Lost Princess

Lost Princess
Three waves


__ADS_3

Kenapa aku harus berlatih dengannya 'sih?!


"Cepatlah!" katanya dengan nada dingin.


Dengan berwajah kesal, Sam melanjukan River lebih cepat untuk dengan sengaja melewatinya. Kuda itu juga merasa terhina sehingga dengan semangat menunjukkan kecepatannya.


Bagaimana keduanya tidak kesal, Elgan sedari pagi sudah memerintahkan mereka untuk segera mulai latihan. Ketika mereka latihan seperti biasanya, itu hanya dianggap Elgan main-main. Kemudian laki-laki itu juga mengomentari kualitas kekuatan keduanya, dengan cara yang sangat menghina.


Elgan yang melihat keduanya mendahului dengan sombong, dia tersenyum tipis, mengikuti Sam dengan sebuah alat seperti skateboard, tapi bisa terbang. Pengendalian alat tersebut menggunakan kekuatannya. Jadi, tentu saja hanya Elgan atau pengendalian Telekinesis yang bisa mengendalikannya.


Mereka telah sampai di pantai yang ditujukan Elgan. Baru Samantha ketahui jika letak hutan dimana mereka tinggal, ada di pulau yang terpencil. Sam sendiri tidak mengerti apa yang akan dilakukannya di sini. Jika itu berlibur, lebih baik tadi membawa bekal 'kan?


"Kau akan duduk di situ saja! Turun!" Perintahnya dengan wajah galak yang menyebalkan.


Sam turun dari kudanya. Kuda sombong itu sangatlah angkuh, seperti Elgan. Sebenarnya, sikap River sedikit berlebihan sebagai kuda.


"Kita akan melakukan apa?" Sam sudah berdiri di samping Elgan.


"Menarik kekuatanmu yang tidak berguna di dalam sana!" tunjuk Elgan pada tubuh Sam.


Sam terbengong, berani sekali laki-laki itu menyebutnya tidak berguna. Dia dengan sengaja menarik angin kearahnya. Ya, setelah dua kali berlatih dengan Elgan, Samantha bisa melakukan trik kecil dengan kekuatannya.


Contohnya mematikan api di pemanggangan, menangkis hujan agar tidak membasahinya. Hal-hal kecil tersebut akibat dari kekuatan tekanan milik Samantha.


Dia baru mengetahui, jika sebenarnya bisa dia bisa menahan serangan, hanya dengan mengendalikan takanan di sekitarnya. Meski baru bisa melakukan hal-hal kecil, itu membuat Samantha cukup senang.


Pantas saja pengendalian pikiran tidak berpengaruh padanya, itu karena Samantha hanya mengijinkan dirinya yang mengontrol pikirannya. Hanya telepatis yang bisa menembus, itu pun hanya bisa berkomunikasi jika Samantha tidak dengan sengaja menutup akses di otaknya.


Saat Samantha dengan sengaja menarik angin yang membuat Elgan sedikit berguncang di atas skateboard terbangnya, dia dengan sengaja jatuh ke arah Samantha.


"Aaaaahhh!" Teriakan itu karena mereka berakhir dengan terjatuh bersama.


Posisi Elgan yang tepat berada di atasnya membuat matanya membulat sempurna. Laki-laki itu malah tersenyum miring dengan aura yang mencurigakan.


"Rupanya kau sangat ingin dekat denganku?!" Elgan mengatakan itu dengan suara berat bernada ejekan.


"Aku, tidak!" Sam kesal, bukannya laki-laki itu yang jatuh pada triknya malah dia yang terjebak dalam permainannya.


"Minggir!" Meski sudah berusaha mendorong dengan kekuatannya, laki-laki di atasnya tidak bergeser sedikitpun.


"Gadis bodoh! Kau tidak boleh melakukan hal ini pada laki-laki lain!" Elgan mengetuk dahi Samantha cukup keras, hingga gadis itu memekik.

__ADS_1


Elgan sudah berjalan dengan beberapa batu di pasir yang terbang ke arahnya. Berkumpul membuat barisan batu kerikil yang cukup banyak.


Samantha bangkit berdiri dari duduknya. Dia masih memerhatikan apa yang akan dilakukan Elgan. Hingga baru saja dia bertanya-tanya, jawaban itu datang mengejutkannya.


Elgan melemparkan sekumpulan batu dengan Telekinesisnya pada Samantha tanpa aba-aba. Sam reflek menahan, tapi karena belum siap masih ada batu yang mengenainya dengan keras.


"Aduh! Kepalaku!" Teriaknya sambil berusaha menutupi kepalanya, hal itu malah membuat batu yang tadinya tertahan olehnya jadi terlempar lagi mengenainya.


"Bodoh! Tetap fokus. Gerakanmu terlalu lambat! Di peperangan nanti mereka tidak akan menunggumu siap. Serangan mereka jelas lebih kuat dari batu!"


Ada banyak darah dan memar biru di badan Samantha. Kekuatan lemparan pada batu itu tidak main-main. Dengan marah dia mencoba menyembuhkan dirinya. Hanya dalam sekejap memarnya memudar dan lukanya tanpa bekas.


"Ulangi!" teriak Samantha pada Elgan yang telah mengumpulkan lebih banyak batu di depannya.


Serangan itu lebih besar lagi. Sam mencoba memfokuskan pikirannya, Sam memberikan terlalu banyak tekanan hingga batu yang terlempar kuat kearahnya malah terlempar kembali ke arah Elgan.


Laki-laki itu dengan santai menahan serangan menggunakan kekuatan Telekinesisnya. Dia cukup puas karena Samantha sudah bisa mengembalikan serangan yang menyerangnya.


Tanpa di duga, Sam merasa badannya bergerak maju. Siapa lagi pelakunya jika bukan Elgan. "Aku bisa bergerak sendiri!"


"Aku tahu!" Elgan masih terus menggerakkan kakinya melangkah menuju ke perairan.


Sam agak bingung saat kakinya tetap melangkah saat air itu sudah mencapai bahunya. Sam reflek menolak untuk mengerakkan badannya. Dia tidak mau melangkah lagi.


"Hei! Kau mau membunuhku!" teriak Samantha dengan kesal.


Tiba-tiba dirinya berhenti berjalan. Tapi, sedikitpun tidak bisa bergerak untuk berenang. Ada ombak besar yang menuju ke arahnya. Ombak itu menggulung dengan cukup tinggi, Samantha reflek menoleh pada Elgan.


Laki-laki jahat itu ingin apa? Samantha semakin berontak ingin menggerakkan badannya untuk berenang. Hingga dia di kejutkan dengan kedatangan Elgan di sisinya.


"Jangan sampai ombak itu mengenai kita!" ujarnya tanpa sedikitpun menoleh pada Samantha.


"Kau gila? Itu ombak besar!" maki Samantha.


"Aku memang sudah menunggu ombak ini, di prediksi akan ada tiga gulungan ombak besar pada hari ini!" ucapnya seakan sedang menganalisis sesuatu.


Samantha memaki dalam hati, sial sekali dia!


Samantha mencoba menekan massa air tersebut dengan kekuatannya. Terlihat saat dia mulai mengendalikan tekanannya, air di sekitar tubuhnya menjauh, seakan dia berada dalam ruang khusus dalam Aquarium yang membungkus dirinya dengan udara, bukan air!"


Tapi, itu tidak berpengaruh pada ombaknya. Karena, gulungan ombak itu tetap menghantamnya meski dia telah menahan tekanan di sekitarnya. Badannya ikut bergelung dalam air. Kakinya bergerak untuk berenang ke permukaan.

__ADS_1


Saat dia telah mengambil udara lagi, rupanya Elgan yang berdiri di sisinya sedari tadi tidak bergerak sedikitpun, meski ombak menghantamnya.


"Bodoh! Aku menyuruhmu menahan ombak itu!" marah Elgan menatapnya dengan penuh hinaan.


"Kau pikir aku, Poseidon! Aku mutan penyembuh!" Samantha kesal saat terus di hina oleh laki-laki itu.


Bukan salahnya jika dia tidak bisa menahan ombak itu. Dia bukan pengendalian air ataupun udara, jika Elgan lupa! Laki-laki itu selalu menyuruhnya menahan serangan dari berbagai elemen. Sam, benci caranya yang terus menghinanya saat gagal.


"Coba lagi!" tunjuk Elgan pada gulungan ombak yang kedua.


Samantha menatap miris pada gulungan ombak itu. Bagaimana bisa dia menekannya? Samantha memilih berusaha lagi dari pada menyerah.


"Fokuskan tekanan pada gelombangnya, bukan airnya!" Elgan membimbingnya membuat Sam lebih mudah mengarahkan kekuatannya.


Tapi sayangnya, dia terlambat. Meski gulungan ombak itu bisa di tekan, tetap saja masih menggulungnya dalam gelombang kecil. Sam tenggelam lagi dan segera muncul kepermukaan kembali.


Dia melihat jika laki-laki itu menggeleng ke arahnya. Sam menunduk, melihat pada dirinya. Rambutnya berantakan juga pakaiannya.


"Ulangi! Ini kesempatan terakhir! Jika gagal, aku akan menjual kudamu itu!" Elgan sengaja mengatakannya dengan sangat keras.


Itu membuat River yang tadinya sedang bersantai, dengan makan rerumputan di pinggir pantai jadi memekik kuat. Sam tertawa, kuda itu terlihat marah padanya seakan sedang menyalahkannya.


"Oke, Jika gagal. Jual saja kuda sombong itu!" ujar Sam yakin.


Terdengar jika River memekik marah pada ucapannya.


Sam tersenyum senang, suasana hatinya membaik. Dia berusaha memfokuskan tekanan pada gelombangnya. Saat gulungan ombak itu hampir mendekat. Itu berhenti dan luruh seperti ada dinding pembatas yang menahannya.


Dia berhasil. Tapi entah kenapa dia merasa jika tangannya seperti terbakar. Sehingga dia melepaskannya, menyebabkan gelombang kecil yang menghantam dirinya. Dia masih berdiri di tempatnya, tapi sedikit heran dengan rasa panas di tangannya.


"Kau memang harus menahannya, tapi bukan dengan tanganmu, itu mengunakan seluruh tekanan yang mengalir di tubuhmu. Jika terus seperti itu kinerjanya. Tanganmu akan mengalami kerusakan pada sarafnya.


"Aku penyembuh!" Samantha kesal karena Elgan masih menghinanya, tidakkah ada secuil saja simpati terhadapnya.


"Penyembuh juga bisa mati, jika bodoh sepertimu!"


Samantha tidak lagi bisa menahan emosinya. Saat akan menyerang, Elgan telah menghilang entah kemana.


________________


**Terimakasih telah setia menunggu cerita ini update, maafkan author yang belum sempat revisi.

__ADS_1


semoga kedepannya lebih rajin update lagi


happy reading ❤**


__ADS_2