LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 42


__ADS_3

Raka menyapu pandang, melirik mereka tajam meminta diam. Walau ia tahu tingkahnya ini bisa membuat Nayla 'mendekatinya' lagi namun ia sebagai cowok tiga tega melihat seorang cewek disakiti.


Raka duduk dengan diam. Canggung rasanya ketika dekat dengan Nayla -cewek yang duduk dibelakangnya- hingga dosen masuk dan mengalihkan pikirannya.


#####


"PULANG KE RUMAH SEKARANG!!!"


Raka menjauhkan ponselnya dari telinga saat suara pria itu terdengar lantang. Mengecek ponselnya yang dimatikan sepihak, ia melenguh, gagal sudah menghabiskan waktu dengan Agatha hari ini.


"Kenapa?" tanya Agatha dengan suara lembutnya. "Kok jauhin ponsel gitu pas nelfon?" tanyanya saat Raka memasukkan ponsel ke dalam saku hoodie.


Raka menarik tangan Agatha dan menggenggamnya. "Aku antar kamu pulang dulu, mama sama papa nyuruh aku balik," ujarnya. "Gagal dong kita ngabisin waktu hari ini," lanjutnya membuat Agatha tersenyum dan menggerak-gerakkan tangannya yang ia genggam.


"Nggak papa, kamu juga udah lama nggak pulang ke rumah, mama sama papa pasti khawatir," tuturnya lembut. "Kamu sih bandel," lanjutnya membuat Raka gemas hingga nekad mencium pelipis Agatha di koridor yang masih ramai.


Tingkah pasangan itu semakin menjadi-jadi hingga banyak warga kampus yang semakin iri, terutama kaum ambyar yang sudah mengigit jari. Berbeda dengan Nayla yang masih duduk di dalam kelas, ia merasa tidak ingin kemana-mana, di luar masih banyak orang.


"Nay, gue kebelet pipis." Viola berdiri dan ngacir ke toilet meninggalkan Nayla yang tertunduk lesu, duduk di dalam kelas sendirian rasanya tidak enak.


Tepat dua menit Viola pergi ada tiga cewek yang masuk ke kelas, jantung Nayla mulai berdegup kencang, tasnya ia cengkeraman kuat-kuat saat mereka mulai berjalan mendekat. Tepat berdiri di samping Nayla, salah satu di antara mereka langsung menarik rambutnya dengan keras.


"Gue nggak punya masalah sama kalian!" tukas Nayla. "Lepasin rambut gue! Sebelum gue balas lebih-lebih!" ancamnya yang dibalas dengan tawa.


"Lebih? Gimana caranya lo mau balas? Keluar kelas aja lo nggak berani, sok-sokan mau balas kita-kita!" sinis cewek berambut ombre. "Gimana ini Girls? Enaknya di apain nih cewek badak?" tanyanya sarkas membuat Nayla menggeleng dan berusaha keras melepaskan tarikannya.


Satu tamparan melayang tepat mengenai pipi kanan Nayla, meninggalkan jejak merah. "Wushh, sakit banget yah?" ejeknya saat Nayla menatapnya penuh kebencian. "Sekarang giliran kalian!" Dia meminta teman-temannya melakukan hal yang sama.


Ada yang mencoret-coret wajah Nayla menggunakan lipstik, ada pula yang menggunting rambut panjangnya secara asal, bukan cuma itu, semua isi tas Nayla dibuang berantakan.


"Udah puas?"


Suara berat itu menghentikan tawa di antara mereka. Seorang cewek yang ingin kembali menggunting rambut Nayla terhenti. Mereka semua menoleh, terkejut karena Gino bersandar pada pintu dengan tangan yang tenggelam ke dalam saku.


"Gue nanya udah puas?" Gino melangkah masuk ke dalam kelas, tertegun sesaat melihat keadaan Nayla yang mengenaskan. "Cewek bar-bar," desisnya tajam.

__ADS_1


"Lo ngapain di sini?"


Gino menatap cewek berambut sebahu itu. "Ini kelas gue kalo lo lupa, dan kalian? Udah berani gangguin cewek di kelas ini, nggak takut gue bales?" tajamnya mengukir smirk.


Gino menarik tangan yang sedari tadi menarik rambut Nayla dan memelintirnya membuat sang empu memekik sakit. "Kalian mau kayak gini juga?" Suara rendahnya yang terdengar berat membuat mereka serentak mundur.


"Le--pasin!" pinta cewek itu saat Gino belum juga melepas pelintirannya. "Gino, jangan macem-macem sama gue!" kesalnya memberontakkan diri.


"Udah Gino, lepasin aja dia," timpal Nayla, walau ia sangat kesal terhadap mereka semua, ia tidak ingin membuat mereka tambah benci kerena telah melibatkan Gino.


Gino melepaskan mangsanya. "Pergi, dan jangan pernah gangguin Nayla lagi!"


Di kediaman Dirgantara.


"Pulang ke rumah, papa nggak ngijinin kamu tinggal di apartemen lagi!"


Raka diam mendengar kemarahan sang papa. Di sampingnya ada sang mama yang menepuk punggungnya untuk menenangkan.


"Papa denger kasus kamu Raka! Kamu masuk ke apartemen gadis dengan keadaan mabuk. Papa memang bebasin kamu tapi tidak melampaui batas seperti itu!" marahnya.


"Anak jaman sekarang udah nggak ada yang ngerti batasan Raka! Dan kamu mau dijebak atau enggak sama aja, nggak ada yang berubah. Kamu tetap masuk ke kamar gadis itu, dan Papa tidak terima itu!" Sang papa marah hingga urat dilehernya terlihat menonjol, ia menghempas tubuh ke sofa dan memijat pangkal hidung.


"Oke, Raka bakal pulang ke rumah," putus Raka akhirnya membuat sang mama menghela napas lega. "Tapi ... Papa sama Mama harus percaya sama Raka, kalo Raka nggak mungkin rusak anak orang," mohonnya.


"Mama mau ketemu sama gadis itu," timpal sang mama. Dia menarik lengan Raka agar kembali duduk, mengusap rambut legam putranya yang sudah dewasa. "Kamu sudah dewasa sekarang. Dan Mama nggak nyangka bakal secepat ini." Suara keibuannya membuat Raka nyaman.


"Ajak Mama ketemu gadis itu," pintanya. Namun, Raka menggeleng kukuh, ia tidak ingin berurusan dengan Nayla lagi. "Kenapa? Mama perempuan Nak dan Mama harus memastikan semuanya. Mama nggak mau anak Mama melakukan kesalahan fatal. Percaya sama Mama, Mama bisa atasin masalah kamu," ujarnya yakin. Sang mama dulunya psikologi, ia pernah bekerja di rumah sakit ternama di kota ini namun Papa Raka memintanya untuk berhenti. Setidaknya, ia ingin membaca gerak-gerik dari gadis yang terlibat konflik dengan putranya.


"Raka butuh waktu buat ngajak dia," ujar Raka akhirnya. "Tapi ... Mama percaya kan sama Raka?" tanyanya menatap dalam iris teduh sang mama hingga tak lama wanita itu mengangguk.


"Mulai malam ini kamu kembali ke rumah," putus sang Papa.


"Raka harus ke apartemen buat beresin barang-barang Raka," jawab Raka yang dibalas decakan oleh sang papa.


"Papa bakal suruh orang buat beresin barang-barang kamu, lagian kamu nggak bawa apa-apa kesana dan kenapa mau bawa barang yang ada di sana kesini?" tanya Papa tidak habis pikir.

__ADS_1


"Cuma buku-buku Raka aja, Pa," jawab Raka. Dia berdiri ingin masuk ke dalam kamar, namun suara sang papa kembali menginterupsi membuatnya diam dipijakannya.


"Gimana hubungan kamu sama Agatha?"


"Baik-baik aja," jawab Raka. Dia menoleh, balas menatap iris kelam sang papa. "Kenapa, Pa?" tanyanya.


Papa sudah ingin membuka mulut namun tatapan tajam yang dilayangkan sang mama membuatnya urung. Ini bukan waktu yang tepat membahas hubungan Agatha-Raka, putra mereka sangat sensitive jika membahas cewek itu.


.


.


.


jangan lupa like!


menurut kalian part ini gimana? komentar yah.


apa yang ingin kalian katakan untuk Raka?


apa yang ingin kalian katakan untuk Nayla?


apa yang ingin kalian katakan untuk Agatha?


apa yang ingin kalian katakan untuk Morgan?


apa yang ingin kalian katakan untuk Gino?


apa yang ingin kalian katakan untuk Viola?


ada yang rindu pak Aldi?😂


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2