LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 52


__ADS_3

Nayla tidak sadarkan diri setelah menangis, Gino membawanya ke infimary dan menjaganya beberapa saat sebelum Viola tiba. Dia tertegun melihat memar di pelipis Nayla, lengan, dan pinggang yang dengan jujur Gino menyingkap baju Nayla untuk memastikannya.


Entah ada berapa memar dengan titik yang berbeda. Dia sering melakukan s3ks dengan gadis-gadis yang berbeda untuk memuaskan birahinya, Gino bisa aja mengecek seluruh tubuh cewek itu tanpa gugup. Namun, dia rasa tubuhnya yang akan memar jika sampai nekad melakukan itu.


"Keadaan Nayla bagaimana?" Viola masuk dengan napas yang putus-putus, dia menyeka keringatnya. "Makasih udah nolongin Nayla," tulusnya tersenyum manis.


Raut wajah Gino tidak berubah, dia mengangguk dan pergi begitu saja. Bahu Viola merosot, kenapa dirinya diperlakukan begitu dingin? Padahal saat memeluk Nayla tatapan Gino sangat membuai tidak sedingin tadi.


Viola melihat jaket Gino di sisi ranjang, dia berpikir ingin mengembalikannya. Gino pasti belum jauh dari sini.


Menoleh kanan-kiri. Viola memutuskan ke arah kanan, menuju kelasnya. Dua menit berjalan Viola terkejut, dia mundur dan bersembunyi di balik tembok. Di depan sana, Gino tengah berbincang dengan Agatha. Entah apa yang mereka bahas.


Viola mengintip sedikit-sedikit, berusaha agar tidak ketahuan. Dia tambah terkejut saat melihat Agatha memeluk tubuh Gino sangat erat. Viola langsung berlari ke tempat Nayla, Agatha tadi memergokinya.


"Si4lan! Gue suka sama orang yang salah." Menutup pintu dengan sangat keras, Viola menghampiri Nayla yang masih memejamkan mata. Air matanya nyaris tumpah, dia jatuh hati pada orang yang salah. "Gue mau jadi playgirl aja kalo gini, gue mau pacarin cowok satu-satu, bodo amat sama perasaan mereka," racaunya.


"Mana tadi gue sempet cemburu pas dia meluk Nayla, seharusnya gue misahin. Dia berbahaya kalo deket-deket sama Nayla," racaunya lagi. Viola menggenggam tangan Nayla, menggerak-gerakkannya. "Nay, bangun. Misi kita masih panjang jangan tepar sekarang," celutuknya.


Ponsel Viola berdering, mengeceknya segera hembusan napasnya terbuang kasar. Ini panggilan dari Morgan yang meminta maaf, juga puluhan chat yang mengatakan bahwa dia menyesal meninggalkannya dengan Nayla. Cowok itu ingin meminta maaf, Viola tidak menjawab. Morgan dan Gino sama saja, sama-sama br3ngsek.


Tangan yang digenggamnya bergerak, Viola meletakkan ponselnya di nakas, menunggu dengan harapan Nayla segera sadar.


"Gue dimana?


Sudah menjadi tradisi untuk orang pingsan menanyakan keadaan setelah sadar. Viola tidak menjawab, yakin walau dirinya tidak mengatakan apapun Nayla pasti tahu kalau ini di Infimary.


"Vio, gue pingsan?"


"Enggak, lo jalan sambil tidur." Viola berkata dongkol. Bayangan-bayangan Agatha memeluk Gino erat melintas di otaknya. Jujur, dia sangat menyukai cowok itu, semua yang ada di diri Gino dia suka. 


"Lo kayak orang yang lagi patah hati," ujar Nayla.


"Hm, gue lagi patah hati." Viola berkata frustasi, meraup wajahnya dan menggeram. "Gue patah hati karena cowok untuk pertama kalinya!" geramnya.


"Apasih." Nayla memalingkan wajah, menikmati rasa nyeri yang menghantam setiap inci tubuhnya. Dia melihat memar di tangannya dan entah ada berapa memar lain di sekujur tubuhnya. "Gue abis di keroyok, bukan saatnya lo patah hati."

__ADS_1


"Patah hati nggak pake jadwal," jengkel Viola.


Seketika Nayla teringat sesuatu. "Siapa yang nyelamatin gue? Cowok tadi siapa? Kenapa dia baik banget mau meluk gue dari haters?" Nayla tersenyum saat mengingat moment tadi, hatinya tersentuh, menghangat.


"Lo bakal kaget kalo tau siapa orang itu," jawab Viola.


"Siapa? .... Raka?" Suara Nayla mencicit saat menyebut nama 'Raka'.


"Salah besar," pungkasnya. Viola mengedepankan tasnya, dia mengeluarkan sebotol air mineral dan roti coklat dari sana, menyerahkannya pada Nayla. "Makan dulu, gue tau lo pasti laper."


"Tau aja." Nayla mengubah posisinya menjadi duduk, dia membuka penutup botol dan meneguknya tiga kali. "Jawab dulu pertanyaan gue ... cowok tadi siapa?"


"Gino."


Nayla menggeleng, terkekeh kecil lalu menepuk bahu Viola dengan tangannya yang bebas. "Lo nggak bisa nerima fakta kalo Gino ternyata punya hubungan sama Agatha?" tanyanya dan Viola langsung mengangguk, memang itu yang dia pikirkan.


"Trus yang bawa gue kesini siapa? Cowok tadi itu siapa?" Nayla mengigit kecil rotinya seraya menunggu jawaban Viola. "Berat banget sih, timbang jawab doang," gregetnya Karen Viola tak kunjung membuka suara. "Vio!"


"Gue tadi udah jawab kalo cowok itu Gino."


Di sisi lain. Seorang Aldiano Destura tertawa bahagia setelah mendengar cerita sang adik. Dia duduk di kursi putarnya, menumpu tangannya di meja sesekali memukul benda itu saat tertawa.


Agatha baru saja memberitahunya perihal yang terjadi di kampusnya tadi. Awalnya Aldi merasa kasihan pada Nayla sebab, cewek itu tak salah apa-apa, dia tidak ada sangkut pautnya dengan dendam yang keluarganya rasakan.


Dia hanya cewek sederhana, mandiri, cerdas, pekerja keras untuk hidup di kota ini seorang diri. Nayla jatuh hati padanya lebih dulu, mengejar-ngejarnya dengan yakin. Hatinya terenyuh, dia membalas perasaan cewek itu dengan tulus. Namun, siapa sangka dendam mengalahkan itu semua.


Aldi mengorbankan cewek tak tahu apa-apa itu pada Raka. Mengotori, dan merusak harga dirinya. Aldi rasa dialah pria paling br3ngsek di dunia ini, dendam sudah menjadi tujuan hidupnya, hatinya menghitam, penglihatannya gelap akan kabut masa lalu yang menggerogoti pikirannya.


"Gimana keadaan Nayla?"


"Ngapain kakak nanya-nanya keadaan Nayla? Dia nggak penting."


Aldi menghela napas. "Jangan kelewatan Agatha, kamu harus ingat kalo Nayla tidak salah apa-apa. Dia korban dari kelicikan kita, dia ... nggak punya kesalahan sedikitpun terhadap kita," tuturnya.


Aldi mengeluarkan dompetnya, menatap fotonya dengan Nayla yang masih tersimpan apik di sana. Jujur, walau dia menyangkal sekeras apapun hati kecilnya seolah berbisik kalau dirinya membutuhkan kasih sayang Nayla. Cewek yang menyayanginya dengan tulus.

__ADS_1


"Gimana keadaan Nayla, Agatha? Apa yang terjadi setelah kamu berbohong padanya dan Raka?"


"Dia ... Dia keroyok warga kampus, pingsan dan mungkin sekarang ad---"


"APA?" Aldi terkejut, refleks berdiri dan mencengkram erat ponselnya. "Siapa yang lakuin itu?" tanyanya tersirat emosi terpendam.


"Kakak kok jadi gini? Bukannya kakak sendiri yang udah ngumpanin pacar kakak buat kelancaran balas dendam kita, kenapa kakak masih peduli sama dia?"


Aldi mengepalkan tangan, urat-urat di lehernya tercetak semakin jelas. Dia menghela napas lalu duduk sedikit kasar. "Agatha, kamu harus ingat kalo Nayla nggak salah apa-apa. Kita udah ngancurin masa depan dia, kita udah buat dia hancur sehancur-hancurnya. Seenggaknya kamu sebagai cewek harus merasakan sedikit perasan dia."


Terdengar kekehan sarkas. "Aku udah mati rasa setelah mama dan adik meninggal, Kak. Papa ... mati bunuh diri karena depresi, mereka ninggalin aku yang masih kecil. Lalu apa aku salah membalas dendam pada orang yang udah buat mama meninggal!" sentaknya.


"Aku juga ... Aku juga ngorbanin diri aku, Kak. Aku pacaran bertahun-tahun sama orang yang nggak aku sayang. Seharusnya kakak kasihan sama aku!"


Aldi bersandar di sandaran kursi. Kepalanya tiba-tiba saja pening. "Mau bagaimana pun, kamu nggak boleh keterlaluan sama Nayla. Ingat itu!"


.


.


.


Udah bisa nebak part berikutnya seperti apa?


komentar di bawah😙


ada yang bisa nebak ending nggak?


Raka jadi nggak sama Nayla? atau tetep sama Agatha walau tau udah di khianatin?


TARGET 220 LIKE 50 KOMENT!


SALAM DARIKU,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2