
"Ada apa? Kau ingin menanyakan sesuatu?" Kepala adiknya yang berada di atas dadanya terasa bergerak mengangguk.
Saat ini keduanya sedang berbaring di atas tempat tidur dalam suasana yang tenang. Saat-saat seperti ini yang paling dinantikan oleh Jasper. Bisa mendengar cerita adik perempuannya, memanjakannya, juga memeluknya saat tidur.
"Kenapa? Kau mau mengikuti rencananya?" Sam, bingung dengan semua orang di sini. Kenapa mereka mau mendengarkan laki-laki kejam itu.
Jasper menaikkan selimut hingga menutupi seluruh tubuh Sam, menyisakan kepalanya saja, udara dingin di sini sangat menusuk kulit hingga sampai ke tulang. Meskipun ada perapian, tetap saja udara malam terlalu dingin pada bulan ini.
"Banyak hal, mungkin kau harus mendengarnya sendiri! Dan dia juga tidak memberiku pilihan jika kau lupa!" Ya, Sam juga tahu jika laki-laki itu sangatlah egois dan tak terbantahkan.
"Bagaimana bisa kalian bertemu?" Sam penasaran, pasti bukan sebuah kebetulan mereka ada di tempat ini.
"Saat itu aku terluka, Mars adalah lawan yang tangguh, kami sama-sama dalam keadaan yang cukup buruk. Seseorang datang tanpa terlihat, membawa kami masuk dalam pesawat yang tidak terlihat oleh mata maupun tidak juga terdeteksi oleh tekhnologi." Sebenarnya Jasper juga penasaran terhadap orang itu, tekhnologi yang digunakannya sangat asing, seperti bukan dari planet ini.
"Apa hal yang sama juga terjadi pada Archer?"
"Ya, bahkan lawan Archer juga, kau tadi lihat wanita dengan tubuh fleksibel? Dia anak buah Rosgard."
"Misi kalian gagal?"
Maksud Samantha, sebenarnya pihak manusia dan pihak Xavier memiliki tujuan yang sama, yaitu menggagalkan rencana Rosgard dalam peluncuran Virus C5AE. Jadi, apakah misi mereka pada akhirnya gagal, atau mereka berhasil meski terjebak di tempat ini.
"Misi itu gagal, peluncuran itu bukan yang sebenarnya. Nanti kau akan mengerti, coba tanya pada Elgan!" Tentu saja, Samantha memilih mencari tahunya sendiri dari pada harus berhubungan dengan laki-laki kejam itu.
Perbincangan mereka dapat didengar oleh seseorang yang saat ini sedang mengamati kekacauan Dunia. Irish abu-abu itu tak pernah lepas memandangi setiap gerakan pada layar.
"Telah dimulai!" gumamnya dengan senyum tipis.
_____________
Samantha masih belum ingin bangun dari tidurnya, udara dingin semakin membuatnya enggan keluar dari selimut. Suara pedang juga peluru yang saling berdesing tak mengganggu tidurnya. Tapi, saat ada suara kuda memekik, dia langsung bangun dengan mata terbuka lebar.
"Aku kenal suara itu!"
Samantha langsung berlari keluar mencari asal suara yang sangat dikenalnya. Begitu familiar hingga jantungnya berdegup kencang tiap suara itu terdengar berulang.
"Hei, pakai alas kakimu!" seru Mars yang sedang memilih jenis senjata.
__ADS_1
Semua tempat telah dia telusuri, tapi bahkan jejak dari suara itu tak sedikitpun terlihat.
"Kau mendengarnya?" Samantha yang telah pergi dari ruang senjata di dekat tempat pelatihan kembali lagi, menanyakan keraguannya pada Mars.
"Ya, aku dengar!"
"Brengsek, kuda jelek dimana kau?" marah Samantha yang biasanya cukup berhasil untuk memancing River keluar.
Suara memekik terdengar lebih keras lagi. Samantha kini tahu dimana dia. Berlari kencang dengan senyum merekah melewati beberapa orang yang menggeleng melihat tingkahnya.
"I find you!" teriak Samantha ketika melihat kuda itu tengah memberontak, River tidak suka disentuh, hanya Samantha yang dia biarkan menyentuhnya.
Kuda itu langsung mengenali suara keras yang telah lama dirindukannya. Namun, keangkuhannya membuat dirinya hanya berdiri sombong tanpa melihat pada gadis yang berlari ke arahnya.
Samantha menubruk tubuh kuda dan langsung menaikinya. River tidak lagi memberontak, itu menunjukkan jika dia telah merasa tenang. Samantha memeluk punggung kuda dengan ocehan yang diabaikan oleh River.
Archer menghampiri keduanya. Dia tau jika suatu hari nanti, River akan ikut dalam perjalanan penting dalam hidup Samantha.
"Hallo River, kau tak nampak berubah!" Kuda itu memekik seakan menjawab sapaan Archer.
Samantha sedikit tak suka, karena sedari tadi River bahkan tak sedikitpun meresponnya. Dia tahu jika dia sudah jarang memerhatikan River, karena latihan ketat yang dijalaninya. Dan hasilnya cukup memuaskan, Samantha sudah cukup baik dalam seni bela diri.
"Dia Cyclops, robot perantara untuk menyampaikan pesan Elgan." Archer memberi tahu.
Samantha juga selama tiga hari di tempat ini belum pernah sekalipun melihat sosok Elgan. Sebenernya itu lebih baik untuknya. Entah kenapa, dia merasa sedikit gelisah ketika namanya disebutkan.
Suasana hutan yang rimbun benar-benar menutup mereka berinteraksi dengan dunia luar. Akses komunikasi tertutup rapat. Mereka semua telah mengamati, dan tidak menemukan keanehan pada hutan ini. Tapi kenapa, setalit tak bisa menemukan lokasi tempat ini?
Elgan terlalu misterius untuk mereka, bahkan pertanyaan tentang kenapa dia tidak berada di pihak Rosgard juga masih belum diketahui. Laki-laki itu tak tersentuh, juga memberikan rasa takut hanya dengan menyaksikan keterdiamannya.
"Dia menyuruh kita masuk!" Archer membaca pesan pada layar robot Cyclops.
"Bagaimana jika dia punya rencana jahat dan memaksa kita ikut dalam rencananya?"
Sam, tidak mengenal dekat laki-laki itu. Tapi, tiga hari tinggal di atap yang sama membuatnya tahu jika Elgan terlalu menakutkan.
"Kita lihat saja dulu!"
__ADS_1
Mereka berjalan menuju lokasi, terlihat jika yang lain juga di panggil untuk datang. Mars sepertinya juga tidak menyukai laki-laki itu. Wajahnya yang biasanya terlihat datar, kini tampak raut marah dengan rahang mengeras.
"Ingat, rencana kita?!" Jasper berbisik pada Archer, kedua laki-laki itu telah banyak berbagi informasi selama di tempat ini.
"Kita lakukan, jika kita tidak di jalan yang sama dengannya!" Archer yang paling rasional diantara mereka, Jasper ahli strategi yang akan mengkoordinasikan rencana mereka.
"Kalian tidak bisa melakukannya, dia mutan tanpa jiwa!" Komentar Mars yang sedari tadi diam, berjalan di belakang keduanya.
Samantha mendengar meski suara yang mereka buat sangatlah kecil, dia menolak rencana mereka. Dia juga tidak setuju, saat Mars menyebut Elgan mutan tanpa jiwa, nyatanya ada dua alter ego yang menempati tubuh itu. Mengingatnya, membuat Sam merinding.
Perjalanan menuju lokasi hanya membutuhkan sepuluh menit, hingga akhirnya sampai pada lantai ruangan, yang bergetar saat mereka masuk melalui pintu.
Lantai itu bergerak membentuk anak tangga mengarah ke bawah, Jasper lebih dulu menuruni tangga diikuti yang lainnya. Mereka masih tak percaya ada ruangan sebesar dan secanggih ini tak bisa terdeteksi oleh satelit.
Ruangan bernuansa putih yang memiliki fungsi khusus. Tidak ada kekuatan yang bisa bekerja di tempat itu. Mars yang bisa melesat cepat juga tak bisa melakukannya. Mutan mengalami situasi berat yang menekan kekuatan mereka, hanya Jasper dan Archer yang tidak terpengaruh karena keduanya manusia.
Namun, hal itu juga tidak berpengaruh pada Samantha. Tidak ada tekanan yang bisa dirasakannya. Dia malah merasa tubuhnya jadi ringan, seperti ada partikel di tubuhnya yang merenggang hingga menyegarkan tubuh.
Semua menatap aneh pada Samantha. Archer memeriksa tangan Sam, dia bisa merasakan energi mengalir melalui jari-jari gadis itu. Matanya menyipit, bibirnya terkunci rapat dengan fikiran yang berkerja keras untuk memahami semuanya.
"Apa ini jenis kekuatanmu yang lain?"
Mars ikut menyentuh tangan Samantha yang ternyata memberikan pengaruh pada tubuhnya. Dia tidak lagi merasa ada tekanan. Saat tangannya terlepas dari tangan Sam, tekanan itu kembali menyerangnya.
Vanessa hanya diam di dekat Archer, dia juga merasakan adanya tekanan. Seperti ada sesuatu yang terus menekannya hingga menyebabkan kesulitan bernafas, hanya ketenangan yang bisa membuat tubuh untuk rileks.
"Dia tidak sesederhana itu, Rosgard tidak akan mencarinya jika dia tidak memiliki sesuatu, dan Xavier juga tak akan begitu sangat melindunginya, kalian harusnya tahu itu!" Setelah mengatakan hal, itu semua menatapnya tajam, hanya Samantha yang masih nampak bingung juga penasaran.
Beberapa waktu berlalu, barulah ada pintu lain yang terbuka pada sisi dinding berwarna putih itu. Mungkin itu juga di sebut teknik teleportasi, karena pintu itu langsung menghilang ketika mereka telah melewatinya.
Seseorang berdiri di depan layar besar yang menunjukkan situasi di beberapa wilayah. Ruangan luas itu tidak memiliki benda, seperti ruang kosong tanpa batas. Tidak ada dinding ataupun atap, hanya ada kegelapan yang memberikan cahaya pada titik tengah dimana Elgan berdiri.
Ketika pada akhirnya laki-laki itu menolehkan kepalanya, itu hanya terfokus pada sosok gadis yang melihatnya dengan mata lebarnya, dia nampak sedikit terkejut. Elgan cukup puas dengan reaksi gadis itu. Menyeringai dengan tatapan tajam, membuat getaran tak terlihat mencapai Samantha.
_____________
Apa rencana mereka, ikuti kelanjutannya.
__ADS_1
Happy reading, terimakasih untuk support kalian ❤
*stay healthy geez*