Lost Princess

Lost Princess
Fight to the end


__ADS_3

Kehancuran bumi ada di depan mata. Semburan lava panas menyebar cepat, membentuk beberapa aliran kecil membuat panik seluruh makhluk hidup disekitarnya. Suara gemuruh semakin keras terdengar beriringan dengan suara ledakan kuat yang memunculkan semburan lava.


Samantha masih mengarahkan kekuatannya untuk menekan bumi yang semakin tak terkendali. Wilayah sekitar yang sudah mencapai jangkauan kekuatannya mulai aman, tapi tidak dengan wilayah lain yang masih jauh dari radar kekuatannya.


"Sepertinya waktunya tidak cukup," Ujar Xavier yang melihat kehancuran masih berlangsung di sebagian besar wilayah.


Samantha tahu letak kesulitannya. Menekan bumi tidaklah butuh waktu lama jika tidak harus menemukan jiwa sekaligus. Elgan membantunya untuk merasakan kehidupan dari jarak ratusan mil. Tapi itu juga jadi menghambat waktunya.


"Tidak perlu semuanya, cukup tekan saja buminya," bisik Elgan lembut, seperti ada kesejukan yang menyegarkan pikirannya.


"Mereka akan mati."


Samantha bisa merasakan setiap kehidupan yang dia selamatkan. Elgan membuatnya bisa untuk merasakannya, bagaimana bisa dia mengabaikan mereka begitu saja.


Elgan tahu batas kemampuan Samantha sudah terlampau jauh. Tapi yang menghambatnya adalah rasa kasihan.


"Aku akan membantu."


Suara familiar memasuki indera pendengarannya. Matanya terbuka, senyum tipis terpatri di wajahnya. Tapi itu tak berlangsung lama, dia tidak punya waktu walau hanya sekedar menyapa.


Sky tahu Samantha perlu fokus untuk saat ini. Dia baru saja datang bersama Mars dan para mutan dengan bakat kecepatan.


Dia cukup senang, akhirnya bisa melihat gadis itu lagi. Sungguh, dia ketakutan saat dulu tidak menemukan Samantha disisinya. Gadis itu terlihat agak berbeda, terutama rambutnya yang memiliki beberapa helai bewarna putih, tunggu! Apa itu uban?


Saat matanya tanpa sengaja bertemu tatap dengan mata abu-abu milik Elgan, dia agak terkejut. Laki-laki yang berdiri di sisi Samantha itu berkedip padanya. Kemudian, Mars tiba-tiba menariknya. Dia masih menoleh ke belakang melihat pada Samantha dan Elgan, hingga suara Mars lagi-lagi menyadarkannya.


"Siap untuk membantunya?" Mars tahu jika Sky masih terlalu kecil untuk misi mereka.


Sky mengangguk, dia memperhatikan para mutan dan manusia yang gugur dalam perang, juga mereka yang terpanggang oleh lava panas. Hanya beberapa saja yang tersisa, itupun dengan banyaknya luka.


Sayap hitamnya menjadi ikon saat kemudian mengepak, terbang tinggi dan menghilang. Mars hanya tersenyum tipis melihat kesombongan bocah kecil itu. Dia bilang rindu dengan Sam, tapi sudah pergi begitu cepat saat mendapatkan perintah dari Xavier.


"Aku akan pergi ke arah selatan, Samantha belum menjangkaunya. Pasti banyak yang butuh bantuan."


Xavier mengangguk dan melihat Mars beserta sebagian mutan yang tadi datang bersamanya sudah melesat pergi. Menyisakan para mutan yang terluka akibat perang.


Manusia juga tak tinggal diam, karena kekuatan tekanan Samantha menghambat jalur komunikasi, mereka hanya bisa membantu korban luka pada jarak paling dekat. Permukaan bumi yang tidak rata dan reruntuhan bangunan membuat mereka kesulitan mengevakuasi korban yang terluka.


"Aku melihat Mommy." Senyum terlukis di wajah cantiknya.


"Hebat bukan? aku bisa melakukan lebih, you wanna try?"


Elgan tersenyum melihat Samantha mengangguk. Dia berbisik di telinganya. Memberitahukan apa yang bisa dilakukannya.


"Dia terlalu dekat!" komentar Delwyn yang sejak tadi memperhatikan adiknya.


Archer tersenyum mendengar ucapan Delwyn. Awalnya dia juga merasa begitu saat Elgan dekat dengan Samantha, bahkan dia juga khawatir jika laki-laki itu akan menyakiti Samantha. Tapi, dia yakin, apapun tujuan Elgan saat ini, dia tidak akan menyakiti Samantha-nya.


"Kau seharusnya melihat ini. Dia gadis yang tangguh," ucapnya sambil mengusap rambut Jasper yang ternoda darah.


Delwyn tersenyum miris, dia merasa gagal. Seharusnya Jasper tidak berjuang sendirian untuk mencari Sam, semua karena yang lain sudah mulai putus asa untuk menemukannya. Tapi Jasper tidak, dan dia berhasil.


Archer tahu apa yang sedang dirasakan oleh Delwyn. Tatapan kesakitan itu juga dilihatnya pada Samantha tadi. Mereka tidak bisa mengubah takdir. Kematian adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.

__ADS_1


Evan sendiri, dia tengah kebingungan mencari Emilio dan Daddy-nya. Terlalu kacau hingga menyulitkan pencarian.


Elgan menarik Samantha lebih dekat. Menyerap pikirannya yang kini sudah tidak lagi terkunci. Segel yang dibuat Xavier padanya terlepas saat Samantha keluar dari tempat pelatihan. Dia hanya menarik bagian khusus untuk kemudian dikirimkan pada seseorang.


"Mommy." Bayangan Samantha sekilas muncul di hadapan Margareth.


Panggilan itu membuatnya terpaku pada sekilas bayangan yang telah menghilang. Dia saat ini sedang berdiri diantara reruntuhan bangunan bersama kedua cucunya. Lainnya tengah sibuk membantu korban dari guncangan bumi yang tiba-tiba memuntahkan lava panas. Untunglah guncangan hebat itu telah berhenti. Jika saja dia tahu, ada seseorang yang berusaha keras menekannya.


Sebenarnya beberapa pesawat langsung mengudara menyelamatkan yang bisa selamat saat guncangan terjadi. Termasuk keluarga Windson, tapi hanya beberapa menit mereka di udara, pesawat tiba-tiba harus turun karena ada masalah dengan medan gravitasinya. Hal tersebut adalah efek dari kekuatan Samantha yang menekan energi bumi.


"Mommy!" Kali ini suara itu terdengar lebih jelas.


"Grandma, itu suara siapa?" Abi bertanya, begitupun dengan Niel yang seperti familiar dengan suara itu.


"Samantha!" seru Margareth dengan suara serak.


"Samantha," gumamnya di sela isakan.


Abigail dan Neil kompak memeluk grandma-nya. Mereka bisa mendengar suara itu juga. Tapi, tidak ada siapapun saat ini.


"Aku akan pulang!" Suara itu bergema membuat Margareth sedih sekaligus lega. Setidaknya dia tahu, putrinya itu baik-baik saja.


Elgan membuka matanya, dia melihat air mata mengalir di pipi gadisnya. Hanya seperti itu, karena Samantha harus melanjutkan visinya. Setelah bisa melihat Mommy-nya baik-baik saja, meskipun tidak bisa memeluknya, dia merasa bersemangat. Hatinya patah karena kematian Jasper, tapi kini dia tahu, ada seseorang yang menunggunya.


"Tidak perlu memaksa, kau sudah melakukan dengan baik!" Elgan menyentuh kerutan samar di dahi Sam, juga rambutnya yang berubah warna menjadi putih keperakan.


Samantha masih terus berusaha sebisanya, meskipun di beberapa kawasan sudah tidak tertolong lagi. Lautan lava panas sudah meratakan wilayah tersebut. Dia tidak akan berhenti, setidaknya hingga bumi juga menghentikan aksinya. Meskipun permukaan bumi hancur, setidaknya mereka masih harus memiliki tempat untuk bertahan hidup.


Xavier terus memperhatikan Elgan, dia tahu anak itu tidaklah sederhana. Dia tidak bisa mengerti tujuannya. Kehadirannya bersama Samantha dan kemudian membantu menyelamatkan bumi bersamanya juga tidak bisa ditebak. Tapi jika melihat dari tatapannya, Xavier berpikir jika Elgan sudah menebak semua yang terjadi saat ini.


Elgan menoleh, memberikan senyum tipis pada Xavier.


Mars bersama yang lainnya merasa semakin buruk, melihat kehancuran bumi menyebar dimana-mana cukup untuk merasa sakit. Hanya beberapa yang bisa mereka selamatkan. Guncangan itu meratakan habis bangunan-bangunan indah yang dulunya berdiri kokoh dengan gagah, kini luluh lantak menimbun manusia di dalamnya.


Sky yang juga membantu proses evakuasi korban selamat di arah berlawanan merasa semakin sulit. Saat kekuatan Samantha mencapai posisinya, Gravitasi yang dirasakannya semakin besar, membuatnya kesulitan terbang lebih tinggi.


Hanya beberapa yang bisa dia selamatkan, itupun harus dilakukan dengan cepat atau dia ikut tertimbun oleh reruntuhan dan lava panas yang siap menyembur dari dalam bumi.


Samantha masih terus mencoba menjangkau seluruh permukaan bumi. Bibirnya memucat, seperti tidak ada arah mengaliri tubuhnya. Jantungnya memompa lebih lambat. Rambutnya sudah sepenuhnya putih keperakan.


Xavier menyadari hal tersebut. Dia akan menghentikan Samantha saat Elgan sudah lebih dulu mencegahnya.


"Hentikan dia! Dia akan mati!" teriaknya marah hingga terdengar oleh beberapa orang disekitarnya.


Archer terkejut mendengarnya. Dia melihat pada dua orang yang saling menatap tajam. Apa yang dia dengar barusan?


Setelah melihat pada Samantha, dia baru memahami keadaannya. Meletakkan Jasper yang sudah terbaring tanpa nyawa dengan perlahan. Kemudian menghampiri mereka. Dia menatap pilu keadaan Samantha yang mulai melemah.


"Kau!" tuduhnya pada Elgan yang masih berdiri menghalangi Xavier untuk menghentikan Samantha.


"Brengse'k! Apa tujuanmu?"


Pertanyaan Xavier mewakili kegundahan Archer. Dia tidak mengerti apa niat sebenarnya dari Elgan. Laki-laki itu terlihat dekat dengan Samantha, dan dia berpikir jika laki-laki itu memiliki perasaan pada Samantha-nya. Tapi kenapa dia melakukan ini?

__ADS_1


"Membuat kalian tunduk di bawah kekuasaanku!" jawab Elgan santai sengaja memicu amarah Xavier.


Xavier langsung memberikan perlawanan. Mereka saling menyerang dengan kekuatan masing-masing. Dia membentuk ruang pembatas, dimana tidak ada siapapun yang bisa masuk ke dalamnya. Hanya ada Xavier dan Samantha bersamanya.


Archer hampir gila saat mencoba menghancurkan penghalang tapi gagal. Dia bisa melihat ketiga orang dalam ruang pembatas itu, tapi tidak bisa mendengar ataupun masuk kedalamnya.


"Elgan! Aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada Samantha!" teriaknya frustasi, membuat yang lainnya ikut panik dan membantunya.


Xavier tidak bisa menjatuhkan Elgan. Tapi dia tidak menyerah, dia akan menghentikan Samantha.


"Sam, bangun. Hentikan!" Xavier mengirimkan pesannya, tapi Samantha masih belum berhenti.


Elgan tersenyum tipis melihatnya. Samantha akan berhenti saat dia memintanya. Tapi tidak orang lain. Karena yang bisa dia dengar hanya suaranya.


"Samantha!"


Panggilan Xavier tidak sedikit mendapatkan respon dari gadis itu. Samantha masih terus menekan bumi dengan seluruh kemampuannya. Hingga dirinya terlempar keluar dari pembatas karena tidak bisa menahan perlawanan Elgan.


"Kenapa kau keluar, apa yang terjadi pada adikku?" Delwyn bertanya panik melihat hanya ada adiknya dan laki-laki asing di dalam sana.


Xavier tidak menjawab, dia sedang memikirkan cara lain untuk menghentikan Samantha. Mengabaikan pertanyaan dari beberapa orang disekitarnya.


Archer merasa sangat marah, dia tidak bisa menembus pembatas yang dibuat Elgan.


Elgan menyadari banyak kemarahan terarah padanya. Dia masih berdiri dengan menggenggam tangan Samantha. Tidak sedikitpun berniat menghentikannya. Menopang tubuh Samantha yang mulai melemah.


"Sedikit lagi, aku akan tetap mendukungmu. Jangan takut!" bisiknya lembut mencapai pendengaran Samantha.


Beberapa menit berlangsung kacau untuk orang-orang yang berusaha menghancurkan pembatas. Tapi jauh di luar sana Samantha hampir berhasil. Sedikit lagi, dan semuanya akan selesai.


Dapat dilihat dari luar pembatas jika Samantha tidak lagi bisa berdiri. Sepenuhnya bersandar pada Elgan yang masih berdiri menopangnya. Wajah cantiknya semakin pucat dan kulitnya tidak lagi bewarna terang, seperti tubuh yang tak lagi bernyawa.


Hingga saat semuanya telah selesai, Samantha akhirnya membuka mata. Dengan lemah dia berusaha menggapai wajah Elgan. Senyumnya terukir manis saat kemudian matanya terpejam bersamaan dengan tubuhnya yang terkulai lemah.


"Kau menyelesaikannya dengan baik!" Elgan menarik Samantha dalam pelukannya.


Semua kebingungan, saat dua orang di dalam ruang pembatas tiba-tiba menghilang. Seperti kekosongan ikut membawa mereka dalam kehampaan.


Bumi sudah baik-baik saja dengan jejak kehancuran di setiap permukaannya. Sudah selesai! Samantha berhasil menyelamatkan bumi tempat mereka tinggal. Ramalan itu benar.


"Dia selalu menghilang!" Charles yang pertama membuka suara, mewakili kehampaan setiap orang yang mengharapkannya kembali.


______________________


hallo geez, akhirnya aku menyapa kalian lagi setelah sekian lama hilang (timpuk author)


ada dua pertanyaan nih buat para readers.


Mau lanjut season 2 enggak?


Mau bonus chapter enggak? (season 1)


jangan lupa komentarnya ya, boleh panjang dan mengkritik. karena author juga dalam proses belajar.

__ADS_1


__ADS_2