Lilyana Putri Amalia

Lilyana Putri Amalia
BAB 50 : KENANGAN (2)


__ADS_3

...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...


Pandangan ku tiba-tiba gelap. Aku pun tidak sadarkan diri.


#POV RINA END


#POV AUTHOR


Orang-orang pun mulai menghampiri Rina yang jatuh ke tanah karena tidak sadarkan diri. Orang-orang melihat luka di kening Rina dan juga lengan Rina yang berdarah sejak tadi hingga sekarang.


Mereka ingin membopongnya, namun di antara mereka semua laki-laki. Rasanya tidak sopan jika mengendong seorang wanita bagi mereka. Karena tidak ada lagi keputusan, mereka memanggil ambulance ke sana. Beruntung rumah sakit dekat, Rina segera dibawa ke rumah sakit dengan cepat.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil ambulance pun sampai di Rumah Sakit. Rina segera dibawa ke ruang operasi karena takut apabila terjadi sesuatu dengan anak dalam kandungan Rina.


Seorang Dokter menghampiri kerumuman orang-orang yang membantu Rina.


“Halo, apakah di sini ada keluarga pasien?” tanya Dokter tersebut.


“Tidak, Dok! Tapi saya menemukan ponsel milik korban!” jawab orang-orang tersebut.


“Baiklah. Tolong untuk segera hubungi keluarganya,” ucap Dokter. Orang tersebut hanya mengangguk dan langsung menghubungi salah satu kontak yang bertuliskan nama ‘Suamiku’


Karena ponsel Rina yang tidak memiliki layar kunci, orang tersebut bisa membuka ponsel Rina.


Tut.. tutt,.


⚘⚘⚘


Sementara di Alex.


Alex yang tengah berada di kamarnya mendapat telpon tiba-tiba dari Rina istrinya. Entah mengapa hatinya ingin menerima telpon dari istrinya. Hatinya juga menjadi gelisah.


Alex menekan tombol hijau yang berarti mengangkat telpon dari Rina istrinya.


“Halo?” ucap Alex.


“Halo, apakah ini Suaminya Bu Rina?” tanya orang tersebut kepada Alex.


Mendengar suara pria yang menelepon dirinya dengan menggunakan ponsel milik Rina istrinya membuat dirinya cemburu.


“Halo? Halo?“ ucap orang tersebut karena Alex diam.


“Halo? Ini siapa ya, kok bisa nelpon saya pakai ponsel istri saya?” tanya Alex kepada orang tersebut.


“Istri Tuan tadi kecelakaan. Saya bersama teman-teman saya membantu Istri Anda, dan saat Istri Anda keluar tiba-tiba Istri Anda pingsan,” jelas orang tersebut.


“Apa? Segera kirimkan alamat rumah sakitnya kepadaku,” pinta Alex kepada orang tersebut.


“Siap, Tuan!” sahut orang tersebut.


Tutt.


Telpon pun dimatikan. Orang tersebut mengirimkan lokasi rumah sakitnya kepada Alex. Alex mengambil kunci mobil miliknya dan segera menuju ke garasi mobilnya. Ia bergegas pergi ke rumah sakit.


Dengan kecepatan cepat, Alex sampai di rumah sakit. Alex bergegas masuk ke dalam Rumah Sakit.


“Apakah di sini ada pasien atas nama Rina Adellia?“ tanya Alex kepada Suster yang menjaga di bagian adminstrasi.


“Ada, Tuan. Nomor ruangannya adalah 001. Dan baru saja saya mendapatkan informasi dari Dokter jika pasien atas nama Rina harus segera dioperasi,” jelas Suster tersebut kepada Alex.


“Baiklah, Sus. Terima kasih infonya,” ucap Alex lalu segera pergi ke ruangan yang disebutkan oleh Suster tadi.


Alex langsung bertemu dengan Dokter yang tengah berbincang dengan banyak orang. Alex menduga jika salah satu dari kerumuman orang-orang tersebut yang menelponnya. Alex langsung bergegas menghampiri kerumuman orang-orang tersebut.


“Maaf jika menganggu. Apakah di sini tempat pasien atas nama Rina Adellia?” tanya Alex.


“Iya betul sekali, Pak. Apakah Bapak adalah Suami dari Bu Rina?” sahut Dokter tersebut.


“Ya, Dok!” jawab Alex.


“Baiklah. Saya mohon untuk menandatangani surat operasi ini,” Sembari memberikan selembar kertas kepada Alex. Alex menerimanya dan mulai membacanya satu per satu.


“Saya mohon secepatnya ya, Pak. Jika terlalu lama membacanya maka bisa berefek kepada Bu Rina,” ucap Dokter tersebut membuat Alex membaca surat tersebut dengan cepat.


Alex mulai khawatir dengan kondisi istrinya. Ia pun menandatangani surat tersebut yang berarti ia setuju apabila Rina di operasi saat ini juga. Alex segera memberikan surat tersebut kepada Dokter.


Waktu pun berlangsung dengan sangat cepat. Rina sudah dioperasi selama dua jam. Lampu operasi yang awalnya berwarna merah mendadak jadi hijau. Dokter dan Suster mulai keluar dari ruangan operasi. Salah satu Dokter menghampiri Alex.

__ADS_1


“Tuan …” panggil Dokter tersebut dengan pelan.


“Ada apa, Dok?“


“Anak anda berhasil dikeluarkan. Namun, bayi tersebut lahir secara prematur sehingga membutuhkan perawatan lebih,” jelas Dokter.


“Dua-duanya, Dok?” tanya Alex kepada Dokter.


“Iya, Tuan. Satu perempuan dan satu laki-laki,” jawab Dokter.


...****************...


Prematur adalah kelahiran yang terjadi sebelum tiga puluh tujuh minggu (37 minggu).


Informasi dari google~


...****************...


“Bisakah saya melihatnya?” tanya Alex kepada Dokter.


“Tentu, apa Tuan tidak ingin melihat kondisi Ibu Rina?” sahut Dokter.


Alex terdiam seketika membuat Dokter tersebut menjadi serba salah.


“Eh, maaf. Mari saya antar,” ucap Dokter.


Alex hanya mengikuti ke mana Dokter pergi. Ternyata mereka berdua pergi ke ruangan bayi VVIP. Alex melihat wajah anak laki-laki nya yang sangat mirip dengannya. Alex menjadi terdiam dan terus menatap wajah anak laki-laki nya.


“Tuan, saya pamit kembali dulu ya.” ucap Dokter. Alex hanya mengangguk sebagai respon.


Alex melihat wajah anak laki-laki nya selama beberapa saat. Wajahnya begitu mirip dengannya. Alex menoleh ke wajah anak perempuannya. Dan wajah anak perempuannya sangat mirip dengan Istrinya.


Tiba-tiba Alex teringat dengan kondisi Rina. Alex keluar dari ruangan bayi dan menuju ke ruangan Rina istrinya.


Namun, pada saat ingin masuk, seorang Dokter menghampirinya.


“Tuan!“ panggil Dokter tersebut kepada Alex. Ternyata Dokter tersebut adalah Dokter yang mengantarkan Alex ke ruangan bayi.


“Iya, Dok?” sahut Alex.


“Anda ingin masuk ke ruangan Bu Rina?” tanyanya kepada Alex.


“Baiklah,” sahut Dokter tersebut.


“Tapi sebelum itu_” ucap Dokter tersebut lalu terdiam.


“Apa, Dok?” tanya Alex kepada Dokter tersebut.


“Anda ingin melihat kondisi Bu Rina secara langsung terlebih dahulu atau mendengarkan penjelasan saya tentang kondisi Bu Rina?“ tanyanya kepada Alex.


“Saya pilih pilihan yang ke dua saja, Dok!” jawab Alex.


“Baiklah.. Saya akan jelaskan satu per satu, tolong di dengarkan dengan baik ya,” ucap Dokter tersebut. Alex hanya mengangguk.


“Bu Rina tadi baru saja melakukan operasi caesar. Sebelumnya, kandungannya baru delapan bulan atau tiga puluh dua minggu. Dan ya, pada saat selesai operasi tadi, Bu Rina sempat mengalami pendarahan. Beruntung ada stok darah yang dimiliki Bu Rina,” jelas Dokter tersebut lalu menarik nafas sejenak.


Alex hanya diam mendengarkan penjelasan dari Dokter. Entah mengapa hatinya begitu sakit mendengarkan penjelasan Dokter barusan. Dia menjadi teringat dengan kejadian tadi.


“Dan, saya tidak bisa memastikan jika Bu Rina akan sadar,” tambah Dokter tersebut.


Alex terkejut.


“Mengapa?” tanya Alex kepada Dokter.


“Kondisi Bu Rina sangat kritis, saya tidak bisa menjamin jika Bu Rina akan sadar,” jelas Dokter.


Hatinya begitu sakit mendengar penjelasan Dokter barusan. Ia tidak menyangka jika pada saat Rina istrinya melahirkan akan terjadi hal seperti ini. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ditambah dengan kejadian tadi, hatinya menjadi sangat sakit. Ia menggerutu dirinya sendiri.


“Apa saya boleh melihatnya?” tanya Alex kepada Dokter.


“Tentu,” jawab Dokter.


Alex masuk ke dalam ruangan Rina. Ia melihat beberapa alat medis tertempel di tubuh Rina. Dan juga tangannya yang diinfus.


Alex mendekati brankar pasien Rina. Alex mengelus kepala Rina. Ia melihat ada perban di kening Rina. Ia pun mengecupnya.


Cup!

__ADS_1


Hatinya menjadi sangat sakit melihat kondisi sangat istri secas langsung. Mendengar penjelasannya saja sudah membuat hatinya sakit ditambah dengan melihat kondisinya secara langsung.


“Sayang … Maafkan aku,” ucapnya lirih. Air matanya menetes begitu saja. Ia seperti menjadi pria cengeng saat ini.


Tiba-tiba saja, tangan Rina bergerak. Alex yang menyadari hal tersebut pun berteriak-teriak memanggil Dokter padahal ada tombol bel yang dikhususkan untuk darurat. Alat tersebut seakan-akan tidak berguna untuk saat ini.


Dokter yang di luar pun segera masuk dan memeriksa kondisi Rina. Kondisi Rina masih tetap seperti tadi, tapi anehnya Rina sadar. Mungkinkah karena Rina rindu dengan suaminya? Dokter tidak tahu soal itu.


“Bu, apa Ibu bisa lihat ini berapa?” tanya Dokter kepada Rina sembari menunjukkan kertas yang bertuliskan angka ‘8’


Rina mengerjapkan matanya. Entah mengapa penglihatannya begitu buram.


“Buram, Dok! Saya tidak bisa melihatnya …” jawab Rina lirih.


“Sepertinya penglihatan Ibu bermasalah. Nanti harus di periksa ya, Bu.” ucap Dokter kepada Rina. Rina hanya mengangguk sebagai respon.


Dokter pun pamit keluar.


“Yank, kok kamu di sini?“ tanya Rina kepada Alex. Diri nya masih belum menyadari jika perutnya sudah datar.


“Iya,” jawab Alex.


Tiba-tiba, Rina mengelus perutnya. Rina merasakan perutnya tidak berisi. Pikiran buruk ataupun negatif mulai bermunculan.


“Yank!! Mana anakku?” ucap Rina.


“Tenang, anak kita lahir secara prematur. Anak kita ada di ruang bayi sekarang,” jawab Alex.


Akhirnya, Rina bisa bernafas dengan lega setelah mendapat kabar anaknya.


“Oh ya, Yank. Kamu gak lanjutin pekerjaan kamu? Bukannya kamu sedang sibuk?” tanya Rina kepada Alex.


“Emangnya kamu gak suka aku temenin kamu?”


“Bukan karena gak suka, Yank. Tapi bukannya tadi kamu sibuk? Pasti kamu harus tunda pekerjaan kamu ya gara-gara aku,”


Entah mengapa saat mendengar sahutan dari sang istri, Alex merasakan sakit di hatinya. Ia memalingkan wajahnya. Air mata nya mulai menetes. Dengan cepat, ia menyeka nya sebelum sang istri melihatnya.


“Kenapa, Yank?” tanya Rina kepada Alex.


“Tidak apa, kamu istirahatlah dulu,” jawab Alex.


“Baiklah, tapi sebelum itu aku mau bertemu dengan anak-anakku,” sahut Rina.


“Bukan anak kamu saja, anak kita,” ujar Alex membuat Rina heran. Namun, ia senang karena akhirnya Alex mengakuinya.


“Boleh?” tanya Rina sekali lagi kepada Alex. Alex pun mengangguk. Ia memanggil Suster untuk membawa kedua anak mereka ke ruangan Rina.


Tidak membutuhkan waktu lama, Suster tersebut membawakan box anak mereka.


Rina melihat wajah anaknya dengan senyuman manisnya. Ia tidak menyangka jika anak perempuannya mirip dengannya dan anak laki-laki nya mirip dengan suaminya.


Entah mengapa ia mulai berpikir apa yang terjadi apabila dirinya sudah tiada.


Tiba-tiba saja, ia mendengar tangisan sang anak. Ternyata yang menangis adalah anak perempuannya. Sepertinya anak nya tidak mau dirinya memikirkan hal tersebut.


Rina berniat mendekati box anak perempuannya guna menenangkannya. Namun, Alex melarangnya dan malah mengendong anak perempuannya ke dada Rina.


Anak perempuan nya malah mencari sesuatu dan berniat menghisap nya. Namun, kehalang oleh kain.


Rina yang menyadari jika anaknya ingin minum ASI nya pun membuka bra nya dan membiarkan anaknya menghisap ASI nya sepuasnya.


Saat anak perempuannya tengah minum, tiba-tiba anak laki-laki nya menangis. Sepertinya anak laki-laki ingin ikut menyusu juga.


Kedua anaknya pun mulai menghisap ASI nya.


Usai hingga kekenyangan, kedua anaknya pun tertidur. Alex membantu Rina untuk memindahkan kedua anaknya ke dalam box bayi.


Lalu, ia ikut tidur bersama Rina di brankar pasien. Alex memeluk Rina dengan sangat erat seolah tidak ingin kehilangan Rina.


Rina yang mendapatkan perlakuan Alex pun terkejut. Ingin melepaskan, namun Alex semakin memeluknya dengan erat.


Mereka berdua pun tertidur.


⚘⚘⚘


Keesokan harinya pun tiba.

__ADS_1


Alex terbangun karena Rina tiba-tiba kejang. Alex mulai panik.


...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳......


__ADS_2