayak nggak kenal pak Aldi aja, lo kan mantan pacarnya masa' nggak tau karakter pak Aldi seperti apa," tutur Viola lagi.


"Gue bener-bener yakin. Udah deh gini aja, gue mau lo selidikin pak Aldi, apapun yang pak Aldi lakukan lapor ke gue!"


Viola terbelalak. "Maksud lo gue jadi penguntit?" pekiknya sangat tidak terima. Memukul meja, Viola berdiri dari duduknya. "Gue orangnya sibuk banget, Nay. Sorry nggak bisa." Hendak pergi namun Nayla dengan cepat menarik lengannya untuk kembali duduk.


"Dengerin dulu, katanya sahabat." Menekankan kata 'sahabat' membuat Viola berdecak. "Sekali ini aja gue mohon sama lo, selidiki apapun yang pak Aldi lakuin, selain ngajar di kampus," ujarnya dikarenakan untuk mengawasi di area kampus sangatlah tidak mungkin mengingat mereka tengah berada di universitas lain.


"Duh, Nay. Kepala gue jadi pusing kan gara-gara lo," decak Viola, menutup wajah menggunakan telapak tangan.


"Vio ...," melas Nayla namun cewek dengan rambut curly itu masih tidak ingin menatapnya. "Vio ...."

__ADS_1


"Enggak!" tekan Viola, menerima tawaran ini benar-benar berat menurutnya.


"Vio ...." Menarik tangan Viola, Nayla menampilkan ekspresi memelasnya sebaik mungkin, iris coklatnya mengerjap-ngerjap lucu berusaha membujuk. "Vio .... Janji deh, setelah lo bantuin gue, gue bakal balas budi apapun yang lo pengenin."


Mendengar itu wajah Viola langsung berbinar, ia balas menggenggam tangan Nayla. "Beneran? Apapun yang gue pengenin?" antusiasnya dibalas anggukan dua kali.


"Gue pengen Gino, bantuin gue biar bisa jadi sama Gino. Please, gue pengen Gino, Nay. Pengen Gino." Viola sudah tak dapat mengontrol perasaannya lagi hingga cewek berbaju rajut itu memekik. "Kalo lo bisa pikirin gimana caranya gue bisa jadi sama Gino, gue bakal bantuin lo!"


Nayla cengo. "Gi--no? Why? Kenapa harus dia yang lo suka?" Mimik wajah Nayla terlihat tidak senang. "Apa yang lo suka dari Gino, Vio? Masih banyak cowok yang lebih baik dari dia." Bukannya tidak mau menerima tawaran itu, hanya saja ia ingin cowok terbaik untuk sahabat terbaiknya.


"Gue mau Gino pokoknya! Semua yang ada di diri Gino gue mau, mulai dari cara jalan, tatapan matanya, senyum tipisnya, tinggi badannya, lebar punggungnya, pokoknya gue suka! Gue suka semua, Nay."


Melihat keantusiaan itu Nayla tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya diam, menatap Viola yang terlihat sangat antusias. Nayla meneleng, mengangkat satu alis saat Viola tiba-tiba saja berdiam kaku. Menepuk lengan Viola, Nayla mengikuti arah pandang cewek itu.


"Itu Gino tapi kok keliatan sembunyi-sembunyi?" cicit Viola, mencari objek yang sedari tadi Gino tatap ia seketika terbelalak. "Itu Agatha."


Netra Nayla melebar. "Gino ngikutin Agatha? Why? Mereka ngapain?" tanyanya beruntun yang dibalas tepukan keras pada pundaknya. Nayla menyapu pandang, mencari seseorang. "Tapi ... Raka nggak ada, itu artinya mereka cuma berdua?"


"Apa emang Agatha nggak tau?" Mendengar itu, Viola menyentil kening Nayla. Hatinya tengah panas sekarang melihat sang pujaan hati diam-diam mengikuti cewek lain.


"Agatha tau, Nay. Gino ngikutin Agatha secara diam-diam, dan Agatha tau kalo Gino ngikutin dia." Viola menunjuk keluar. "Kacanya transparan, noleh ke kaca Agatha langsung tau kalo ada Gino di belakangnya, tapi dia pura-pura nggak tau!"


Yang buat mereka penasaran ialah untuk apa Gino mengikuti Agatha dan untuk apa pula Agatha pura-pura tidak tahu kalo Gino ada di belakangnya. Yang lebih parah tumbenan Raka tidak ikut bersama Agatha, biasanya mereka kemana-mana selalu bersama.


Viola menyesap jus lemonnya. Ia masih menatap ke arah sana, tempat di mana Gino menutupi wajah menggunakan topi hitam yang ia bawa juga Agatha yang duduk kursi take away.


"Kalo gue ngikutin pak Aldi, lo harus ...."


"Ngikutin Gino kemana-mana," potong Nayla membuat Viola melotot. Viola menarik rambutnya pelan, Nayla balas melotot.


"Kita tukeran! Gue ngikutin Gino, lo pak Aldi, titik!" Viola bersikeras, mengikuti Gino kemana-mana sudah lama ingin ia lakukan hanya saja ia terlalu takut dicap sebagai cewek murahan. "Sepakat?"


"Nggak!" Nayla balas memekik. "Kalo lo ngikutin Gino lo jadi nggak konsen, kerjaan lo nggak beres-beres, mending lo ngikutin pak Aldi aja, gue ngikutin Gino!" putusnya final sampai-sampai Viola yang ingin menyanggah langsung ia tolak dengan menutup kedua telinga.

__ADS_1


"Gue takut lo naksir sama Gino." Perkataan Viola itu dibalas tawa yang cukup keras, hingga tanpa sadar Agatha dan Gino melirik mereka. "Cewek apaan ketawanya kek kunti!" bisiknya tajam.


"Tujuan gue bukan Gino, tapi Raka. Kalaupun gue harus jatuh cinta, gue pastiin jatuhnya ke Raka," tutur Nayla, ia serius. Andai saja Raka tak pernah menyakiti hatinya atau merebut haknya sebagai gadis mungkin ia sudah jatuh hati pada cowok itu.


Viola memegang perkataan Nayla, ia sangat percaya pada sahabatnya itu.


"Mereka udah pergi," ujar Viola dibalas anggukan singkat. Dia terkekeh geli dan menyesap kembali jus lemonnya. "Siap-siap, kita bakal bongkar kasus lo."


Nayla dan Viola hanyalah teman biasa, berubah menjadi musuh untuk mendapatkan predikat terbaik atas prestasi yang ingin mereka raih. Ketatnya persaingan dan panasnya untuk menang membuat mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan itu.


Namun kini, mereka sepakat untuk mengungkap kasus yang menimpa satu di antara mereka. Awalnya Viola menolak karena berpikir Nayla adalah saingannya, bukan sahabat yang harus ia bantu, begitupun dengan Nayla, ia tidak ingin berbagi duka dengan Viola yang menurutnya hanya akan menambah beban.


Mereka salah. Lambat laun mereka mulai menerima, hati kecilnya berbisik dan tidak tega jika satunya terluka.


"Tapi .... Kalo kampus kita ngajak lo balik, gimana?" Menampilkan raut cemas, Viola memasang ekspresi sedih.


"Tenang aja." Nayla tersenyum, ia kembali mengimbuhkan. "Gue yang urus itu."


.


.


.


.


.


Koment dong 😂


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2