Lilyana Putri Amalia

Lilyana Putri Amalia
BAB 67 : MENUNGGU


__ADS_3

Happy Reading...


Dua hari berlalu. Setelah kejadian dua hari yang lalu, mereka mulai kembali akrab seperti semula. Hari ini, tepat di mana, mereka sekeluarga merencanakan pernikahan Yana dan Alex.


Yana dan keluarganya menunggu kedatangan keluarga Alex. Yana mendapatkan kabar dari Alex jika dirinya akan datang bersama kedua anaknya dan Kakeknya.


Waktu terasa semakin cepat berlalu. Jam yang ditetapkam sudah sampai, namun Alex dan lainnya masih belum sampai di Mansion keluarga Abraham. Hal tersebut membuat keluarga Abraham khawatir, takut apabila terjadi sesuatu pada Alex dan lainnya. Meskipun demikian, Yana tetap berusaha tenang agar tidak berpikir negatif, ia yakin kekasihnya akan datang walau telat.


“Bagaimana, Nak? Apa Alex mengabarimu??“ tanya Tania. Tania dan kedua anak Yana baru kembali sejak kemarin setelah mendengar kabar bahwa kekasih Yana akan segera melamarnya.


“Tidak, Mom! Mungkin saja, Alex mematikan ponselnya saat perjalanan!“ jawab Yana.


“Mungkin saja! Tetap tunggu pesan darinya, Nak!“ ucap Tania yang di tanggapi oleh Yana dengan anggukan kepala.


Dua puluh menit berlalu, jam yang ditentukan sudah berlalu dua puluh menit, namun Alex dan lainnya juga belum sampai di lokasi.


“Haduh … Kok Alex masih belum datang?? Coba kamu hubungi dulu, Nak!“ ucap Tania pada anaknya.


“Sudah, Mom! Tapi tidak dijawabnya, melainkan sang operator yang menjawab,“ jawab Yana.


“Semoga Alex dan lainnya sampai dengan selamat,“


...☘️☘️☘️...


Alex bersama kedua anaknya tengah melakukan perjalanan menuju ke Mansion keluarga Abraham. Namun, saat di perjalanan, jalanan sangat macet. Berkali-kali, ia mencoba menerobos kemacetan ini, namun bukannya berhasil, mobil semakin mundur. Alex frustasi.


Mau tidak mau, dirinya harus sabar menghadapi kemacetan ini. Alex sendiri heran, mengapa malam ini, jalanan sangat ramai? Dan barulah Alex mengingat jika malam ini adalah malam minggu. Biasanya orang-orang akan pergi jalan-jalan pada malam minggu. Entah apa alasannya.


“Hari ini kan malam minggu! Pantesan saja jalanan sangat ramai hingga pada akhirnya jalanan macet! Haduh … Haduh! Harus bagaimana? Menggunakan jalan alternatif dari desa?? Tapi ku dengar, desa sekitaran sini sangat menyeramkan!“ gerutu Alex.


“Aku harus bagaimana? Menunggu? Atau menggunakan jalan alternatif??" bingungnya.

__ADS_1


“Ahh … Mungkin lebih baik, jika aku menggunakan jalan alternatif saja!“ ucapnya lalu mengarahkan mobil ke jalan alternatif. Meskipun dari jauh, jalan ini terlihat sangat menyeramkan, hal tersebut tidak membuat Alex ragu untuk mencobanya.


Jalanan alternatif cukup menyeramkan. Karena apa? Karena tidak ada satupun orang yang berada di jalanan ini. Jangankan orang, kendaraan saja tidak ada yang lewat kecuali mobil Alex.


Meskipun merasakan merinding, itu tidak membuat Alex menyerah. Kedua anaknya tertidur pulas di dalam mobil, tidak mungkin ia tinggalkan begitu saja.


Mobil terus melaju hingga sampai ke desa. Sebenarnya dengan menggunakan jalan alternatif membuang banyak waktu, namun akan lebih membuang waktu apabila hanya menunggu di jalan yang macet tadi. Jika melewati jalan alternatif, hanya membutuhkan waktu dua jam, sedangkan jika menunggu di jalan tadi, maka Alex harus menunggu selama tiga jam lebih.


Kemacetan di jalan tadi sangat parah. Pihak kepolisian sampai datang untuk membantu. Namun, tidak ada hasilnya.


Saat tiba di sebuah Desa, warga desa menatap kagum dengan mobil mewah yang digunakan oleh Alex. Sebenarnya, mobil yang Alex gunakan memang mewah, namun mobil ini harganya tidak mahal, mobil ini termasuk mobil kesayangan Alex sehingga Alex menggunakannya.


“Wah! Mobilnya keren! Punya siapa??“


“Sangat–sangat keren! Jika aku tahu kalau hari ini Desa kita akan didatangi pengusaha dari Kota, mungkin aku akan mengajak sahabatku yang merantau ke Kota untuk datang ke Desa!“


“Pemilik mobil ini pasti adalah seorang pengusaha hebat di Kota! Tidak heran, dengan melihatnya saja sudah diketahui!“


“Kira–kira siapa pemiliknya? Kepala RT kah??“


“Aku kan bukan bilang Pak RT, tapi Kepala RT!“


“Bukan Kepala RT, heyy! Yang benar itu, Ketua RT!!“


Itulah ucapan dari para warga Desa ini. Mereka tidak pernah melihat mobil mewah seperti ini sebelumnya, sangat wajar apabila mereka akan bersiteru.


Alex keluar dari mobilnya. Pada warna Desa melihatnya dengan kagum, tak ada satupun orang yang melewatkan hal ini. Semua warga berkumpul.


“Bapak, Ibu. Maaf kalau menganggu, apa jalan ini bisa sampai ke Kota?“ tanya Alex.


“Orangnya tampan sekali!“ Bukannya menjawab pertanyaan dari Alex, para warga malah asik membicarakan ketampanan dari Alex.

__ADS_1


“Tidak heran jika dia orang Kota!“


“Pak, Bapak sudah menikah belum? Kalau belum, ayo menikah jadi suami ketiga aku, Pak!“ ajak seorang Ibu-ibu yang sudah memiliki dua suami.


“Pak! Kalau masih single, ayo nikah sama saya saja! Saya punya sawah sekitar dua hektar!“


“Kalau Bapak masih single, dengan senang hati, saya ingin menikah dengan Bapak! Tapi kalau Bapak sudah beristri, saya tidak masalah jika akan menjadi istri kedua Bapak!“


Itulah ucapan dari para warga desa yang membuat Alex semakin frustasi. Ia masuk kembali ke dalam mobil sembari menjambak rambutnya frustasi. Bertanya pada para warga, bukannya mendapatkan jawaban, melainkan kembali diajukan pertanyaan. Begitulah nasib orang tampan.


Tiba-tiba, ia dihampiri seorang pria paruh baya saat ingin masuk kembali ke dalam mobilnya.


“Selamat datang ke Desa kami, Pak! Maaf, kalau warganya sedikit tidak waras! Apa Bapak ada keperluan di sini?“ tanya pria paruh baya tersebut yang diduga adalah Ketua RT Desa ini.


“Ada, Pak! Apa jalan ini bisa sampai ke Kota?“ tanya Alex. “Saya takutnya malah jalannya buntu, maklum baru pertama kalinya menggunakan jalan alternatif sampai sejauh ini.“ tambahnya.


“Bisa, bisa kok Pak! Sudah banyak orang Kota yang menggunakan jalan Desa kami untuk sampai ke Kota dengan menghindari kemacetan walaupun jalanan sepi!“ jawab pria paruh baya itu.


“Baiklah, Pak! Terima kasih banyak sudah membantu!“ ucap Alex dengan rasa bahagia menyelimuti hatinya.


“Sama-sama, Pak! Senang bisa membantu Anda. Maaf jika kami tidak bisa menyiapkan acara untuk menyambut orang hormat seperti Anda, Pak!“ sahut pria paruh baya itu dengan rasa bersalah di hatinya.


“Tidak masalah, Pak! Terima kasih ya! Saya pergi duluan! Ini uang untuk Bapak!“ Alex merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Ia mengambil beberapa lembar yang merah kepada pria paruh baya itu.


“Tidak, Pak! Terima kasih!“ jawab pria paruh baya itu menolak uang pemberian dari Alex.


“Tidak masalah kok, Pak! Ambil saja!“


“Terima kasih banyak ya, Pak! Semoga rezekinya lancar terus..“


“Semoga, Terima kasih banyak ya.“

__ADS_1


To be continued...


Note: Terimakasih yang sudah dukung.


__ADS_2