
Happy Reading...
Satu minggu berlalu. Mereka sudah satu minggu tidak bertemu ataupun saling mengirimkan pesan. Satu minggu ini, mereka hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Satu minggu ini berturut-turut, Yana lembur tiap malamnya. Lemburnya kadang bisa sampai tengah malam, atau bahkan pagi-pagi buta, baru Yana pulang ke Mansion. Hal tersebut mulai diperhatikan oleh sang ayah diam-diam tanpa disadari olehnya.
Sedangkan Alex. Alex hanya dua atau tiga kali lembur di minggu ini.
Semalam, Yana pulang tengah malam. Orang rumah semua sudah pulang kecuali satpam yang bertugas di malam hari.
Pagi yang cerah ini, Yana bangun agak kesiangan. Hal tersebut wajar karena Yana lembur berturut-turut minggu ini.
Yana segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya lalu ke ruang makan. Di ruang makan, terlihat sang ayah tengah menunggu dirinya. Sedangkan sang ibu dan kedua kakaknya serta kedua anaknya berlibur sejak satu minggu yang lalu.
“Daddy?“ ucap Yana. Yana mengira sang ayah sudah lebih dulu sarapan seperti biasa tanpa menunggu dirinya, namun hari ini berbeda.
“Duduk!“ tegas Abraham dengan nada datar dan dingin.
Yana menurut dan duduk.
“Makan dulu! Nanti, Daddy akan menginterogasi kamu!“ seru Abraham dengan nada dingin. Hal tersebut membuat Yana was-was. Apa yang akan terjadi?
Yana dan Abraham mulai sarapan. Setelah sarapan, Abraham mengajak Yana untuk ke ruang kerjanya. Yana menurut.
Di ruangan kerja Abraham.
“Ada apa, Dad?“ tanya Yana dengan wajah polosnya.
“Apa yang kamu lakukan, Nak? Kamu lembur berturut-turut minggu ini! Apa ada masalah di perusahaan kamu?“ Abraham menghiraukan pertanyaan yang diberi Yana, ia langsung bertanya hal tersebut kepada anaknya.
Mendengar pertanyaan dari sang ayah, Yana sedikit keberatan untuk menjawabnya. Ucapan sang ayah benar adanya. Perusahaan nya ada masalah besar.
“Em... itu-“
“Katakan saja langsung ke intinya!“ potong Abraham tidak terbantahkan.
“Iya, Dad! Perusahaan akhir-akhir ini memiliki banyak masalah!“ jawab Yana dengan jujur. Daripada membuat masalah lebih besar, ia lebih memilih jujur saja walaupun ada risiko yang harus ditanggungnya.
“Kenapa tidak bilang sama Daddy? Daddy kan bisa bantu,“ ucap Abraham.
__ADS_1
“Daddy kan juga punya perusahaan. Lagipula masalahnya gak terlalu susah kok, Dad! Yana bisa menanggungnya!“ sahut Yana.
“Baiklah! Kalau memang tidak bisa, bilang sama Daddy! Jangan diam terus! Jaga kesehatan! Jangan telat makan nanti asam lambung kamu kambuh!“ nasehat Abraham.
“Iya, Dad! Yana gak bakalan lewatin itu semua!“ jawab Yana.
“Daddy mau ke perusahaan dulu! Jaga kesehatan baik-baik ya!“ ucap Abraham.
𖧷𖧷𖧷
Di perusahaan Princess Yana.
Ya, Yana baru saja sampai di perusahaan.
Yana segera masuk ke ruangan nya. Urusannya menjadi semakin banyak terlebih lagi dua minggu yang lalu, ia ke kota kelahirannya. Urusannya semakin bertambah. Lembur seminggu tidak akan kelar, butuh lembur dua minggu lebih. Jika bisa lembur satu minggu selesai, itupun dibantu orang.
Yana menatap tumpukan berkas yang terlihat sama sekali tidak berkurang. Yana memijat pelipisnya. Padahal dirinya sudah lembur satu minggu. Apakah dirinya harus meminta bantuan dari sekretaris nya??
Yana memanggil Intan untuk ke ruangannya.
“Ada apa ya, Miss?“ tanya Intan.
“Oke Miss! Kalau berkas ini gak masalah, lagipula kerjaan jadi sekretaris bosan!“ keluh Intan. Namun, menatap tumpukan berkas dengan wajah berbinar.
“Terima kasih banyak, Tan!“ ucap Yana. Intan hanya mengangguk. Mereka berdua mengawali pagi yang cerah ini dengan berkas yang tertumpuk di atas meja. Yana berharap, semuanya kelar hari ini ataupun besok.
𖧷𖧷𖧷
Di perusahaan Alex.
Alex melamun. Dirinya begitu merindukan sosok Yana. Sepertinya perasaannya selama ini adalah cinta, bukankah sekedar rasa kagum. Alex menyesal karena tidak mengejar Yana pada saat itu. Penyesalan selalu di akhir.
Ingin bertemu dengan Yana. Namun, ia teringat dengan ucapan terakhir Yana.
“Tidak! Aku harus bertemu dengan Yana sekarang dan meminta maaf kepadanya!“ ucap Alex menggeleng. Hatinya sudah tekad untuk membantu wanitanya. Tanpa ingin berlama-lama, Alex segera berangkat ke Perusahaan Yana.
Namun, langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu.
“Reyyy!!“ panggilnya.
__ADS_1
“Iya, Tuan!“ jawab Rey dengan langkah tergesa-gesa.
“Tolong handle masalah perusahaan sebentar! Aku pergi dulu!“ ucap Alex lalu berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Rey.
“Siap, Tuan!“ jawab Rey meskipun tidak didengar oleh Alex.
...☘☘☘...
Alex turun ke lantai dasar dengan langkah tergesa-gesa. Liftnya sudah penuh membuat dirinya harus melewati tangga darurat.
Para karyawan yang melihat Alex turun dengan menggunakan tangga dan tergesa-gesa, mulai heran.
“Apa yang ingin Tuan Alex lakukan? Mengapa langkahnya begitu tergesa-gesa?“
“Apa mungkin Tuan Alex memiliki urusan dadakan di luar?“
“Mungkin saja, tapi sepertinya ini darurat! Lihat, tidak mungkin Tuan Alex tergesa-gesa hanya karena urusan dadakan! Biasanya juga santai!”
“Heyy! Mungkin, tapi urusan kali ini sepertinya lebih penting daripada biasanya!“
“Lebih baik, daripada kita bergosip tentang Tuan Alex di sini, kita minggir terlebih dahulu! Tuan Alex sedang tergesa-gesa, tidak mungkin kita menghalangi jalannya! Bisa-bisa kita yang ketabrak pada akhirnya!“ ucap salah satu karyawan dengan bijak.
“Ya, betul juga!“ Para karyawan mulai meminggir dan memberikan jalan untuk Alex lewat. Langkahnya yang begitu tergesa-gesa membuat siapapun yang menghalangi nya bisa ketabrak. Namun, ada seseorang yang tidak memedulikan ucapan karyawan, ia malah mendekati Alex dengan gaya centilnya.
“Tuan Alex!“ panggil karyawan tersebut dengan gaya centilnya. Pakaian yang digunakan sangat terbuka.
Alex tidak memedulikan salah satu karyawan yang memanggilnya. Tanpa aba-aba, ia langsung menyingkirkan karyawan tersebut dan kembali melanjutkan jalannya. Karyawan tersebut terlihat kesal karena disingkirkan oleh Alex.
“Makanya jadi orang, jangan terlalu centil!“
“Centil, centil sih boleh! Tapi ada waktunya juga!“
“Heyy! Apa kalian sudah lupa kalau Tuan Alex sudah memiliki pacar? Aku dengar, pacarnya itu sangat cantik! Kalah cantiknya dengan Vivi!“ ucap salah satu karyawan.
Karyawan yang menampilkan gaya centilnya di depan Tuan Alex merasa malu dengan ucapan para karyawan. Meskipun mereka semua saling berbisikan, namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahasa karyawan dengan gaya centil ini tidak akan mendengarnya. Karyawan ini bernama Vivi.
Vivi langsung pergi dari lantai satu dan menuju ke lantai suka tempat ruangannya. Sebenarnya, Vivi turun ke lantai satu atau lantai dasar hanya ingin bertemu dengan Alex, pria yang di obsesi olehnya.
To be continued...
__ADS_1
Note : Maaf kalau masih banyak salah penulisan, kalau ada typo, komen yaa. Nanti Author revisi. Jangan lupa dukungannya yaa.. Terimakasih.