Lilyana Putri Amalia

Lilyana Putri Amalia
Bab 30 : Dia Adikku


__ADS_3

...~𝑯𝒂𝒑𝒑𝒚 𝑹𝒆𝒂𝒅𝒊𝒏𝒈~...


"Dia..??"


🌱🌱🌱


Sementara di Mansion utama Amalia.


PRANG!!


Gelas yg di pegang Amelia jatuh begitu saja.


"Aneh, perasaan aku selalu memegang nya seperti ini. Dan tidak terjadi apa-apa. Lalu kenapa ya?" gumam Amelia lalu meminta pelayan untuk membersihkan kaca gelas tersebut yg tergeletak di lantai.


Amelia pun memutuskan untuk ke kamar nya.


Amelia pun melihat foto Putri, yg memang sengaja ia simpan di kamar nya sebagai kenang-kenangan. Karena Arga, suaminya, membuang semua barang milik Putri yg memang Putri sengaja tinggalkan karena itu barang bukan hasil dari uang nya.


Bahkan foto yg di mana ada Putri juga ikut di buang.


"GrandMa rindu dengan mu, Nak." ucap Amelia lirih.


"Maafkan GrandMa ya, GrandMa tak bisa melarang GrandPa mu ketika mengusir mu. Seharusnya saat itu GrandMa tidak membiarkan saja. Maafkan GrandMa." gumam Amelia.


Lalu, tiba-tiba foto yg ia pegang mendadak jatuh. Dan beruntung kaca yg pecah tidak terkena kaki nya.


"Putri? Apa yang terjadi pada mu, Nak??" tanya Amelia lirih ketika melihat foto Putri yg satu-satu nya ia miliki.


Ia pun mengambil foto nya saja, sedangkan bingkai kaca nya ia minta pelayan untuk membersihkan nya lagi.

__ADS_1


Amelia pun memutuskan untuk menghubungi Putri dengan nomor yg diberikan Putri untuk terakhir kalinya.


Tut.. tutt..


Tidak ada jawaban membuat Amelia menjadi semakin khawatir.


Tes..


Tes..


Tes..


"Semoga di manapun kamu berada, tidak terjadi sesuatu pada mu.. Nak." gumam Amelia lalu menghapus leleham air mata nya.


🌱🌱🌱


Sementara di rumah sakit Abraham..


"Apa, maksud mu.. Tuan?" tanya Sarira yg sempat mendengar ucapan Agler, namun ia bingung maksud dari ucapan Agler tersebut.


"Miss kamu.. Adalah Adikku." jawab Agler lirih.


"Apa?? Tidak! Itu tidak mungkin!! Kedua orangtua Miss saya sudah meninggal, jadi tidak mungkin jika Miss saya adalah adik mu. Terlebih lagi setahu saya kamu bukan siapa-siapa nya Miss." ujar Sarira terkejut.


"Tapi ini memang kenyataan nya. Cobalah kamu melihat ini." ucap Agler memberikan surat tes DNA yg baru keluar kepada Sarira.


"Apa? Saya semakin bingung. Hidup Miss saya terlalu rumit sekali untuk dipecahkan." jawab Sarira semakin terkejut.


"Itu masalahnya, saya saja gak tahu apa yang direncanakan author sampai begitu. Kan kasihan banget." ujar Agler kepada author.

__ADS_1


"Iya. Mungkin author lagi rencana-in sesuatu. Yang pasti kita masih belum boleh tahu. Terlebih lagi Miss kan orang baik. Pasti Miss akan selalu disayangi oleh orang sekitarnya." ucap Sarira.


Tidak lama, akhirnya Agam pun keluar dari ruangan untuk mendonorkan darahnya.


Agam pun berjalan menghampiri Agler sang kakak dan juga Sarira.


Asisten Agler yg bernama Rio mengantarkan tiga kotak makan siang.


Mereka bertiga pun makan siang sambil menunggu kabar dari dokter.


Tidak lama, akhirnya dokter pun keluar dengan suster lainnya yg mendorong brankar pasien ke ruangan ICU.


"Dok, itu Miss saya mau dibawa ke mana??" tanya Sarira pada sang dokter.


"Nona Yana akan dibawa ke ruangan ICU untuk sementara jika ia masih belum siuman." jawab dokter tersebut.


"Lalu, bagaimana kelanjutan kondisinya?" tanya Agler pada dokter.


"Beruntung pasien cepat dibawa kemari. Dan untuk luka di perutnya sudah dijahit." jelas dokter tersebut.


"Baiklah, dok. Terima kasih." ucap Sarira.


"Sama-sama, Nona. Itu sudah menjadi tugas kami. Dan jika anda ingin menjenguknya langsung ke ruangan nya, saya harap tidak membuat keributan. Karena jika keributan, saya takut bila kondisi Nona Yana memburuk. Bila terjadi pergerakan dari pasien, tolong tekan tombol yang berwarna merah diatas meja yang sudah kami sediakan." terang dokter tersebut.


"Baik, dok." jawab Sarira.


"Baiklah. Jika tidak ada lagi pertanyaan, saya ingin ke ruangan saya dulu. Bila ada yang ingin ditanyakan lagi, silahkan ke ruangan 006, itu ruangan saya." ucap dokter tersebut.


Dokter tersebut pun meninggalkan mereka.

__ADS_1


...~𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈~...


__ADS_2