Lost Princess

Lost Princess
Pick up


__ADS_3

Samantha berdiri menunggu Sky bersiap. Misinya adalah menjemput Mr.Riz sebelum petang. Menurut informasi terakhir, orang yang mereka cari itu tinggal tidak jauh dari sini, dia menetap di Inggris sudah sejak beberapa tahun lalu.


Alasan kenapa Samantha menjalankan misi bersama Sky adalah karena anak itu akan menunjukkan sesuatu yang akan membuat Mr.Riz tertarik. Menurut informasi dari Xavier, orang itu sangatlah sensitif. Samantha dilarang untuk terlalu banyak bicara dan tidak boleh membawa senjata.


Samantha akan menjemput Mr.Riz setelah mengirimkan surat titipan Xavier untuk seseorang. Saat Samantha bertanya kenapa tidak pakai telepati saja? Xavier menjawab jika ini harus disampaikan langsung. Samantha mengerti, semua orang sangat sibuk hari ini dengan misi masing-masing.


Sky muncul dari kamarnya dengan jubah kecil yang dapat menutupi sayap indahnya. Samantha memerhatikan penampilan sosok kecil berwajah datar itu. Sampai sekarang Samantha tak mengerti kenapa Sky tidak menyukainya.


"Not bad." Komentar itu terlontar dari bibir Sam setelah dirinya beranjak pergi.


Sky mendengar gadis itu seperti mengejeknya. Mendengus kesal, langkah kecilnya berusaha menyusul langkah besar Samantha.


Mereka memasuki ruang senjata bersama Sage, meski tidak akan membawa senjata seperti kata Xavier, tapi tetap saja mereka butuh perlindungan. Sage menunjukkan hasil ciptaan anak didiknya.


Sebuah benda kecil yang terhubung langsung dengan kacamata berlensa bening. Benda itu terbang sesuai dengan perintah sang pemakai kacamata. Dia akan memproyeksikan apapun yang ada didepannya. Tiap kacamata akan terhubung dengan dua benda terbang. Fungsi lainnya adalah seperti tameng, jadi dia bisa melindungi pemakai dari tembakan peluru.


"Waw, aku menyukainya." Samantha langsung memakainya dengan mengerakkan tangannya yang membuat benda terbang itu bergerak sesuai gerakan Samantha.


"Kau tidak boleh memakainya kecuali terdesak," tegur Sage membuat senyun di wajah gadis itu lenyap.


"Ingat untuk tidak melakukan gerakan yang mencurigakan. Manusia tidak boleh mengetahui identitas kalian, mengerti?" Kedua bocah itu mengangguk membuat Sage dengan terpaksa menyerahkan kacamata itu.


Sage sebenarnya masih ragu mengirim Samantha dan Sky menjalankan misi ini. Mereka berdua tidak meyakinkan, apalagi Sky yang masih begitu kecil.


"Kalian akan pergi bersama Brian." Xavier masuk dengan membawa jepit rambut untuk Samantha.


"Bukankah dia ikut misi pengintaian?" tanya Samantha sambil tangannya terulur menerima jepit rambut dari tangan Xavier.


Jepit rambut itu berfungsi sebagai pemberi sinyal juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi. Samantha sudah sering menggunakan jepit rambut seperti itu kala sedang berlatih diluar.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak ingin misi kalian gagal." Sungguh itu sebenarnya menyinggung Samantha, karena dia jadi merasa diremehkan.


Samantha keluar lebih dulu meninggalkan tiga laki-laki yang acuh saja dengan kepergiannya.


Tidak lama, Sky menyusul Samantha yang telah lebih dahulu masuk dalam pesawat yang hanya bisa memuat empat orang. Bentuknya cukup aneh, seperti batu akan tetapi bisa terbang.


Mereka sampai di atap sebuah gedung. Brian turun lebih dulu dan membantu Sky turun. Sistem menyuruh mereka segera menuju sebuah rumah sakit untuk penyampaian pesan.


Samantha melihat pada Brian yang menggendong Sky di depan tubuhnya. Mengendikkan bahu menyetujui ide itu, kaki kecil itu pasti akan kesulitan jika berjalan mengikuti mereka.


Perjalanan menuju rumah sakit yang memang tidaklah jauh dari gedung tempat mereka mendarat tadi. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mereka sudah sampai di tempat yang telah ditentukan.


"Kita akan menunggu di sana saja," tunjuk Samantha pada kursi taman rumah sakit.


Mereka menunggu, tapi Brian ijin pergi untuk sebuah urusan. Samantha mengiyakan dan menunggu di taman bersama Sky. Mengamati orang berlalu lalang dan sesekali terdengar ada bunyi sirine mobil ambulance yang memekakkan telinga. Terlihat ketika mobil itu datang, beberapa orang berseragam putih tergopoh-gopoh menarik seseorang dari dalam mobil yang tergeletak tak berdaya.


"Kau malah melamun," ucap Sky sarkasme.


Sky bosan duduk menunggu di sana. Terlebih lagi Samantha juga hanya diam saja, mereka berdua seperti orang bodoh yang heran dengan apa yang terjadi di sana. Sky tidak membenci manusia tapi juga tidak menyukainya.


Sikap manusia yang sombong memang sering kali sangatlah menyebalkan. Sky acuh saja melihat beberapa orang tergesa-gesa menolong seseorang yang baru saja tiba, di halaman depan pelataran rumah sakit dalam keadaan terluka parah.


Samantha melihat pada tangannya. Samantha tak mengerti dari mana bakat itu berasal. Tapi satu yang membuatnya penasaran, kenapa tubuhnya merasa seperti tersengat tiap dia menyembuhkan seseorang. Hal ini hanya diketahui olehnya saja.


Samantha pernah bertanya pada Xorn yang juga memiliki bakat penyembuhan selain dapat memanipulasi gelombang elektromagnetik dan gravitasi. Xorn saat itu hanya menjawab jika saat dia membantu menyembuhkan orang lain, maka energinya ikut terkuras.


Samantha mengamati tangannya sambil terus berpikir, kekuatan macam apa yang dimilikinya. Xavier bahkan belum mengetahui itu dan meyakini jika itu kekuatan yang besar menurut ramalan.


Hanya satu bayi yang lahir dari keturunan Aleydis yang akan memiliki kekuatan besar, dan ramalan itu sudah ada dari ribuan tahun yang lalu. Kelahirannya ditandai dengan bulan yang bewarna merah semerah darah.

__ADS_1


Semua menunggu kehadiran sosok yang diramalkan itu, hingga suatu malam kakek Samantha yang juga mempunyai kekuatan penyembuhan bermimpi, dia didatangi oleh sosok bercahaya yang mengatakan jika keturunannya akan hadir dan membawa kekuatan besar yang diberikan oleh-Nya. Sosok itu adalah dewa penyembuh, saudara dari Dewi Artemis.


Saat itulah ibu Samantha mengetahui dari ayahnya jika bayi yang akan dilahirkannya akan jadi mutan dengan kekuatan penyembuhan paling kuat. Namun, sayangnya tanda-tanda kelahiran Samantha sudah dimulai sejak dua hari sebelum kelahirannya. Para mutan pun mengetahui jika ramalan itu akan terjadi.


Semua mutan yang mengetahui perihal ramalan tersebut, menelusuri garis keturunan Aleydis hingga menemukannya pada Margareth yang sedang hamil sembilan bulan. Saat itulah mereka mulai mengintai kediaman keluarga Windson.


Sayangnya, pada akhirnya Samantha tak bisa lagi dilindungi oleh keluarga Windson. Mereka kalah dalam sebuah penyergapan di sebuah gereja. Pihak mutan berhasil menculik gadis kecil keturunan bangsawan yang saat itu masih berusia lima tahun.


Meski Samantha tidak jatuh di pihak Rosgard, tetap saja Windson kehilangan putri tunggalnya. Hal paling memantik kesedihan dalam keluarga itu adalah kehilangan sang putri kesayangan mereka.


Kini Samantha masih belum mengetahui kekuatan besar apa itu dan bagaimana bisa ada padanya. Dia masih berada dalam tanda tanya besar karena tidak ada yang menjelaskan kenapa dia di culik. Bahkan Samantha juga hanya mengetahui jika dirinya seorang mutan dan dilatih agar bisa melindungi diri dari siapapun yang berusaha menyakitinya.


"Hei gadis bodoh, lihat dia menunggu kita!" Tunjuk Sky pada sosok laki-laki berseragam rumah sakit yang sedari tadi menunggu Samantha memberikan pesan.


"Ah, sejak kapan kau sampai?" Samantha dengan segera mengidentifikasi orang tersebut dengan menggunakan jepit rambutnya.


Informan B


Setelah identitasnya terindentifikasi Samantha menyerahkan chip yang berisi pesan dari Xavier. Orang tersebut tak banyak bicara dan langsung melesat pergi, ternyata dia mutan dengan kekuatan kecepatan.


Setelah itu Samantha menghubungi Brian yang juga belum kembali. Entah kemana perginya laki-laki itu. Sky yang sudah sangat tak nyaman dengan keramaian di taman itu mengajak Samantha pergi.


________________


***Happy reading, maaf author memiliki kendala dalam update rutin... mohon bersabar.


Beri like, komentar dan masukin fav ya 😉


ketersediaan pembaca untuk memberikan antusiasnya akan membantu author lebih bersemangat 😘***

__ADS_1


__ADS_2