
Anak kecil itu berlari mengejar sepupunya, langkah kecilnya membuat ia tertinggal jauh di belakang. Neil sengaja meninggalkan Abigail yang terus mengekornya sedari pagi tadi. uncle-nya Evan dan aunty-nya Nattalie, orangtua dari Abigail sedang keluar kota. Jadilah Abigail dititipkan dirumah besar ini. Rumah besar milik keluarga Windson.
Emilio dan Illona memang memutuskan tinggal bersama orangtua mereka, setelah Illona melahirkan Neil. Berbeda dengan Emilio, Evan lebih suka tinggal terpisah bersama keluarga kecilnya. Tapi ada kalanya dia menitipkan putri mereka dirumah ini ketika sedang bepergian.
Neil saat ini berusia delapan tahun, sedangkan Abigail berusia empat tahun. Neil tidak menyukai Abi yang terus mengikutinya ketika Abi berkunjung kerumah ini. Menurutnya gadis kecil itu selalu mengganggunya. Langkah kakinya terhenti di ujung lorong ketika melihat pemandangan yang tidak asing lagi baginya.
Disana sang grandma Margareth, sedang memandangi photo gadis kecil berusia lima tahun, hampir setiap hari hal itu dilakukannya. Neil hanya mengetahui jika orang di photo tersebut adalah aunty-nya. Namun, karena di photo itu tergambar gadis berusia lima tahun, Neil hanya seperti melihat gadis kecil yang sama seperti Abigail.
Abigail ikut berhenti dibelakang sepupunya, meski jarang ada di rumah ini, Abigail juga sering melihat grandma-nya mengamati photo gadis kecil sambil menangis. Photo Samantha kecil yang berusia lima tahun memang sengaja diletakkan di lorong dari taman menuju keruang keluarga. Itu untuk membuat mereka tetap bisa merasakan kehadiran singkat Samantha yang masih melekat di ingatan setiap orang di rumah itu.
"Neil, kenapa grandma selalu menangis ketika melihat photo itu?" Tanya Abi sangat penasaran.
"Artinya, Dia sedang rindu dengan aunty, dasar bodoh! Begitu saja tidak tahu!" Ejek Neil melipat tangannya di dada mengamati grandma-nya yang masih berdiri menatap photo sambil menangis.
"Memang anak itu kemana? Kabur dari rumah seperti Rose temanku?" Tanya Abi lagi dengan suara yang lebih pelan, karena takut ketahuan sang nenek.
"Bodoh! Dia bukan seorang anak-anak lagi saat ini, itu kan hanya photonya dulu saat kecil. Dan Rose temanmu itukan hanya kabur ke rumahmu, kalian kan tetangga itu namanya bukan kabur, tapi main!" Neil sudah kesal tak ingin berbicara lagi pada Abi.
Kakinya melanjutkan langkahnya tadi menuju ke kamar Leonel, uncle-nya. Saat menengok kebelakang, ternyata gadis pengganggu itu tak lagi mengikutinya. Ia menghela napas lega, sungguh ia tak suka gadis cerewet itu.
Sampai didepan pintu kamar uncle-nya ia mengetuk pintunya pintu dengan cukup keras. Sudah cukup lama namun tak kunjung dibukakan pintu.
"Uncle! Aku tau kau didalam. Buka pintunya!" Teriak Neil yang masih tak mendapatkan sahutan.
"Kalau kau tidak membuka pintunya, aku akan mengacak-acak kamar sebelah!" Ancamnya lagi, biasanya ini akan berhasil. Dan baru beberapa detik pintu didepannya akhirnya terbuka.
Neil masuk keruangan itu. Seperti biasa ia akan melihat uncle-nya terbaring malas diatas tempat tidur. Leonel adalah laki-laki berusia sembilan belas tahun yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Inggris. Saat ini ia sedang menikmati liburan musim panasnya. Namun setahu Neil, uncle-nya itu hanya terus berbaring dan tak melakukan apapun.
"Kau pemalas sekali! Setidaknya kau harus mandi di pagi hari!" Tegur Neil yang sangat mencintai kebersihan.
__ADS_1
"Bagaimana bisa wanita tertarik padamu, kau saja bau!" Ejekannya berhasil mendapatkan respon.
Leonel bangkit duduk lalu melempar bantal kearah keponakannya. Beranjak untuk mencuci muka, tak lupa memakai bajunya yang tergeletak dilantai. Neil hanya menggeleng saja dengan kelakuan uncle-nya itu.
"Abigail berkunjung?" Tanya Leonel sambil tersenyum, ia bisa menebak apa yang membuat wajah keponakannya itu terlihat masam.
"Ya, uncle Evan pergi keluar kota. Gadis kecil itu akan merepotkanku beberapa hari kedepan." Neil merebahkan badannya, menatap langit-langit ruangan kamar Leonel.
"Di mana dia sekarang?" Leonel ikut berbaring di sebelah keponakannya.
"Mungkin bersama grandma, tadi saat akan kesini kami melihat grandma, seperti biasa sedang meratapi sebuah photo." Jelas Neil jengah.
"Dia merindukannya, kami semua merindukannya Neil!"
Masih terbayang diingatan sosok gadis kecil yang hadir mengisi keceriaan dirumah ini sepuluh tahun lalu. Jika masih hidup, mungkin saat ini ia akan sibuk menjaga Samantha dari laki-laki hidung belang yang akan berusaha mendekati adik cantiknya. Sebulir air mata lolos tanpa disadarinya.
"Kenapa kalian masih belum menemukannya?"
Jika saat itu ia berhasil melukai orang itu mungkin Samantha masih bersamanya. Tembakannya meleset karena terkejut ketika pintu lemari tempat dia dan Samantha bersembunyi tiba-tiba terbuka dari luar.
Leonel merindukan Samantha kecilnya, merindukan ocehan nakalnya. Dia rindu ketika gadis itu makan ayam di piringnya. Ketika gadis itu minta di temani tidur olehnya. Bahkan kamar Samantha hingga saat ini masih sama. Tak ada yang berubah dan tak ada yang menempati kamar di sebelah kamarnya itu.
Menurut Delwyn, Samantha tak akan suka jika kamarnya di tempati orang lain. Jadilah kamar itu tetap kosong sejak sepuluh tahun lalu.
"Seperti apa dia? Apakah dia cengeng seperti Abigail?" Neil kali ini duduk bersila menghadap ke arah Leonel yang masih berbaring menatap langit-langit kamarnya.
"Dia tidak cengeng, dia kuat, saat terluka ia hanya akan mengatakan sakit meski lukanya berdarah." Yang dikatakan Leonel memang benar, Samantha tak menangis ketika terjatuh dan terluka, karena setelah itu lukanya akan sembuh dengan sendirinya.
"Aku harap suatu hari nanti bisa bertemu dengannya, agar grandma tidak menangis lagi. Dan agar orang dirumah ini bisa tersenyum." Ujar Neil polos membuat Leonel menoleh kearahnya.
__ADS_1
Memang semenjak kehilangan Samantha, kakak-kakaknya jadi jarang tertawa, rumah ini lebih sunyi dari sebelumnya. Mommy-nya juga jadi terus bersedih hingga membuat Daddy-nya bingung.
"Kau tahu, kemarin Mommy bilang ada monster yang mencoba masuk kerumah ini!"
"Ya, aku tahu. Dan mereka bukan monster Neil. Mereka hanya orang jahat yang memiliki bakat!" Jelas Leonel yang sebenarnya menahan geram. Ia berjanji jika Sam sampai mati di tangan mereka, maka apapun akan dilakukannya untuk melenyapkan kaum mereka.
"Apa aunty di culik oleh mereka?"
"Bisa jadi, karena auntymu juga punya bakat. Kau tahu bukan?" Kali ini Leonel yang bertanya.
"Ya, dia penyembuh. Mommy selalu bercerita tentang itu!" Ya hanya Illona yang bisa biasa saja ketika menceritakan tentang Samantha.
Orang-orang di rumah ini selalu sensitif jika ada pembahasan mengenai Samantha. Marah dan sedih, itu perasaan yang selalu menghampiri ketika nama Samantha disebutkan.
"Ayo temani aku makan!" Ajak Leonel yang langsung meninggalkan Neil yang masih duduk di atas kasurnya.
Neil mengejar langkah kaki Leonel, dirumah besar ini hanya Leonel yang bisa ia ajak bermain. Jasper dan Delwyn sedang sibuk dengan tugas diluar, karena entah apa yang sedang dicari para mutan itu. Mereka secara terang-terangan keluar dari persembunyiannya, seperti sedang mencari sesuatu.
Charles, Daddy mereka menugaskan keduanya menyelidiki apa yang sebenarnya mereka cari. Banyak korban berjatuhan karena mutan itu semakin kuat saja. Bahkan badan intelijen juga ikut bekerja sama dengan mereka. Kedamaian umat manusia adalah misi untuk semua orang.
Tertanam jauh dalam ingatan mereka jika mutan memang harus dimusnahkan.
Saat melewati lorong, Leonel berhenti sebentar di depan photo adik kesayangannya. Jika saja tidak ada bakat-bakat seperti itu didunia ini, mungkin adiknya yang lucu ada bersamanya saat ini.
"Jangan menangis juga, kau kan laki-laki. Cukup nenek saja yang menangis!" Leonel tersenyum, mengangkat keponakannya itu gemas. Keponakannya ini adalah anak laki-laki bermulut pedas.
_______________
**Penulis akan sangat menghargai setiap like dan komen yang di berikan pembaca, karena dengan ketersediaan kalian untuk meninggalkan jejak di cerita ini membuat penulis lebih bersemangat lagi 😉.
__ADS_1
terus ikuti kelanjutan dari novel ini yah
happy reading 😘**