
"Woy santuy! Jangan kayak banteng ngamuk deh," seloroh Morgan saat Raka masuk dengan keadaan emosi dan membanting pintu. "Apa yang lo omongin sama Nayla? Balik-balik dah emosi kayak gini," tukasnya duduk di depan Raka.
"Gue belum cerita sama kalian?" tanya Raka.
"Cerita tentang apa?" tanya Morgan.
"Masalah gue mah Nayla, awal mula kita ketemu dan kenapa Nayla kekeh ngejar gue, ngaku cinta padahal enggak sama sekali." Perkataan Raka membuat Morgan dan Gino saling bersitatap.
"Lo belum cerita, Ka. Tega lo mah sahabat nan sehidup nan semati lo masalah genting kayak gini lo nggak cerita," dramatis Morgan.
"Lo tau malam gue mabuk dan nggak ada satupun di antara kalian yang nganterin gue pulang?" ujar Raka yang seketika membuat sahabat-sahabatnya berpikir dan memutar ulang malam itu. Morgan dan Gino mengangguk singkat membuat Raka kembali mengimbuhkan, "Gue bangun-bangun ada di kamar Nayla *****! Tidur bareng tuh cewek, gila nggak?!!"
"KOK BISA? GIMANA CERITANYA? LO NGAPAIN AJA SAMA NAYLA? ENAK BANGET LO BANGUN-BANGUN DAH ADA DI KAMAR CEWEK!" seloroh Morgan dengan suara bassnya, Gino yang duduk di sampingnya lantas menutup telinga dan menjauh begitupun dengan Raka yang langsung mengambil bantal sofa dan menenggelamkan wajahnya di sana. "JAWAB, KA! INI MASALAH SERIUS DAN LO BARU CERITA? JADI GIMANA? LO NGAMBIL KEPERAWANAN ANAK ORANG, HAH?"
"DIAM, MOR!" balas Raka berteriak.
"NAMA GUE GAN, BUKAN MOR ANJING!" balas Morgan ikut berteriak.
Gino yang paling waras di antara mereka memilih diam, ia juga sangat penasaran dan terkejut dengan apa yang Raka ucapkan namun reaksinya tidak seheboh Morgan.
"Gue dijebak, ***!" kesal Raka. "Gue nggak ingat apapun pas bangun-bangun dah ada di kamar Nayla, dan coba lo pikirin cewek mana yang nggak ngunci pintu di jam 1 malam? Cuma cewek gila!!" kekesalannya semakin menjadi-jadi.
"Bener, apalagi cewek sepintar Nayla?! Rasanya mustahil, dia selalu teliti setiap buat laporan, makalah, bahan presentasi, masa ngunci pintu tepat waktu aja dia nggak becus?" timpal Morgan, suasana hatinya ikut-ikutan terbawa panas, ia seperti merasakan apa yang Raka rasakan sekarang.
"Tuh, dan tadi dia ngajak gue buat cek cctv malam itu, dan kalian tau apa yang gue temuin? Bukan cctv malam itu tapi cctv sebelumnya yang nunjukkin dia lagi ngomong sama dua pria aneh," ujar Raka lagi.
Morgan menggeleng tidak habis pikir, ia tidak menyangka Nayla akan sepicik itu. "Cctv malam itu gimana? Ketemu?" tanyanya yang membuat Raka langsung berdiri dan berjalan ke area dapur. "WOY ANJING! GUE NANYA DAN LO MALAH PERGI?" teriaknya berapi-api.
#####
__ADS_1
Raka menyodorkan sebuket mawar pada Agatha, walau pikirannya kacau ia masih sempat membeli bunga tersebut untuk membuat Agatha senang. Setidaknya, Raka cukup lega karena berpikiran Nayla tidak akan muncul di hadapannya lagi. Cewek itu tidak akan merecoki hubungannya dengan Agatha.
"Haaah, aku nggak dibiarin masuk nih?" tanya Raka saat Agatha hanya senyum-senyum seraya mencium sebuket mawar pemberiannya. "Cuma suka sama mawar? Yang beli mawarnya gimana? Nggak suka?"
Agatha tersenyum lalu mempersilahkan Raka masuk. "Aku lebih suka sama yang beli mawar ini," katanya. "Duduk sini dulu, aku mau nyiapin minum," pintanya yang langsung dilaksanakan Raka.
Agatha memeluk bunganya ingin membawa ke dapur namun belum sempat ia melangkah sebuah tangan kekar lebih dulu menariknya untuk mendekat. Dan pemilik tangan itu ialah Raka yang kini berdiri memegang bahunya dan memintanya duduk.
"Lagi mode manja, temenin," pinta Raka lembut dengan ekspresi wajah yang ikut mendukung. Agatha menggeleng dan tetap ingin ke dapur namun Raka dengan gerakan cepat merebahkan kepalanya di paha cewek itu. "Lagi mode manja, temenin aku Sayang."
"Tumbenan kamu manja gini, ada masalah?" tanya Agatha dengan mengusap rambut legam milik Raka membuat cowok dengan kaos hitam polos itu menggeleng dengan mata terpejam. "Ngantuk banget yah?"
Raka mengangguk dan menekuk bibirnya ke bawah. "Tapi sebagian udah hilang pas liat senyum kamu," ujarnya membuat Agatha tersenyum. Ucapan-ucapan Raka yang tulus selalu saja membuat hatinya berbunga-bunga. Raka membuka matanya, menarik tengkuk Agatha sampai cewek tersebut memasang ekspresi terkejut. "Cium kening aku sepuluh detik, biar lelah aku sepenuhnya ilang," pintanya.
"Mana bisa gitu." Agatha menggeleng, jantungnya berdegup kencang. Ini bukan pertama kali seorang Raka Dirgantara berlaku manis namun akhir-akhir ini jantungnya ikut berpartisipasi. "Lepasin, wajah kamu terlalu dekat."
Agatha kembali menggeleng. "Nggak mau, Ka. Lepasin, aku marah nih sama kamu?"
Raka kembali membuka mata, "Yah, kalo kamu marah capek aku jadi nambah berkali-kali lipat, jangan marah dong," ujarnya menggemaskan. Wajahnya yang tampan memang anti ditolak-ditolak, Agatha saja jika bukan karena misi ia pasti akan jatuh hati dengan cowok tulus ini.
"Nggak marah kok, tapi lepasin dulu tangan kamu, jantung aku deg-degan," pintanya yang mana langsung Raka patuhi.
Raka kini menarik kedua tangan Agatha dari kepalanya dan menggenggamnya, sesekali menciumnya sembari memejamkan mata. "Yaudah aku ngalah, gini aja sampe aku bangun, yah?"
Mau tidak mau Agatha mengangguk. Raka kembali mencium punggung tangannya sampai selang beberapa menit genggaman cowok itu melonggar yang menandakan Raka benar-benar tertidur. Agatha menarik tangannya dari dada Raka, ia menoleh ke arah lain, terkejut melihat sang pacar berdiri di samping pintu.
"Sayang kamu udah lama di sini?" tanyanya tersenyum canggung pada sang pacar dikarenakan cowok yang kini menjadi rival tengah tertidur di pahanya. "Kamu cemburu, hm?" Agatha terkekeh pelan melihat wajah cemburu sang pacar.
"Dia ngapain? Gangguin kamu?" tanya cowok itu seraya berjalan masuk menuju dapur, ia membuka kulkas dan meneguk beberapa air putih. "Manja banget sampe tidur di paha kamu segala," katanya sinis.
__ADS_1
"Ini juga demi kamu kan? Dulu aku udah saranin buat berhenti aja eh kamu nggak mau," jelas Agatha mengingat dulu ia ingin berhenti mendekati Raka. "Sekarang nggak guna juga aku nyerah, ibarat angka satu sampai sepuluh, kita udah ada di angka sembilan."
Si cowok tertawa pelan lalu berdiri di belakang sofa, ia memainkan rambut Agatha sesekali melirik Raka yang tertidur. "Sejak gue kenal sama Raka ada satu hal yang gue pahamin dari dia," ujarnya.
"Apa?" tanya Agatha.
"Raka tipikal orang yang susah tidur dan sekalinya tidur dia susah dibangunin."
.
.
.
.
Mau di next kapan?
siapa yang kalian suka di cerita ini?
apa yang kalian tunggu dari cerita ini?
gimana menurut kalian tentang Agatha?
penasaran nggak mau liat visual mereka?
salam dariku,
SYUGERR
__ADS_1