Lilyana Putri Amalia

Lilyana Putri Amalia
Bab 16 : Sadar


__ADS_3

...~π‘―π’‚π’‘π’‘π’š π‘Ήπ’†π’‚π’…π’Šπ’π’ˆ~...


Dewi dan Amelia pun kembali ke rumah sakit dan langsung ke ruang ICU Putri.


"Kak.. sadarlah." ucap Dewi lirih.


"Putri..." lirih Amelia ketika melihat perban di leher, tangan, dan kaki Putri.


🌸🌸🌸


Sedangkan di ruang ICU Lili.


"Lili..." lirih Mama Lili.


Tak lama kemudian, jari Lili pun bergerak. Papa Lili yg melihat itu langsung memanggil dokter. Dokter pun datang dan memindahkan Lili ke ruang rawat inap VVIP.


"Ma, Pa, di mana Putri dan juga Dita??" tanya Lili.


"Putri masih belum sadar. Dita juga belum." jawab Papa Lili yg tadi memang sudah melihat kondisi Putri dan juga Dita dari luar ruangan.


"Bolehkah Lili melihat nya??" pinta Lili.


"Tapi.. kamu baru saja sadar. Dan harus banyak istirahat." ucap Papa Lili.


"Tapi.... Lili ingin melihat kondisi nya saja. Apa tidak boleh?" tanya Lili.


"Hem.. baiklah. Tapi kamu harus menggunakan kursi roda." ucap Papa Lili.


"Yey! Terima kasih pa!!" ucap Lili lalu mengecup pipi papa nya.


"Sama-sama nak." jawab Papa Lili.


Papa Lili pun mendorong kursi roda Lili ke ruangan Dita terlebih dahulu.


"Dita.. sadarlah!" ucap Lili sambil mengenggam tangan Dita.


"Seandainya.." belum lagi Lili selesai bicara. Papa Dita dan Mama Dita langsung memanggil dokter karena Dita sudah sadar.


Lili pun tidak jadi bicara dan ke ruangan Putri yg belum sadar.

__ADS_1


"Putri.... seandainya.. hiks..jika aku mengetahui akan terjadi semua ini. Mungkin aku tak akan mengajak kamu dan juga Dita. Aku pun juga tak akan pergi untuk mengantarkan Pino breng*sek itu." ucap Lili di tengah isakan nya.


Sebenarnya Putri sudah sadar. Namun, saat ia ingin membuka mata nya. Tiba-tiba terdengar suara Lili.


"Lili.. ini semua bukan salah kamu. Mungkin ini sudah takdir." ucap Putri sambil menghapus lelehan air mata di pipi Lili lalu mencoba untuk tersenyum.


"Yaa.. mungkin ini sudah takdir bagi kita semua, Li. Kamu tak boleh menyalahkan diri kamu terus. Jika sudah menjadi takdir, tidak bisa kan kamu melawan takdir tersebut?" tanya Papa Lili


Lili pun hanya menggeleng lalu memeluk Putri.


"Aku takut kehilangan kalian berdua.." ucap Lili.


"Sakit, Li." ucap Putri ketika leher nya sakit karena terkena oleh lelehan air mata Lili.


Memang sih saat di sayat tidak terasa, Tapi kalau pas sudah jadi luka nya. Putri malah merasa sakit. (inii mungkin cuma ada di dunia halu hehe.)


"Maaf, Put." ucap Lili setelah melerai pelukan nya.


"Untung tidak apa-apa." ucap Putri.


"Bagaimana keadaan Dita?" tanya Putri


"Ohh." jawab Putri.


"Putri!!" ucap Arga yg baru dari kamar mandi langsung memeluk ke Putri.


"Oh ya, apakah Putri tidak di pindahkan ke ruang rawat?? Sepertinya kita melupakan nya." ucap Lili.


"Oh yaa.. " ucap Arga lalu memanggil dokter.


Putri pun di pindahkan ke ruang rawat inap yg berbeda dengan Lili dan juga Dita


"Putri!!" ucap Alvano lalu langsung menghampiri Putri dan memeluk nya.


"Ya om. Tenang saja, Putri tidak akan pergi secepat nya kok. Putri masih ingin melihat anak Putri besar.. hingga menikah... dan juga memiliki anak yang berarti cucu Putri." ucap Putri.


"Oh ya?? Apa kamu ingin menikah?" tanya Alvano.


"Tentu, om. Tapi aku belum menemukan orang yang aku cintai. Mungkin belum takdir nya." ucap Putri.

__ADS_1


"Apaa.. kamu mau menikah dengan Davian, anak om?" tanya Alvano.


"Kak Davian? Tidak lah om. Putri tidak mencintai kak Davian begitu juga dengan kak Davian sendiri." protes Putri.


"Tapi cinta akan tumbuh seiring nya waktu." ucap Alvano.


Sepertinya Alvano terlalu menginginkan Putri untuk menjadi menantu nya. Tanpa memikirkan panjang, akankah anak nya atau menantu nya ini akan bahagia seperti yg ia harapkan?


"Tapi om, cinta itu tidak bisa di paksakan." protes Putri lagi.


"Sudah Putri. Kamu turutin saja apa yang di inginkan Om Alvano." ucap Arga.


"Tapi.. Putri memiliki.." belum lagi Putri selesai bicara. Perkataan nya sudah di potong.


"Pacar? Putuskan saja!" ucap Arga.


"Bukan itu maksud Putri, grandpa. Putri itu punya.." belum lagii Putri selesai bicara. Perkataan nya di potong lagi!!


"Sudah.." ucap Arga.


"Hem............ baiklah." ucap Putri pasrah.


"Maaf grandpa, om, Putri itu sebenarnya punya penyakit yg tak lain adalah jika saat berhubungan badan dengan kasar. Maka Putri akan demam selama 1 minggu. Putri pun baru tahu 2 minggu ini. Putri mau bicara, tapi Putri masih menunggu waktu yg tepat. Namun di saat yg tepat, Putri tidak di kasih untuk bicara." gumam Putri dalam hati.


Lili dan juga Dita yg sudah mengetahui soal penyakit Putri pun hanya diam. Bukannya tidak mau bilang, Putri saja di potong-potong terus. Bagaimana dengan diri nya??


"Kak Putri!!!" ucap Dewi memecah kesunyian yg tiba-tiba.


"Dewi." ucap Putri.


Mereka berdua pun langsung berpelukan.


Amelia pun berpelukan dengan Putri setelah Dewi melerai pelukan nya.


...~π‘©π’†π’“π’”π’‚π’Žπ’ƒπ’–π’π’ˆ~...


Sayang sekali Putri ingin bicara tapi di potong-potong terus. Bagaimana perasaan kalian jika berada di posisi Putri? Apakah sama dengan Putri atau lebih parah? Atau biasa saja?


Jangan lupa like nya kakak-kakak semuanya..

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2