Lost Princess

Lost Princess
Healing Chamber


__ADS_3

Samantha baru saja selesai dengan marah dan tangisnya. Putri kecil itu meminta pulang, dengan menunjukkan reaksi tantrum yang umum di alami pada anak-anak.


Archer kualahan mengendalikan amarah Samantha, ia angkat tangan jika menghadapi anak kecil. Karena di House of talent, Sam hanya akrab dengan Archer dan Xavier. Maka, kedua orang itu lah yang bisa mengajak Samantha berinteraksi. Tapi karena Archer gagal memenangkan Samantha, jadilah Xavier yang harus turun tangan langsung.


"Hei, sudah cukup tenang? atau kau ingin menangis lagi?" tanya Xavier dengan wajah tenang seakan sedang mengejek apa yang di lakukan Samantha tadi.


Samantha hanya mendengus kesal, wajahnya memerah dengan tangan terlipat di Depan dada.


"Ikut atau tetap di sini?" pertanyaan yang sekaligus ancaman ini di tanggapi Samantha dengan dengusan.


"Ya udah ayo! dasar laki-laki tua tak berperikemanusiaan!" Gerutu Samantha sembari melewati Xavier yang hanya menggeleng melihat kelakuan gadis kecil berusia lima tahun itu.


Mereka berjalan menuju ke ruang lab, Karena Xavier harus mengecek keadaan 95 orang yang berada dalam tabung, di bawah pengawasannya.


Saat sudah berada di ambang pintu, Sam menutup mulut terkejut dengan apa yang dilihatnya. Di dalam sana ada banyak tube berbentuk memanjang dengan dipenuhi cairan hijau, yang di dalamnya juga ada seseorang yang terhubung dengan selang oksigen dan beberapa alat menyala di atasnya.


Kakinya melangkah perlahan mengikuti jejak langkah Xavier, Matanya terus meneliti pada orang-orang yang berada dalam tube, melewati setiap tube dengan banyak pertanyaan dalam pikirannya. Mereka sama sekali tak bergerak, meski tertutup cairan hijau di dalamnya, ia tetap bisa melihat jika di dalam itu adalah orang sungguhan.


Kakinya berhenti melangkah tepat di belakang Xavier, laki-laki itu sedang berbicara dengan laki-laki botak berjas putih, khas pakaian lab. Xavier juga Samantha menggunakan baju seperti mereka sebelum masuk ruangan itu tadi. Karena prosedur untuk masuk ke dalam ruangan lab adalah harus steril agar tidak membawa kuman masuk dan mencemari apa yang ada di dalamnya.


Menunggu Xavier selesai berbicara dengan orang itu. Samantha melangkah mendekati salah satu tube yang berisi anak laki-laki yang menurut Samantha se usia dengan kakaknya Leonel. Tangannya menyentuh dinding kaca tube dan mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. Bibirnya menempel lucu, setelah benar-benar menempel baru ia bisa lumayan jelas melihat sosok di dalamnya.


Namun gerakan mata yang terbuka membuat terkejut, tanpa menjauhkan wajahnya, Samantha membuka mulut membentuk huruf o dengan gigi yang sedikit terlihat. Tangannya meraba hingga tepat di depan wajah sosok di dalamnya. Samantha tidak takut, hanya terkejut. Ia bahkan tersenyum lebar menyapa sosok di dalam tube.


Xavier mencari Samantha yang tadi ada di belakangnya. Matanya menemukan jika Samantha sedang berusaha berinteraksi dengan salah satu pasien dalam sebuah tube. Xavier mengenali sosok dalam tube yang sekarang sedang menatap aneh ke arah Samantha. Jelas saja di waktu pertama kesadarannya, matanya di sambut oleh pemandangan makhluk imut di depannya.


"Sam," panggil Xavier menghampiri keduanya.


"Dia tidak akan bisa mendengarmu!" kekehan Xavier tak bisa disembunyikan.


Ia merasa lucu melihat Samantha yang sedang memperkenalkan dirinya pada seseorang yang berada dalam tabung berisi cairan warna hijau. Samantha juga menoleh ke arahnya dengan kerutan di dahinya.


Xavier mengangkat Samantha dalam gendongannya. Ia menunjukkan layar yang terdapat garis-garis yang berarti detak jantung laki-laki dalam tube tadi sudah membaik.

__ADS_1


"Kau beruntung, Hari ini adalah hari pertama Mars keluar dari Healing Chamber." Xavier menyuruh laki-laki botak yang berbicara dengannya tadi untuk membuka tube milik anak laki-laki tadi.


"Kenapa ada banyak orang berada dalam tabung cairan hijau itu? Kalian apakan mereka?" tanya Samantha penasaran.


Xavier menunggu proses lahirnya Mars setelah pengobatan selama satu tahun di dalam cloning tube atau rahim buatan atau bisa juga di sebut healing chamber.


"Kau tahu jika ada beberapa orang yang lahir tidak sempurna atau mereka biasanya bilang itu cacat lalu di buang oleh keluarga mereka dan di sinilah mereka, kami menyelamatkan yang bisa di selamatkan. Yang tadi kamu ajak bicara, namanya Mars. Mars mengalami synesthesia atau kemampuan memabukkan indera, Itu membuatnya lambat mengungkapkan apa yang ia lihat atau rasakan. Kami memperbaiki masalahnya, menanamkan chip untuk menstimulasi otaknya dan merawatnya dalam tube ini, kami menyebutnya Healing Chamber!" Jelas Xavier panjang dan gadis di depannya terdiam dengan wajah lucu tak mengerti.


Memutar bola matanya malas, Xavier membawa Samantha lebih dekat ke arah tabung Mars. Anak laki-laki itu terus memperhatikan gadis kecil imut yang juga sedang memperhatikannya.


Xavier menurunkan Samantha, lalu menyuruh Samantha melihat apa yang akan terjadi. Laki-laki botak tadi melepaskan selang gas yang membuat Mars jadi bergerak mencari udara, melihat respon mars sudah cukup bagus. Laki-laki botak itu membuka tube yang berbentuk memanjang dengan cairan hijau yang meluber membasahi lantai.


Samantha berada paling dekat dengan anak lelaki di depannya. Mars tetap diam pada tempatnya tanpa menghiraukan yang lain. Ia hanya fokus menatap pada gadis kecil cantik di depannya.


"Xavier!" Panggil Samantha pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari anak lelaki di depannya.


"Ehm!" Xavier hanya berdehem manjawab panggilan gadis kecil dengan wajah merah itu.


"Apa dia tidak malu, tidak memakai baju dan celana. Kalian pelit sekali tak memberinya pakaian." Seloroh Samantha sedikit malu dan terlihat rona merah di wajahnya.


Xavier baru menyadari kebodohannya. Bagaimana ia bisa lupa, tiap mereka yang di tempatkan dalam Healing Chamber memang harus telanjang demi pengobatan agar lebih efektif. itulah fungsi cairan itu untuk membantu menstabilkan tubuh. Dan berwarna hijau sehingga tidak terlalu terlihat bentuk tubuhnya.


Xavier langsung membawa Samantha dalam gendongannya, dan berlalu keluar dari ruang lab.


"Shin, pakaikan anak itu pakaian. Dia tidak sopan sekali berdiri di depan gadis tanpa pakaian." Gerutu Xavier yang membuat Shin menggaruk kepala botaknya.


Mars masih memperhatikan kepergian gadis kecil dalam gendongan Xavier. Shin memberikan jasnya dan menyuruh Mars mengikutinya untuk mandi. Bau dari cairan obat itu sungguh membuat dirinya mual.


....


"Xavier, apakah semua yang di dalam tube itu adalah orang mati?" masih dalam gendongan menuju ke ruangan Xavier.


"tidak, tapi mereka sedang sakit dan di obati. Orang mati tidak bisa hidup lagi. Kami hanya membantu, dan kematian tetap kuasa Tuhan!"

__ADS_1


"Oh, seperti malaikat?" Xavier mendudukkan Samantha di sofa ruangannya.


"Entahlah!" Xavier menghubungi Shin lewat telepati.


Samantha berdiri menuju ke jendela kaca one piece. Meraka bisa melihat luar tapi luar tidak bisa melihat yang di dalam.


"Aku tidak punya kekuatan, bolehkah jika suatu hari nanti aku pulang ke rumah?" tanyanya menengok ke arah Xavier.


"Kekuatanmu adalah menyembuhkan, apa kau tak ingin menolong mereka yang terluka?" tunjuknya pada beberapa murid yang sedang latihan di aula dalam. Terlihat dari atas jika mereka latihan dengan sungguh-sungguh. Luka dan darah juga resiko dari sebuah latihan. Bahkan latihan yang mereka lihat ini menurut Samantha terlalu keras, dari pada saat ia melihat kakaknya berlatih pedang.


"Kenapa mereka harus bertarung? Mereka tidak akan terluka jika tidak saling melukai?" protes Samantha dengan mimik wajah lucu.


"Karena mereka harus lebih kuat untuk melindungi yang lemah! kau akan mengerti suatu hari nanti!" Ujar Xavier lalu tak lama terdengar ketukan dari luar.


Membuka pintu hanya dengan Telekinesisnya. Lalu muncul anak laki-laki tadi yang kini sudah terlihat tampan dengan wajah tetap datar.


Tanpa menengok ke arah Samantha ia langsung menghampiri Xavier. Anak laki-laki itu memiliki kemampuan kecerdasan yang melampaui batas, namun terhalang boleh penyakitnya. Ia lebih lama merespon dari pada orang lainnya. Tapi setelah perawatan masalah itu selesai. Awalnya ia hanya bisa berbicara dengan terbata-bata namun dengan bantuan chip yang di tanamkan dalam otaknya, ia bisa merespon dengan baik. Sepertinya Healing Chamber berhasil membuat tubuhnya terbiasa dengan benda asing dalam dirinya.


"Apa tubuhmu merasa lebih baik?" tanya Xavier sembari melangkah duduk di kursinya.


"Ya, terimakasih!" Ucap anak laki-laki itu.


"Perkenalkan dia Samantha, dia penyembuh. Mulai sekarang kau akan jadi pelindungnya. Mengerti!" Pertanyaan tegas itu langsung di angguki oleh Mars.


"Kenapa aku harus di jaga?"


"Karena kau paling kecil di sini! dan namanya adalah Mars, teman barumu!" jawab Xavier tanpa melihat ke arahnya.


Xavier sudah menjelaskan situasinya pada Mars melalui telepati. Peran Mars sangat penting. Karena banyak hal yang harus di selesaikan, ia harus memberikan perlindungan pada Samantha selagi ia tak bisa mengawasi. Dan penjagaan itu berlaku seumur hidup.


Mars mengerti, penyembuh dengan kekuatan luar biasa jelas menjadi incaran. Dan untuk Kekuatan lainnya. Xavier tak memberi tahu karena mungkin saat ini lebih baik jika hanya sedikit yang tau.


Di hari ini lah Samantha akan mulai nyaman dengan rumah barunya, dia akan benar-benar mulai menikmati peran putri yang hilang, tanpa tahu jika keluarganya masih terus mencari dengan berbagai cara. Illona dapat melihat dalam penglihatannya jika Samantha berada di tempat asing dan baik-baik saja. Hanya itu yang Illona tahu, tapi setidaknya itu membuat mereka mengurangi kecemasan.

__ADS_1


Bersama Mars, Samantha akan menjalani hari sebagai putri hilang dengan banyak petualangan. Pertemuan mereka hari ini adalah awal untuk hubungan yang lebih kental dari darah dan lebih erat dari saudara. Karena Mars sudah berjanji dalam hatinya akan melindungi Samantha dengan hidupnya.


__ADS_2