
Hai kakak-kakak semuanya..
Semangat membaca nya untuk kalian semua.. π€
...~π―ππππ πΉπππ πππ~...
"Warna darah ini.. bukankah warna darah ini ada nya di ciri khas keluarga kita, ya?" tanya Agler pada Agam.
"Hah? Coba kasih lihat dong, kak! Masa nanya tidak di kasih lihat sih." gerutu Agam kesal.
"Iya. Ini loh." seru Agler pada Agam sambil menunjukkan warna darah yg menjadi ciri khas di keluarga mereka.
"Eh.. iya juga ya, kak." jawab Agam.
"Oh ya, kak.. untuk kedua anak nya juga sudah di bunuh, bukan? Apa warna darah nya juga sama?" tanya Agam pada Agler.
"Untuk kedua anak nya belum." jawab Agler.
"Kirain sudah." celetuk Agam.
"Eh.. tapi, kak. Apa Wanita itu tidak di bawa ke rumah sakit saja untuk di Tes DNA? Takutnya kalau dia salah satu keluarga kita dan kita membunuh nya.. Apa kakak mau?" tanya Agam dengan serius pada Agler.
"Iya juga sih." jawab Agler lalu meminta suruhan nya untuk membawa Yana ke rumah sakit.
"Untuk anak nya, apa kakak akan tetap merencanakan untuk membunuh nya, kak?" tanya Agam pada Agler.
"Mungkin lebih baik di tunda saja dulu, kak." Timpal Agam.
"Iya juga sih. Ya sudah.. mending di tunda saja soal itu. Dan kita urus dulu soal wanita ini. Kakak sudah suruh suruhan kakak untuk membawa nya ke rumah sakit Abraham. Ayo kita ke sana sekarang." jawab Agler sekaligus ajak Agler pada Agam.
"Iya, kak." jawab Agam.
πΈπΈπΈ
Sementara di pesawat.
__ADS_1
"Sarira." panggil Yana ke Sarira.
"Ya, Miss?" sahut Sarira dengan sedikit gelisah soal kondisi Putri sekaligus tanya Sarira pada Yana.
"Tolong jangan beritahu soal ini pada Yena dan Yuna, dan Triple K." jawab Yana lirih.
"Kenapa, Miss??" tanya Sarira pada Yana.
"Saya hanya tak mau mereka khawatir. Intinya jangan beritahu." jawab Yana.
"Baiklah, Miss. Tapi Miss tolong baik-baik saja ya. Sekarang pesawat sedang menuju kembali ke bandara." pinta Sarira.
"Ya, Sarira. Saya akan berusaha." jawab Yana lalu memejamkan kedua mata nya sambil menahan sakit.
"Miss?" panggil Sarira sedikit panik ketika Yana memejamkan kedua mata nya.
"Ya?" sahut Yana lalu membuka kedua mata nya.
"Syukurlah.." jawab Sarira.
"Ternyata kalau di tusuk itu sakit banget ya, Ra. Meskipun sakit hati itu sakit, tapi itu sakit batin. Kalau ini sakit fisik. Menurut mu Sarira, sakit batin atau sakit fisik yang lebih sakit?" tanya Yana pada Sarira.
"Ya, kamu benar, Sarira." seru Yana.
"Nona." panggil seseorang pada Sarira.
"Ya?" sahut Sarira lalu menoleh pada siapa yg memanggil nya.
"Sebaiknya atasan nona segera di bawa ke rumah sakit yang di dekat bandara. Kalau tidak salah nama nya Rumah Sakit Abraham." ucap nya pada Sarira.
"Iya. Saya tahu. Terima kasih." jawab Sarira.
"Sama-sama Nona." sahut nya lalu pergi.
"Miss tahu tidak orang tadi??" tanya Sarira pada Yana.
__ADS_1
"Saya tidak tahu." jawab Yana lalu tiba-tiba pandangan Yana mulai kabur dan..
"Miss??" panggil Sarira sedikit panik ketika Yana pingsan.
"Seperti nya Miss sudah kehilangan banyak darah." gumam Sarira.
Sarira pun meminta pilot untuk ke bandara secepat mungkin.
Sarira juga menyuruh suruhan nya untuk menunggu di bandara.
Setelah beberapa menit penerbangan dengan kecepatan yg begitu tinggi, akhirnya pesawat pun mendarat di bandara.
Terlihat banyak penumpang yg merasa sedikit sedih karena orang yg membantu mereka berlumuran darah seperti itu. Ada juga karena tidak bisa mengunjungi keluarga nya di kampung halaman nya demi orang yg membantu nya.
Setelah menurunkan Yana, penumpang lainnya pun di bayar tiga kali lipat dari harga tiket sebelumnya. Karena harga tiket sebelumnya seharga 50 ribu, maka sekarang di bayar sekitar 150 ribu.
Penumpang pun juga di antar kembali. Tidak ikut turun bersama Yana, Sarira, dan juga bawahan Yana.
Mereka pun menuju ke rumah sakit yg memang dekat dengan bandara. Karena tak mungkin harus sejauh mungkin, mengingat soal Yana kehilangan banyak darah. Jadi mau tak mau Sarira harus membawa Yana ke rumah sakit yg bukan milik Yana.
Sarira pun masuk ke rumah sakit dengan memperlihatkan kartu pengenal milik nya. Kepala Rumah Sakit yg awalnya ingin berkeliling di rumah sakit nya, di kejutkan oleh tanda pengenal Sarira.
Siapa sih yg tidak mengenal soal kartu tanda pengenal Sarira itu? Yana memang membuatkan Sarira sebuah kartu tanda pengenal yg milik dengan nya. Mengingat jasa Sarira, Yana pun membuatnya.
Sebenarnya kartu yg seperti itu awalnya hanya satu. Tapi sekarang ada dua. Di mana Sarira akan menjadi bawahan paling penting di hidup Yana.
Kepala Rumah Sakit pun terkejut melihat kartu itu. Jadi Kepala Rumah Sakit pun meminta suster dan dokter lainnya yg tidak biasa untuk membawa Yana ke ruang IGD. Dan di ambil tindakan.
...~π©πππππππππ~...
Feel kalian bagaimana, nih? Gelisah banget atau gimana??
Maaf yaa kalau tidak ada feel nya sama sekali, author akan berusaha untuk membuat agar ada feel nya.
Jangan lupa like nya yaa.. ππ»π
__ADS_1
Terima kasih.
ππ»π