
...~π―ππππ πΉπππ πππ~...
Tak lama kemudian, Putri pun sadar dari pingsan nya.
"Erghh.. Dewi." panggil Putri.
"Ya kak?" tanya Dewi yg memang ia stand by karena ia mendengar perkataan dokter kalau Putri kakak nya sebentar lagi sadar.
"Kakak di mana??" tanya Putri ketika ia melihat kamar yg terlihat asing baginya.
"Ini.. di mansion keluarga besar Amalia." jawab Dewi.
"APAAA??" pekik Putri tak percaya.
Teriakan Putri membuat Arga, Tante Laura, dan juga Bu Wati masuk kembali ke kamar Putri.
Sedangkan keluarga besar Amalia dan juga Pratama masih dalam perjalanan. Huhh.. perasaan lama banget ya?
"Akhirnya kamu sadar juga, cucuku." ucap Arga lalu langsung menghambur pelukan pada Putri.
Putri yg memang menginginkan pelukan dari sang kakek pun memeluk kembali.
"Nak Putri, tidak apa-apa??" tanya Bu Wati.
"Saya tidak apa-apa kok, Bu Wati." jawab Putri.
"Baiklah, kalau begitu Bu Wati bisa tenang. Bu Wati izin pamit dulu ya nak Putri, di sini kan ada keluarga besar nak Putri." izin Bu Wati.
"Eh iya Bu Wati." jawab Putri.
Arga pun meminta sopir nya untuk mengantar kan Bu Wati pulang.
"Kenapa kamu telat makan, Lily?" tanya Arga.
"Maaf, Putri terlalu sibuk dengan pelajaran." jawab Putri dengan kepala menunduk.
"Baiklah, kakek mau kamu memanggil kakek dengan sebutan 'kakek'. Oh ya, di mana mama kamu, Lily?" tanya Arga.
"Mama... mama." ucap Putri terhenti lalu cairan bening pun lolos dari mata nya dan mulai mengalir di pipi putih nya.
"Ada apa dengan mama kamu, nak?" tanya Arga dengan suara bergetar.
"Mama...... mama... Mama meninggal saat Putri berusia.. 16 tahun. Itu artinya sudah 9 tahun berlalu." jawab Putri dengan suara bergetar.
Air mata Putri pun mulai mengalir deras saat mengingat mendiang mama nya.
"Meninggal?" tanya Arga dengan suara bergetar lalu mulai terduduk di sofa yg ada di dekat kasur Putri.
"Iyaa.. kek." jawab Putri.
"Lalu bagaimana dengan papa kamu?" tanya Arga lalu menghapus air mata yg ada di pipi nya agar tak terlihat lemah di depan cucu nya ini.
"Papa juga sudah meninggal saat Putri berusia 11 tahun." jawab Putri lalu menghapus lelehan air mata di pipi nya dengan jempol nya.
__ADS_1
Namun bukannya berhenti, malah makin deras. Putri menangis tanpa suara.
"Laura, Citra, kalian berdua keluar dulu." pinta Arga.
"Baiklah, pa." jawab Laura.
"Baik." jawab Dewi.
Mereka berdua pun keluar.
"Menangislah! Jangan di tahan bila kamu tidak bisa menahan nya nak. Jangan memendam nya terlalu lama." ucap Arga lalu memeluk Putri.
Putri pun menangis tanpa suara di pelukan Arga kakek nya. Ia tak menolak satu pun. Memang saat ini ia memerlukan untuk mengeluarkan semua yg ada di hati nya. Tangisan yg ia pendam selama ini.
Memang jika terlihat dari luar, Putri terlihat seperti tegar. Tapi itu bukan kenyataan nya. Putri memang tidak bisa menahannya.
Arga pun melepaskan pelukan nya dan membiarkan Putri menangis di pundak nya.
"Hiks.. hikssss." tangisan Putri pun mulai pecah.
Putri belum sempat membanggakan kedua orang tua nya. Namun? Papa dan Mama nya sudah pergi meninggalkan nya.
Setelah beberapa menit Putri menangis, ia pun berhenti.
Arga juga membantu Putri untuk mengompres mata Putri agar tidak terlihat terlalu bengkak.
Infus di pembuluh tangan Putri pun hampir habis.
Dan kata dokter, infus boleh di lepaskan setelah cairan infus di botol nya itu sudah habis.
Arga akan terus mengingatkan pada sang cucu.
Setelah cairan infus habis, Putri dan Arga pun keluar.
Jarum di infus sudah di lepaskan dokter.
"Pa, mama dan kak Gita di mana? Apa papa tidak mengajak nya?" tanya Laura ketika Arga dan Putri keluar.
Ternyata Laura dan Dewi makan siang di luar kamar Putri. Itu pun atas permintaan Arga.
"Sudah. Papa tadi sudah meminta nya. Mungkin mama mu dan Gita sedang belanja dulu. Bukan kah itu kebiasaan mereka?" jawab Arga.
"Hem. Lalu apa papa juga mengundang Om Alvano dan juga anak nya Davian?" tanya Laura.
"Tentu. Kan Om Alvano adalah sahabat papa. Jadi karena papa sudah menemukan kalian, jadi papa akan mengundang nya." jawab Arga.
Laura pun hanya mengangguk.
Tak lama kemudian, Alvano dan juga Davian pun datang.
"Akhirnya kalian berdua pun datang." ucap Arga pada Alvano dan juga Davian.
"Tentu, Om." jawab Davian.
__ADS_1
"Tentu, mana kah cucu yang kamu katakan itu??" tanya Alvano.
"Lily, Citra, perkenalkan ini adalah sahabat kakek. Ini cucu ku, Vano." jawab Arga.
Arga dan juga Alvano berbeda 11 tahun. Namun, Arga meminta Alvano untuk memanggil nya dengan nama nya. Karena Arga merasa terlalu tua. Padahal emang kenyataannya.
"Alvano. Kalian berdua panggil saya dngan sebutan om Alvano." ucap Alvano.
"Citra Dewi Amalia. Panggil saja Dewi." ucap Dewi.
"Lilyana Putri Amalia. Panggil saya dengan sebutan Putri. Jangan seperti kakek yang memanggil dari awal nama." ucap Putri dengan datar.
"Hahahaha... lihat cucu mu." ucap Alvano.
Namun, tawa nya hanya sebentar saat ia mengingat kembali nama Putri.
"Kamu... Lilyana Putri Amalia???" tanya Alvano.
"Iya om." jawab Putri.
"Kamu.... apa tidak bersama dengan ibu atau mama mu?" tanya Alvano.
Putri hanya menggeleng cepat lalu menunduk.
Putri berusaha menahan air mata nya agar tidak keluar. Karena tidak tahan, Putri pun langsung lari ke kamar mandi.
"Mama Putri dan juga Dewi sudah meninggal." jawab Arga dengan suara bergetar.
"Pantesan saja.. sabar ya bro." ucap Alvano sambil menepuk pundak Arga. Arga pun hanya mengangguk.
πΈπΈπΈ
Di kamar mandi..
"Hikss.. Tidak! Aku harus kuat dan tegar! Aku tak boleh lemah!" gumam Putri lalu menghapus lelehan air mata di pipi nya.
Ia pun sambil melihat ke cermin. Ia juga mencuci muka nya.
"Bagus Putri. Jangan lemah, oke!!" ucap Putri pada diri nya sendiri.
Putri pun keluar dari kamar mandi.
"Maaf." ucap Putri.
"Ya.. tidak apa-apa." jawab Alvano.
"Om, mana Tante?" tanya Dewi.
Alvano bagai kan di sambar petir.
"Dewi." peringat Putri.
"Ya kak, maaf om." ucap Dewi menunduk.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa." jawab Alvano.
...~π©πππππππππ~...