
Charles, pria berusia 45 tahun itu dengan gusar mondar-mandir di depan pintu besar sebuah ruangan. Jeritan sang istri dari dalam membuat dirinya semakin gelisah. Sebenarnya beliau ingin menemani proses melahirkan sang istri seperti sebelumnya, akan tetapi dokter melarangnya untuk kali ini.
Dia menantikan anak keenam yang sudah di prediksi berjenis kelamin perempuan itu dengan tidak sabar. Dia sungguh bahagia mengetahui berita tersebut, karena anak pertama hingga ke lima berjenis kelamin laki-laki.
Menurutnya rumah besar ini butuh kehadiran seorang putri. Dia kesal, karena kelima anaknya mempunyai pribadi yang kuat dan mandiri. Dia ingin di usia tua bisa merasakan memanjakan seorang anak.
Dan dikelahiran keenam ini dia begitu berharap itu adalah seorang putri. Margareth istrinya saat ini sedang berjuang keras untuk melahirkan putri yang telah begitu dinantikan dalam keluarga ini.
"Daddy please! kamu membuatku pusing dengan berjalan kesana kemari Seperti itu," ujar Leonel putra bungsunya.
"Ah diamlah, Daddy sedang gugup!" balas Daddy-nya dengan cemberut.
"Kau harus sadar jika tulangmu tidak kuat lagi untuk berdiri terlalu lama," ejek sang putra yang membuatnya tertawa, lalu mengangkatnya.
"Apa kau sedang mengejek Daddy sudah tua? Hem, kau nakal sekali." Memutarnya dalam dendongan.
"Ah Daddy ayolah, aku sudah besar! kau membuatku malu." Nah jawaban seperti ini yang membuatnya ingin memiliki seorang putri.
Di usia Leonel yang menginjak usia empat tahun, dia sudah tidak suka lagi digendong atau dicium. Itu membuat Charles dan Margareth mengeluh. Mereka masih ingin memanjakan anak-anak mereka. Bahkan mencium yang paling kecil saja sudah tidak bisa.
Mereka mempunyai lima putra, yang tertua bernama Emilio windson, yang berarti kerja keras. Karena di kelahirannya, Charles sedang bekerja keras dalam mempertahankan rumah milik keluarganya, usianya saat ini 22 tahun. Memiliki karakter seorang pemimpin.
Yang kedua, Evan windson yang berarti murah hati. Di antara saudara-saudaranya, ia yang paling baik. Sering membantu saudara yang lain ketika ada masalah, Usia 18 tahun.
Yang ketiga, Jasper windson yang berarti berharga. Jasper memiliki karakter paling unggul karena kecerdasannya, usianya 16 tahun.
Yang keempat, Delwyn yang berarti manis dan tampan. Tapi karakternya tidak sesuai dengan arti dalam namanya. Ia sangat jail dan sangat lincah. Dia adalah yang paling sering hilang dalam sebuah acara. Nakal dan sangat pemberani, usia 15 tahun hanya berjarak satu tahun dengan kakaknya Jasper.
Yang kelima adalah Leonel, yang mempunyai arti singa kecil. Setelah Delwyn mulai menginjak usia remaja, Charles ingin memiliki anak lagi dan mengharapkan jika itu seorang putri, sayangnya takdir menentukan jika yang kelima juga seorang putra.
Leonel tumbuh jadi pribadi yang mandiri. Dia ingin jadi laki-laki yang kuat, oleh karena itu di usia empat tahun, dia sudah sering berlatih bela diri. Dan yang paling penting, tak mau lagi mendapat pelukan dan ciuman lagi dari kedua orangtuanya. Itu karena ia sering di ledek oleh Delwyn, kakaknya itu akan menyebutnya singa kecil dalam kastil. Ia tak suka! Karena baginya yang berada dalam kastil itu seorang putri Seperti Rapunzel.
Rumah megah itu sedang menantikan penghuni baru yang akan lahir malam ini. Emilio, Evan, Jasper, dan Delwyn hampir datang sacara bersamaan.
Leonel yang melihat kedatangan mereka langsung berontak minta di turunkan dari gendongan Daddy-nya.
__ADS_1
"Came on Daddy, lepaskan!" Si kecil terus bergerak dalam dekapannya. Charles dengan terpaksa menurunkan putra kecilnya itu.
"Apa Mommy sudah melahirkan?" tanya Evan pada Daddy-nya.
"Belum, proses kelahirannya kali ini lebih sulit dari kelahiran Leonel." Charles menjelaskan dengan mimik wajah cemas.
"Daddy tak perlu merisaukan ini. Mommy sangat kuat, pasti adikku akan lahir dengan selamat." Jasper mengatakan dengan ekspresi datar seperti biasanya.
Entahlah, Charles rasanya ingin menangis jika berada di antara putra-putranya. Mereka memiliki jiwa pejuang Sepertinya. Tapi di jaman ini itu tidak cocok lagi, sungguh ia ingin melihat mereka tersenyum sedikit saja. Mereka semua berwajah kaku. Kecuali Evan, itupun kalau tersenyum terlihat palsu karena pada dasarnya ia pun sama seperti yang lain.
Harusnya dia bangga, tapi Charles kasihan dengan Mommy mereka, suasana rumah ini terlalu tegang. Harusnya ada suara tawa yang ceria, tapi itu mustahil. Keluarganya adalah yang terunik. Memiliki lima putra yang tampan dan berani, namun rumahnya nampak seperti pemakaman. Terlalu sepi dan senyap.
Padahal mereka juga memiliki banyak pelayan dalam rumah ini, tapi mereka hanya terlihat saat bekerja saja. Di usia tuanya Charles masih nampak gagah karena ia dulunya adalah pejuang, pernah menjadi panglima perang di negaranya. Padahal saat itu Ayahnya adalah seorang bangsawan terkenal. Namun didikan keras sang Ayah yang membuatnya jadi pejuang tangguh saat itu.
Suara tangis bayi dalam ruangan membuat para laki-laki di depan pintu menghela napas lega.
"Akhirnya Daddy and Mommy memiliki orang yang bisa dia peluk." Leonel berteriak kencang.
Mereka semua tertawa melihat kegembiraan Leonel. Charles hanya berdecak saja mendengar teriakan putra bungsunya. Sesenang itukah dia karena tidak ingin di peluk lagi.
"Berhenti menggerutu Daddy, masuklah Mommy pasti menginginkan kehadiranmu." Emilio mengingatkan.
"Yah, aku bisa gila terlalu lama bersama kalian," keluhnya yang hanya di balas gelengan oleh putra-putranya.
Membuka pintu itu perlahan, terlihat di sana sang istri sedang terbaring lemah di atas ranjang.
"Hei, kau hebat sayang." Berkali-kali mengecup dahi istrinya.
Margareth hanya membalas dengan senyuman, mereka menoleh ke arah bayi merah yang sedang di bersihkan. Senyum lebar tak henti berkembang di bibir laki-laki itu. Menggenggam erat tangan istrinya.
"Terimakasih, kau memberiku seorang putri," ucapnya pelan di samping telinga istrinya.
"Kau senang sekarang?" tanya istrinya menggoda.
"Yah, sangat senang! Kau melengkapiku dengan kehadirannya." Charles menatap bayi itu tak sabar ingin memeluknya dalam gendongan.
__ADS_1
"Kau ingin menemainya siapa?" tanya Margareth saat sang suami menyambut Putrinya dalam gendongan.
Bayi mungil itu sudah dibalut dengan kain, matanya masih tertutup rapat tapi bibirnya mulai mencari sumber makanannya.
"Aku akan menamainya Samantha, seseorang yang didengar Tuhan." Menoleh ke arah istrinya dan tersenyum, "Samantha aleydis windson" ulangnya dengan mantap.
Kemudian menelungkupkan bayi mungil itu di atas perut istrinya. Bayi itu kehausan, Mereka tertawa melihat putri kecil mereka sangat pandai menemukan yang dicarinya.
"Dia akan jadi wanita pintar sepertimu, sayang." Margareth mengangguk, menangis haru melihat putri kecil mereka.
Mereka tak tau jika di luar sana para putra mereka menunggu dengan gelisah, mereka juga ingin segera melihat adik kecil mereka. Terutama Leonel, dia kesal sedari tadi Daddy-nya tak kunjung keluar.
"Hei kau tidak mengantuk hem?" tanya Evan pada Leonel.
"Aku belum mengantuk!" Padahal matanya sudah merah menahan kantuk sedari tadi. Saat ini pukul satu malam, jelas dia ingin melihat adik kecilnya terlebih dahulu.
"Wah kau akan jadi kakak yang hebat," ledek Delwyn yang di balas dengusan oleh Leonel.
..........
Tanpa mereka sadari ada pihak lain yang juga mengawasi kelahiran sang Putri.
Malam ini telah lahir mutan baru dengan kekuatan yang menakjubkan.
_____________
***Individu yang memperlihatkan perubahan sifat (fenotipe) akibat mutasi disebut mutan. Perubahan itu terjadi pada bahan genetik pada tingkat gen maupun tingkat kromosom.
Untuk lebih mudahnya, di ceritaku ini aku menyebutnya Bakat saja 😉
Misal, ada Telekinesis, Teleportasi, Manusia bunglon, Hisap pikiran, Penyembuhan, dan masih banyak lagi.
Cerita ini hasil dari imajinasi penulis, cerita dengan genre fantasi aksi**.
Semoga pembaca menyukainya 😘
__ADS_1
jangan lupa like n coment ya, penulis akan sangat menghargai setiap apresiasi yang diberikan pembaca 😉*