LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 22


__ADS_3

"Mau!" sahut Raka setelah terdiam beberapa saat. Nayla semakin melebarkan senyumannya, alisnya naik turun seolah meminta cowok itu untuk membuka pintu apartemen semakin lebar agar dia bisa segera masuk dan membuktikan semuanya.


"Buka pintunya dong, entar dikasih liat."


"G0BLOK MALAH NERIMA!"


Nayla nyaris memekik kaget saat pintu dibanting oleh Raka. Untung saja Nayla dengan sigap menarik tangannya sebelum berakhir mengenaskan. Melihat wajah memerah cowok itu sebelum membanting pintu membuat Nayla terkikik geli. Sadar akan dirinya yang senyum-senyum sendiri sedari tadi, Nayla lantas memukul pelan pelipisnya dan menggeleng untuk mehilangkan jejak wajah Raka yang tercetak jelas diingatan


"Gue juga bercanda kali," gumam Nayla sebelum melenggang pergi ke apartemennya sendiri. Melirik ke arah kantong kresek yang dibawanya, Nayla kembali meraih dan menggenggamnya. "RAKA MAU CEMILAN KAGAK? GUE ADA BANYAK NIH," teriaknya.


"NGGAK BUTUH GUE, PERGI SANA!"


####


"YUHUUU RAKA DIRGANTARA DILAWAN YAH KAGAK BISALAH!" Raka berkata antusias seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan stik game digenggamannya. "Kalian semua masih noob! Kagak tau main 'yah, nggak usah main, jadi beban aja," lanjutnya lagi menghina.


"Ya." Gino menyahut malas. Meletakkan stik game-nya dan bangkit berdiri ke arah kulkas, mengeluarkan beberapa botol minuman bersoda dari sana.


"Alah baru gitu doang tapi sombongnya udah selangit, kayak orang yang baru menang aja." Morgan ikut-ikutan mencibir. Walau bingung juga dikarenakan sejak empat jam yang lalu mereka memulai hingga saat ini kemenangan selalu diraih oleh satu orang. " Minta susu, No. gue pengen nyusu." Morgan nyengir saat Gino menatapnya dingin.


Gino melempar susuk kotak coklat yang diterima baik oleh Morgan. Gino lantas duduk di atas ranjang dan menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Dia menatap Raka cukup lama sebelum berujar, "Kenapa telat?" tanyanya.


Raka menoleh sekilas, jari-jarinya masih bermain heboh di atas stik. "Ada bencana pas mau berangkat," jawabnya asal.


"Bencana apa?" tanya Gino lagi.


"Kepingin diliatin aset atas cewek."

__ADS_1


Uhuk-uhuk! Morgan menepuk-nepuk dadanya karena rasa nyeri yang menyerang. Gino mengangguk saja dan kembali menyandarkan punggung, dia mengeluarkan ponsel dari saku celana cargonya sebelum fokus pada materi pdf-nya.


"Sumpah lo? Ceweknya siapa? Agatha? Dia udah mau di iya-iya-in sama lo?" tanya Morgan beruntun. Dia bukan Gino yang memiliki sikap bodoamat yang tinggi, Morgan tidak bisa tenang jika info yang didapatkannya belum lengkap. Raka tidak menyahut, dia hanya fokus pada permainan game-nya, dikarenakan Morgan dan Gino tidak bermain lagi, Raka harus ekstra fokus mengalahkan musuh yang entah berasal dari mana. "Raka Dirgantara kecebong, jawab pertanyaan gue?!"


"Apasihh lo, orang lagi main juga!" Raka menyahut jengkel. Morgan kian menjadi-jadi dengan berdiri dan langsung mematikan PS-nya. Sebelum mengeluarkan akun mereka masing-masing. Netra Raka membola, tangannya mencengkeram erat stik game seperti ingin mematahkannya saja. "Udah bosan hidup, eh?" sarkasnya.


"Jawab dulu pertanyaan gue, ceweknya siapa. Baru boleh main, sampe lo puas sekalipun!" ujar Morgan. Raka meraih jaketnya yang tersampir lalu digulung dan dilempar ke arah Morgan. "Apasih lo main lempar-lempar, labil deh," ujarnya semakin menyulut emosi Raka.


"Kuylah, lapangan belakang rumah lo kayaknya luas," geram Raka. Bangkit berdiri dia hendak mencengkeram rambut Morgan namun Morgan melakukan perlawanan dengan mengelak dan menepis tangan Raka. Raka tidak kehabisan cara, kedua tangannya menarik bahu Morgan sedikit membungkuk sebelum lututnya menghantam dada cowok itu hingga Morgan terbatuk-batuk. "Rank gue bisa turun gara-gara lo, capek-capek gue begadang tau nggak!" desisnya murka.


"Lagian elo nggak ma ..."


"KEPO LO!" Raka lebih dulu menyambar sebelum Morgan menyelesaikan kalimatnya. Cowok itu memungut jaketnya dan bergegas pergi, sebelum memutar pintu dia lebih dulu berujar jengkel, "Capek gue temenan sama lo pada, kagak ada yang dewasa!" Setelahnya membanting pintu dengan keras hingga Morgan mengelus dada.


"Ini yang salah siapa sih?!!" frustasi Morgan.


"Lo!" balas Gino cuek. Morgan meraup wajah frustasi, ekspresi miris dia tunjukkan dengan totalitas.


"Malam Tante, Om," sapa Raka. Kedua orang tua Morgan mengangguk dan membalas sapaan cowok itu. Sekitar lima menit mereka bersua, Raka lebih dulu memutuskan untuk pamit pulang.


Di tempat lain namun di waktu yang sama seorang perempuan baru saja meniriskan sayur kangkung untuk makan malam ini. Dia adalah Nayla, dia tampak telaten dengan pekerjaannya, kepalanya meneleng ke kiri nyaris menyatu dengan bahu kiri dengan telepon genggam yang terselip di sana.


"Ya, Bu. Nayla ora apik ing kene, ibu ora perlu kuwatir." [Iya, Bu. Nayla baik-baik aja 'kok, di sini, ibu nggak usah khawatir] Nayla mengukir senyuman tipis walau orang di seberang sana tak dapat melihatnya.


" ...."


"Ya, Bu. Nayla ngurus awake dhewe, ora ana sing kepengin tumindak ala ing Nayla." [Iya, Bu. Nayla jaga diri baik-baik kok, nggak ada yang berniat jahat sama Nayla].mungkin. Setetes air mata Nayla jatuh membasahi pipi tatkala mendengar suara penuh kekhawatiran dari ibunya, bapaknya, dan saudara-saudarinya di kampung yang memintanya untuk berhati-hati dan tetap waspada di kota milenium ini.

__ADS_1


" ...."


"Ibu bisa saja. Ya, sudah, Bu, Nayla pengin mangan makan dhisik. Aja lali mangan lan ngurus kesehatan, assalamualaikum ...." [Ibu bisa aja. Ya udah, Bu, Nayla mau makan malam dulu. Kalian di sana jangan lupa makan juga dan jaga kesehatan, assalamualaikum ....]


" ...."


Nayla mematikan kompor setelah masakannya matang. Kini, cewek itu tertatih mendudukkan diri di kursi, air mata lagi-lagi membahasi pipi tanpa diminta. Ketakutan menghantui, menyesal, dan perasaan-perasaan menyayat lainnya hinggap di hati Nayla. Jika saja dia lebih hati-hati dan mengunci pintu apartemen, mungkin malam itu Raka tidak dapat masuk dan tidak mungkin bisa masuk.


Jika saja Nayla bisa lebih tegas dan kuat mungkin dia bisa melarikan diri. Tanpa sadar, Nayla menggenggam mata pisau, membuat telapak tangannya terluka dan darah menetes dari sana.


BUGH!


"B4NGSAT! NGAPAIN LO KE APARTEMEN GUE HAGH? MAU MATA-MATAIN GUE?!"


Nayla tersentak. Tanpa menyeka air mata dan sadar akan telapak tangannya yang terluka dia langsung berlari ke pintu utama apartemen. Membuka dan menyembulkan kepala dari sana. Netranya membulat terkejut saat mendapati Raka dan dua orang cowok yang tidak dikenalnya saling baku hantam.


.


.


.


.


.


RAKA NGGAK BOLEH NGOMONG KASAR😂 ENTAR AKU ILFIL 🙂

__ADS_1


SALAM DARIKU,


SYUGERR


__ADS_2