
Mohon maaf, mungkin untuk malam pengantinnya, tidak akan sesuai dengan ekspetasi kalian.
Happy Reading...
Malu, itulah yang dirasakan mereka berdua.
“Ayo, kita ke kamar!“ ajak Alex kepada Yana.
“Nggak terlalu buru-buru, Sayang?“ tanya Yana.
“Tidak juga. Para tamu sudah pulang. Keluarga besar kita semua sudah pergi kamar.“ jawab Alex.
“Ini dekorasinya, bagaimana??“ tanya Yana lagi.
“Nanti biarkan Pelayan saja yang mengurusnya. Kita berdua harus sudah pergi kamar,“ jawab Alex sembari menggendong Yana ala bridal style tanpa aba-aba. Mendapatkan perlakuan tersebut tiba-tiba dari suaminya membuat Yana terkejut, berusaha merontak agar diturunkan.
“Turunkan aku, Sayang. Aku maluu …“ lirih Yana menyembunyikan wajahnya karena malu.
“Malu kenapa? Di sini tidak ada orang lagi, Sayang.“ jawab Alex membawa Yana masuk ke kamar Hotel.
Setelah beberapa langkah dan mendapatkan tatapan dari orang-orang, akhirnya mereka berdua sampai di kamar Hotel yang telah dipesan oleh Alex.
“Mau mandi dulu apa gimana nih?“ goda Alex.
“Mandi dulu aja deh. Gerah.“ jawab Yana yang sama sekali tidak memedulikan godaan dari suaminya barusan.
“Gerah? Bukannya tadi full AC ya, Sayang?“ tanya Alex heran.
“Gaun yang kamu pilih, panjang semua. Mana tebel lagi. Kepanasan aku jadinya, Sayang.“ protes Yana.
“Ya sudah. Kamu mandi duluan saja.“ sahut Alex.
Yana mengangguk dan masuk kamar mandi. Di saat ingin melepaskan gaunnya, ia baru menyadari apabila gaunnya yang dikenakannya itu tidak menggunakan resleting melainkan kancing. Namun, kancing tersebut berada di bagian belakang paling atas. Itu membuat Yana kesulitan untuk membuka gaunnya.
“Haduh … Susah banget!“ ucap Yana.
Tidak patah semangat, Yana tetap berusaha. Namun, tetap saja, seolah kancing tersebut menginginkan orang lain membukanya. Dengan terpaksa, Yana meminta bantuan pada suaminya.
“Sayang!“ panggil Yana dari kamar mandi. Namun, tiba-tiba Yana baru menyadari apabila dirinya belum membuka pintu kamar mandi agar suara nya terdengar di kamar. Karena kamar mandi ini memiliki kedap suara, sehingga apapun yang dilakukan dalam kamar mandi, tidak akan terdengar suaranya di luar kamar mandi.
Yana membuka secara perlahan pintu kamar mandinya. Menyadari hal tersebut membuat Alex terheran. Alex segera menghampiri istri yang baru dinikahinya itu.
“Ada apa, Sayang?“ tanya Alex dengan cemas. Takut sang istri terluka.
“Boleh tolong bukain kancingnya yang dibelakang?“ ujar Yana.
“Boleh,“ jawab Alex di luar dugaan Yana. Alex segera membantu Yana untuk membuka kancing gaun Yana.
__ADS_1
“Terima kasih,“ sahut Yana.
“Sama-sama, Sayang.“ jawab Alex.
Yana menutup pintu kamar mandinya kembali. Sedangkan Alex masuk kamar mandi yang kedua. Di Hotel ini, tersedia adanya dua kamar mandi setiap kamarnya. Setiap ada yang merayakan pernikahan mereka di Hotel ini, pihak Hotel akan memberikan yang terbaik untuk kamar pengantin baru.
Di kamar ini, ada bantal yang berbentuk love. Bantal love tersebut berwarna merah, pas dengan bentuknya yang love. Lalu, beberapa kelopak bunga mawar ditaburkan di atas ranjang berbentuk love. Adanya balon berwarna merah yang sengaja diletakkan di lantai, balik tersebut juga berbentuk love. Warna dan bentuknya sangat pas. Desain ruangan ini sangat pas.
Lalu, ternyata desainnya tidak sampai di situ saja. Di kamar mandi, tepatnya di bathup, juga ditaburi dengan kelopak bunga mawar dan aromaterapi lavendernya.
Beberapa saat kemudian, Yana sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan baju tipis yang entah darimana. Baju miliknya seolah hilang begitu saja.
Rasa kantuk yang terus menderanya membuat Yana langsung merebahkan diri di atas ranjang. Sedangkan Alex, entah mengapa pria tersebut begitu lama di kamar mandinya.
Akhirnya setelah yang ditunggu-tunggu, Alex keluar dari kamar mandinya. Ia mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil yang disediakan oleh pihak Hotel.
Melihat istrinya yang tidur pulas di atas ranjang, membuat Alex tidak tega untuk membangunkannya. Alex yang merasakan kantuk, ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Alhasil, mereka berdua tertidur pulas di atas ranjang tanpa melakukan apapun selain berpelukan in tim.
...☘️☘️☘️...
Pagi-pagi sekali, Yana terbangun karena terusik dengan suara ketukan pintu. Yana berniat membukakan pintu. Namun, tubuhnya malah ditindih oleh suaminya. Seolah dirinya adalah bantak guling yang dipeluk.
“Emmm … Sayang, bangun!“ panggil Yana. Namun, yang dipanggil justru masih tertidur begitu pulas nya.
Merasa tidak ada respon dari suaminya membuat Yana berpikir keras agar suaminya ini bangun.
“Sayang! Sayang!“ panggil Yana sekali lagi. Namun, hasilnya tetap nihil. Terbesit tiba-tiba ide cemerlang di otaknya.
“Cup! Cup! Cup!“
Yana mengecup bibir Alex sekilas dan mengulangnya berkali-kali untuk melihat reaksi suaminya itu. Suaminya itu bukannya terusik, justru semakin pulas.
Yana meraba-raba bidang da da Alex agar suaminya itu terusik, Tidak apa apabila dirinya terlihat mura han di depan suaminya. Kan, mereka juga sudah sah sah saja.
Alex yang merasakan sengatan listrik seolah mengalir di tubuhnya, langsung bangun dan memegang tangan Yana yang sedari tadi meraba bidang da da nya.
Tanpa aba-aba, di pagi-pagi buta itu, mereka mulai melakukan hubungan suami istri yang dilakukan seharusnya pada semalam namun tertunda.
Ketukan pintu tidak menjadi penganggu mereka untuk melakukan hal tersebut.
Ruangan ini memang dilengkapi dengan adanya kedap suara agar tidak menganggu penghuni lain. Namun, apabila mengetuk pintu ruangan, maka suaranya terdengar masuk ke ruangan yang diketuk pintunya.
...☘️☘️☘️...
Di luar kamar Hotel Yana dan Alex, terlihat empat bocah kecil yang terus mengetuk pintu. Namun, tidak ada jawaban.
__ADS_1
“Hai. Pelkenalkan nama saya Yuna Yuliana. Kamu boleh panggil saya, Yuna.“ ujar Yuna memperkenalkan diri pada kedua bocah laki-laki itu.
“Nama saya, Yena Yuliana. Kalian panggil saya, Yena.“ sahut Yena tidak mau kalah dengan sang kakak kembarannya.
“Kalian Yuna sama Yena. Nama saya, Ethan. Panggil, Ethan.“ ujar salah satu bocah laki-laki itu yang bernama Ethan. Ia juga memperkenalkan dirinya.
Melihat sang kakak kembaran memperkenalkan diri, satu bocah laki-laki yang belum memperkenalkan diri pun turut memperkenalkan dirinya juga.
“Nama saya Evan. Kalian bisa panggil, Van atau Evan. Asal jangan panggil taksi.“ canda Evan mencoba mencairkan suasana yang sepertinya sedikit kaki karena belum akrab.
“Hehe …“ Empat bocah itu cekikikan.
“Kita kan sudah kenalan nama. Sekarang kenalan umul.“ ucap Yuna.
“Umul Yuna, adalah dua tahun.“
“Umul Yena dua tahun juga.“ sahut Yena.
“Umur Ethan, tiga tahun.“ ucap Ethan.
“Umur Evan, tiga tahun juga.“ sahut Evan.
“Kata Kakek, kita berempat adalah kakak adik.“ jelas Ethan.
“Kakek siapa?“ tanya Yuna bingung.
“Kakek Ethan. Itu dia!“ jawab Ethan menunjuk sang kakek yang berjalan menghampiri mereka.
“Sedang apa kalian di sini, Nak? Masih pagi. Ayo mandi dulu!“ ajak sang Kakek.
“Ini Kakeknya Ethan sama Evan ya?“ tanya Yena yang ditanggapi oleh Ethan dengan anggukan kepala.
“Kita sekarang kakak adik. Yuna sama Yena panggil Ethan sama Evan, dengan sebutan kakak. Oke?“ ucap Ethan yang ditanggapi oleh dua bocah perempuan itu dengan anggukan kepala, meskipun tidak mengerti.
“Kak Ethan. Kak Evan.“ sahut Yena.
“Ya, itu baru benar. Pintar.“ puji Ethan.
“Kakek. Kenapa harus panggil mereka kakak?“ tanya Yuna.
“Karena, Ethan sama Evan lebih tua umurnya daripada Yena dan Yuna.“ jelas Kakek menurunkan badannya agar tingginya sejajar dengan Yuna.
“Begitu ya, Kek.“ Kakek Alex hanya mengangguk.
“Ayo, kita mandi!“ ajak Ethan.
To be continued...
__ADS_1
Sebentar lagi cerita ini akan tamat. Maaf nih, cerita Agler dan Sarira mungkin tidak akan diceritakan. Jangan lupa tinggalkan jejak baca kalian dengan like, komentar positif kalian yaa~
Terimakasih