Lilyana Putri Amalia

Lilyana Putri Amalia
Bab 31 : Interogasi


__ADS_3

...~π‘―π’‚π’‘π’‘π’š π‘Ήπ’†π’‚π’…π’Šπ’π’ˆ~...


🌸🌸🌸


Sementara di perusahaan Abraham Group.


"Ke mana Agler dan Agam pergi?" tanya Abraham pada suruhannya.


"Mereka berdua pergi ke rumah sakit Abraham yang di dekat bandara, Tuan." jawab suruhannya.


"Hah? Buat apa Agler dan juga Agam pergi ke sana??" tanya Abraham pada suruhannya.


"Saya lihat dari jauh, sepertinya Kedua Tuan Muda tersebut sedang membawa seorang wanita." jawab suruhannya.


"Wanita? Antar saya ke sana!" perintah Abraham pada suruhannya.


"Baik, Tuan." sahut suruhannya.


Suruhannya pun mengantarkan Abraham ke rumah sakit yg didekat bandara.


Setelah beberapa menit perjalanan, Abraham pun sampai di rumah sakit tersebut.


Semua dokter dan suster yg mendadak mendapatkan tamu terhormat karena pemilik rumah sakit datang secara mendadak pun tidak sempat memberikan perhormatan. Sebenarnya Abraham sendiri tidak peduli soal hormat atau apapun itu.


"Se.. Selamat datang di Rumah Sakit Abraham, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Kepala Rumah Sakit tersebut yg dipercayai dan ditugaskan Abraham untuk menjaga rumah sakit ini. Usia Kepala Rumah Sakit ini masih bisa dibilang usianya lebih muda dari Abraham. Karena sebelumnya Kepala Rumah Sakitnya adalah Ayah-nya, tapi sekarang diganti oleh anaknya.


"Agler dan Agam mereka berdua sekarang ada dimana?" tanya Abraham pada Kepala Rumah Sakit.

__ADS_1


"Saya kurang tahu, Tuan. Karena saya tadi habis makan siang. Lebih baik, Tuan ikut saya ke ruang CCTV untuk melihatnya!" jawab Kepala Rumah Sakit.


Ya, Tadi Agler dan juga Agam datang ke rumah sakit ini saat Kepala Rumah Sakit sedang makan siang. Jadi, makanya kenapa Agler dan juga Agam tadi tidak disapa oleh Kepala Rumah Sakit. Tapi Abraham sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Karena menurut Abraham, orang yg harus dihormati itu bukan dari tingkat kekayaannua tapi melainkan tingkat usianya.


Jika dia memang lebih tua dari kita, maka kitalah yg harus menghormati nya. Karena sangat tidak sopan jika orang yg lebih tua dari kita yg malah menghormati kita yg hanya kekayaan nya yg tinggi. Abraham selalu mengajarkan hal itu pada kedua anaknya.


"Baiklah." jawab Abraham.


Mereka berdua pun menuju ke ruang CCTV untuk melihat rekaman nya.


Setelah beberapa menit, akhirnya Abraham dan Kepala Rumah Sakit pun tahu dimana sekarang Agam dan Agler berada.


Mereka berdua pun segera ke tempat Agam dan juga Agler.


"Kalian berdua ngapain di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Abraham khawatir pada kedua putranya. Tepatnya putra kandungnya.


"Daddy tanya sama kalian." ucap Abraham.


"Itu..." ucap Agam dan Agler terhenti, karena baik Agam maupun Agler bingung jelasin apa.


"Tuan Abraham??" ucap Sarira terkejut melihat kedatangan Abraham sang pemilik rumah sakit ini. Sarira habis dari toilet.


"Nona Sarira??" ucap Abraham pada Sarira. Abraham kenal dengan Sarira, sebab perusahaan Abraham bekerjasama dengan perusahaan Yana. Kadang perusahaan Yana digantikan oleh Sarira, karena Yana memiliki dua pekerjaan.


"Jika Nona Sarira berada disini, maka Nona Yana juga berada disini??" tanya Abraham pada Sarira.


Sedangkan Kepala Rumah Sakit tersebut terlihat bingung.

__ADS_1


"Eh, Aryo. Kamu bisa pergi." ucap Abraham pada Kepala Rumah Sakit saat Abraham baru menyadari jika ia masih berada disana bersamanya. Abraham tak mau urusan pribadinya dicampur oleh orang lain.


"Baik, Tuan." jawab Kepala Rumah Sakit tersebut yg ternyata bernama Aryo.


Aryo alias Kepala Rumah Sakit ini pun meninggalkan mereka.


"Dimana Nona Yana?" tanya Abraham pada Sarira.


"Em.. itu." ucap Sarira lalu menjelaskan apa yg terjadi.


"Apa? Tapi ia baik-baik saja bukan sekarang??" tanya Abraham pada Sarira. Entah mengapa Abraham tiba-tiba khawatir dengan kondisi Yana. Entah ini perasaan... tidak mungkin perasaan cinta!! Ia sudah mempunyai istri!!


"Iya. Tapi ia masih belum siuman." jawab Sarira.


Abraham pun hanya memanggut-manggut. Abraham pun melihat kertas yg dipegang Agler.


"Agler, kertas apa yang kamu pegang dari tadi??" tanya Abraham pada Agler.


"Kertas?" ucap Agler bingung.


"Kertas yang kamu pegang." ucap Abraham mengulangi ucapan nya tadi. Agler kadang memang terlihat bodoh, tapi kadang ia sangat pintar. Abraham harus punya ekstra sabar untuk menghadapi putra satu nya ini.


"Ini?" tanya Agler pada kertas yg ia pegang.


"Ya." jawab Abraham.


...~π‘©π’†π’“π’”π’‚π’Žπ’ƒπ’–π’π’ˆ~...

__ADS_1


__ADS_2