Lost Princess

Lost Princess
Mission 2


__ADS_3

Xorn dan timnya sedang menghadapi beberapa mutan yang melakukan penyerangan balik, ia telah memberikan virus itu pada Mars, karena Mars memiliki kecepatan. Archer juga ikut bersama Mars, karena setelah Mars melesat pergi, ia diikuti beberapa mutan dan juga pasukan khusus manusia.


Archer berusaha melenyapkan beberapa semampunya, karena mereka terlalu banyak. Setidaknya yang dapat mengejar Mars mungkin hanya beberapa yang lolos darinya.


Sepertinya, manusia itu juga memasang bom di sekitar gedung yang telah kosong, karena gedung disekitar tiba-tiba menimbulkan ledakan. Entah sejak kapan mereka mengungsikan penduduk di sekitar gedung. Tapi, saat ini memang telah banyak jatuh korban dari berbagai pihak dalam peperangan.


Virus itu gagal diluncurkan, tapi ada kemungkinan jika Rosgard menyimpan virus lain di tempat berbeda. Namun, hanya tempat ini yang terdeteksi terdapat Virus C5AE. Rosgard juga tidak ada di sini, tapi ada beberapa pemimpin kuat yang melindungi tempat ini. Seperti Jared, dengan kekuatannya dia dapat mengatasi robot canggih yang dikirim manusia.


Yang paling berbahaya dan banyak menghabiskan banyak korban adalah Jean. Dengan kekuatannya yang bisa meniru kekuatan dari mutan lain secara permanen, membuat Xorn dan timnya kualahan. Manusia-manusia yang memiliki beladiri kuat bisa bertahan, ternyata mereka orang terlatih yang cukup dapat diperhitungkan.


Archer harus berhadapan dengan Vanessa, wanita itu terus mengejarnya. Archer terus berlari sambil melesatkan tembakan ke belakangnya. Vanessa memiliki tubuh fleksibel yang memudahkannya bergerak dengan menghindari setiap tembakan yang melesat ke arahnya.


Wanita cantik itu tersenyum meremehkan, ia mengetahui jika Archer hanya seorang manusia berkeahlian pada ketepatan target. Namun, itu juga yang membuat ia semakin ingin mengejar Archer.


Saat peluru dan panahnya habis, Archer hanya terus melompati atap gedung berusaha lari mengejar Mars yang berada jauh di depan. Jika Archer berhenti dan mengahadapi wanita itu, maka ia akan lama menyusul kecepatan Mars.


“Namamu Archer?!” teriak wanita di belakangnya yang masih terus mengejar.


Archer tidak menjawab, ia fokus pada Drone yang bisa melesatkan tembakan, sepertinya itu di kontrol secara otomatis. Seperti menggunakan sensor bentuk wajah. Drone itu juga mengarahkan tembakan pada wanita di belakangnya.


Vanessa juga terus bergerak menghindar, mereka melompat dari atap gedung ke gedung lainnya. Terus berlari dan melompat, dengan tetap menghindari tembakan.


Vanessa tertawa, ia mengakui jika Archer cukup baik dalam mengindari setiap tembakan, namun ada satu peluru yang menembus lengan kanan laki-laki itu. Ia pada akhirnya melesatkan tembakan cepat pada Drone dalam satu kali percobaan. Tadinya ia membiarkan Drone itu, karena ingin melihat kemampuan Archer.


Kini tangannya mengarahkan tembakan pada kaki Archer. Laki-laki malang, karena kecepatan Archer melambat yang disebabkan lengannya yang mengeluarkan terlalu banyak darah, jadi kini tembakan Vanessa tepat mengenai kaki kanan Archer.


Archer jatuh tersungkur, “Fuc’e!” umpatnya kesal.


Vanessa berjalan kearah Archer, ia tersenyum yang menambah kesan cantik dan tubuh sexy-nya juga menambah kesan wanita dewasa.


“Kau butuh bantuan?” tanya wanita itu yang di tanggapi dengusan oleh Archer.

__ADS_1


Disisi lain, Mars juga masih dalam pengejaran. Namun, sepertinya yang bisa mengejarnya adalah Manusia. Archer telah membantunya mempermudah pelariannya. Ia melirik sinis pada laki-laki yang mengejarnya dengan benda terbang yang canggih. Benda itu hampir berbentuk seperti motor, tapi bisa terbang.


Kecepatannya hampir menyamai kecepatan Mars, “Sial!” Makinya pelan.


Pada akhirnya, Mars tetap harus menghadapi manusia itu. Ia berhenti berlari dan mengarahkan tembakan pada manusia itu. Bersembunyi di balik tembok gedung toko yang ditutup, sambil terus menembak. Ternyata manusia itu juga cukup ahli dalam menembak.


Mereka terus saling meluncurkan tembakan. Hingga Mars berhasil menembak bahu laki-laki itu. Ia mendekat pada sisi gedung tempat laki-laki tadi bersembunyi. Ia bisa melihat jika bahu kanan laki-laki itu terluka, tapi ternyata manusia itu bahkan masih melesatkan tembakan ke arah Mars, yang menyebabkan lengan kiri Mars tertembak.


Mars bergerak cepat mengambil alih pistol di tangan laki-laki itu. Mereka saat ini berhadapan, dapat di lihat jika mereka saling menatap benci. Terutama manusia itu, Mars dapat melihat jika ada kebencian yang sangat dalam, pada mata laki-laki itu kepadanya.


Mars tidak mengerti kenapa manusia sangat membenci mutan, padahal mereka sebenarnya sama-sama saling mempertahankan hidup. Tapi sirat kebencian yang di tunjukkan laki-laki itu sangatlah dalam.


Mars duduk berjongkok di hadapan laki-laki itu, matanya tanpa sengaja melihat kearah kalung yang tergantung di leher laki-laki di depannya itu. Kalung yang sama persis seperti kalung yang dimiliki Samantha. Mars mengerutkan dahinya, ia memerhatikan wajah laki-laki yang menatapnya sinis.


“Namamu siapa?” tanya Mars tanpa ekspresi, namun dalam nada suaranya terkandung penekanan.


“Bukan urusanmu, mutan brengs'k!” Mars tersenyum sinis mendengar penghinaan yang sangat kental akan kebencian.


Mars dengan cepat menghindar, ia tersenyum sinis pada laki-laki itu, ia melesatkan tembakan menggunakan pistol Jasper, tepat pada dada orang yang baru datang itu. Mars dengan cepat mendekat dan melesatkan pukulan di beberapa bagian tubuh orang itu. Meski saat ini tangannya terluka, ia masih mampu memberikan pukulan telak yang membuat manusia itu terkapar.


Mars kemudian kembali berjongkok di hadapan laki-laki yang baru saja diketahuinya bernama Jasper. Matanya masih terarah pada kalung berliontin pedang kecil dengan ukiran unik di sisi ujungnya.


Kalung yang ia yakini persis sama dengan milik Samantha. Mars penasaran dengan apa yang berkecamuk di kepalanya. Ia menyunggingkan senyumnya, tangannya berusaha meraih kalung itu, namun tangannya ditepis oleh Jasper.


“Cihh!” Mars tertawa mendapatkan tatapan permusuhan dari manusia di depannya.


Mars ingat tentang misinya, ia hendak berdiri dan melanjutkan pelariannya. Mars mengambil dua botol virus yang berada di saku jaketnya, ia memasukkan itu ke dalam sebuah kotak khusus yang secara otomatis terkunci dan hanya bisa dibuka oleh sandi. Jika dibuka secara paksa, itu akan secara otomatis meledak.


Mars lalu memasukkan kotak itu dalam sistem yang terikat pada tubuhnya. Jasper melihat itu semua di depan matanya. Mars melempar pistol yang telah di kosongkan pelurunya. Baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, terdengar suara bariton yang mengumpat ke arahnya.


“Mutan parasit! Kalian hanya orang-orang aneh yang selalu mengacau!” Teriak Jasper dengan napas yang tercekat.

__ADS_1


Mars berbalik, ia masih dengan wajah tanpa ekspresi. Menunggu laki-laki sekarat itu menyelesaikan ucapannya, padahal dirinya sendiri juga mendapatkan beberapa luka dan tembakan di lengannya. Terlihat sorot kebencian yang seakan bisa menembus kepalanya.


Mars tidak begitu mengerti, tapi wajah itu terasa familiar untuknya. Dan kalung tadi, ia tidak yakin dengan apa yang di pikirkan-nya.


Mars mendekat lagi pada akhirnya, ia ingin memastikan sesuatu, “Apa kalung itu hanya dimiliki oleh keluargamu!”


Pertanyaan yang membuat Jasper berdecih, ia menatap sinis tanpa ingin menjawab pertanyaan Mars.


“Apa kau punya adik perempuan?” tanya Mars lagi.


Jasper langsung melebarkan matanya. Tapi itu hanya sekilas saja, karena ia langsung menetralkan kembali ekspresinya. Karena tak mendapatkan respon, Mars berbalik pergi.


“Aku jadi memikirkan gadis itu!” gumam Mars kesal.


“Apa kau mengenal seseorang dengan kalung sama sepertiku?” tanya Jasper pada akhirnya.


Jasper mengenal banyak orang dan melihat banyak orang dengan berbagai kepribadian. Tapi, entah kenapa ia merasa wajah datar Mars terlihat polos. Jasper terusik dengan pertanyaan laki-laki muda di depannya.


“Kau bicara tentang apa?” tanya Mars balik.


Jasper memutar bola matanya malas, Sambil menahan sakit di dadanya, Jasper berusaha berdiri. Ia pernah berbicara tentang bekerja sama dengan mutan, dan mungkin ia bisa mencoba mencari tau dari laki-laki di depannya.


“Kenapa kau ingin tahu tentang kalungku?”


Mars tersenyum, ia berhasil memancing rasa penasaran laki-laki itu. Jadi, mungkin misinya bisa menunggu. Mars tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


_____________


**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.


terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah

__ADS_1


happy reading 😘**


__ADS_2