
Haii, bagaimana nih kabar kalian?? Semoga sehat selalu yaa buat kalian semua.
Maaf, Author udah lama enggak nyapa kalian di awal bab lagi hehe..
...~𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈~...
1 minggu pun berlalu..
Yana alias Putri pun sudah diperbolehkan untuk pulang. Bahkan luka di perutnya begitu cepat sembuh. Beberapa dokter sempat terkejut melihat itu.
Tanpa disadari oleh para dokter dan juga suster, Yana pernah menyuntikkan suntikan obat ke dalam tubuhnya. Ya, obat tersebut adalah agar jika ada luka fisik atau penyakit yg bersarang ditubuhnya cepat menghilang. Awalnya sih Yana hanya mencoba saja, apalagi obat tersebut dibuat oleh dirinya sendiri. Jadi tidak masalah bukan, jika ia ingin mencobanya untuk pertama kali sebagai eksperimen?
Hari ini, Yana akhirnya diperbolehkan untuk pulang.
"Yana.." panggil Agam agak canggung. Apalagi Agam yg anak bungsu mendadak mempunyai adik. Terlebih lagi adik itu perempuan. Jika salah sedikit, maka akan seperti singa betina yg akan mengamuk. Tapi tanpa disadari Agam, Yana tidak seperti itu. Terlebih lagi Agam yg belum tahu semua sifat Yana membuatnya hampir menyamakan antara Yana dan juga ibunya yg bernama Tania Nadira.
"Iya??" sahut Yana canggung. Terlebih lagi ia tidak mempunyai kakak, Tiba-tiba saja ia mempunyai kakak. Apalagi asistennya yg kebanyakan usianya di bawahnya membuat Yana tidak terbiasa dengan panggilan antara adik dan juga kakak.
"Panggil Abang,, Sya." ucap Agler pada Yana.
"Sya?" tanya Yana bingung.
Siapa yg bernama Sya?? Yana pun melihat di sekitar nya, apa ada wanita selain dirinya dan juga istri dari ayah kandungnya? Tapi setelah ia lihat, tidak ada satupun wanita selain dirinya dan juga istri dari ayah kandungnya. Lalu, siapa yg bernama Sya? Tidak mungkin kan abang yg merupakan abang nya memanggil ibu dengan nama? Tapi jika dipikir-pikir, istri dari ayah kandungnya tidak memiliki nama Sya. Bahkan jika dilihat dari nama nya yaitu Tania Nadira, tidak ada kata Sya disana. Apa yg tadi ia dengar adalah suara dari ayah kandungnya yg sedang memanggil sang istri dengan sebutan 'Say' ya??
Yana masih sibuk dengan pikirannya. Bahkan sekali-kali, ia melihat sekitarnya, membuat keempat nya ( Agler, Agam, Abraham dan Tania ) bingung. Bahkan mereka berempat juga melihat disekitar mereka, apa ada yg aneh? Itu lah kalimat yg ada di pikiran mereka. Tapi saat mereka lihat, tidak ada satupun yg aneh.
__ADS_1
Bahkan bodyguard yg mengikuti mereka yg belum masuk ke dalam mobil juga melihat keluarga atasannya menjadi bingung. Satu sedang melamun tapi kadang melihat di sekitarnya, terus keempatnya mengikuti untuk melihat sekitarnya.
Bodyguard tersebut pun juga ikut melihat disekitar nya, tapi tidak ada yg aneh. Tidak ada suasana horor juga. Tidak ada hantu disini. Bahkan mereka masih di rumah sakit.
"Sya.,." tegur Agler yg sudah sadar kembali dengan suasana mereka.
"Sya??" tanya Yana bingung.
"Itu nama kamu, Sya. Qiana Anastasya Tania. Kan itu sudah dikatakan Daddy kemarin." jawab Agler.
Yana yg bingung pun mulai memutar kejadian kemarin di otaknya. Ia pun mulai mengingat kembali.
Dan hingga pada akhirnya ia pun ingat.
"Maaf, Bang. Saya lupa." ucap Yana.
"Maaf. Sya lupa." ucap Yana mulai menggunakan kalimat seperti dulu. Ya, sebelum ia menikah ia sering berbicara dengan menyebut dirinya sendiri dengan namanya. Tapi setelah kejadian mengerikan itu, ia perlahan-lahan merubahnya.
"Nah gitu dong, Sya." sahut Agler.
"Sudah-sudah.. mending kita pulang dulu. Baru bicara lagi, okey?" ucap Tania dengan suara lembut nya.
"Iya, Mom." jawab Agler dan Agam. Sedangkan Yana hanya sekedar mengangguk, karena dirinya sama sekali tidak tahu harus memanggil dengan sebutan apa pada wanita yg baru saja bicara. Terlebih lagi dia bukan ibu kandungnya. Kalau ikutan panggil Mommy, nanti dikira Tania.. dia kayak sok-sok an gitu?
Mereka pun pulang ke mansion.
__ADS_1
𝘉𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯..
Akhirnya mereka pun sampai di mansion. Tempat tinggal mereka.
Yana yg baru pertama menginjakkan kaki nya di mansion tersebut pun ragu. Meskipun ia sudah sering diajak makan malam ke rumah ini karena diajak oleh Abraham, tapi kini status nya berubah. Ya, sekarang statusnya di rumah ini berubah. Yg awalnya hanyalah tamu, sekarang justru menjadi Nona Muda di keluarga ini. Apalagi ia sudah mempunyai 2 anak. Ah.. mengingat kedua anaknya yg mengemaskan itu, membuatnya rindu.
Tapi sayangnya, ia belum berani untuk menelepon sang anak. Ia hanya mengirimkan pesan jika tidak jadi kesana karena tiba-tiba ada urusan mendadak. Kedua anaknya awalnya kecewa banget.
Yana yg menyadari kekecewaan sang anak pun menghibur nya.
"Sya.. Ayo masuk." ajak Tania.
"Eh.. iya." jawab Yana canggung.
"Panggil saya Mommy, Sya." pinta Tania.
Dulu, Tania sangat menginginkan anak perempuan. Meskipun hanya satu, tapi ia bersyukur jika diberikan. Tapi sayangnya, ia hanya memiliki 2 anak laki-laki. Bahkan Tania sudah pernah mencoba untuk mengikuti sebuah program. Tapi tidak ada hasilnya.
Dan kali ini? Tuhan mewujudkan keinginan nya. Meskipun anak ini bukan darah dagingnya, Tania sangat bersyukur. Apalagi anak ini anak darah daging suaminya. Tania sangat ingat soal dulu bagaimana cara rekan bisnis sang suami menjebak sang suami tidur dengan seorang gadis.
Bahkan dulu Tania juga ikut membantu Abraham untuk mencari gadis tersebut. Tania dulu tidak marah. Meskipun ada rasa kecewa di hatinya, tapi sebagai wanita Tania sangat yakin jika gadis yg ditiduri oleh sang suami lebih merasakan rasa kecewa yg lebih besar.
Meskipun sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada hasil, mereka tetap mencari. Hingga yg pada akhirnya Tuhan membantu mereka dengan mempertemukan sang anak dari gadis yg ditiduri oleh Abraham. Tapi sangat menyesal, karena gadis yg merupakan ibu anaknya sudah pergi duluan. Bahkan Abraham tidak sempat meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Mommy?" ucap Yana bingung.