
Barisan pasukan gabungan manusia dan mutan, mereka di bawah komando Emillio disisi Manusia, sedangkan Xavier mengkomandoi kelompok mutan. Mereka tengah menunggu dengan jantung berdegup kencang. Rasa takut juga semangat bercampur jadi satu.
Mereka berdiri tegak dengan membentuk ratusan barisan yang siap menahan perlawanan pasukan Rosgard. Tank berjejer di barisan pertama yang siap melakukan serangan besarnya. Ada beberapa pesawat tempur dengan senjata berteknologi tinggi, dimana itu dibuat untuk memberikan resonansi pada mutan pengendali pikiran juga rudal yang siap meluncur meluluh lantakkan lawan.
Sayangnya, berdasarkan informasi tim pengintai, itu memang sebanding dengan kekuatan Rosgard yang telah melatih para mutan dan beberapa kloningan terbaik mereka. Teknologi yang mereka gunakan juga lebih pada pengacau medan gravitasi. Senjata mereka juga lebih pada senjata jarak jauh. Karena mereka sendiri sudah memiliki bakat yang cukup untuk pertarungan jarak dekat.
Archer memegang panahnya bersama para pasukan pemanah di atas gedung-gedung belakang pasukan pertahanan. Medan pertempuran tidak rata, karena bekas ambruknya gedung yang rusak akibat pertempuran pertama.
Setiap waktu yang berjalan bagai pertaruhan sisa waktu yang mereka miliki. Mereka telah berjuang dari beberapa Minggu lalu, tapi pertempuran kali ini berbeda. Ada genderang perang yang di tabuh pada tiap jiwa-jiwa pejuang.
Wajah tegang juga sikap waspada yang terlihat pada setiap orang. Hanya para mutan pimpinan Xavier yang memang lebih siap karena mengetahui kelemahan kaum mereka sendiri.
"Aku masih ingat senyumnya terakhir kali, aku tidak mau itu benar-benar jadi yang terakhir!" ujar Jasper semangat.
"Aku juga ingin melihatnya!" gumam Evan tersenyum tipis.
Semua mulai bisa mendengar gerakan seperti bumi yang berguncang. Ada suara langkah kuat terdengar. Semakin dekat suara itu, semakin cepat aliran darah ke jantung yang terpompa.
Archer di belakang sana juga menajamkan mata karena pasukan pemanah akan menjadi penyerang kedua setelah para pesawat tempur lebih dulu menyerang. Mereka tidak hanya pandai memanah, tapi juga penembak jitu. Untuk itulah mereka melakukan penyerangan dari ketinggian dan berada di posisi paling belakang.
Setiap orang dibekali tameng khusus berbentuk virtual, yang tidak akan tembus hanya dengan sekali serangan. Mereka telah siap, meskipun mental mereka telah tergerus keputusasaan. Kapan semua ini akan berakhir? Pertanyaan yang paling sering terucap dari mulut setiap orang.
"Jangan takut, kita kuat!" Seruan lantang Emillio mengobarkan api yang hampir padam.
"Ratakan mereka, dan biarkan mereka tahu kekuatan kita. Hasil dari perdamaian antara mutan dan manusia! Mereka adalah penjajah yang ingin menguasai bumi kita sendirian! Jangan biarkan mereka mendapatkannya?"
Setiap kalimat menjadi bahan bakar penyemangat. Emillio melirik Charles, laki-laki tua itu sangat keras kepala. Padahal dia sudah mengingatkannya agar tetap di camp. Sayangnya, dia adalah Charles Windson. Seluruh keluarga Windson adalah pejuang yang keras kepala.
"Aku tidak sabar!" gumam Delwyn menggenggam pedangnya.
"Sombong, awas saja sampai kau mati tak berdaya!" balas Jasper sambil mendengus.
"Aihhh, kau meremehkanku. Lihat saja, pedangku akan mengoyak mereka tanpa ampun!" ujarnya lagi membuatnya Jasper terbatuk.
__ADS_1
"Cih!" Jasper mengabaikan adiknya itu, dia kembali fokus ke depan.
Tampak ratusan mutan berlari dengan wajah angkuh. Mereka berhenti tepat ratusan meter di depan mereka. Terlihat jika mereka pasti berbakat. Lihat saja wajah-wajah bringas yang seakan siap menelan mereka.
Xavier tersenyum culas saat matanya bertemu tatap dengan Rosgard jauh di depan sana. Dia tersenyum miris melihat para mutan jadi seperti monster. Mereka seperti tak lagi memiliki empati atau rasa kemanusiaan. Padahal mereka sendiri sebenarnya adalah manusia. Hingga ada bakat yang timbul karena sistem perubahan fenotipe yang mulai menurun pada generasinya.
Sisi manusia harusnya tetap ada pada mutan. Mereka berbeda hanya karena bakat yang mereka miliki secara alami dari lahir. Berbeda dengan pasukan mutan Rosgard yang sudah memiliki tambahan bakat buatan lainnya, dengan cara kloning.
"Ingat untuk berjuanglah demi identitas kita!" Xavier mengirimkan pesannya melalui telepatis ke seluruh pasukannya.
Semua mutan mengangguk setuju. Mereka tidak rela, jika mereka dianggap monster. Tapi mutan di depan sana malah menunjukkan sifat monster yang membuat mereka muak.
"Lakukan!" perintahnya secara telepatis saat Emillio juga memerintahkan penyerangan.
Suara ledakan yang saling bersahutan juga suara jeritan memilukan mulai terdengar. Pedang yang bertemu dengan kuku tajam atau peluru yang menabrak tameng. Semua terjadi dalam satu waktu.
Archer juga telah melesatkan panahnya menembus pertahanan musuh bersama para pasukan pemanahnya. Mereka tak pernah berhenti melesatkan panah hingga akhirnya di gantikan oleh penembak jitu. Archer sendiri juga melesatkan tembakannya.
Para pemanah turun untuk membantu di garis depan yang sudah nampak kacau. Mereka juga akan berperang hingga titik darah penghabisan.
Xavier beradu kekuatan pikiran dengan Rosgard. Hanya dua orang itu yang tetap diam tapi saling menyerang dalam pikiran mereka. Menghiraukan suara gemuruh dari tanah yang sedari tadi terdengar sejak di mulainya perang.
"Ada yang aneh!" teriak Delwyn pada kakaknya Evan
"Entahlah, apa itu? Seperti berasal dari tanah!" Evan menyahuti.
Memang ada para mutan yang sedari tadi melakukan penyerangan dengan elemen tanah. Tapi keduanya merasa itu bukan berasal dari gerakan mereka.
"Coba tanyakan pada yang lain!" serunya lagi.
"Tidak bisa, terlalu jauh. Amuniksiku hampir habis!" Evan mengeluhkan karena rupanya pasukan lawan memiliki tingkat kekebalan, yang dimana harus menembak beberapa kali baru bisa membunuhnya.
"Ambil punyaku!" Delwyn melemparkan amunisinya, karena dia sedari tadi lebih sering menggunakan pedang.
__ADS_1
Keduanya terus melawan dan kadang berlindung di balik tumpukan manusia jika terdesak. Tapi, ada yang membuat mereka marah juga terkejut. Jasper tergeletak jauh di depan sana setelah melawan mutan dengan tubuh yang terbuat dari bijih tembaga. Terlihat tubuhnya yang berlubang bukan berupa daging.
Evan berlari menghampiri Delwyn yang akan melakukan penyerangan balik pada mutan itu. Semua juga tahu betapa dekatnya Delwyn dan Jasper yang hanya memiliki jarak umur satu tahun. Ada ikatan emosi yang lebih kuat pada keduanya.
"Jangan gegabah, cari tahu dulu kelemahannya!" Evan memeluk erat adiknya yang terus memberontak.
"Brengsek, akan ku bunuh dia!" teriak Delwyn memberontak penuh emosi.
Archer juga melihatnya. Dia merasa kosong, apa yang harus dijelaskannya nanti pada Samantha. Dia telah berjanji akan menjaganya. Dengan gerakan cepat dia mendekat dan mengamati hingga memiliki waktu tepat menyeret tubuh penuh darah Jasper.
"Hei bangunlah! Kau tidak boleh mati bodoh!" Archer terus menepuk pipinya setelah berhasil membawanya menjauh dari garis depan.
"Uhuuk!" Darah keluar dari mulutnya masih dengan mata yang tertutup rapat.
"Tolong!" Matanya berusaha menemukan penyembuh di sekitar sana, tapi sepertinya mereka juga dalam situasi sulit.
"Bertahanlah, Samantha pasti sebentar lagi datang. Dia akan menyembuhkanmu!" ucapnya dengan suara bergetar kala menyebutkan nama Samantha.
Di tempat yang jauh dalam ruangan berdinding kaca, Elgan masih berdiri frustasi karena Samantha tak kunjung bangun. Padahal gemuruh suara bumi yang siap meledakkan isinya sudah terdengar dari tadi.
"Kenapa kau tak kunjung bangun? Tidakkah kau mengkhawatirkan saudaramu?" Elgan menyentuh sisi wajah Samantha lembut.
Tidak bisa menunggu lagi, Elgan memberikan suntikan kejutan untuk memaksa putri tidur untuk segera bangun. Berharap itu akan berhasil. Tapi setelah sekitar 20 menit, Samantha masih juga betah dalam ilusinya.
"Apakah pelatihannya sesulit itu?" Elgan terlihat agak marah karena jika Samantha terlambat, maka bumi ini tidak akan tersisa.
Hingga dirasakan ada gerakan pada jari-jari Samantha yang sedang ia genggam. Bibirnya tersenyum tipis siap menyambut bangunnya sang putri.
"Come on, Sam!"
_______________________________
Jangan lupa like n komentar ya 😉
__ADS_1