
"IBUUUUUU ...!"
Seorang wanita berperut besar itu terlempar saat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Keadaannya yang tengah hamil membuatnya menggenggam perut takut bayinya kenapa-napa.
"IBUUUUUU ....!!" Seorang gadis berambut pendek bersimpuh di dekatnya, mengangkat kepala wanita itu dan memeluknya dengan erat. "Ibuuu berdarah," isaknya melihat banyak genangan darah di sekitar ibunya.
"Agatha." Suara lemah wanita itu terdengar, terbatuk, ia membelai wajah putrinya penuh kasih sayang. "Ma--afin, Ibu uhuuk-uhuuk." Suaranya tercekat namun Agatha kecil masih mendengar itu dengan jelas.
Agatha menggeleng. "Agatha mau bawa Ibu ke rumah sakit, Ibu dan Adik ha--harus selamat," ujarnya bersikap tegar. Agatha menghapus bulir-bulir air matanya dan berniat membangunkan tubuh ibunya. "Bertahan, Bu. Ibu pasti selamat. TOLOOONGG ...!" teriaknya namun tak ada satupun orang di sekitar sini.
"Aga---tha, Ibu sa-yang kamu. Jaga diri baik-baik, jangan sering bertengkar sama kakak kamu ya--uhuuk-uhuuk."
Agatha menggeleng, air matanya kembali tumpah, ia kembali berteriak histeris meminta tolong namun nihil tak ada satupun orang di jalanan sepi ini.
Sebelum akhirnya sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan matanya, silau dari lampu depan mobil itu membuat Agatha menunduk dan semakin menyembunyikan wajah Ibunya.
"TOLOONG---hiks. Ibu----Ibu ketabrak-hiks," adunya pada seorang pria yang turun dari mobil itu. Tak lama Agatha juga melihat seorang anak kecil seumuran dengannya, ia menatap Agatha iba dan meminta papanya untuk segera membantu Agatha. "Tolooong ...!!!"
Sampai kapanpun seorang Agatha Queenera tidak akan melupakan malam itu. Malam saat nyawa Ibu dan adiknya direnggut secara paksa oleh orang yang tak bertanggungjawab. Semenjak itu kehidupan keluarga Agatha berubah. Dan semenjak itulah hanya kebencian yang menumpuk dalam dirinya, semakin besar dan sangat besar sampai tak ada sedikitpun rasa cinta untuk dirinya sendiri, hanya rasa dendam.
Mencengkeram erat sebuah gelas, Agatha memalingkan wajah ke pintu saat terdengar ketukan. Dia sudah tahu jika pelukannya adalah Raka, mengingat cowok itu rindu padanya dan ingin menghabiskan hari bersama.
Mengusung senyum secara paksa Agatha berdiri dan membukakan pintu untuk Raka. "Cepet banget sampenya, ngebut yah?"
Raka mengangguk. Dia mengeluarkan sebuket bunga mawar yang ia sembunyikan di balik punggung. "Bunga yang sangat cantik untuk gadis yang lebih cantik," ujarnya.
Agatha tersenyum lalu meraih bunga itu. "Makasih Raka," ujarnya. "Tapi ... Kamu seharusnya nggak perlu repot-repot bawain aku bunga setiap saat," ujarnya lagi seraya menarik tangan Raka untuk masuk.
"Nggak papa, aku suka," ujar Raka.
__ADS_1
"Suka apa?" tanya Agatha sembari menghirup dalam aroma bunga mawar yang Raka beri, aromanya benar-benar harum dan Agatha mengakui itu.
"Suka kamu," goda Raka lalu terkekeh. Dia duduk di sofa dan merentangkan tangan, melihat itu Agatha ikut duduk dan menjadikan lengan Raka bantalannya. "Tetep kayak gini, jangan berubah, ngerti?"
Agatha berpikir beberapa saat lalu mengangguk. "Iya, gue nggak akan berubah, gue akan tetap benci lo," batinnya.
Agatha meletakkan bunga itu di atas meja dan berdiri. "Karena aku belum maskeran dan kamu datang, jadi ... AYO KITA MASKERAN," antusiasnya lalu berlari ke dalam kamar.
"Nggak mauuu," balas Raka. Dia sudah mencoba masker milik Agatha dan hasilnya lumayan namun tetap saja ia geli menyentuh skincare. "Nggak mau maskeran Agatha, kamu aja," ujarnya saat melihat Agatha membawa sebuah kotak berwarna pink.
"Ayo maskeran Raka biar wajah kamu jadi bersih nggak kucel lagi, masa' ganteng-ganteng kucel, sih," omelnya. Padahal diliat dari manapun tetap tampan, Raka menggunakan facial wash yang harganya tidak main-main. "Sini, aku bersihin mukanya terus kita maskeran."
Raka menggeleng. "Gini aja, kamu maskeran aku ke bawah beli makanan, belum makan 'kan, kamu?" tanyanya dibalas anggukan oleh Agatha.
"Nggak laper, maunya maskerin kamu!" keukeh Agatha.
Raka berdiri. "Nggak baik nunda makan, Sayang. Kalo kamu sakit gimana?" Raka berusaha membujuk, saat Agatha menarik lengannya Raka langsung menggiringnya untuk duduk. Mengecup puncak kepala Agatha sekali, Raka langsung bergegas pergi. "Kunci pintu apartemennya," teriaknya sebelum menutup pintu.
Sejak cowok itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi Nayla sudah mengikutinya menggunakan motor matic yang ia beli tiga hari lalu.
Berdiri di depan apartemen milik orang lain benar-benar membuatnya kesal, ia seperti penguntit sekarang. Belum lagi pikiran-pikiran kotornya beterbangan di kepala tentang Raka yang pagi-pagi begini ke apartemen seorang gadis, mungkin.
Memakai topi hitam, penutup wajah hitam, hoodie hitam dan celana levis berwarna hitam juga. Penampilan Nayla benar-benar keren sekarang.
"Gue udah di depan apartemen Agatha, lo dimana sekarang?" tanyanya pada Viola di seberang sana. "Di depan rumah pak Aldi? Gercep juga lo," decaknya kagum.
Tak lama pintu apartemen Agatha terbuka yang mana Nayla langsung berpura-pura jalan seraya mengatakan hal-hal yang tidak mencurigakan, Viola di seberang sana berkali-kali bertanya 'ada apa' namun tetap saja pembahasan mereka tidak nyambung.
Raka masuk ke dalam lift, Nayla mengikutinya dalam diam sampai seperkian detiknya ia terkejut karena segerombolan laki-laki juga masuk ke lift ini.membuat Nayla terpojok.
__ADS_1
"Ish!" desisnya. Nayla semakin menempel pada dinding, ia tidak suka bersentuhan dengan laki-laki asing walau seujung jari sekalipun. "Jauh-jauh!" decaknya kesal.
Raka mengerutkan kening. "Lo nggak papa?" tanyanya pada cewek yang sejak tadi berdecak.
Nayla menggeleng kukuh, bersyukur juga karena Raka tak mengenali dirinya.
"Lo risih dempet-dempetan gini?" tanyanya lagi. Sejenak Nayla terpaku, ia tidak menyangka jika Raka cukup peduli dan peka pada orang di sekitarnya. "Gue sebenernya malas peduli sama orang lain, apalagi cewek," ujarnya.
Namun, saat melihat cewek itu kembali berdecak dan mendorong seorang pria yang sengaja mendekatkan diri padanya Raka mengambil tindakan dengan menyembunyikan cewek itu di belakang punggungnya. "Tapi ... Gue punya pacar yang gue takutin bakal ada di posisi lo sekarang dan nggak ada yang bantuin."
"Jadi, gue mau buat bekal untuk pacar gue."
Nayla benar-benar tidak paham. Dimana letak rasa 'tidak suka' Agatha pada Raka. Bahkan, di saat cewek itu tidak adapun Raka masih peduli dan melakukan sesuatu untuknya.
"Kalo seandainya pacar gue kejebak di lift yang isinya cowok semua. Gue mau ada satu cowok yang lindungin dia dan ngelakuin hal yang sama seperti apa yang gue lakuin ke lo."
.
.
.
Siap-siap masa lalu Agatha akan terbongkar dikit-dikit.
dan clue-clue tentang siapa pacar Agatha akan bermunculan
jangan lupa SPAM LIABILITY biar ingat terus sama cerita ini💜
selamat malam, Guys🔥
__ADS_1
salam dariku,
SYUGERR