
"Gue mau lo nikahin gue, karena lo yang udah ilangin kata 'gadis' dari diri gue, Raka."
Kalimat terakhir saat dirinya bertemu dengan Nayla terus terngiang-ngiang di pikirannya. Raka sampai harus memutar otak untuk melupakan kalimat itu. Sekali lagi Raka meneguk wine langsung dari botolnya hingga tandas. Berharap bisa melupakan tuduhan yang Nayla ucapkan kepadanya.
"Gue sama sekali nggak ingat apa-apa." Raka menekan pelipisnya dengan telunjuk sampai kepalanya terhuyung ke samping. "Kepala gue rasanya mau pecah mikirin itu semua," racaunya lagi. Dia dalam keadaan setengah mabuk, iris hitamnya terlihat layu.
Raka menghempas punggungnya ke sandaran sofa. Sebelah tangannya bergerak untuk memijit pelipisnya, kepalanya mulai pening namun masih tidak ada hal yang dia ingat tentang malam itu. Yang Raka tahu dirinya tiba-tiba terbangun di kamar Nayla dalam keadaan tidak sepantasnya.
Tetapi ... Bagi Raka itu tidak cukup menjadi bukti bahwa dirinya telah melakukan 'itu' bisa saja Nayla hanya berpura-pura untuk menjebaknya. Namun, apa motif utama cewek tersebut?
"Kepala gue pusing mikirin itu semua!" Raka menjatuhkan tubuhnya pada sofa, cowok tersebut memilih memejamkan mata. Tidak ingin larut dalam pikiran tidak masuk akalnya lagi. Tidak butuh waktu lama bagi cowok itu untuk benar-benar tertidur.
Pintu apartemen Raka terbuka, seorang cewek masuk dengan mudah karena Raka memang memberikan kartu akses apartemennya untuk cewek itu. Dia tersenyum licik saat melihat Raka tidur dengan posisi tidak beraturan dan wajah berantakan di sofa. Satu persatu hal-hal yang ingin dia lakukan pada cowok itu tercapai, dan tentu saja ini berkat bantuan Nayla. Mantan pacar dari kakaknya.
Yah, kakak dari seorang Agatha Queenera adalah Aldiano Destura. Mantan dari Nayla Kayana. Cowok yang sudah tega menjebak pacarnya sendiri untuk tidur bersama Raka, pura-pura merasa terluka padahal dirinya-lah dalang dari semua masalah. Agatha menggeleng kecil, dia terkekeh lucu mengingat perlakuan kakaknya yang tidak punya hati.
Agatha melangkah lebih dekat ke arah Raka, dia membelai wajah tampan pacarnya yang terlelap. "Kasihan banget sih lo, dijebak-dikhianatin-ditipu lagi sama orang yang benar-benar lo sayang, gimana yah rasanya?" tanyanya pada Raka padahal jelas cowok itu tidak dapat menanggapi.
Agatha menangkup pipinya dengan sebelah tangan, netranya tak berhenti menatap wajah berantakan Raka. Bahkan, sedikit kerutan terlihat di kening cowok itu. Agatha jadi semakin ingin menambah beban masalah Raka kalau seperti ini. "Raka Dirgantara, nikmati alur yang gue buat untuk hidup lo yang nggak bakal lama lagi. Seenggaknya, lo perlu sedikit permainan agar saat hari itu tiba, kematian lo lebih-lebih menyakitkan lagi, Wow," ujarnya.
__ADS_1
Agatha kini menjauhkan tangannya dari wajah Raka, dia beralih ke kemeja hitam yang cowok itu gunakan. Raka menggeliat saat Agatha membuka satu persatu kancing kemeja hitam cowok itu. Saat terbuka sempurna. Agatha kini membuka pakaiannya sendiri dan sedikit membuat penampilannya berantakan, lalu tidur di samping Raka.
Di tempat lain. Di kamar yang bersebelahan dengan kamar Raka. Ada Nayla yang duduk bersila di atas ranjang, di depannya ada laptop yang menyala, jari-jarinya tak berhenti bergerak di atas keyboard. Dia sedang menulis, mengejar deadline yang penerbit berikan padanya. Ini adalah pekerjaan Nayla sekaligus hobi, cewek itu seorang penulis hebat di usianya yang masih muda.
"Nah! Akhirnya selesai juga. Mata gue sakit bener lima jam di depan laptop." Nayla merenggangkan otot-otot jarinya hingga terdengar bunyi 'krek'. Lima jam di depan laptop membuat seluruh tubuhnya pegal. "Tiga part, sisa dua part lagi dan setelah itu ending," lanjutnya lagi.
Ini adalah naskah Nayla yang lain, bukan LIABILITY karena naskah tersebut masih baru dan belum dipinang oleh penerbit makanya Nayla masih santai dalam menulis naskah tersebut, sebisanya saja. Tetapi, jika boleh jujur di antara semua naskahnya yang on-going, Nayla lebih-lebih menaruh minat ke LIABILITY. Tempat melampiaskan rasa kesalnya pada cowok bernama Raka.
"Ngomong-ngomong soal Raka, cowok itu lagi ngapain, yah?" Nayla mengetuk dagu, cewek dengan rambut digulung tinggi secara asal itu nampak berpikir. "Gue ke apartemennya aja kali, yah? Sekalian pedekate-kan, siapa tau aja dia udah suka sama gue pas gue bilang kalau orang yang udah ilangin kata gadis dalam diri gue itu adalah dia." Nayla tersenyum tipis, tidak pernah menyesal mengatakan fakta tersebut. Bodo amat jika Raka sampai kepikiran, itu memang sudah seharusnya cowok itu lakukan sejak lama.
Nayla melirik jam di atas nakas. "Tapi ... Ini udah jam sebelas malam, mungkin Raka udah tidur," ujarnya lagi. Nayla nampak berpikir lagi, dia tidak ingin menganggu waktu istirahat seseorang, siapapun itu. Karena Nayla juga sama sekali tidak suka jika ada orang yang telah lancang mengganggu istirahatnya. "Siapa tau aja 'kan, Raka belum tidur, gue kesana aja deh. Sekalian bawa cemilan." Nayla turun dari ranjang, cewek itu bergegas ke dapur untuk mengambil beberapa cemilan dan dua botol minuman dingin.
Namun, sekali lagi Nayla berpikir. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, mungkin saja Raka sudah tidur dan dirinya datang sebagai pengganggu. Bahu Nayla merosot turun, "Ya udahlah, besok aja, Raka kayaknya udah tidur," ujarnya lesu.
Di sebuah klub ternama. Dua cowok berbeda ekspresi sedang duduk bersisian disalah satu sofa. Kedua cowok tersebut ialah Morgan Kaili dan Gino Sigra Pribawa. Mereka adalah langganan klub malam. Tengah melepas penat dan bersenang-senang dengan meneguk beberapa botol minuman beralkohol.
"No, menurut lo Raka dan Agatha bakal bertahan sampai kapan?" tanya Morgan saat mengingat ucapan Raka siang tadi. Dimana cowok itu mempunyai cita-cita ingin menikah dengan Agatha. Namun, Morgan rasa itu tidak mungkin terjadi. Ada yang aneh dalam hubungan mereka, Raka yang terlalu excited sedangkan Agatha cenderung tidak peduli dan pasrah.
"Nggak lama lagi, gue ... yakin." Gino mengukir senyuman miring, Morgan tertawa mendengar itu. Morgan sudah dalam keadaan mabuk, sedangkan dirinya masih setengah mabuk. "Kenapa nanya gini?" tanyanya pada Morgan.
__ADS_1
Morgan menggeleng pelan, matanya sudah semakin berat. Dia melambaikan tangan pada salah satu cewek yang terus menatapnya, dan cewek tersebut mengangguk dan mulai melangkah mendekati Morgan. "Nggak tau. Gue mau seneng-seneng dulu," jawabnya. Morgan menoleh pada cewek yang kini berdiri di depannya, "Satu malam bersama saya ... ******," ujarnya pada cewek tersebut. Setelah itu mereka pergi.
Gino menggeleng pelan melihat tingkah Morgan. Cowok yang mirip dengan oppa-oppa Korea hingga dikagumi banyak kaum hawa itu ternyata seorang lelaki yang tidak cukup untuk satu perempuan. Gino berdehem pelan, "Jangan nilai seseorang dari luar, apa yang menurut lo baik belum tentu baik, begitupun sebaliknya."
.
.
.
.
.
AGATHA ADA NIAT BAIK APALAGI SIH?
KOMEN SEBANYAK-BANYAK YAH, RAMAIKAN CERITA INI.
salam dariku,
__ADS_1
SYUGERR