Lilyana Putri Amalia

Lilyana Putri Amalia
BAB 41 : RESTORAN


__ADS_3

Hai... maaf baru lanjutin ceritanya setelah sekian sebulan lebih hiatusnya 🙏🏻🙏🏻


...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...


Tuan Alex pun menatap Yana dengan kagum.


Entah mengapa baru pertama kalinya ia melihat Yana secara offline, ia merasa jantungnya berdetak dengan kencang.


“Maaf.. Saya datang terlambat, Tuan Alex.” ucap Yana.


“Tidak apa, Nona,” sahut Tuan Alex masih menatap Yana membuat Yana canggung.


“Apakah bisa kita mulai meeting nya?” tanya asisten Tuan Alex yg bernama Rey.


“Bisa, Tuan Rey,” jawab Yana.


“Baiklah..........” ucap Asisten Tuan Alex mulai menjelaskan satu per satu tentang kerjasama ini.


Beberapa menit kemudian.


“Bagaimana, menurutmu Nona?” tanya Rey kepada Yana.


“Cukup bagus,” jawab Yana singkat.


“Lalu, apa Nona setuju dalam proyek kerjasama kita yang pertama kalinya?” tanya Rey lagi kepada Yana.


“Saya setuju,” jawab Yana singkat lagi.


“Baiklah.. kita mulai kerjasama hari ini,”


“Ya.. saya serahkan proyek ini kepada Anda. Saya harap, Anda tidak bermain-main dengan proyek ini. Saya hanya akan memberi Anda sekitar tujuh puluh lima persen di dalam proyek ini kepada Anda.


Tapi saya tidak ingin anak buah saya yang mengerjakannya, tapi anak buah Anda. Bagaimana?” tanya Yana kepada Tuan Alex dan Tuan Rey yang merupakan asisten dari Tuan Alex.


“A—apa? Tidak bisa begitu dong, Nona!” bantah Asisten Rey.


“Tidak bisa? Baiklah, saya akan tambahkan lima persen lagi, jadi saya sudah keluarkan delapan puluh persen dari dana yang diperlukan untuk proyek kita yang ini.


Bagaimana?? Masih tidak setuju? Anda hanya perlu mengeluarkan dua puluh persen dalam proyek ini. Hanya saja, saya mau anak buah Anda yang mengerjakan proyek ini.” ujarnya sembari menatap Tuan Alex dan Asisten Rey.


“Ti—


“Saya setuju, Nona!” potong Tuan Alex.


“Untung Anda atasan saya, Tuan.” batin Asisten Rey kesal akan tindakan Tuan Alex yang langsung memotong ucapannya. Padahal sudah jelas, di proyek kali ini pihak mereka yang dirugikan.


“Baik. Meeting kita sampai sini saja dulu. Meeting akan dilanjutkan pada saat selesai makan siang,” ujar Yana.


Yana pun langsung pergi meninggalkan Tuan Alex dan Asisten Rey.


“Ya ampun... begitu saja kah? Bahkan dia tidak mengajak kita untuk makan siang bersama!” gerutu Asisten Rey.


“Sudahlah, Rey. Biarkan saja dia!” sahut Tuan Alex.


“Nona Yana sangat menarik. Aku harus mendapatkannya,” batin Tuan Alex.


“Biarkan? Yang benar saja, Tuan!” protes Asisten Rey tidak percaya dengan ucapan Tuan Alex barusan.


“Iya.. aku beneran, Rey. Sudahlah, ayo kita makan siang,” ajak Tuan Alex kepada Asisten Rey yang notabene nya adalah Asisten pribadinya.

__ADS_1


“Makan siang di mana, Tuan?” tanya Asisten Rey kepada Tuan Alex dengan antusias.


“Di restoran,” jawab Tuan Alex.


“Jangan di restoran terus lah, Tuan. Di pinggir jalan kek sekali-kali,” protes Asisten Rey.


“Rey … kamu lupa, ya?”


“Eh …, iya, Tuan. Maaf, aku lupa tadi,” sahut Asisten Rey menunduk.


“Tidak apa. Angkat kepala kamu, Rey! Aku tidak memintamu untuk menunduk!” perintah Tuan Alex kepada Asisten Rey.


“Iya, Tuan!” sahut Asisten Rey sembari mengangkat kepalanya.


“Nah baru bagus. Yuk!” ajak Tuan Alex kepada asistennya.


Mereka berdua pun akhirnya pergi ke restoran untuk makan siang.


Di perjalanan menuju ke restoran.


“Tuan, nanti siapa yang bayar?” tanya Asisten Rey kepada Tuan Alex sembari menyetir mobil.


“Aku,” jawab Tuan Alex.


“Tapi nanti gaji aku gak dikurangin kan, Tuan?” tanya Asisten Rey lagi kepada Tuan Alex sembari melirik Tuan Alex.


“Tentu tidak!” jawab Tuan Alex.


“Huftt … syukurlah,” gumam Asisten Rey sembari fokus menyetir mobil.


Beberapa menit kemudian.


“Haii.. selamat siang. Ini menu makanan di restoran kami.” sambut pelayan dengan membawakan buku menu. Pelayan tersebut pun memberikan buku menu tersebut kepada Alex.


“Iya, mbak.” sahut Alex sembari menerima buku menu tersebut dan mulai membukanya.


“Mau pesan apa, Tuan?” tanya pelayan tersebut kepada Alex dan Rey.


“Saya cari dulu ya, mbak,” jawab Alex.


“Baiklah, Tuan. Saya akan tunggu di sini, kalau sudah menemukannya silahkan langsung katakan kepada saya,” seru pelayan tersebut.


Alex pun mencari-cari makanan yang diinginkan nya.


“Rey, kamu mau makan apa?” tanya Alex kepada asistennya Rey.


“Terserah Tuan saja sih.” jawab Rey.


“Ok deh.. jadi ulet bulu juga mau?” tanya Alex canda kepada Rey.


“Ih,.. jangan dong, Tuan.” jawab Rey.


“Makanya buruan pilih. Mbak, saya mau pesan pasta yang porsinya agak besar,” seru Alex kepada pelayan tersebut.


“Berarti pasta jumbo, ya?” ucap pelayan tersebut sembari mencatat.


“Iya, mbak.” sahut Alex.


“Terus mau minumannya apa, Tuan?” tanya pelayan tersebut kepada Alex.

__ADS_1


“Minumannya gold cappucino saja satu.” jawab Alex.


“Oke.. berarti makanannya pasta jumbo dan minumannya gold cappucino. Ada tambahan?” tanya pelayan tersebut lagi kepada Alex.


“Ada.. tambah pizza satu kotak,” jawab Alex.


“Baik.” sahut pelayan tersebut.


“Ada lagi?” tanya pelayan tersebut kepada Alex dan juga Rey.


“Pasta jumbo tambah satu lagi dan minumannya juga sama tambah satu serta pizza nya tambah satu kotak lagi,” jawab Rey.


“Baik, berarti tambah satu semua ya?” ucap pelayan tersebut, Rey dan Alex pun mengangguk.


“Oke.. silahkan ditunggu.” seru pelayan tersebut lalu pergi.


Pelayan tersebut pun pergi menuju ke dapur.


“Gila! Kamu banyak sekali pesannya, Rey!” seru Alex.


“Ih.. Tuan aja juga banyak tuh,” cibir Rey.


“Iya juga sih.” sahut Alex membenarkan ucapan Rey.


“Kan lagian makanan kita sama, tuh.” ucap Rey.


“Ya, ya..” sahut Alex.


Mereka berdua pun menunggu pesanan mereka di antar sembari berbincang.


Namun, pada saat berbincang, Rey melihat seseorang yang tidak asing. Rey pun segera memberitahukan kepada Alex atasannya.


“Tuan, apa kamu melihat ada Nona Yana di sana?” tanya Rey kepada Tuan Alex.


“Hah? Di mana?” tanya balik Alex kepada Rey dengan antusias.


Entah mengapa Alex begitu antusias ketika Rey menyebut nama Yana. Hatinya begitu penasaran di mana wanita tersebut berada.


“Itu.. lhoo.. di sana!” seru Rey sembari menunjuk Yana.


“Mana?” tanya Alex kepada Rey.


“Itu di meja nomor tujuh.” jawab Rey.


“Lah, meja nomor tujuh di mana pula?” tanya Alex kepada Rey.


“Em.. kan meja kita nomor sepuluh, di belakang kita meja nomor sebelas. Berarti di depan kita lagi.” jelas Rey.


“Bentar..” sahut Alex sembari melihat orang yang berkerumun di depan meja nomor sembilan. Meja nomor sembilan adalah meja di depan Alex dan Rey.


Meja yang Alex dan Rey pilih adalah nomor sepuluh.


...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳......


Haii..


Jangan lupa dukungan nya yaa..


Thank's All. 🙏🏻💞

__ADS_1


__ADS_2