
Samantha mengajak River untuk berlatih memanah, kecepatan kuda jantan itu semakin stabil. Samantha rajin mengajak River berlatih, agar kepekaannya terhadap gerakan juga lebih terlatih. Xavier memantau lewat robot kecil berbentuk lebah yang mengeluarkan suara lebih halus dari aslinya.
Samantha mengetahui jika setiap gerakannya diawasi, tidak menghiraukan semua itu dia tetap terus bergerak mengikuti instingnya. River adalah kuda pintar yang mengetahui perasaan pemiliknya. Kuda itu mengikuti setiap perkembangan Samantha dalam latihan. Dia akan berhenti ketika gadis itu menggila ingin tetap berlatih hingga waktu yang sangat lama.
Xavier percaya jika River akan menjaga Samantha. Kuda itu termasuk dalam jenis kuda pemilih. Samantha beruntung karena bukan hanya kepemilikan yang mengikat mereka, tapi perasaan saling ingin menjaga yang membuat mereka saling terikat.
Hingga menjelang petang, Samantha baru kembali dari latihannya. Sky menyambutnya di pintu masuk dengan wajah datar yang menyebalkan.
"Kau menungguku? Manisnya." Samantha berusaha memeluk Sky yang langsung terbang menghindar.
Sky saat ini sudah bisa menggunakan sayapnya untuk terbang rendah. Sepertinya bantuan chip pada punggung yang terhubung untuk menggerakkan sayap kecil itu berhasil. Healing Chamber berhasil membuat tubuh Sky tidak menolak keberadaan chip itu.
Samantha mendesah kesal, Sky sama menyebalkannya dengan Mars. Ah, memikirkan itu membuat Samantha jadi merindukan laki-laki itu.
Samantha ikut pencarian sejak dua hari lalu, kini sudah tepat lima hari Mars dan Archer menghilang.
Pertikaian kadang terjadi diberbagai tempat. Pihak manusia juga mulai melakukan cara kasar untuk menekan mutan yang berkeliaran di luar sana. Samantha juga akan melanjutkan pencarian lagi besok.
Saat ini hampir semua orang familiar dengan senjata. Mereka dipersenjatai untuk saling menyerang. Mutan yang meskipun memiliki kekuatan juga akan kualahan jika harus menghadapi banyak orang bersenjata.
"Xavier menunggumu di ruangannya," ujar Sky dengan terbang lebih dulu meninggalkan Samantha.
"Hei, kau curang! Tunggu aku bocah nakal!" seru Samantha yang jelas diabaikan oleh bocah itu.
Mutan yang berada di House of Talent juga mulai dibiarkan untuk meninggalkan tempat ini untuk melatih instingnya. Mungkin slogan perdamaian yang diucapkan Xavier akan mulai dipertanyakan.
Samantha masuk ke dalam ruangan, yang di dalamnya terdapat Sage yang sedang menjelaskan sesuatu pada layar besar di tengah ruangan.
Samantha duduk di sisi jendela one piece tanpa menghiraukan apa yang sedang mereka bicarakan. Xavier sempat menoleh dan hanya tersenyum melihat wajah muram Samantha.
__ADS_1
Xavier saat ini sulit terhubung dengan Samantha, padahal biasanya dia akan bisa memanggil Samantha, tanpa perantara seperti yang dilakukan Sky tadi. Xavier ingin membahas itu dengan Samantha.
Samantha sebenarnya belakangan ini sering mendengar suara familiar yang dia pikir suara Elgan. Suara dipikirkannya menyuruhnya untuk menunggu. Suara itu cukup mengganggu dan kadang membuatnya frustasi dan merasa gelisah. Suara itu kadang muncul saat dia sedang berlatih dan membuatnya sangat kacau.
Beberapa menit setelahnya Xavier menghampiri Samantha yang masih terdiam. Gadis di depannya memang bersikap aneh akhir-akhir ini.
"Apa seseorang mengganggumu?" tanya Xavier dengan senyum ramahnya.
Xavier sengaja menutup pikiran Samantha agar tidak terbaca oleh pembaca pikiran selain dirinya. Tapi siapa pun bisa memasuki pikiran Samantha jika dia seorang telepatis. Xavier mencurigai jika Elgan mulai menemukan keberadaan Samantha. Samantha masih belum menceritakan jika penculik yang menculiknya beberapa bulan lalu adalah Elgan.
"Ya, tapi bukan maslah besar," jawab Samantha tanpa menatap Xavier.
Samantha tak pernah bisa berbohong. Xavier mengetahui jika Samantha sedikit tidak stabil di beberapa waktu.
"Kau mengenalnya?" tanya Xavier lagi.
"Mungkin bisa jika dia memiliki kekuatan pengendali pikiran, dan kau tahu jika saat ini hanya ada aku yang bisa melakukannya. Jangan khawatirkan, karena aku mengunci memorimu." Xavier bisa memanipulasi memori dan dia malakukan penguncian seperti kotak Pandora pada memori Samantha.
Apa yang dikatakan Xavier adalah kenyataan. Banyak Telekinesis di dunia ini, dan Telekinesis hanya bisa mengendalikan benda atau gerak tubuh seseorang dengan jarak dekat, tapi untuk saat ini pengendalian pikiran hanya dirinya yang bisa.
Pengendalian pikiran artinya mengendalikan seluruh anggota gerak juga pikiran subjek. Itu bisa dilakukan dari jarak jauh sekalipun. Seperti halnya telepatis yang bisa dilakukan dari jarak jauh, berkomunikasi dengan seseorang dalam pikiran.
Samantha ingin mengatakan kegelisahannya saat tiba-tiba Sage memanggil Xavier. Mereka berdua menoleh pada sosok Sage yang masih terpaku pada layar.
"Pengintai memberi informasi jika banyak mutan berkumpul di wilayah selatan, pergerakan itu terjadi dalam semalam." Sage sedang mencoba untuk terhubung dengan satelit dan memantau wilayah itu.
"Ada yang aneh. Kupikir Rosgard memulai peperangannya dari daerah selatan. Berbalik dari tempat virus itu di buat. Jadi apakah ini semacam pengalihan?" tanya Sage tak mengerti kenapa Rosgard memilih arah yang berlawanan dari tempat diletakkan virus C5AE.
"Tidak! Ini rencana cadangan. Dan situasi sedang memihaknya karena manusia terfokus pada daerah Utara." Penjelasan Xavier berdasarkan sosok Rosgard yang dikenalnya begitu cekatan dan pandai memanfaatkan situasi.
__ADS_1
"Kita hanya perlu memantau keadaan untuk saat ini, kita akan melihat apa yang akan dilakukan manusia untuk menangani ini." tambah Xavier.
"Lalu bagaimana Archer dan Mars, saat ini saja keberadaan mereka belum diketahui. Fokus kita akan terpecah." Samantha akan mencari keduanya apapun yang terjadi.
"Kita akan mencarinya, mungkin membagi tim untuk pencarian dan pengawasan. Jika situasi tak lagi bisa di atasi, maka kita harus turut campur dalam perang itu." Sage menatap layar yang menunjukkan wilayah selatan yang menunjukkan banyak titik merah, tapi wilayah itu tamak sepi.
"Kita butuh bantuannya." Xavier memikirkan seseorang yang telah lama pergi.
"Dia tidak akan mau untuk bergabung lagi." Sage putus asa dengan orang yang sedang mereka bicarakan.
"Dia akan mau jika Samantha yang memintanya." Xavier monoleh pada sosok Samantha yang menatapnya tak mengerti.
Seseorang yang dimaksud Xavier adalah orang yang pernah ikut andil dalam mendirikan House of Talent. Beberapa tahun setelah tempat ini berdiri, orang itu memutuskan untuk pergi karena ingin menjalani hidup normal dengan identitas barunya.
Dia mutan dengan kemampuan bisa mendeteksi keberadaan mutan dengan hanya dengan melihat pikiran seseorang. Dia bisa hidup menyesuaikan dirinya berada diantara manusia. Tidak ada yang aneh nampak pada fisiknya. Tidak akan ada yang mengetahui jati dirinya yang seorang mutan, kecuali dia menginginkannya.
Sesungguhnya semua mutan hanya ingin bisa hidup normal tanpa diganggu atau dikucilkan. Untuk itu House of Talent berdiri untuk membuat mutan tidak lagi merasa sendirian. Tapi sesungguhnya itu hanya mengurung mereka lebih jauh lagi dari kehidupan normal.
Setidaknya Samantha juga memiliki pemikiran seperti itu. Kenapa mereka bersembunyi? Tidak bolehkah jika mereka ingin hidup normal tanpa dipandang sebelah mata hanya karena mereka terlahir dengan bakat menakjubkan.
Samantha keluar dari ruangan itu setelah Xavier menjelaskan tugasnya yang akan dilakukan esok hari.
_____________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**
__ADS_1