Live Young Master Bastard

Live Young Master Bastard
28.


__ADS_3

Malamnya jam 9 Yoland dan yang lainnya berkumpul di rumah Yoland. Mereka bersiap untuk pergi ke acara lelang perusahaan Vexovada.


"Guys kuy." ajak Vyn yang sudah masuk duluan ke dalam mobil.


Yoland masih sibuk menenangkan Mrs. Zora. Mrs. Zora sampai menangis karena tidak mau ditinggal. Entah sejak kapan dia jadi manja sekali.


"Hati-hati ya di rumah, pintunya kunci aja. Aku nggak lama kok." kata Yoland masih memeluk Mrs. Zora.


"Hiks... hiks... aku takut..." tangis Mrs. Zora.


"Oi Land cepet!" teriak Dion.


"Bentar." Yoland balas teriak. "Udah ya, aku pergi dulu dah ditungguin." kata Yoland sambil mengelus rambut Mrs. Zora.


"Cium." bisik Mrs. Zora, jari telunjuknya menunjuk bibirnya.


"Duh malu." Yoland bergerak membelakangi mobil tempat teman-temannya berada. Kemudian mencium bibir Mrs.Zora. "Udah ya, aku pergi dulu." kata Yoland.


"Jangan lama-lama ya." Mrs. Zora masih memeluk Yoland.


"Iyaa sayang." Yoland melepas pelukannya kemudian pergi ke mobil.


Setelah masuk ke mobil, dia melambaikan tangan ke arah Mrs. Zora. Mrs. Zora balas melambaikan tangan, kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Tak lupa pintu dikuncinya.


~


Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya Yoland dan yang lainnya sampai di sebuah pelabuhan. Mereka segera mencari lokasi kapal pesiar tempat lelang mendarat. Setelah menemukan kapal yang dicari, mereka segera masuk ke dalam. Tidak lupa menyerahkan tiket masuk.


"Ah gila sih gua baru pernah naik kapal ginian." kata Azah kagum.

__ADS_1


"Hehe... gua juga nih." timpal Ergi.


"Iye baru pernah, tapi kita harus hati-hati jangan lupa tujuan kita." kata Vyn.


"Eh Land, kita ngapain nih?" tanya Dion dengan mata tak hentinya memandang sekeliling.


"Gimana kalo kita bagi 2 tim. Yang satu fokus teliti satu satu ruangan. Karena kita ngga tau juga lokasi Revo. Nah, yang satu jaga-jaga deh. Minimal ngingetin jalan keluar." kata Yoland.


"Ya udah, eh si Azah ikut lu aja Land. Soalnya nih bocah matanya suka jelalatan awas aja kalo bikin masalah." Dion menatap Azah dengan tatapan mengancam.


"Ehehehehee..." Azah cengengesan sambil menggaruk kepalanya.


"Eh, Land kayaknya kita bagi 3 deh. Soalnya 2 orang kita jadiin transfer info. Gimana?" usul Gion.


"Wah boleh juga. Oke deh, Yok Zah lu ikut gua nyari Revo. Biasa Dion ama Gion jagain pintu keluar sama jagain kalo ada apa-apa. Nah Vyn, lu ama Ergi awasin gerakan beberapa orang penting. You know lah, yang punya. Inget kalo ada apa-apa langsung cari gua." kata Yoland, dia kemudian berlalu diikuti Azah.


"Land, itu artinya apaan?" tanya Azah.


"Emm... kamar inap kalo ngga salah, yok masuk." benar saja, ketika sudah masuk mereka melihat banyak sekali pintu.


"Eh Land, keknya ngga mungkin deh Revo disini. Mana mungkin pekerja di tempatin di tempat kayak gini. Biasanya tamu kan yang kesini." kata Azah sambil menarik lengan Yoland.


"Eh, btw otak lu encer juga. Ya udah cari yang lain aja." Mereka beralih ke ruangan berikutnya.


Kini mereka berada di depan sebuah ruangan yang pintunya tampak seperti pintu lift. Mereka Yoland memencet tombol kemudian pintu terbuka. Mereka masuk ke dalam. Baru saja melangkahkan kaki, mereka terkejut dan lari tunggang langgang ke luar.


"Gila! Ngapain pake ada banci segala sih." gerutu Yoland.


"Ihhh... geli banget gua anjir." Azah bergidik ngeri membayangkan banci yang genit ke mereka tadi.

__ADS_1


"Dah, cari lagi." Yoland berjalan lagi dengan diikuti Azah.


"Dah setengah jam loh Land." kata Azah.


"Mau gimana lagi namanya juga nyari." kata Yoland ketus. Tiba-tiba matanya menangkap seseorang. "Eh, Zah liat tuh." Yoland menunjuk seorang laki-laki yang memakai pakaian serba hitam, mulai dari hoodie sampai sepatunya.


"Itu bodynya mirip Revo." kata Azah.


"Gass, ikutin cepet." Yoland menarik lengan Azah.


Mereka berlari pelan mendekat ke arah orang yang mereka anggap Revo. Kali ini, Revo bergerak. Dia berjalan bersama dengan seorang wanita yang cukup seksi, dengan di apit oleh dua orang pria berbadan kekar.


Yoland dan Azah memberi jarak sedikit antar mereka dengan Revo. Setiap pergerakan Revo tak lepas dari tatapan Yoland dan Azah.


"Eh, Land liat kok Revo kayak deket banget sama tuh cewek." kata Azah sambil menyikut lengan Yoland.


"Iya yah, apa dia nyokapnya? Mana mungkin sih nyokapnya masih muda gitu." kata Yoland masih mengamati sosok perempuan yang bersama Revo.


"Eh masuk ke ruangan? Land cepetan!" Azah sedikit berlari.


"Duh gimana nih mereka masuk. Eh, Zah lu coba deketin pintu bentar abis itu lu cek pintunya dikunci apa nggak." Yoland memberi saran. Azah yang mendengarnya langsung menolak mentah-mentah.


"Eh, no no gua ga mau ambil resiko ketauan." kata Azah.


"Heh ta** kalo lu ketauan masih ada harapan gua disini. Sana cepet!" pinta Yoland sambil mendorong Azah.


Azah segera berjalan sambil bersungut-sungut. Dia berdiri di depan pintu tersebut. Dia mendorong pintu tersebut ke arah samping. Benar saja, pintunya tidak dikunci. Dengan segera Yoland menghampiri Azah. Mereka masuk ke dalam dengan mengendap-endap.


~

__ADS_1


__ADS_2