
Sesampainya di dalam, mereka kembali mencari sosok Revo. Ditempat itu sangat ramai. Yoland menyikut lengan Azah.
"Kopok liat tuh." Yoland menunjuk seorang perempuan yang tadi sempat bersama Revo.
"Revo nya mana Land?" tanya Azah.
"Mana gua tau, yok!" ajak Yoland.
Baru saja mereka hendak berjalan mencari Revo. Tiba-tiba, mereka merasa lengan mereka diseret. Mereka berhenti di sebuah ruangan yang remang-remang, karena cahaya lampunya sedikit redup. Yoland dan Azah memandang orang yang menyeret mereka. Mereka terkejut bercampur senang. Karena yang menyeret mereka adalah Revo.
"Kalian ngapain disini?" tanya Revo.
"Kita nyari lo, yok pulang." Azah bergerak memeluk Revo.
Revo menepis pelukan Azah. "Sorry, gua ngga bisa ikut kalian." perkataan Revo bagai petir menyambar di siang hari. Yoland dan Azah terkejut mendengar perkataan Revo.
"Loh? Bukannya lu menderita disini? Ngapain ngga ikut kita." tanya Yoland heran.
"Sorry Land, gua ngga cerita sama kalian. Sebenernya gua bantuin nyokap tiri gua sama bokap tiri gua. Mereka nggak jahat kok, malah mereka baik banget sama gua. Gua ngga bisa ninggalin mereka gitu aja. Gua... gua mau balas budi ke mereka karena mereka yang udah nyelamatin aset berharga milik bokap kandung gua." jelas Revo.
"Lah, lu mabok kah? Bukannya lu itu dijual sama nyokap tiri lo?" Yoland masih tidak percaya dengan penjelasan Revo.
__ADS_1
"Awalnya gua kira gitu Land, tapi semakin kesini gua semakin ngerti. Ternyata mereka baik sama gua. Jadi sorry ya udah ngrepotin kalian sama thanks juga udah berusaha nyelamatin gua. Oh iya sorry juga, yang waktu itu gagalin rencana Om Zevi buat bobol keamanan jaringan perusahaan Vexovada itu gua." jelas Revo.
"Gila dah capek-capek ternyata lu seneng disini." gerutu Azah.
"Ya udah kalo itu keputusan lu, gua hargain kok. Oh iya kok lu tau yang jalanin rencana Om Zevi?" tanya Yoland.
"Eh Land, lu kek gatau Revo aja sih. Apa sih yang nggak dia tau, hacker andalan di Genk kita." Azah berkata dengan nada ketus.
"Hehehe... sorry banget Land." kata Revo.
"Ya udah deh gua maafin lo. Kalo itu yang lo mau, urusan kita udah selesai. Kita pamit pulang yak." Yoland memeluk Revo. "Semoga apa yang lo pilih bakalan jadi jalan buat lo." lanjutnya.
"Iyaa Land, ucapin makasih sama permintaan maaf gua sama yang lain ya." Revo membalas pelukan Yoland.
"Hehehe... ya udah kalian senang-senang aja dulu. Gua..." tiba-tiba seorang wanita menghampiri mereka.
"Siapa mereka?" tanyanya dengan senyum diwajahnya.
"Eh Mommy, ini temen Revo." kata Revo.
Yoland menjabat tangan mami Revo.
__ADS_1
"Saya Yoland tante." kata Yoland.
"Saya Azah tan." Azah ikut menjabat tangan mami Revo.
"Ya sudah kalian teruskan urusan kalian, tante pinjam Revo dulu ya ada urusan penting." kata mami Revo.
"Iya tan." Yoland mengangguk.
Revo dan maminya segera berlalu meninggalkan Yoland dan Azah.
"Sia-sia Land." kata Azah.
"Udah lah, yuk pulang." Yoland berjalan mendului.
Mereka kembali ke tempat mereka berpisah tadi. Saat melewati sebuah lorong yang cukup gelap, tiba-tiba terdengar suara isak tangis seorang wanita. Azah menyikut lengan Yoland. Mereka berdua merinding. Seketika bulu kuduk mereka berdiri.
"I...itu siapa Land?" tanya Azah dengan nada takut.
"Nggak tau, duh ngapain pake acara horor horor segala sih." Yoland menggerutu kesal.
Mereka berjalan mengikuti asal suara tangisan tersebut. Mereka berhenti di depan sesuatu yang dingin. Yoland meraba benda yang ada di depannya. Ternyata itu besi. Setelah ditelusuri ternyata itu seperti sel penjara. Suara tangisan tadi lenyap. Karena gelap, Yoland merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya. Dinyalakannya senter. Seketika Yoland dan Azah terkejut melihat sosok wanita berpakaian aneh dengan pergelangan tangan dan kaki yang di rantai.
__ADS_1
~