
Yoland bangun dan mencari Mrs. Zora. Dia mengambil ponselnya di atas meja. Dilihatnya jam menunjukkan pukul 8. Dengan cepat Yoland turun ke bawah dan mencari Mrs. Zora ke dapur.
"Aku laper." kata Yoland sambil duduk.
Mrs. Zora meletakkan makanan di depan Yoland. "Makan dulu ya." kata Mrs. Zora dengan senyumnya yang manis.
"Makan kamu boleh ngga?" Yoland malah memeluk Mrs. Zora dengan erat.
Tiba-tiba Yoland terkejut. Matanya terpaku menatap jendela di dapur yang mengarah ke luar. Seorang perempuan sedang berdiri sambil menatap Yoland. Wajahnya tidak terlalu jelas karena hampir tertutup rambutnya yang panjang. Jantung Yoland berdetak kencang. Nafasnya naik turun. Tangannya meremas lengan Mrs. Zora. Seketika sosok tadi menghilangkan. Yoland menatap ke punggung Mrs. Zora. Lagi-lagi Yoland terkejut. Dia melonjak kaget dan mundur ke belakang.
"Astaga, apa tadi? Kenapa tiba-tiba baju Mrs. Zora jadi seperti baju wanita tadi." batin Yoland.
Mrs. Zora mendekat ke Yoland dan mengusap lembut pipi Yoland.
"Kamu kenapa?" tanya Mrs. Zora dengan nada khawatir.
Yoland menatap Mrs. Zora dari atas sampai bawah untuk memastikan bahwa itu adalah Mrs. Zora.
"Dia pake pakaian normal." batin Yoland lega.
__ADS_1
"Sayang?" Mrs. Zora kembali memanggil Yoland.
"Eh, iya aku nggak apa-apa kok. Ya udah kita makan yuk." ajak Yoland.
Yoland segera beranjak dari tempat dia tadi jatuh terduduk. ***** makannya hilang, akan tetapi dia tetap memaksa makan. Karena Yoland berpikir daripada nanti tengah malem bangun karena lapar, dia masih sedikit takut karena hal tadi.
Selesai makan, Yoland berjalan ke kamar untuk belajar. Meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak memahami apa yang ada di buku. Otaknya sibuk berpikir tentang kejadian tadi. Yoland melirik ke arah Mrs. Zora yang sedang duduk membelakangi Yoland.
"Posisinya kok selalu sama sih." Yoland menggerutu karena kesal melihat Mrs. Zora yang selalu duduk dengan posisi yang sama.
Yoland kembali menatap bukunya. Sekitar satu jam Yoland baru menutup bukunya.
"Kamu nggak ngantuk?" tanya Yoland. Dia mendekat ke Mrs. Zora.
Mrs. Zora hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, aku tidur duluan ya." kata Yoland.
Yoland segera berbaring. Dia memejamkan matanya. "Astaga, apa lagi ini dingin banget." Yoland menggerutu dalam hati. Dia tidak membuka matanya. Sebenarnya ada rasa takut dihatinya saat dia merasakan ada tangan yang memeluk Yoland. Ditambah lagi lampunya dimatikan.
__ADS_1
"Tak gadhang bisa urip mulya
Dadiyo wanita utama
Ngluhurke asmane wong tuwo
Dadiyo pendekaring bangsa….
Wis cep menenga…anakku…
Kae.. mbulane ndadari
Kaya ndas buta nggegilani
Lagi nggolekki cah nangis.." Mrs. Zora menyanyi dengan suara merdu.
Bahkan Yoland merinding mendengar suara Mrs. Zora. Dia juga bingung sejak kapan Mrs. Zora bisa nyanyi lagu-lagu seperti itu. Yoland berusaha untuk tidur. Dia bahkan enggan membuka matanya meskipun dia sangat penasaran dengan ekspresi wajah Mrs. Zora.
Yoland terbangun. Dia merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya. Karena masih setengah tidur, dia hanya meraba benda yang menindihnya. "Rambut? Ah paling Mrs. Zora." batin Yoland. Dia pun kembali terlelap.
__ADS_1
~