Lilyana Putri Amalia

Lilyana Putri Amalia
BAB 51 : KENANGAN (3)


__ADS_3

hhe, masih dengan kenangan ya.. ini yg terakhir kok.....


...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...


Mereka berdua pun tertidur.


⚘⚘⚘


Keesokan harinya pun tiba.


Alex terbangun karena Rina tiba-tiba kejang. Alex mulai panik.


Alex melepaskan pelukannya dan mulai berteriak-teriak memanggil dokter. Beruntung saja setiap Rumah Sakit, Dokter nya bergantian untuk berjaga.


Dokter yang sedang jaga di dini hari ini pun langsung mengecek kondisi Rina. Ia terkejut dengan perubahan kondisi Rina yang sangat drastis.


Dokter tersebut menyuntikkan obat untuk menghentikan kejang Rina. Setelah beberapa saat, kejang Rina berhenti.


“Dok! Saya mau tanya, kenapa istri saya tiba-tiba kejang?” tanya Alex.


“Saya tidak tahu, Tuan! Saya sudah mengecek kondisi Bu Rina, kondisinya berubah secara drastis!” jawab Dokter tersebut.


“A … Apa?” pekik Alex terkejut. Tubuhnya lemas mendengar jawaban dari Dokter.


“Saya tidak tahu mengapa tiba-tiba ini terjadi. Jika ingin tahu, maka harus diambil sampel darahnya dan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah ada kandungan racun di dalam sampel darah Bu Rina,” jelas Dokter.


“Ya sudah, Dok! Tolong ambil sampel darah istri saya biar tahu,” sahut Alex.


“Baiklah.” jawab Dokter tersebut.


Dokter tersebut pun segera mengambil sampel darah milik Rina. Setelahnya, ia langsung menuju ke laboratorium bersama seorang Suster.


Sedangkan Alex kembali ke ruangan Rina. Entah mengapa dirinya memiliki firasat buruk tentang Rina. Namun, dengan cepat ia singkirkan soal firasat buruk tersebut.


Tiba-tiba Rina terbangun. Alex terkejut melihat Rina sadar mendadak.


Alex berniat memanggil Dokter, sayangnya ia malah ditahan oleh Rina. Rina menahan tangan Alex yang hendak pergi memanggil dokter sembari meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Alex hanya menurut.


“Sayang,” panggil Rina dengan lembut membuat Alex seketika terhipnotis dengan suara lembut Rina.


“Sayang,“ ulang Rina.


“Iya?” sahut Alex.


“Saatnya aku bertemu dengan Tuhan di atas. Tolong jaga anak kita baik-baik ya. Dan aku mau, anak kita aku yang kasih namanya, ini namanya sudah aku siapkan sejak kandunganku berusia enam bulan,” jelas Rina.


“A … Apa? Kamu mau pergi sekarang? Jangan … Aku tidak mau kamu meninggalkanku …” ucapnya lirih.


“Tapi Sayang, mau gimana lagi? Mungkin ini takdirku …” jawab Rina lirih dengan mata berkaca-kaca. Rasanya tak sanggup meninggalkan kedua anaknya dengan suaminya. Tidak mungkin dirinya menyalahkan Tuhan atas ketidakadilan takdirnya ini.


Alex terdiam.

__ADS_1


“Tolong ya, Sayang. Jaga Apriliano Julius dan Apriliani Julia dengan baik-baik,” pinta Rina kepada Alex dengan wajah bermohon.


“Baiklah, Sayang. Aku mendoakan mu agar bahagia di alam sana,” sahut Alex dengan wajah menunduk.


“Bolehkah aku meminta pelukan darimu untuk yang terakhir kalinya?” tanya Rina dengan wajah bermohon lagi.


Alex mengangguk. Rina langsung memeluk Alex dengan erat. Kedua orang ini saling berpelukan. Setelah beberapa saat, Rina merasakan jika ini sudah saatnya ia pergi.


“Sayang, sepertinya sudah saatnya aku pergi. Sampai jumpa!” ucap Rina. Air matanya menetes kembali seketika.


Alex pun menarik tubuh Rina dan memeluknya lagi. Ia mengecup puncuk kepala Rina berkali-kali.


Usai mengecup Rina berkali-kali, Alex melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rina.


“Maafkan kesalahanku, Rina,” ucap Alex dengan tulus.


“Iya, aku maafkan,” sahut Rina dengan tulus.


Tidak lama kemudian, tubuh Rina seperti hilang perlahan. Rina menampilkan senyum di bibirnya. Alex juga ikut tersenyum walaupun rasanya pahit menerima kenyataan ini semua.


Hingga tubuh Rina benar-benar hilang dari pandangan Alex. Seseorang menepuk bahu Alex. Alex pun menoleh ke orang tersebut.


“Rey?“ ucap Alex.


“Kenapa melamun, Tuan? Gara-gara Tuan melamun, saya harus menyeret Tuan keluar dari sini. Terus mana Tuan senyum-senyum sendiri seperti orang yang sudah tidak waras saja,” cerocos Rey.


Rey adalah asisten Alex.


“Hehe … Mana Rina?“ tanya Alex.


“Baiklah, aku diam.” sahut Alex.


“Tadi Tuan malah melamun di ruangan Bu Rina sambil memeluk tubuh Bu Rina sama cium-cium gitu. Tuan tahu? Tuan bikin mata saya yang masih suci ini melihat adegan seperti itu. Adegan delapan belas plus plus plus plus plus!“ jelas Rey.


"Plus, plus, plus, plus, plus! Kayaknya lebih banyak begituan,” sahut Alex.


“Suka-suka aku dong, siapa suruh yang bikin angka delapan belas plus itu plus nya cuma satu. Kalau cuma satu, berarti hanya boleh untuk umur sembilan belas tahun,” jawab Rey.


“Tahu dari mana?” tanya Alex penasaran.


“Tahu dari otak, Tuan,” jawab Rey.


“Kok bisa begitu?”


“Menurut saya, delapan belas itu kan ada plus nya. Plus nya kan cuma satu, berarti delapan belas tambah satu jadi sembilan belas. Jadi yang mau nonton adegan seperti itu lihat dulu dari plus nya,” jelas Rey.


“Aku gak paham,” jawab Alex.


“Masalahnya aku tidak tanya kepadamu Tuan,” sahut Rey.


“Berani kamu?”

__ADS_1


“Tentu saja aku berani, Tuan.“ jawab Rey santai.


“KAMU!”


Tiba-tiba datanglah rombongan Dokter dan Suster. Terlihat dari wajah mereka yang menampilkan wajah lesu dan keringat membasahi tubuh mereka.


Mereka semua terdiam dan kepala menunduk.


“Maaf, Tuan. Bu Rina tidak bisa kami selamatkan,“ ucap salah satu Dokter memberanikan diri untuk menyampaikan berita buruk kepada Alex.


Alex terkejut. Ternyata lamunannya tadi adalah kenyataan. Rina istrinya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


“Bu Rina meninggal pada saat pukul lima dini lewat tiga menit dan satu detik,” jelas Dokter.


Air matanya seketika langsung menetes tanpa pemberitahuan. Tentu saja tanpa pemberitahuan, jika di kasih pemberitahuan maka namanya bukan lagi adegan sedih.


“Semoga Bu Rina tenang di alam sana,”


Mereka semua mendoakan Rina.


Di sudut ruangan, tampak seseorang tengah tersenyum misterius melihat adegan tersebut. Orang tersebut tidak terlalu mencurigakan sehingga ia bisa masuk ke Rumah Sakit. Ia memakai baju cleaning servis, jadi ia bisa berkeliling ke mana saja.


Rina pun dimakamkan hari itu juga. Keluarga Rina tampak sangat sedih. Mereka ingin merawat kedua anak Rina, tapi sayangnya Rina membuat surat wasiat. Surat wasiat tersebut berisi jika Rina ingin kedua anaknya dirawat dengan baik oleh suaminya.


Sehingga, keluarga Rina mau tak mau hanya bisa mendukung keputusan mendiang Rina.


Alex tampak sangat sedih saat itu. Ia menyimpan kenangan mereka dengan baik-baik.


Usai dengan kegiatan pemakaman, Alex segera kembali ke Rumah Sakit karena Suster memberitahu nya apabila kedua anaknya membutuhkan susu.


Itulah kenangan yang di simpan Alex selama ini.


Flashback off. ⚘


Alex melamun ketika mengingat kenangan itu.


Rey menghampiri Alex.


“Tuan.” panggilnya.


Alex hanya sekedar menoleh ke arah Rey.


“Apakah Tuan mencintai Nona Yana?” tanya Rey kepada Alex. Sedangkan Alex hanya mengangkat bahunya sebagai respon.


“Ayolah Tuan. Bukalah hatimu, jangan jadikan masa lalu sebagai penghalang masa depan. Semua orang berhak mendapatkan masa depan yang baik apabila ia berusaha dengan baik,” jelas Rey. Rey memiliki sifat bijaksana membuat Alex kagum dengannya.


Alex terdiam ketika mendengar ucapan Rey.


“Ingat, Tuan! Tuan Muda Julius dan Nona Muda Julia membutuhkan seorang ibu dan peran ibu dalam hidup mereka. Jangan jadikan masa lalu Tuan membuat anak-anak Tuan kehilangan sosok ibu di hidup mereka,”


“Bukalah hatimu untuk wanita lain. Sudah banyak wanita lain yang mengantri untuk menjadi kekasih Tuan, ataukah Tuan ingin saya pilihkan salah satu dari mereka untuk Tuan? Pasti Tuan tidak mau ya. Ya sudah, yang penting saya sudah menasehati Tuan. Jangan bikin Tuan Muda Julius dan Nona Muda Julia kehilangan sosok ibu dalam hidup mereka ya Tuan,” nasehat Rey bijaksana.

__ADS_1


Alex hanya diam. Ia berusaha mencerna kata per kata yang dikeluarkan oleh Rey asistennya.


...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳... ...


__ADS_2