
Samantha memasuki ruangan Xavier, begitu pintu terbuka terlihat tiga orang laki-laki sedang berdebat. Samantha menghela napas lelah, ini pasti akan berakhir sangat lama.
“Duduk!” Ucap Xavier tanpa melihat kearahnya.
Samantha duduk di sebelah Mars, ia melirik laki-laki itu, mengangkat alisnya seakan bertanya, “Apa semua aman?”
Mars tak begitu memperdulikan gadis di sampingnya, berusaha untuk mengabaikan apapun yang terjadi di ruangan ini nantinya, jalan hidupnya penuh batu terjal akibat kehadiran gadis nakal, disampingnya itu.
“Ingin menjelaskan sesuatu, Sam?” Tanya Xavier hanya dengan sedikit melirik kearahnya.
Archer yang awalnya sibuk menunjukkan beberapa dokumen pada Xavier juga melirik sinis pada kedua muridnya itu. Archer tersenyum sinis, seakan senyumnya itu mengatakan jika mereka akan berakhir disini! Samantha mencebikkan bibirnya kearah Archer.
“Aku ingin mendengar alasanmu Sam! Dan untuk Mars, kau akan mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari gadis disampingmu!” Pernyataan Xavier memicu kecurigaan Samantha terhadap Mars.
“Hei apa yang telah kau laporkan bodoh!” pikirnya sambil melotot kearah Mars.
Mars yang merasakan jika dirinya seperti sedang diperhatikan pun menengok, dan mengangkat alisnya, ia tak mengerti kenapa tiba-tiba Samantha jadi melotot marah kearahnya.
“Aku hanya ingin mengetahui sesuatu!” jawab Samantha pendek yang mendapat lirikan tajam dari ketiga lelaki di ruangan itu.
Karena melihat situasi ini tidak menemukan jalan, Xavier mencoba mengajak Samantha berbicara melalui pikirannya. Namun, gadis itu masih bungkam. Tentu saja itu membuat Xavier kesal dan meradang. Terjadi percekcokan diruangan itu, Karena Samantha terus berbelit-belit.
“Ya!” bentak Samantha pada Xavier dan Mars. “Aku memang salah, dan aku akan menerima hukumanku.”
Kali ini pandangannya terarah pada Mars. Ia kesal karena sedari tadi laki-laki itu menyela ucapannya dan membuatnya jadi terlihat makin salah dihadapan Xavier dan Archer, ya meskipun Archer hanya diam sedari tadi.
“Kau hebat sekali! Apa kau semacam pembaca pikiran, peramal, dukun, penyihir atau hanya sok tahu?! Oh-atau kau kembaran Mr.Potato Head?!!!” teriak Samantha keras, meluapkan kekesalannya pada Mars.
Archer tergelak, sambil memutar-mutar kursinya seolah sedang menonton sirkus, dengan aksi monyet cerdas tukang mengomel. Hei, Samantha monyetnya atau Mars? Sepertinya jika itu Mars sangat tidak cocok karena ada yang tampak lebih cocok darinya.
“Kalian lucu sekali!” Archer menatap keduanya dengan sisa tawa, “Kau seperti kucing yang sedang berpikir kalau dirinya gajah.” Tukas Archer yang membuat Mars dan Xavier jadi menahan tawa.
“Harimau!” Ralat Sam kesal, sambil memutar bola matanya. “Apa ada pertanyaan selanjutnya? Bisakah kita percepat ini? Aku sibuk!”
Ketiga laki-laki dalam ruangan itu berdehem, mereka mengembalikan mimik serius diwajah mereka, karena mengetahui jika gadis itu sudah sangat kesal.
Xavier menyunggingkan senyumnya, “Tidak sabar dengan hukumanmu, sayang?!”
“Fuc-e!” gumam Samantha pelan yang terdengar jelas ditelinga Mars.
__ADS_1
Xavier mengajukan beberapa pertanyaan lagi seputar orang yang menculiknya, Samantha menjawab, jika itu seorang mutan tanpa memberitahu namanya. Membuat mereka semakin tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh Samantha.
Ketiganya sudah sangat mengenal kebiasaan dari Samantha, dan saat Samantha berbelit-belit maka ia sedang menyembunyikan sesuatu. Xavier tak ingin terlalu memaksa, tapi ia terus berusaha mengumpulkan informasi dari gadis itu.
Beberapa hukuman di sebutkan untuk keduanya, Sam dilarang latihan dialam liar dan diharuskan untuk membantu prof.Shin di lab. Sedangkan Mars akan latihan bersama yang lainnya untuk menguji ketahanannya, berlatih bersama Samantha menurunkan penjagaannya.
“Hei! River pasti susah sangat merindukanku! Aku sudah berjanji akan mengajaknya keluar besok!” Protes Samantha yang jelas tidak di terima.
Samantha sudah sangat kesal, ia diam-diam memasang earphone ditelinga yang ditutupi rambut panjangnya. Memutar musik 'Dance monkey-metal cover' sambil memasang wajah seakan sedang mendengarkan.
Mereka sedang membahas beberapa peraturan baru yang harus ditaati oleh Samantha dan juga Mars. Keduanya selain menjalani hukuman juga harus melaporkan kegiatan selama masa hukuman.
Samantha mendengarkan musik dengan membayangkan laki-laki bertato itu lagi. Meski kejam, Samantha merasakan kesepian saat berada didekatnya. Samantha mengetahui perasaan seperti itu karena awal berada di House of Talent, ia juga merasa kesepian.
Samantha keluar dari ruangan bersamaan dengan Mars, mereka diusir dari ruangan itu begitu Xavier mendapatkan telepon penting dari seseorang.
Mars berbisik ketelinga Samantha saat berjalan berdampingan di lorong, Samantha kesal mendengar apa yang diucapkan laki-laki itu, tangannya mengepal ingin memukul Mars, namun laki-laki itu dengan cepat menghindari setiap pukulannya.
“Goddamiiitt!! Mars kau menyebalkan!” teriak Samantha pada Mars yang berlari cepat meninggalkannya.
Samantha kembali ke kamarnya sebelum ke lab membantu prof.Shin memantau beberapa Healing Chamber dan membantunya dalam hal penelitian anehnya, Samantha tak menyukai kegiatan penelitian.
Saat memasuki ruangan yang nampak kacau dan berserakan mayat orang-orang yang ia yakini terlibat dalam sebuah penelitian ilegal. Jasper merasa jika ada perasaan tidak asing menghampirinya, bahkan ia bermimpi buruk setelah kejadian itu. Seperti melihat seseorang sedang kesakitan dan memanggil nama Leonel.
Jasper benci perasaan seperti ini, ia tidak menceritakan ini pada Delwyn, adiknya itu sedang dalam masa pubertas yang membuatnya menyebalkan.
Delwyn sedang berusaha mendekati seorang dokter cantik, dan Jasper harus menjadi korban amukan Daddy-nya jika mereka gagal dalam tugas.
“Hei, uncle kau hampir menabrak ku!” tegur Neil, ia sedang membawa banyak buku ditangannya.
“Kau ingin membawanya kemana?” tanyanya pada sang keponakan.
“Ke kamar Leonel! Laki-laki pemalas itu selalu menyuruhku untuk melakukan banyak hal!” tukasnya bersungut-sungut.
“Kau bisa menolaknya jika tidak mau!”
“Kau tahu jika ia laki-laki kesepian, aku harus menghiburnya agar tidak menangis!” ujar Neil melebih-lebihkan.
Kata yang keluar dari bibir mungil keponakannya itu membuat Jasper sadar Jika ia terlalu sibuk dan jarang mengobrol dengan adik kecilnya itu. Leonel jadi pribadi yang tertutup setelah menghilangnya putri kecil kelurga ini, Samantha.
__ADS_1
Leonel mengambil alih setengah tumpukan buku yang dibawa oleh Neil, seakan mengetahui maksud dari uncle-nya itu, Neil mengikuti langkah Jasper yang mengarah kekamar Leonel.
Saat melewati kamar Samantha ia sempat menghentikan langkahnya, Neil memutar bola matanya malas. Semua orang dirumah ini hampir selalu melakukan hal yang sama ketika melewati kamar itu.
Saat Sampai didepan pintu kamar Leonel, Jasper berbisik ketelinga Neil. Mereka berencana mengejutkan lelaki yang berada dikamar itu. Masuk perlahan hingga tidak meninggalkan suara sedikitpun.
Terlihat jika seseorang sedang berbaring malas disana. Mereka kompak menggeleng melihat pemandangan didepan. Neil dan Jasper kompak meletakkan buku ditangannya, lalu mereka berdiri dikedua sisi ranjang berukuran king size itu.
“Kebakaran, Leonel ada kebakaran!” teriak Neil.
“Kamar Samantha kebakaran Leon! ayo cepat kita padamkan!” tambah Jasper, yang langsung membuat Leonel terbangun dan langsung berdiri cepat turun dari ranjangnya.
Neil dan Jasper tertawa melihat wajah panik Leonel, bahkan laki-laki itu hampir tersungkur jatuh. Melihat jika Jasper dan Neil sedang tertawa, Leon menyadari jika ia sedang menjadi bahan lelucon.
“Itu tidak lucu!” tukasnya sinis, membuat Neil semakin tergelak.
Leonel memang paling sensitif jika mendengar nama Samantha disebut, ah dia sepertinya benar-benar kesal. Leonel merebahkan kembali badannya, memejamkan mata erat.
“Kau tahu jika benar ada kebakaran pun juga pasti sistem akan secara otomatis melakukan tugasnya, kau saja yang terlalu berlebihan!” komentar Jasper semakin membuat Leonel kesal, ia hanya mendengus tanpa ingin berkomentar.
“Kau tahu, aku semalam bermimpi. Aku melihat seseorang memanggil-manggil namamu!” Jasper mengubah mimik wajahnya jadi serius.
“Berhenti bercanda Jas! Aku tak suka!” gumam Leonel.
“Dia seperti kesakitan, dia terus memanggil namamu!” lanjut Jasper.
“Apakah itu seorang wanita cantik Jas?! Wah uncle Leon akan memiliki kekasih!” ledek Neil sambil tetap asik membaca bukunya.
“Aku merasa familiar dengan seseorang itu, tapi tidak terlalu jelas wajahnya! Aku juga merasa mengenal suara itu!” Leonel yang mengerti arah pembicaraan Jasper jadi duduk menatap kearah Jasper.
Jasper mengangguk meyakinkan, Jasper tahu jika selain Mommy-nya, Leonel lah yang Paling terpukul diantara mereka, atas kehilangannya putri keluarga ini. Dialah yang terakhir bersama gadis kecil itu.
____________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**
__ADS_1