
Masih ada yang nungguin?
Kalian baca cerita sambil apa?
Komentar nama dan daerah kalian biar bisa kenalan.
ilofyuu
.
.
.
.
.
Nayla mematung di depan pintu apartemen kala melihat Raka dan Agatha keluar dari apartemennya Raka. Pikiran Nayla langsung traveling, takut jika sebenarnya Raka memang sering melakukan 'itu' bersama Agatha namun tidak pernah ketahuan oleh orang lain. Apalagi mengingat jika dulu hal itu terjadi karena menganggap dirinya adalah Agatha.
"Raka," panggilnya pada cowok tersebut. Raka mengabaikan, dia menggenggam tangan Agatha dan menarik cewek itu menjauh. Nayla berlari-lari kecil menghampiri, "Raka," jeritnya lagi.
Raka semakin mempercepat laju langkahnya. Tidak ingin jika Nayla mencapainya. Namun, Agatha yang membujuk dengan memelankan langkah membuat dirinya mendengus. "Sayang, ayo cepetan. Mood aku buruk banget pagi ini, ketemu Nayla pasti tambah buruk."
"Enggak-enggak, siapa tau aja ada yang penting yang pengin Nayla sampaikan," tutur Agatha menoleh ke belakang, melihat Nayla yang berlari-lari kecil menghampiri mereka.
Raka mendengus, pacarnya ini terlalu baik untuk ukuran orang yang emosian seperti dirinya. "Sayang, jangan terlalu baik, bisa?" tanyanya. Agatha mengerucutkan bibir dan menggeleng. "Pacarnya siapa, sih?" geramnya.
Agatha mengayungkan kedua tangannya yang menggenggam tangan Raka. Dia mengukir senyuman manis, membuat Raka gemas dan mengacak-acak puncak kepalanya. "Pacarnya Raka dong. Raka Dirgantara yang punya uang banyak."
Raka terkekeh lalu mengangguk. "Kalo Raka-nya udah miskin masih mau nggak?"
"Raka, lo ngapain sama Agatha di apartemen lo?" Suara Nayla tiba-tiba datang menyambar. Agatha yang semulanya ingin menjawab pertanyaan Raka langsung mengatupkan mulut karena ucapan Nayla.
"Nggak penting lo tau," jawab Raka dengan nada dinginnya. Dia hendak kembali menarik Agatha namun cewek itu menggeleng dan memintanya tetap mendengar Nayla. "Agatha, ayok," bujuknya.
__ADS_1
"Kalian nggak ngapa-ngapain, kan?" tanya Nayla. Melirik dalam dua insan di depannya. Sebenarnya dia tidak masalah jika memang apa yang dipikirkannya ialah benar. Mungkin, ambisinya untuk membuat Raka bertanggung jawab akan berakhir begitu saja. Itu lebih baik. Setidaknya Nayla punya alasan jelas untuk tidak melanjutkan ambisinya. Raka memang bukan cowok baik-baik.
"Gue ngapa-ngapain sama Agatha, mau apa lo?" jawab Raka dengan suaranya yang terdengar serius. Agatha ingin menyangkal namun Raka lebih dulu memperingatkan cewek itu untuk diam. "Masih mau nyuruh gue tanggung jawab? Mau punya suami yang suka tidur sembarangan cewek?" sarkasnya.
Nayla menggeleng. "Enggak." Satu kata itu lolos begitu saja dari mulutnya. Setelah itu dia pergi dari hadapan Raka, tatapannya mengosong untuk beberapa detik. Hubungannya dengan Aldi sudah berakhir, dan ambisinya pun terpaksa harus dia akhiri. "Aku harus minta maaf sama Pak Aldi," batinnya.
"Emangnya, Nayla kenapa sampai pingin jadikan kamu suami?" tanya Agatha. Raka menoleh dan mengangkat bahu acuh, dia tidak ingin memberitahu Agatha, takut jika Agatha kecewa pada dirinya. "Kok diam? Jawab! Kamu apain Nayla sampai dia ngebet pengen dinikahin kamu?"
"Nggak penting, cewek nggak jelas!" ujar Raka.
Pukul 10.05 WIB. Cewek itu sedang duduk seraya memainkan ponselnya --memutar-mutarnya di atas meja-- sesekali mendongak dan menatap malas sang dosen yang sibuk memaparkan materi. Nayla sadar jika apa yang dilakukannya ini adalah salah, namun mood-nya pagi ini benar-benar hancur sampai tak ada sedikitpun semangat dari dalam dirinya.
Kelas berakhir. Dosen keluar. Nayla menghembuskan napas jengah dan menegakkan tubuhnya, melirik Viola yang sedang asyik bersama Morgan, sesekali cewek itu melirik Gino yang terlihat cuek-cuek saja. Nayla paham, Viola menaruh hati pada cowok dingin itu sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di kelas ini.
Dingin. Basah.
Nayla mendongak, menatap cowok yang telah berani mengguyur tubuhnya. Dan yang didapatinya ialah Raka yang tengah tersenyum miring. "Raka, lo apa-apaan sih!" sentaknya. Raka tidak berhenti, dia tetap mengguyur tubuhnya sampai air di dalam botol tersebut habis dan melemparnya sampai mendarat di kepala Nayla. "Aww .... Raka maksud lo apasih?"
"Andai aja lo cowok, mungkin yang gue lakuin bukan ini. Tapi lebih dari ini," tekannya. Teman-temannya mulai berbisik-bisik. Raka melirik mereka satu persatu yang mana mampu membuat mereka kembali mengatupkan bibir.
"Nggak ada salah lo bilang? Justru lo punya segunung kesalahan sama gue, Nay!" teriak Raka. Dia memukul meja hingga sebagian orang di dalam kelas tersebut tersentak, termasuk Nayla. "Hari-hari gue seperti mimpi buruk saat ada lo!" tekannya.
Netra Nayla berkaca-kaca.
"Pencokor sih," teriak salah satu mahasiswi dan melempar segulung kertas yang mendarat sempurna di kepala Nayla. "Makanya jangan ganjen jadi cewek," teriaknya lagi hingga nyaris seluruh isi kelas menertawakan dirinya.
Viola diam. Dia sebenarnya ingin membela Nayla, tidak tega jika cewek itu jadi bahan bully-an seisi kelas, namun ego masih menguasai dirinya. Nayla juga sering mengabaikan dirinya saat meminta bantuan dan saatnya-lah dirinya membalas semua itu.
"Gimana rasanya jadi bahan bully-an satu kelas?"
Pandangan Nayla yang tak tentu arah kembali tertuju pada Raka yang kini menyunggingkan senyum miring. Kedua tangan Nayla terkepal kuat, bibirnya menipis hingga mendesis kesal. Raka terkekeh melihat itu, kekehan penuh kemenangan. "Gimana? Anj1ng banget, kan, rasanya?"
"Gue benci sama lo Raka!" desis Nayla. Raka menaikkan satu alis, lalu tertawa penuh kemenangan. Seolah-olah pernyataan Nayla adalah lelucon. "GUE BENCI SAMA LO!" teriaknya murka lalu menyambar tasnya dan berlari pergi.
"Benci tapi ngebet banget!"
__ADS_1
"Omong kosong lo, Nay. Benci tapi rela jadi bahan bully-an satu kampus. Pansos anj1ng!"
"NAYLA BEG0'!"
Nayla menulikan pendengaran dari teriakan-teriakan tersebut. Dia tetap memacu langkah menuju toilet, sesekali menyeka kasar air matanya. "Gue kenapa bisa sebodoh itu?" tanyanya pada diri sendiri. "Gue seperti orang yang nggak punya otak sekarang!" Nayla mendorong dengan keras pintu toilet wanita dan berdiri di depan wastafel, memerhatikan wajahnya yang berantakan di depan cermin.
"Lo bodoh, Nay! Otak lo udah nggak berfungsi karena ambisi," tukasnya untuk diri sendiri. Toilet yang kosong memudahkan dirinya untuk meluapkan apapun yang mencokol di kepalanya. "Sekarang gimana? Semuanya udah jadi bubur. Gue putus dengan pak Aldi, orang yang gue cinta demi ambisi buat Raka menderita. Tapi sekarang apa? Malah gue yang menderita!" tekannya pada diri sendiri.
"Gue bisa bantuin lo." Suara itu berasal dari belakang tubuhnya. Kening Nayla mengerut saat melihat Agatha dengan senyum sinis yang tersungging. Nayla membalikkan badan, menatap lamat-lamat senyum yang tak pernah terlihat itu saat bersama Raka. "Bantuin lo kembali numbuhin ambisi buat dapetin Raka," tukasnya.
"Maksud lo?"
"Yah, gue nggak pengin lo nyerah gitu aja," tutur Agatha. Dia tertawa kecil. Nayla diam, masih tidak mengerti dengan apa yang dirinya katakan. "Nggak seru kalo baru segini lo udah nyerah," tuturnya lagi.
"Seharusnya lo senang karena gue nggak bakal gangguin pacar lo lagi!" tukas Nayla. Agatha tertawa kecil yang mana membuat dirinya terdiam. Masih tidak mengerti dengan tingkah Agatha yang tiba-tiba berubah. "Gue nggak ngerti lo ngomong apa!" Nayla memilih untuk mengakhiri percakapan mereka, dia kembali membalikkan badan hendak membasuh wajahnya dengan air.
"Gue nggak bener-bener suka sama Raka!"
Mendengar itu Nayla kembali membalikkan badan. Berhadapan dengan Agatha. "Maksud lo apa, hah? Raka benar-benar cinta sama lo! Sedangkan lo?" Emosinya tiba-tiba saja meluap.
.
.
.
.
.
ADA YANG PENASARAN DENGAN VISUAL MEREKA?
SALAM DARIKU,
SYUGERR
__ADS_1