
Samantha akhirnya terbangun dari tidur panjangnya. Saat membuka mata, yang pertama dilihatnya adalah ruangan asing bernuansa alam. Dinding batu dan perabotan kayu sederhana.
Seseorang terdengar akan membuka pintu ruangan yang saat ini di tempati Samantha. Gadis itu panik segera meraih sesuatu di sekitarnya untuk di jadikan senjata. Malangnya hanya ada pisau buah di atas meja yang paling masuk akal dibandingkan perabotan lainnya.
Samantha tidak tahu mengapa dia bisa terdampar di tempat asing ini, seingatnya dia sedang menunggu bersama Sky di tangga sebuah gedung. Tidak ada ingatan mengenai dia bisa berada di tempat asing ini.
cklek
Pintu itu akhirnya terbuka menunjukkan sosok familiar yang telah sangat dirindukannya. Samantha menjatuhkan pisau di tangannya. Memeluk erat laki-laki itu dengan sedikit isakan. Setelah sekian lama, baru kali ini dia benar-benar menangis setelah beberapa hari, dua orang paling berharga untuknya menghilang tanpa jejak.
"Kau—kau kenapa tega sekali padaku!" Samantha tidak mau melepaskan pelukannya.
Bibirnya bergetar dengan lelehan air mata yang mengalir di pipinya. Menenggelamkan wajahnya dengan suara isakan yang teredam.
Seseorang yang mendapatkan respon tak terduga dari Samantha, dia sedikit terkejut dengan ledakan emosi gadis itu, dipertemuan pertama mereka sejak beberapa hari tidak bertemu. Sebelah tangannya memeluk tubuh gadis itu erat, dan tangan lainnya mengusap rambut panjang Samantha sayang.
Ruangan itu cukup sunyi hingga isakan Samantha terdengar jelas dari luar. Orang di luar ruangan itu mencengkram pedangnya erat. Bibirnya menipis menahan gejolak rasa yang naik ketika mendengar gadis itu menangis.
Dia pasti ketakutan, hatinya seperti di remas memikirkan hal itu. Kakinya ingin sekali melangkah masuk, tapi dia tidak ingin jika nantinya mengejutkan Samantha.
"Kau kemana saja!" Samantha yang tadi memeluk erat Archer, kini mulai memukulnya acak.
Archer menahan tangan Samantha hingga mereka bisa saling menatap. Tangannya terangkat, menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pelupuk mata. Senyumnya yang jarang terlihat kini terbit menggoda.
"Kapan kau mulai menangis lagi seperti ini, Hem?" Katanya lembut dengan nada sedikit meledek.
Terakhir kali dia melihat Samantha menangis ketika dia meminta pulang ke rumah orangtuanya sepuluh tahun lalu, tapi setelah mulai terbiasa dengan House of Talent, Samantha tak pernah lagi menunjukkan air matanya.
Sekeras apapun dia melatihnya hingga terluka, gadis kecilnya ini tak pernah menangis. Dia penyembuh dengan jiwa yang kuat. Tapi, ketika kini melihatnya menangis membuatnya tahu, jika Samantha butuh seseorang untuk mendukungnya.
"Kau menyebalkan!" Samantha mendorong Archer, kemudian duduk kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
"Kau bertambah tinggi setelah beberapa Minggu tidak bertemu, tapi kau jadi gadis cengeng juga sepertinya," ledeknya duduk di samping Samantha.
"Cihh, kau tidak berubah semakin menyebalkan saja!"
"Dimana kita? Sky dimana?" lanjutnya dengan beberapa kebingungan.
"Kita ada di tempat yang sangat jauh dari keramaian. Kau tidak perlu khawatir, bocah itu pasti telah pulang ke House of Talent."
Archer mengungkapkan kebenaran, mereka saat ini berada jauh di kedalaman hutan yang tidak tersentuh oleh manusia. Bahkan satelit juga tidak akan bisa melacak keberadaan mereka.
"Mars, apa dia bersamamu?" Samantha penasaran dengan temannya itu.
"Ada, dia sedang latihan di luar," jawaban dari Archer membuat Samantha jengkel karena Mars sepertinya tidak merindukannya.
Archer mencoba mengecek denyut nadi Samantha, dia sempat takut semalam karena Samantha tak kunjung bangun, dia khawatir jika orang itu akan menipunya. Samantha seharusnya kebal terhadap beberapa jenis bius terkuat sekalipun. Tapi, obat yang di berikan orang misterius itu mampu melumpuhkan indera Samantha untuk beberapa waktu.
"Hei, aku ingin memberimu kejutan. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya!" Archer duduk menghadap Samantha.
"Apa kau masih mengingat keluargamu?"
Tentu saja, tapi kenapa Archer menanyakan hal itu? Samantha mengangguk menanggapi, dia memang tidak ingat wajah mereka, tapi dia masih memiliki ingatan cukup jelas tentang mereka.
Beberapa saat kemudahan, seseorang masuk ke dalam, dengan raut wajah yang sulit di jelaskan.
Samantha manatap orang yang baru masuk itu, dia sedikit familiar dengan wajahnya, tapi tidak begitu yakin.
"Ha—hai, Sam!" Sapanya sedikit di penuhi emosi ingin memeluknya segera.
Samantha tersenyum membalas sapanya, "Hallo!"
Archer yang merasa pertemuan ini terlalu canggung jadi mengusap hidungnya bingung. Karena takut jika akan menjadi pengganggu, memutuskan berdiri dan pamit untuk lanjut latihan. "Kalian bisa mengobrol berdua, karena aku ada urusan lain."
__ADS_1
Samantha mengerutkan keningnya, melihat orang asing itu terlihat sedikit aneh seperti bersemangat tapi matanya memerah. Apakah dia mengenalnya? Samantha agak familiar dengan wajah dan suaranya, tapi dia benar-benar tidak ingat orang itu siapa.
"Apa kau tidak mengenaliku?" tanyanya sedikit kecewa.
Samantha jadi bingung ketika melihat wajahnya yang sedih, dia tersenyum. "Kita sepertinya saling mengenal, tapi aku kadang melupakan beberapa hal, jadi bolehkah kau memperkenalkan dirimu?"
Laki-laki itu menghela napas ketika melihat jika Samantha berusaha menghiburnya. Dia tidak mengambil hati, dengan melihatnya lagi saja itu sudah kebahagiaan terbesar untuknya.
"Kau gadis nakal, bagaimana bisa kau melupakan kakakmu!" Kepalanya menggeleng dengan nada yang sedikit kesal.
Samantha sedikit terkejut, jadi orang di depannya adalah kakaknya. Dia berusaha menggali ingatannya, dia pelupa dan ceroboh, tapi ingatannya cukup baik untuk mengingat kejadian. Dia ingat jika ada laki-laki yang mirip dengan laki-laki di depannya, tapi lebih muda sedang berlatih, dia duduk meneriakinya dengan suara lucu.
"Aku ingat! Apa kau Jasper!"
Samantha tak menyangka bisa bertemu kakaknya lagi setelah sekian lama, jadi apakah keluarganya mencarinya selama ini, atau apakah mereka juga merindukannya seperti dia yang terkadang merindukan mereka?
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Jasper penuh harap, dulu gadis di depannya ini masih kecil saat dia memeluk dan menggendongnya, kini dia sangat ingin memeluknya lagi setelah sekian lama.
Samantha mengangguk, dia juga ingin di peluk. Ayolah, Samantha masih remaja dan kadang butuh perhatian, Archer yang terlalu sibuk hanya bisa sesekali menemaninya, itupun ketika latihan, mereka jarang memiliki kesempatan mengobrol.
Sedangkan Mars, dia lebih sering meledeknya, tapi ketidakhadirannya beberapa hari kemarin cukup membuatnya tertekan. Kemudian Xavier, laki-laki itu perhatian, tapi dia juga sama sibuknya dengan yang lain.
Mereka berpelukan, saling mengungkapkan emosi yang selama ini tidak tersampaikan. Jasper membayangkan, jika ibunya tahu jika Samantha kecil mereka sudah sebesar ini, dia pasti akan mengeluh seperti ketika Leonel tumbuh cepat ketika itu. Dia juga jadi ingat jika Leonel pasti akan sangat senang, saat tahu dia berhasil menemukan adik kesayangannya.
"Kau, bagaimana kau bisa timbuh jadi gadis cantik, kemarin kau masih gadis cerewet yang suka makan coklat!" Protesnya membuat Samantha tertawa.
_______________
Jangan lupa like n komentarnya.
Samantha akhirnya bisa update selain hari minggu.
__ADS_1
Happy reading geez ❤